
Makan malam ini sangat meriah, ditambah lagi dengan kehadiran Rani bersama mereka, Heru sengaja mengajak Rani gabung bersama.
Lagi pun Rani yang lebih awal pulang, jadi dengan senang hati malam ini bisa dinner bareng sahabatnya itu, diselah-selah asik makan, Sofiya menanyakan tentang sahabat satunya lagi, karena beberapa hari ini tidak terlihat oleh Sofiya.
"Eh..oh iya Ran, Rini kemana kok gk muncul nih??" tanya Sofiya.
"Oh...Rani, ada kerjaan dia Fiya. Kemarin itu dia harus nuntasin desain nya gitu, kemungkinan sering lembur, dia kirim salam aja sama mu Fiya. Dan tadi malam dia balik kerumah kok, tapi lumayan kemaleman," jawab Rani.
"Ohh...syukurlah proyeknya berjalan lancar, wajar sih dia itu memang semangat tinggi banget yakan," balas Sofiya.
"Iya tuh lah Fiya, kalau aku sih ngedukung aja, asal dia mampu dan gk nyusahin waktunya, aku sih ngedukung," tambah Rani.
Rini adik kembar Rani, dia juga sahabat Sofiya, kesibuknnya menjadi seorang arsitektur membuatnya jarang berkumpul dengan sahabatnya sekaligus kakak kandungnya itu.
Sebenarnya Rini juga sudah rindu ingin bergabung dengan mereka, tapi akhir-akhir ini proyeknya menumpuk, jadi dia harus mengejar itu semua, sebelum deadline.
"Eh Rin, adik kamu kerja apaan sih?" tanya Heru.
"Adikku kerja dibagian arsitektur mas Her, tapi ya gitu selalu lembur," ucap Rani menjelaskan kepada Heru tentang pekerjaan adiknya.
"Oh...iya iya, jarang-jarang loh cewek minat jadi arsitektur yakan.." balas Heru kagum dengan Rini, yang bekerja sebagai arsitek wanita.
"Ya..gitu lah mas Her, dia sedikit tomboy, waktu itu liat kan, bicaranya aja cepat-ceplos," ucap Rani.
"Hahha...biasa kok Ran, santai aja. Lagipula asik kok dia orangnya," tambah Heru.
"Ehhhh...buaya lu, jangan gebet keduanya ya! pilih salah satu aja," Zaid menyambung perkataan mereka, Heru yang terlihat kagum dengan Rini membuat Zaid angkat bicara.
"Etdahh boss, kalau gue mau keduanya ya pastilah dari awal gue mintak nomor ponsel Rini juga. Kenapa nomor Rani doang yang gua pinta, walaupun wajah mereka ini bak pinang dibelah dua ya, tapi hati gua tertuju ke yang satu aja itu...yang duduk disebelah istri lo!!" Tegas Heru menjelaskan tentang perasaannya.
Heru merasa kesal dengan tuduhan Zaid kepadanya, dia pun beragumen panjang lebar agar tetap mendapatkan kepercayaan Rani untuk dirinya.
Sepertinya Rani terlihat salah tingkah, dia menundukkan pandangannya menutup wajah kemerah-merahannya.
"Nahh..kan nak Rani jadi malu, kamu nih Her," ucap ibu.
Ibu menambahkan protesnya kepada Heru, karena membuat Rani berhenti makan, itu karena dia malu dengan ucapan Heru barusan.
"Hehe, enggak kok bu. Rani oke aja kok," tambah Rani.
__ADS_1
Ketika mendengar perkataan itu Rani mencoba kembali seperti semula, dia mencoba percaya diri dan hilangkan rasa malu-malu nya.
"Yaudah dimakan ayo, habiskan," perintah Ibu memaksa Rani menghabiskn makanannya.
Baru ingin melahap makanannya, tiba-tiba ponsel Rani berdering, tertera nama Rini yang menelponnya, tumben baru pukul delapan lewat Rini sudah menelpon, apa Rini sudah pulang, pikir Rani.
Tanpa pikir panjang Rani menjawab panggilan adikknya itu.
"Hallo dik..udah dirumah?"
"Iya..kak, ini didepan pintu rumah, kakak didalam?" tanya Rini.
"Enggak, kakak dirumah Sofiya makan malam disini, kamu kan ada kunci," sahut Rani.
"Justru itu, aku nelpon kakak, kunciku ketinggalan di kantor, jadi gimana dong?" tanya Rini bingung.
