
Zaid tak menyangka istrinya itu mempunyai ide segila itu, Rini yang mendengar penjelasan dari Sofiya itu sangat terkejut dan sedikit ragu, pasalnya Rini pun tidak begitu mengenal orang yang ingin dinikahkan oleh Kakaknya tersebut.
"Aku belum ingin menikah Fiya, aku hanya ingin karir ku saat ini," ucap Rini lemah
"Tapi ini satu-satu nya cara untuk mengecoh itu semua, dan membuat pernikahan itu gagal. Lagi pula pernikahan itu tidak akan sah, karena nama dalam ijab qobul itu bukan namamu, melainkan Rani," ucap Sofiya.
"Baik lahh Fiya, kalau begitu aku rela dengan pernikahan palsu ini, demi kak Rani."
"Aku akan berkorban, lagi pula benar katamu aku pun tidak ada kekasih saat ini, terima kasih Fiya, rencana ini akan ku beritahukan diam-diam kepada kk Rani nanti," ucap Rini.
"Yaudah Rin, kamu memang adik terbaik di dunia, rela berkorban demi kakak mu, pasti tuhan membalas kebaikan mu nanti, kami lagi menuju rumah sakit ini Rin."
"Ohh...baik lah hati-hati di jalan ya, kalian ke rumah sakit hanya chek up kan?"
"Iya Rin, yaudah nanti aku hubungi kamu balik, bye...assalamualaikum."
"Ok KA, bye Waalaikumsalam."
Panggilan itupun telah ditutup oleh Sofiya maupun Rini. ibu, Zaid dan Sofiya sangat kasihan pada nasib Rani saat ini, namun Ibu sangat bangga kepada Rini yang begitu sangat menyayangi kakaknya itu.
Sampai Rini Rela menukar nasibnya kepada Rani, begitu pasrah nya Rini menerima saran dari Aliq.
Zaid berencana sepulang mereka dari rumah sakit nanti Zaid akan menghubungi sahabatnya itu ya yang bernama Heru.
Pantas saja dua minggu ini Heru tidak ada memberi kabar perkembangan apapun kepada Zaid, Zaid sangat paham dengan keadaan Heru yang saat ini.
Heru yang di tengah diterpa badai Dilema yang begitu mendalam, badai inilah yang dulu pernah menerpa Zaid juga dan akhirnya hari ini Zaid bisa bahagia bersama Sofiya.
Zaid pun sangat khawatir dengan keberadaan Heru saat ini, Zaid berharap Heru tidak melakukan tindakan yang merusak diri nya sendiri.
Kabar yang di terima Sofiya dari para sahabatnya itu sangat membuat dirinya menjadi murung dan melamun, dia tahu sekarang keadaan Rani pasti sedang mengalami kemurungan atas paksaan itu.
Zaid yang melihat istrinya termenung jauh itu, dia mencoba menyapa istrinya, dan membicarakan rencana yang akan mereka buat untuk menggagalkan pernikahan Rani.
"Sayang...merenungkan siapa?" tanya Zaid lembut.
Zaid mencoba menyapa lembut istrinya itu, walau selembut apapun suara Zaid itu masih saja membuat Sofiya terkejut mendengar nya.
["Ha..eh...ha..kenapa sayang??" tanya Sofiya.
__ADS_1
Sofiya tidak begitu jelas mendengar pertanyaan suaminya itu, Zaid pun tersenyum lembut kepadanya sembari duduk di sebelah istrinya itu.
"Sayang, lagi mikirin siapa??"
"Sejak kita pulang dari rumah sakit tadi, sayang termenung terus-terusan," ucap Zaid.
Zaid mencoba mengajak bicara istrinya dengan perlahan dan lembut. Karena dengan begitu kemungkinan istrinya tidak menjadi murung lagi.
"Rani."
"Kenapa lagi dengan Rani??" tanya Zaid.
"Dari tadi aku gak bisa membayangkan ke galauan Rani sekarang Kanda, kasihan dia."
"Rani yang dipaksa menikah dengan orang yang tidak di cintainya, bagaimana sekarang keadaan Rani," ucap Sofiya lemah.
Bahkan Sofiya sampai menitiskan air matanya, Zaid yang melihat itu langsung menghapus air mata istrinya itu dengan lembut, dan langsung medekap Sofiya di dada bidangnya itu.
"Dinda...jangan sedih begini. Tadi kan kita sudah ada jalan untuk Rani, udah jangan sedih ya sayang. Kalau kita telpon Heru sekarang bagaimana, setuju??" tanya Zaid.
