
Hari menunjukkan sore. Sofiya masih tertekun dan bungkam dihadapan ibu mertuanya dan suaminya itu. Zaid memegang tangan Sofiya dengan hangat dan erat. Ibu menyapu punggung Sofiya seolah memberikan rasa kuat untuk Sofiya.
Dari sikap Mike yang menunjukkan ketidaksetujuan dengan pakaian formal tersebut, rasanya seorang Zaid sangat bisa membaca dari sorot mata Mike yang berapi karena cemburu.
Entah itu benar atau tidak, Zaid merasakan itu adalah kebenaran yang dia rasakan.
"Dinda, masalahmu itu menjadi urusanku, jadi udah tenang aja. Aku ini suamimu," ucapnya lembut.
Zaid mencoba membuat Sofiya tenang, ada rasa malu terhadap Zaid belum apa-apa Zaid harus merogoh kocek nya untuk masalah dirinya ini. Sofiya pikir dia akan menjadi biang masalah dikehidupan Zaid.
"Iya..nak, kamu jangan khawatir, sekarang ada ibu juga sebagai ibu kamu. Jangan takut Zaid itu suamimu, dia pun akan melindungi mu dari apapun itu," tambah ibu.
Kekuatan demi kekuatan yang disalurkan oleh orang-orang yang sayang terhadap dirinya. Walaupun dia baru saja mengenali ibu dua hari ini, namun rasanya kehangatan yang diberikan ibu mertuanya itu mewakili ibunya yang meninggalkan dirinya.
"Kanda, makasih ya. kamu udah jadi malaikat ku saat ini, dan ibu terimakasih juga udah mau terima Sofiya jadi menantu ibu," ucap Sofiya.
"Hem, panggilan kalian ini sangat romantis," ucap ibu sambil tersenyum.
Ibu terlihat bingung atas panggilan itu, sekaligus heran ketika Sofiya memanggil Kanda. Itu adalah panggilan sayang mereka berdua.
"Iya bu, panggilan ini dari sebelum kita bertemu. Aku suka memanggilnya dengan sebutan Dinda, itu terlihat romantis gitu bu," ucap Zaid sengaja membuat pipi Sofiya memerah kembali.
Dalam tunduknya Sofiya, bahkan ibu masih melihat bisa melihat Sofiya hanya bisa tertunduk malu sambil senyum-senyum.
"Oooo, iya toh begitu. Panggilan kalian ini jarang sekali ada yang menggunakannya, ini terlihat panggilan di zaman kerajaan,hahaha."
"Dinda, tolong ambilin ponsel Kanda di dalam koper yang abu-abu itu," ucap Zaid mengubah kebisuan Sofiya.
Sofiya pun segera bangkit dari tempat duduknya, lalu dia menghampiri koper Abu-abu yang dimaksud oleh Zaid.
__ADS_1
"Dinda, dibagian depan kecil nya." ucap Zaid lagi.
Zaid sengaja meminta tolong kepada istrinya itu, dia ingin membuat Sofiya agar terbiasa dengan dirinya.
Sofiya pun mengikuti suruhan suaminya itu, entah untuk apa suaminya itu meminta ponsel. Namun Sofiya tidak ingin banyak bertanya, yang jelas mungkin suaminya itu ada keperluan dengan ponselnya, pikir Sofiya.
Sofiya pun telah dapat menemukan ponsel Zaid. Lalu ponsel itu segera dia beri kepada tuannya yang membutuhkan ponsel tersebut.
"Terimakasih Dindaku," ucapnya lembut.
"Ya, Kanda kembali kasih," balasnya.
Ibu hanya senyum melihat mereka semakin mesra. Dan semakin terbiasa dengan kondisi tersebut, terbilang sangat cepat pernikahan mereka dilangsungkan.
Itu dilakukan karena atas permintaan Zaid kepada Sofiya. syukurnya lagi Sofiya menyetujui permintaan Zaid itu, hingga sekarang mereka telah menjadi sepasang suami dan istri.
Sepertinya Zaid sedang mencari nomor telepon seseorang, dan dia mulai menemukannya. Tak lama kemudian dia mencoba menghubungi orang tersebut.
Berdering cukup lama, jam menunjukkan sore hari, yang di telpon Zaid cukup lama untuk menjawab panggilan itu. Zaid mencoba menghubungi sekali lagi, tak lama kemudian ada jawaban.