"Yasudah, kalau apa kamu kerumah Sofiya aja ya dek.." Rani menyarankan Rini kerumah Sofiya.
"I...To....longg..." tut..tut..tut..."
"Hallo, hallo, hallo!!"
"Loh kok udah mati, terus kenapa tadi aku dengar Rini teriak tolong. Perasaan ku gak enak ini Fiya, kayak ada sesuatu yang terjadi dengan Rini," ucap Rani dengan wajah khawatir.
Rini merasa akan terjadi sesuatu kepada saudara kembarnya, ikatan batin seorang kakak tidak mungkin salah apalagi mereka kembar maka kekutan ikatan batin mereka begitu kuat.
"Iya Ran, tenang dulu ya Ran. Jangan nangis ada kita kok yang bakalan bantuin kamu, udah coba telpon lagi nompr Rini," ucap Sofiya.
Sofiya mencoba menenangkan Rini yang tengah begitu khawatir dan takut saudara kembarnya mengalami hal yang bisa mencelakai adiknya.
Heru sepertinya berpikir sesuatu, Zaid yang melihat ekspresi Heru sudah bisa menebak apa yang dipikjrkan Heru saat ini.
"Sudah Ran, jangan khawarir aku bakalan cariin adik kamu. ayo kita bergerak cepat agar tidak kehilangan jejak mereka!!" ucap Heru tegas.
Heru pun segera mengajak Rani untuk bergerak cepat, untuk perjalanan di kota Batam Rani kan lebih hafal jadi memudahkan Heru untuk menyusuri kota itu.
"Iya gua ikut sama lu Her sama Rani juga. Sayang kamu dirumah aja sama ibu ya, pintu rumah harus dikunci benar-benar, jika bukan kami yang pulang jangan pernah membukakan pintu untuk siapapun itu!!" perintah Zaid kepada istrinya.
__ADS_1
Zaid mengingatkan Sofiya lebih awal akan hal itu, agar keadaan tidak bertambah rumit nantinya, dia takut ini strategi baru yang dimainkan Mike untuk mereka semua.
Tapi mengapa Rini, kan dia tidak ada hubungannya, ah.. mungkin Mike mengira Rini adalah Rani.
Seperti nya Rani sudah menjadi target nya juga, tapi dia salah target, Rini yang tidak tahu menahu kali ini sepertinya menjadi korban, pikir Zaid .
"Iya baik, kalian hati-hati, nanti jika pulang kabari aku ya," ucap Sofiya.
Rani sudah begitu panik, terlihat dari wajah nya yang sedih dan dibalut dengan khawatir yang begitu mendalam, semoga adiknya itu tidak kenapa-kenapa dan feeling nya salah.
Tapi tadi mendengar teriakan tolong walau akhirnya suara itu hilang, bahkan ponsel Rini tidak bisa dihubungi lagi saat ini.
*****
"Lepas kan aku!! kalian ini siapa, dan apa mau kalian?" ucap Rini.
Rini yang diikat dikursi memberontak meminta dilepaskan, bahkan Mike sedikit heran apa wanita ini tidak mengenalinyaa??
"Heyy wanita sok hebat, apa kau benar benar lupa dengan wajahku??" tanya Mike.
Mike merasa geram, dia menunjukkan wajahnya dekat dengan Rini dan memegang dagu Rini sambil menekannnya, Rini terlihat kesakitan.
"Aku benar-benar tidak mengenalimu mata sipit!!" bentak Rini degan berani.
Kau siapa?" tanya Rini lagi.
Kembali Rini dengan beraninya membentak Mike, bahkan dia mengatai Mike mata sipit. Dia masih bingung dengan penculikan ini, untuk apa dia di culik.
"Karena video itu aku sempat dipanggil polisi, tapi lihat aku bisa bebas karena semua dibawah kendaliku!! Hahahah...."
Mike seolah mengingat kan Rini akan hal yang terjadi, sedangkan Rini tidak tahu menahu apa yang dimaksud Mike.
"Ha..video apa?? dan kau ditahan, apa peduliku!! urusannya apa denganku mata sipit!!"
"Lalu kau menculik ku untuk apa brengsek..." ucapnya lagi marah.
__ADS_1
*****
Hayooo siapa nih yang suka sama Rini si tomboy ini, walaupun di culik dia tetap berani ngata-ngatain Mike