ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
HERU DIBAWA POLISI


__ADS_3

       Mereka berdua mencoba memapah tubuh Sofiya yang lemah, dan wajahnya yang pucat, begitu turun dari mobil, Rani hampir terhoyong menahan tubuh Sofiya, yang tumbang di tubuhnya itu.


     Untung saja Heru langsung menangkapnya, dan Heru memapah Sofiya yang pingsan. Sedangkan Rani membawa tas Sofiya. Heru begitu khawatir, dan langsung menyuruh dokter memeriksa keadaan Sofiya. 


     Rani dipinta Heru untuk menemankan Sofiya, sedangkan dirinya akan menemui Zaid, yang dari tadi menelponnya menanyakan kabar bagaimana tentang istrinya itu.


    Rasa risau Zaid terhadap Sofiya membuat kepala Zaid sedikit sakit. Karena sampai saat ini belum ada kabar dari Sofiya maupun Heru, dia sangat yakin pasti ada sesuatu.


      "Nak..udah, jangan terlalu dipikir. Ibu yakin Sofiya gak apa-apa. Heru akan menolongnya jika ada yang menyakiti istrimu itu, percayalah," ucap Ibu mencoba memberikan obat ketenangan untuk Zaid, sepertinya ia sedikit mengurangi cemas nya.


****


      "Assalamualaikum." 


       


      Heru pun masuk, melihat Heru yang berkeringat, serta baju Heru yang kelihatan tidak rapi itu membuat Zaid menaruh curiga kepadanya.


   "Waalaikumsalam"


    Bagaimana Her istri gua?? mana Sofiya?" tanya Zaid bertubi-tubi.


     Zaid begitu khawatir  dengan istrinya itu. karena Heru datang ke ruangannya seorang diri tanpa Sofiya maupun Rani pikir Zaid.


    "Iya tenang dulu elu boss, Sofiya udah gak apa-apa. Dia cuma pingsan tadi pas gue bawa kesini," ucap Heru masih menyembunyikan tentang kejadian tadi.


    "Apa!! pingsan? kenapa istri gua Her??" tanya Zaid.


    Zaid begitu sangat terkejut dan dia ingin melihat istrinya dengan cepat.  selang yang ada di lengan nya itu sudah terlihat berdarah, karena rasa panik Zaid saat ini


     "Iya udah tenang dulu. Kalau elu gak tenang gue nggak akan ceritain lo semuanya!!" ucap Heru.


    "Jadi elu tenang dulu, dan janji jangan kasih tau Sofiya gua yang ngomong ini ke elu," ucap Heru.


     "Memang nya  kenapa nak?? Sofiya kenapa??" tanya IBU.


    "Iya gua janji, udah cepetan ceritain," ucap Zaid tidak sabar.


   


     Zaid sedikit membentak Heru, karena rasa geramnya kepada Heru yang bertele-tele untuk bicara.

__ADS_1


    "Sofiya pingsan karena dia masih syok. Tadi dia hampir di perkosa, ponselnya berserakan dilantai, untung aja gua dan Rani tepat waktu nolong Sofiya."


      Tak habis bicara Heru, Zaid langsung membuka selang yang ada di tangannya.


   "Anterin gue Her ke ruangan Sofiya. sekarang!!" perintah Zaid.


   


     Wajah Zaid kelihatan murka. Dia tahu pasti Mike pelakunya, feelingnya sangat tepat, makanya Heru disuruhnya mengawasi Sofiya. Ini kemungkinan akan terjadi lagi pikir Zaid, dia harus secepat mungkin memindahkan Sofiya dari kota Batam ke rumahnya yang ada di Kalimantan.


****


     Heru pun memanggil perawat wanita agar membantu Zaid dan dirinya menuju kamar dimana Sofiya dirawat. Sofiya dirawat di lantai bawah, maka mereka pun langsung menuju lantai bawah. 


      Wajah Zaid terlihat memendam kemarahan mendalam, jika sudah begini Heru tidak berani bicara sepatah kata apa pun itu. Dia sangat kenal sosok Zaid jika begini sebentar lagi lawannya akan terkena skak mat.


         Sampai di ruangan Sofiya, Zaid duduk di sisi kanan Sofiya. Sebagaimana Sofiya sering melakukan itu kepada dirinya, dia mengelus lembut kepala istrinya itu.


      Dengan lembut dan penuh kasih Zaid melakukannya. Heru sangat iba melihat nya, ibu tak hentinya menangis, mendengar kabar Sofiya yang hampir saja di perkosa, rasanya ibu sangat kasihan dengan menantunya yang dianggapnya seperti anak kandung nya sendiri.


       Tiba-tiba  Sofiya membuka matanya, perlahan dia melihat cahaya dan sorotan mata yang banyak memandangnya. Termasuk mata yang sendu dan pilu yang kini menahan linangan air mata di kelopaknya.


