ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
I LOVE YOU


__ADS_3

   Hari ini Sofiya Beserta ibu dan juga Zaid, sibuk mempacking barang-barang yang akan dibawa Sofiya. Zaid yang sudah memesan ticket untuk mereka semua, kecuali Heru. 


    Heru yang katanya dia ingin tinggal untuk beberapa hari saja lagi di sini. Dia ingin mengenali Rani lebih dalam lagi, sepertinya kali ini Heru benar-benar ingin serius dalam hubungan percintaannya.


        Ibu membantu Sofiya Memasukkan barang-barangnya ke koper. Ada tiga koper yang disiapkan Aliwa untuk barang-barang nya itu, pasalnya kali ini dia tidak akan kembali ke kota ini, dia akan pindah mengikuti kemanapun suami nya membawa dirinya.


      Keberangkatan mereka pukul 16.00, jadi Rani dan Rini bisa ikut mengantar mereka ke Bandara. 


    Sofia Sudah memberitahukan hal itu kepada mereka, bagaimana pun Sofiya Ingin mereka menemani kepergian dirinya itu, berharap mereka akan berkumpul kembali.


      "Nak..ini foto siapa?" tanya Ibu yang melihat foto wanita di lemari Sofiya, ibu penasaran ingin tahu siapa foto ini.


     "Ini foto nenek saya bu, hanya foto nenek yang Fiya punya," ucap nya.


     "Fiya, hanya dirawat oleh nenek," tambahnya lagi sambil tersenyum.


    Tersenyum  untuk menahan air mata yang ingin jatuh membasahi kelopaknya itu, Mengingat neneknya yang sudah tiada membuat dia sedih akan kenangan yang dulu-dulu berlalu.


    "Oh..cantik nenek kamu, maafin ibu ya bertanya, membuat kamu sedih," ucap ibu. 


    Ibu pun mengusap pipi Sofiya, yang kala itu sudah basah terkena titisan air mata.


   "Bu..enggak perlu minta maaf, sekarang Sofiya Benar-benar bahagia, memiliki ibu, memiliki suami seperti malaikat, benar-benar bahagia bu, terimakasih banyak sudah menerima Sofiyadi kehidupan ibu dan Zaid," ucapnya sambil memegang jemari ibu mertuanya itu.


      Sofia Begitu bersyukur atas kehadiran dua insan itu ke dalam hidupnya, dia pun menggenggam tangan ibu mertuanya itu dengan hangat, lalu ia cium sesekali.


     Moment itu dilihat oleh suaminya yang ingin masuk ke kamar melihat mereka, Zaid juga tampak begitu terharu melihat istrinya dan ibu nya begitu hangat dan akrab.


       "Hemm..mmm, Sayang! panggilnya mengejutkan keduanya.


       "Iya Kanda..."


    


    "Kanda sudah booking tikect untuk kita bertiga," ucap Zaid menghapus moment melow itu.


      "Hanya bertiga nak!! Heru tidak kembali?" tanya ibu bingung.


 Ibu sedikit heran,kenapa Heru tidak dipesankan tikect juga oleh anaknya tersebut.


      "Enggak bu, dia masih mau disini untuk beberapa hari, biarlah bu sekalian dia mengurus apartment Sofiya. Kemungkinan, Rani dan Rini akan tinggal disini, dan mereka tidak menyewa rumah lagi," ucap Zaid menjelaskan.


    "Oohh begitu, baiklah. Ini ibu dan Sofia Sudah hampir siap berkemas," ucap Ibu.

__ADS_1


    "Sayang...gak apa-apa kan kita balik hari ini, pukul 16.00 pesawat kita akan berangkat," ucap Zaid lembut di telinga istrinya itu.


    "Iya..sayang, enggak apa-apa kok, aku juga udah kasih tau Rani dan Rini, kalau hari ini kita berangkat, aku mahu mereka ikut untuk mengantar kita ke Bandara," jawab Sofiya.


    " Oh..baik lah kalau begitu, ini sudah hampir setengah tiga, Dinda dan ibu siap-siap ya, takutnya nanti kita ketinggalan pesawat," ucap suaminya.


    "Iya..tenang aja nak, ini sudah beres! ibu juga mau mandi ni, kamu juga nak, sudah beres kamu bersiap ya.. nak.." ucap ibu berkata lembut kepada Sofiya.


   "Iya bu, terima kasih sudah membantu pekerjaan Fiya ini," balasnya.


    "Iya sama-sama."  


    Ibu pun bangkit dari tempat duduknya, menuju kamar ibu, lalu ibu mandi dan bersiap- siap.


