
Rini membuat yang lain kembali tertawa melihat ekspresi lucunya itu membuat Sofiya pun sangat terhibur. Pasalnya ketika dia begitu, Rini terlihat cocok memerankan logat juri yang ada diajang menyanyi itu.
Sofiya begitu lucu melihatnya, Rini memang selalu berhasil membuatnya menggelitik, ingat tingkah Rini, Zaid pula menjadi ingat Udin, yang ketika bicara, Udin hampir sama dengan Rini yang blak-blakan.
"Her, gua jadi ingat Udin. Kayak nya Rini cocok nih kita jodohin sama Udin. Hahaha," ucap Zaid.
Zaid angkat bicara, lalu membuat Heru Tertawa dan yang lainnya ikut tertawa kali ini Rini merasa tersudut tapi dia tidak akan kalah.
"Hahaaha, iya bro cocok ya! ceplas-ceplos juga. Karena belum ketemu aja sih sama Udin!!" tambah Heru sedikit keras.
"Gimana kalau kita segerain mereka bertemu!!" usul Heru.
Heru sengaja membuat suasana semakin lucu dengan saling membuli satu sama lain, mereka semakin akrab.
"Ehhh!! enak aja jodoh jodohin aku, apalagi sama sapa tuhh...Udin?? ihhh namanya aja gak banget, aku tuh udah ada cowok idaman, jadi gak perlu di jodoh-jodohkan!!" bentak Rini.
"Motor tank bawa kayu, tengkyu," tambahnya lagi, membuat suasana semakin lucu.
Rini mencoba membela dirinya, pantunnya pun begitu menggelitik perut Heru,semakin lucu pikir Heru. Rani pula hanya geleng- geleng melihat tingkah lucu dan blak-blakan adiknya itu.
"Ada lilin dalam kain, nanti elu gue jodohin ama Udin!! Haahah," balas Heru tak mau kalah.
Heru mencoba membalaa pantun Rini, Zaid, Sofiya dan Rani, tertawa terbahak-bahak, pantunnya benar-benar menggelitik juga, bisa-bisa mereka membuli dengan pantun, pikir Rani.
"Jaka sembung bawa paku, gua enggak mau!!" Kembali lagi Rani membalas, mereka asik dalam balasan pantun itu.
Tiba-tiba diselah keasikan mereka bercanda, saling buli-membuli, ponsel Zaid berdering, terlihat dilayar ponselnya Udin yang memanggil.
"Suutttt...Udinn gaiss!!" ucap Zaid sambil meletakkan jari telunjuk di bibir.
"etdaah! kayak si Udin lagi keselek disana, pucuk dicinta Udin Udin pun tiba nih," ucap Heru mencoba menggoda Rini.
Heru sempat-sempat nya lagi membuat lelucon di selah-selah panggilan itu berdering.
Semua diam sejenak, Zaid mulai menjawab panggilan Udin. Zaid pun sengaja mengeraskan panggilan itu. Agar semua bisa dengar apa yang Udin ingin bicarakan.
"Halluuu..assalamualaikum, boosssKu!!" teriak Udin dengan suara khasnya.
"Waalaikumsalam, iye kenape Din??" tanya Zaid menahan gelak nya.
"Boss....kapan balik?? kalau balik singgah ke Jakarta dulu kan, bawa istri! hehehhehe," ucap Udin dengan ceplas-ceplosnya.
"Etdahh, mungkin besok atau lusa kita udah di Jakarta," jawab Zaid masih nada biasa.
__ADS_1
Zaid menjelaskan itu kepada Udin, menurut Zaid semua sudah selesai, hanya tinggal beli tiket saja mereka sudah bisa terbang, sebelum Udin menjawab Heru protes.
"Kok cepat banget boss??" ucap Heru, Keceplosan Heru, lalu Udin mendengar suara Heru itu langsung memanggil Heru.
"Oiii ada Heru disituu?? ni gebetan lu nyariin terus!! pusing gua," teriak Udin ceplas-ceplos.
Udin dengan polos dan ceplas-ceplosnya, Rani yang mendengar perkataan Udin langsung merasa sedikit terganggu.
"Apaan sihh lu Din, gua mau nikah juga disini, udah ada calon gua!!" Balas Heru dengan cepat.
Heru langsung mengatakan itu, dia takut membuat Rani salah paham, Rani terkejut dan sedikit tersipu malu.