 


         Sofiya seolah tidak merasa apa-apa didepan Zaid, dia malah mengkhawatirkan Zaid yang tidak berada dalam ruangannya.


       "Dinda, kamu istirahat saja ya," jawab Zaid lembut.  


      Zaid menunjukkan sifat aslinya yang penuh kasih sayang. Heru sampai tak menyangka ternyata Zaid benar-benar mencintai Sofiya, walau hari-hari mereka sebatas chat, pikir Heru.


       "Harusnya kamu yang istirahat, aku gak apa-apa kok, cuma kecapean ini. Jangan khawatir ya kanda," jawabnya.


      


      Zaid tidak beranjak dari tempat duduknya, dia masih memegangi tangan Sofiya yang kala itu terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit yang sama.


     Miris nya lagi Sofiya tidak ingin bercerita apapun kepadanya, hanya menyuruhnya untuk istirahat kembali. Dia seperti lelaki yang lemah, yang tidak bisa melindungi istrinya sendiri.


       Semua yang melihat adegan mereka berkasih sayang sangat iri, sepertinya ini lah yang disebut cinta sejati, tak apa menanggung kesakitan tapi bukan kepergian. 


     Mereka sama-sama membangun cinta di atas keyakinan yang tangguh.  Yakin akan bahagia, dan kali ini Zaid berencana langsung membawa Sofiya. Mengingat surat-surat pindah sudah selesai, namun sepertinya Sofiya belum mengambilnya.

__ADS_1


        "Dinda! setelah Dinda  membaik, Dinda segera ikut Kanda ya. Jika nanti semua sudah beres," ucap Zaid lembut.


        Zaid berbicara dengan hati-hati. Terlihat ekspresi Sofiya sepertinya sangat takut, Sofiya sepertinya takut, Zaid akan menanyakan tentang denda itu.


     Padahal Zaid sendiri sudah tahu dan tidak ingin membahas itu sekarang, dia tahu Sofiya mengalami trauma yang cukup dalam, namun dia bisa menyembunyikan itu semua demi Zaid, dia takut Zaid memikirkan itu, lalu penyakitnya kambuh kembali.


       "I..iya baiklah, Dinda akan ikut kemanapun Kanda membawa Dinda. Tapi Kanda, surat pindahnya belum sempat diambil tadi," ucap Sofiya dengan lemah.


     Terbata-bata suara Sofiya, sedikit takut dengan apa reaksi Zaid kepadanya. Namun Zaid mencoba menyembunyikan itu semua.


       "Tidak mengapa Dinda, nanti kita pergi ke capil bersama. Lagian  Kanda sudah sehat," jawab Zaid dengan bersahaja.


       Lembut Zaid memperlakukan Sofiya, membuat Sofiya menjadi lebih nyaman. Kepala Sofiya  sambil di usap-usap lembut oleh suaminya itu. 


    Tangannya juga diberikan kehangatan, kadang sesekali Zaid menciumi tangan Sofiya. Heru senang melihat boss sekaligus sahabatnya itu move on dari masa lalu yang kelam. Sekarang bos nya itu menjalani hidup dengan normal bersama istrinya, pikir Heru.


         Semua keadaan tampaknya sudah tenang, Heru ingin pamit sebentar untuk membeli rokok. Sepertinya dengan merokok emosinya bisa ia redam, jujur saja jika mengingat lelaki yang melecehkan wanita Heru memang tidak akan memberinya kehidupan lagi. 


      Heru di Jakarta dulunya adalah preman ganas di tanah abang, bersama Zaid dan Udin. Akhirnya mereka bisa memulai hidup normal layaknya orang biasa. 


     Hidup tanpa kekerasan, tapi kali ini ada yang memancing Heru kembali, apalagi menyangkut sahabatnya memang rasa geram itu tidak mudah sirna.


        Ingin beranjak membuka pintu tiba-tiba Heru dihadang  empat orang oknum polisi.


      "Saudara Heru ikut kami ke kantor!!"


       "Eh..stop, apa-apaan ini!!" Bantah Zaid keras.


      Sahutan itu Zaid yang menghentikan. oknum-oknum polisi tersebut. Zaid yang melihat empat oknum yang ingin membawa Heru merasa geram. Memang brengsek orang itu, pikir Zaid. Ternyata Mike ingin benar-benar bermain dengan Zaid dan Heru.


       "Udah boss, biarin aku dibawa dulu. Nanti giliran dia!!"


     Ran siapkan saja bahan kita Ran," ucap heru kepada  Rani dengan santai.


   "Iya kamu tenang aja," tambah Rani.


******


       Ingin tahu kelanjutannya jangan lupa komentar kalian, karena komentar kalian berpengaruh untuk semangat saya membuat karya yg lebih diminati lagi. Terima kasih.


    

__ADS_1


__ADS_2