"Iya Kanda... Dinda setuju!!" ucapnya tegas.
"Kanda..yaudah buruan telpon Heru, dia harus bisa memperjuangkan cintanya itu untuk Rani," ucap Sofiya penuh semangat.
Sofiya terlihat jauh lebih bersemangat, karena suaminya mendukung rencananya itu.
Tut...tut..tut...tut...
"Nomor yang anda tuju sedang tidak bisa menerima panggilan," ucap operatir.
Zaid tidak putus asa, dia tahu Heru sedang tidak ingin diganggu, pikirnyaa. Kembali Zaid terus menelpon Heru tanpa henti.
Tut...tut...tut..tut...
"Nomor yang anda tuju sedang tidak ingin menerima panggilan," jawab operator lagi.
"Gimana Kanda??" tanya Sofiya.
Sofiya yang sudah tidak sabar, dia pun menanyakan panggilan itu, Zaid menggeleng kepala, wajah Sofiya sedikit kelihatan murung kembali.
__ADS_1
"Yasudah, Kanda coba sms aja Heru ya. Dari tadi di rejeck, kayaknya Heru ingin sendiri, kalau kita sms kemungkinan Heru akan membacanya," saran Zaid lagi.
Zaid menyarankan untuk sms Heru langsung, terlihat sedikit cerah wajah Sofiya mendengar ide dari suaminya itu.
"Assalamualaikum, Her..gua dan Sofiya sudah mengatur rencana, buat lo dan Rani. Kalau lo baca ini segera telpon gua, jika memang lo mau mempertahankan cinta lo terhadap Rani," pesan Zaid tersebut sudah terkirim.
Pesan itu juga terlihat sudah dibaca langsung oleh Heru, Zaid dan Sofiya yang melihat itu penuh harap agar Heru setuju untuk menelpon mereka balik.
Beberapa saat kemudian, Heru terlihat sedang mengetik pesan, lalu terlihat tidak ada pesan masuk.
Sepertinya Heru ragu-ragu untuk mengirimkan pesan itu, Tak lama kemudian ponsel Zaid berdering, dengan tulisan yang bernama Heru terpapar di layar ponsel Zaid itu.
"Sayang...Heru nelpon!!" teriak Sofiya.
Sofiya yang melihat Heru menelepon langsung begitu ceria dan mengguncang tangan Zaid menyuruh suaminya langsung mengangkat panggilan itu.
"Iya Dinda, sabar ya, biar Kanda jawab dulu, nih Kanda lospeker," ucap suaminya.
Zaid sengaja mengerakan suara panggilan dari Heru itu, agar Sofiya ikut langsung mendengarkan apa yang mereka akan bicarakan di telepon itu.
Sofiya sangat antusias untuk mendengarkannya, wajah Sofiya sangat begitu serius menunggu suara dari Heru.
"Assalamualaikum, Her...lo dimana?" Tanya Zaid terlebih dahulu sebelum membuka rencana mereka.
"Waalaikumsalam. Boss, gua di puncak Bogor, maksud lo apaan boss, mengatur rencana??" tanya Heru sedikit bingung, suaranya terdengar datar, Zaid bisa merasakan itu.
"Begini Her, gua dan istri gua, udah mengatur rencana, buat lo dan Rani bisa bersama dan bersatu. Kita semua akan bantuin lo berdua biar bisa sama-sama lagi," ucap Zaid langsung Menjelaskan ke titik rencana mereka yang akan mereka buat nanti.
"Emangnya nya kalian punya rencana apa buat gue dan Rani bisa bersatu??
"Gua udah putus Asa dan pasrah sama ketentuan Tuhan, kalau emang dia jodoh gue, Gue dan Rabi bakalan bersatu juga nanti," nada suara Heru lemah di kalimat itu.
"Gua dan istri gua berencana, akan datang ke acara pernikahan Rabi nanti. Terus lo ikut bersama kita juga hadir di acara pernikahan itu, dan dan ketika Rabi tengah berdandan di kamarnya, Rinu yang menggantikan kehadirannya nanti."
"Sedangkan lo siap-siap membawa kabur Rabi dari kamarnya itu, dan ini sudah disetujui oleh Rini, jadi lu Jangan pernah putus asa, kita semua bakalan bantuin lu berdua," ucap Zaid
Heru tidak mengeluarkan suara, hening seketika panggilan itu. Apa yang terjadi??
Akankah Heru setuju??
Akan kah Heru datang dan ikut sengan rencana gila ini??
*****
__ADS_1