Sofiya dan ibu belum tahu pasti siapa yang di telpon Zaid. tapi Zaid sengaja mengeraskan suara panggilan itu, terdengar suara lelaki yang di telponnya saat ini.
"Iya ada, tolong lu ke Pulau batam sekarang. Dan bawa beberapa cek tunai buat gue, soalnya gue cuma ada card biasa ini!!" perintahnya.
Dengan gampang dan mudahnya Zaid berbicara, kalau dia sekarang berada di batam, orang tersebut nampak terkejut ketika Zaid dengan nada yang tegas meminta tolong untuk membawa beberapa cek ke Pulau Batam.
"Ha...Apa Lu gak sedang bercanda Zaid?" tanya orang tersebut merasa tidak percaya, Zaid tiba-tiba menelpon menyuruhnya datang sekarang juga ke pulau Batam.
"Ya gak lah, kapan sih gue bercanda kalo ngomong. Gue serius ini, gue lagi di Pulau Batam, jadi elu kesini cepetan bawa cek, habis itu kalau mau langsung balik yaudah balik," ucapnya lagi dengan enteng.
Zaid kalau ngomong suka hati dia aja, apa yang dia mau harus segera datang. Begitulah tingkah suami nya itu, ibu dan Sofiya hanya senyum melihat Zaid memerintahkan anak buah nya itu.
__ADS_1
"Elu ketemu Sofiya ya boss?" orang tersebut menyebut nama Sofiya.
Sofiya yang mendengar sedikit terkejut sepertinya ini bukan staf biasa, mungkin sahabat dekat Zaid. Makanya dia mengetahui tentang Sofiya juga.
tapi Sofiya tidak pernah mendengar suara ini sebelumnya, ini bukan suara udin.
Kalau udin dia sangat mengenali suaranya yang terdengar nyolot dan lucu. Ini perwatakannya hampir sama dengan Zaid dari suaranya pun hampir mempunyai kemiripan, pikir Sofiya.
"Yaudah Heru!!" jangan banyak tanyak buruan terbang kesini, nanti kalau elu nyampek di airport baru gua share lock oke, bye!!"
"Satu lagi, jangan lupa bawa beberapa cek tunai, gua butuh sekarang juga," perintahnya lagi.
Kembali lagi ketegasan Zaid. Sofiya sudah bisa menebaknya, cek tunai itu pasti untuk membayar denda ke Pak Mike. Dirinya merasa tidak enak kepada Zaid belum apa-apa sudah menyusahkan banyak orang.
"Iye deh boss, oke gue berangkat sekarang. Nanti gue kabarin udin juga, nanti dia kecarian lagi sama gua tiba-tiba ngilang," celetuknya.
"Yaudah seterah lu, oke lah byee!!"
Zaid mengakhiri panggilan telepon, ternyata Heru yang ada dalam panggilan itu. Sedikit terkejut suara Heru hampir persis dengan Zaid.
Dan pantas saja dia tahu tentang Sofiya, dan dia juga lah yang pernah menyampaikan kabar paling tersedih yang sampai sekarang masih lekat di ingatan Sofiya.
Iaitu kabar kematian Zaid. Walaupun itu adalah naskah yang diciptakan suaminya itu sendiri, sengaja menyuruh Heru untuk berkata seperti itu.
Langit senja di kota batam, Kemungkinan Heru akan sampai dalam pukul 8 malam. Apapun yang diminta oleh Zaid harus dipenuhi dengan segera.
Dimanapun tempatnya, dan tidak ada yang boleh menolaknya. Mereka pun tidak akan menolak apa yang disuruh Zaid kepada mereka. Mereka tahu yang dikerjakan Zaid pasti hal yang baik, maka tidak ada salahnya menuruti hal yang baik.
Heru sendiri pun tidak tahu benar atau tidak Zaid ke Pulau Batam menemui Sofiya. Kerana sempat hilang kontek dengan Sofiya beberapa waktu lalu.
Heru tidak tahu kalau ternyata Zaid kembali kepada Sofiya, kalau memang bener ya sia-sia lah drama kematian dia kemarin, pikir Heru.
__ADS_1
Heru sudah di perjalanan. Sedikit lagi mau sampai Kota batam. Langit pun menunjukkan kepekatan malam, bintang- bintang kecil hampir memamerkan cahaya mereka.
*****