"Seriuss lu...kok cepat banget dapet calon disana, buat gue ada gak??" tanya Udin lagi.
Udin seolah iri dengan kedua sahabatnya itu karena mereka sudah menemukan tambatan hati masing-masing.
Mendengar perkataan Udin mereka semua tertawa dan tiba-tiba Zaid dan Heru kompak menyebutkan nama seseorang untuk dijodohkan kepada Udin.
"Wihh..rame banget suara disitu, ada suara cewek pula itu, kalian pada ngumpul yak??" tanya Udin
"Iye Din ada cewek juga, lu mau kita jodohin sama...Rini!! kompak Heru dan Zaid.
Ketika menyebut nama Rini serentak mereka berdua, membuat Rini kesal dan melempar bantal kecil ke arah mereka berdua, mereka sempat mengelak, Udin yang mendengar nama Rini begitu girang, pikir Udin Rini benar-benar akan dikenal kan padanya.
"Idihh oii Udin gua gak mauuu!!" teriak Rinim
Rini menyahut sebelum Zaid dan Heru menyahut. Membuat mereka tertawa, Udin yang mendengar suara Rini itu bukan malah marah atau kecewa dia malah tertawa bahagia.
"Wahh ada orang nya disitu yak boss, keliatannya garang ye boss... kayak itu tuh gua demen boss!! hahahah," balas Udin.
Udin malah sengaja buat Rini semakin kesal, dan mereka yang mendengar Udin berbicara memang benar kocak, Rini kesal dan ia mengajak Rani pulang kerumah.
"Hahah dasarr lu Din Udin!! udah ah nanti kita sambung lagi ya!" jawab Zaid.
Zaid menutup telpon nya sebelum Udin menjawab.
"Kak Ran..ayok pulang yok! betek disini pada resek semua!!" ucap Rini sedikit keras.
"Hahah sorry deh Rin, sorry...kita becanda kok, jangan pulang yaa... biarin Rani lebih lama dosini," ucsp Heru mencoba membujuk Rini.
"Elehh lu mas Her, ada mau nya ajaa baik baik yakan!!" jawab Rini lagi.
"Enggak dong, yaudah nanti kalau mau pulang mas Her jadi bodyguard kalian ya.." ucap Heru sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Gakkk perlu!!" tegas Rini.
Rini meninggalkan ruang tamu itu lalu menyeret tangan kakak nya, membuat Rani terseret. Sofiya mencoba mengikuti langkah mereka berdua, tak lama kemuadian mereka berpamitan, karena memang Rini dan Rani besok akan kembali bekerja.
Marahnya Rini itu juga hanya bercanda, dia bukan lah orang yang pedendam atau yang penyimpan amarah.
Sebelum mereka balik, mereka mencari sosok Ibu untuk berpamitan. Ibu dari tadi tidak terlihat, kemungkinan Ibu berada di kamar beristirahan karena kelelahan.
Sofiya mencoba mencari ibu ke kamarnya, benar saja, wanita paruh baya itu dengan lelapnya tertidur. Sofiya tidak tega membangunkan ibu mertuanya itu.
Dia pun kembali ke Rini dan Rani yang sudah berada di ambang pintu apartemennya.
"Gais! ibu tertidur, aku gak tega banguninnya," ucap Sofiya.
"Yasudah gak apa-apa Ka, kirim salam aja sama ibu ya," ucap Rani.
Mereka mau melangkah, tiba-tiba sosok tubuh tegap menghampiri mereka kembali.
"Ada Apa!!" ucap Rini memegang pinggang dengan kedua tangannya.
"Mas Her akan menjadi bodyguard kalian!!" ucap Heru tegas.
Ucapan Heru membuat wajah Rani memerah kembali. Benih cinta sudah terlihat di wajah kakaknya itu.
"Idih!!" ucap Rini sebatas itu.
"Yasudah kami pamit dulu ya," ucap Heru.
Heru yang mengatakan itu membuat Sofiya tersenyum geli, pasalnya dia begitu menjadi sangat akrab dengan keduabsahabatnya itu.
Sofiya membiarkan Heru menjadi bodyguar kedua sahabat nya itu. Ini sangat baik untuk mereka, karena mereka belum pasti, Mike benar-benar di tahan atau Mike masih berkeliaran.
Bak orang kata sambil menyelam minun air, Heru yang beralasan menjadi bodyguar sekalian ingin selalu dekat dengan Rani.
*****
__ADS_1