
Tiba-tiba Zaid perlahan membuka matanya. Sekarang bola mata mereka saling beradu pandang, tak menafikan wajah tampan Zaid yang menatapnya sayu itu, membuat berdesir hebat jantung SOFIYA seketika.
SOFIYA ingin memalingkan mukanya saat itu, namun sangat tidak mungkin. SOFIYA mencoba melebarkan senyum dengan menyembunyikan expresi malu-malu nya terhadap Zaid, perlahan Zaid pun tersenyum kepadanya.
Tak lama kemudian Zaid pun membuka suaranya.
"Itu pipi atau udang rebus Dinda!!" ucapnya sambil tertawa kecil.
Zaid sengaja membuat SOFIYA semakin malu-malu. Kali ini panggil SOFIYA didengarnya kembali, sekian lama panggilan itu tidak didengarnya.
Dan sekarang bahkan dia secara langsung melihat bibir Zaid mengatakan didepannya. Zaid tahu SOFIYA sangat mencintainya, rasa nyaman itu telah membalut menjadi sebuah cinta yang tulus di antara mereka berdua.
Tidak ingin Zaid memandangnya terus, SOFIYA mencoba mengalihkan pembicaraan. Lalu membuka suara dengan malu-malu.
"FIYA..kamu mau aku ambilkan minum??" tanya SOFIYA gagap.
"Kok kamu sih!! biasakan panggil aku kanda," ucap Zaid lagi.
"Iya maaf Kanda!" ucap SOFIYA meminta maaf.
SOFIYA mencoba menawarkan minuman kepada Zaid. Agar bisa mengalihkan mata nya dan jantungnya yang saat itu juga sudah tidak sinkron. Berdesir hebat suara gendang seolah bertalu memenuhi jantung SOFIYA saat ini.
Zaid kembali tersenyum melihat tingkah SOFIYA tersebut seolah menyibukkan diri mengambil minum padahal Zaid belum menjawab iya!!
Namun Zaid tahu SOFIYA ingin kabur dari tatapan nya yang melelehkan setiap hati wanita yang melihatnya itu. Belum saja SOFIYA bangkit, Zaid malah memegang tangannya.
"Dinda!! Kanda maunya kamu!!" ucap Zaid lembut beserta tatapan yang mematikan.
Semakin menjadi-jadi saja Zaid saat ini menjahilinya. Dia tahu saat itu SOFIYA sangat malu terhadapnya, ternyata seorang SOFIYA hanya banyak berbicara, bercanda, lewat ponsel.
Jika berhadapan bahkan bertatap muka saja rasanya SOFIYA tak mampu. Zaid sangat suka menggoda dan penuh kejahilan.
"Hisss kanda!! Kanda sengaja kan buat Dinda salah tingkah," ucap nya memberanikan diri.
__ADS_1
Entah kenapa mendengar perkataan SOFIYA tersebut membuat Zaid tertawa geli. Hingga dia tertawa kecil.
Akhirnya wanita satu ini mengakuinya kalau dia sedang salah tingkah. Zaid memang suka menjahilinya, kadang sikap Zaid dingin bak kutub utara. Kadang juga hangat sehangat wedang jahe yogyakarta.
"Dinda!! Mau tidak kalau kamu pindah ikut ke rumahku??" tanya Zaid.
pertanyaan Zaid mulai menjurus kearah yang lebih serius. Kali ini dia meminta SOFIYA ikut pindah ke rumahnya yang berada di Kalimantan Utara. SOFIYA sangat terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Apa pindah!!" ucap SOFIYA sedikit terkejut.
Terkejut!! Ya pasti terkejut karena Zaid sangat cepat membuat keputusan apapun. Bahkan sekarang dia pun masih belum percaya bahwa dirinya sudah berstatus sebagai seorang istri.
Bukan perempuan single lagi yang harus memikirkan setiap masalah-masalah nya seorang diri lagi. Kali ini dia mempunyai bahu untuk bersandar dan tubuh yang bisa dipeluk tanpa dinding pembatas apapun.
"Iya, pindah ikut Kanda bersama ibu ke Kalimantan. Kanda gak mau kamu hidup disini sendirian, dan bekerja, itu juga aku gak mahu!! Kanda mampu nafkahin Kamu Dinda!!"
"Apa kamu bersedia??" tanya nya lagi.
"IYa Dinda mahu kanda!! Sekarang aku adalah isterimu, ke mana pun kamu mengajak pergi, aku akan ikut besertamu Kanda!!" ucap SOFIYA dengan lembut dan mata yang memandang haru ke arah Zaid.