      Zaid pun mencoba menghubungi Heru, Heru tak tampak di apartemen, mungkin Heru keluar untuk membeli rokok pikir Zaid. Beberapa kali berdering Heru masih belum menjawab panggilan Zaid itu.


     Zaid pun mencoba kembali menghubunginya, rasa khawatir sedikit terlihat di wajah Zaid. Karena mereka baru saja membuat musuh mereka lumpuh.


    Zaid takut Heru akan menjadi korban selanjutnya, Zaid pun tak hentinya menghubungi Heru yang belum menjawab panggilan itu.


    Tak lama kemudian, terdengar suara Heru di telinga Zaid.


    "Hallo...boss, udah mau berangkat?" tanya Heru setelah beberapa menit barulah ada jawaban.


      Syukur lah pikir Zaid, Heru masih menjawab panggilannya itu, feelingnya salah kali ini.


   "Gua lagi jemput Rani dan Rini ini boss!!" jawabnya.


   "Loh!! Rani kan bisa naik mobilnya sendiri kesini, gua mau masukin barang-barang nih, cepetan lu pulang ya, takut telat," ucap Zaid memerintah


   "Haha!  gua mau jadi bodyguard nya Rsni sekarang.  Iyaa aman..ini mereka lagi siap siap kok," jawab Heru.


   "Idih..lebay lu, yaudah hati-hati kalian," sahut Zaid kembali.


      Zaid yang melihat tingkah Heru akhir-akhir ini cukup paham, sepertinya ketertarikan Heru kepada Rani sahabat istrinya itu benar-benar ia tunjuki, semoga keseriusan mereka berdua membawa mereka ke jenjang pernikahan.


      "Yank...Mobil masih dibawa Heru," ucapnya kepada istrinya.


     Zaid menyapa Sofiya Yang sibuk mengemasi kopernya itu.


      "Oh..Heru kemana Kanda?? Beli rokok?" tanya Sofiya.


      "Enggak Dinda, Heru jemput Rani dan Rini."

__ADS_1


      "Loh, bukannya Rani bilang dia naik mobil sendiri, mobil mereka kenapa?" Sofiya Khawatir. 


    Sofia Sedikit khawatir dan sedikit heran dengan pernyataan suaminya itu, Heru menjemput kedua sahabatnya dengan tiba- tiba.


       "Iya Dinda..mereka berdua memang naik mobil sendiri, tapi si Heru tuhh...sengaja!!


    "Dia mau jadi bodyguard si Rani, hahahha," ucap Zaid.


     "Kayaknya ya!  si Heru dan Rani udah gak lama lagi nyusul seperti kita deh," tambah Zaid lagi.


     "Aammiinn..."


   "Semoga saja mereka benar-benar serius, ya sudah Dinda.. cepetan mandi udah mau jam tiga," ucap Zaid lembut.


   "Apa ingin mandi bersama Kanda lagi??" tanya Zaid di telinga Sofiya Langsung.


    Zaid membuat Sofiya Tersipu malu, wajah putih berseri itu menjadi merah jambu. Semakin geram Zaid melihat tingkah istrinya itu.


    Cup...Satu ciuman mendarat di bibir mungil itu.


     "Dinda..I love you," ucap Zaid di telinga Sofiya.


     Sofia Terpaku sejenak, senyumnya mengembang. Suaminya itu benar-benar penuh kelembutan melayan dirinya.


    


    Sofiyayang melihat jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul tiga, Zaid pula yang sedari tadi menggoda istrinya tersebut menjadi kalang kabut, karena dirinya pun belum mandi, karena dia asik menggoda tak henti-hentinya. 


    "Kanda..udah cepetan sana mandi.." ucap Sofiya.


    


    "Heheehe, kirain boleh mandi bareng," ucap Zaid pula.  


      Zaid masih berharap, Sofiya Mau mandi bersama dirinya. Namun lagi-lagi Sofiya Menolaknya, berharap bisa mandi bersama istrinya.


    Sofiya Yang melihat Zaid seperti anak-anak itu membuat perutnya geli, dan tertawa melihat tingkah manja suaminya itu.


     "Hahhhaha, gak boleh!! lain kali deh, udah gih cepatan mandi, nanti ibu kesini Kanda.."ucapnya.


    "Nanti Rani dan Rini pasti sebentar lagi sampai, memang nya mau....setengah- setengah lagi," ucap Sofiya Mencoba menggoda lagi. 


    Sofiya Mencoba menggoda Zaid dengan menarik hidung Zaid yang kala itu begitu dekat dengan wajah Sofiya.

__ADS_1


    "Widihh...gak mau ah!! setengah-setengah, nanti aja mau lama-lama."


    *****


__ADS_2