Kali ini SOFIYA hampir bisa mengatur ritme jantungnya, perlakuan Zaid sangat lah membuat dia melayang-layang ke udara. Rasanya banyak hal baru yang akan dia mulai.
Mahu tak mahu, SOFIYA harus mengikuti ajakan suaminya. Karena statusnya sebagai istri dari Zaid maka Zaid lah yang menanggung dan yang bertanggung jawab atas diri SOFIYA Sekarang.
Sangat tidak terbayangkan SOFIYA akan pindah dari tanah kelahirannya ini. Dan meninggalkan kedua sahabatnya, meskipun kedua sahabatnya itu belum mengetahui akan rencana pemindahan dia ini.
Tapi mau tidak mau sahabatnya harus bisa berpisah dari nya. dengan waktu yang dia pun tidak tahu akan sampai kapan dia bisa kembali bertemu dengan para sahabat-sahabatnya itu.
Pindah tempat tinggal bukan hal mudah. Banyak yang harus diurus dan diselesaikan SOFIYA terlebih dahulu. Termasuk dia harus membuat surat resign kerjanya juga.
Apartment nya tinggal, dan bahkan surat surat pindah dirinya yang harus terlebih dahulu disiapkan. Banyak hal esok yang membuat dirinya sibuk untuk mengurus kepindahan nya itu.
Begitulah kehidupan, ada saatnya kita bertemu lalu berpisah. Ada yang datang, juga pasti ada yang pergi, semuanya hanya antonim tuhan terhadap manusia.
__ADS_1
Bahagia tidak selalu ada, begitu juga dengan duka tidak juga begitu lama. Yang mampu bertahan dengan keimanan dan keyakinan yang tangguh dia lah yang bisa mencapai ketenangan.
SOFIYA tetap berdiri mengambilkan segelas air untuk suaminya itu. Dan dia membawa beberapa potong buah pir yang sudah tersedia di dalam kulkas yang ada di ruangan tersebut.
Malam yang panjang itu mereka habiskan berdua, dengan bercengkrama dan saling pandang satu sama lain. Layaknya pengantin baru yang lain, begitu lah sikap mereka saat ini.
Jodoh tidak pernah ada yang tahu, berapa lama seseorang menjalin cinta. Atau seberapa jauh seseorang menjalin hubungan dengan sang terkasih.
Jika memang yang ditakdirkan untuk kita, tidak akan jatuh ke orang lain. SOFIYA dan Zaid berkenalan lewat ruang chat namun menjadi sepasang suami istri di dunia nyata saat ini.
Jarak keduanya terbilang jauh, tidak ada yang percaya mau pun menyangka, cinta sebatas online itu membuahkan pernikahan.
SOFIYA kembali duduk di sebelah Zaid terbaring masih dengan lemasnya.
"Kanda!! izin ka Dinda menyuapimu!!" pinta SOFIYA dengan wajah memerah.
"Dinda ku sayang!! Alangkah bahagianya Kanda jika itu keinginanmu," ucap Zaid tak kalah romantisnya.
"Terima kasih kanda!!" ucapnya lagi sambil menyuapi buah ke mulut suaminya.
SOFIYA tersenyum manis melihat sang suami melahap apa yang ia suapkan kepadanya.
"Dinda!! dengar ini lagi, Jika wajahku memerah, berarti tandanya aku sedang menahan amarahku. Ku mohon padamu!! Jika kamu melihat ku seperti itu, peluk saja aku!! Lalu amarah ku akan sirna!!" ucap Zaid dengan keromantisannya.
SOFIYA yang mendengar perkataan itu secara nyata untuk pertama kali nya tersipu sekaligus terkagum. Tulisan di ruang chat itu sekarang ia dengar langsung dari mulut Zaid Fahlevi yang sekarang adalah suaminya.
"Jangan menatap kanda seperti itu dinda," ucap sang suami.
"Tidak kanda! memandangimu adalah satu kebahagian di setiap mataku terbuka," jawab sang istri.
"Terima kasih sayang! Dirimu bersedia menjadi suri hatiku, itu adalah satu keberkatan yang diberi tuhan kepada ku," ucap suaminya lagi.
"Kembali kasih suamiku."
Malam yang syahdu, sepasang suami istri sedang meramu kebahagiaannya. Kata demi kata keluar dengan indah dari mulut keduanya.
__ADS_1
*******