ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
TEMAN BARU


__ADS_3

Sepertinya Santi tertarik juga dengan Heru, Zaid yang pikirnya sangat sulit dijangkau olehnya, karena Zaid pun sudah menikah, Heru yang dilihatnya tidak kalah jauh tampan dengan Zaid, Santi pun berpikiran untuk mendekati Heru.


     "Husss, tidak boleh!!"


     "Zaid adalah boss mereka, jadi kamu harus dengan Zaid bukan dengan yang lain, Ibu akan mencari cara agar kamu nantinya menjadi istri Zaid," ucap Bu Laras tidak memperbolehkan Santi menyukai siapapun kecuali Zaid.


      Santi pun takut kepada ibunya dan menurut apapun yang dikatakan oleh ibunya itu. Bu Laras tetap menginginkan suami Sofiya tersebut untuk di jadikan menantu olehnya.


          "I...iya bu, baik..bu," ucap Santi.


     Jam pun sudah menunjukkan pukul 12 siang, Zia  dan Heru bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara.


     Sebelum mereka berangkat ke bandara, ibu dan Sofiya menyuruh mereka untuk makan siang terlebih dahulu.


    Karena Bu Laras, Santi dan Bi Sumi sudah menyiapkan makan siang untuk mereka, ketika Santi Meletakkan makanan di meja makan,  pandangan Santi selalu mengarah kepada Heru.


     Heru yang baru melihat itu, bertanya kepada Zaid, Siapakah wanita muda itu yang menjadi asisten rumah tangga di rumah Zaid, pasalnya Heru mendapatkan rasa sepertinya Santi tertarik pada dirinya.


    Dari tadi Santi terlihat tidak fokus dalam pekerjaannya, karena selalu memandang Heru, Heru pun merasa sedikit ilfeel dengan pandangan Santi yang genit itu.


         Di sela-sela mereka makan, tiba-tiba ponsel Sofiya berdering, tertera panggilan yang bernama IRa. Ternyata teman barunya itu menghubunginya secepat itu, Sofiya pun tidak habis pikir apa yang diinginkan IRa siang-siang begini, padahal mereka pun baru saja kenal.


       "Siapa sayang??" Zaid bertanya penasaran, siapa yang menelpon istrinya siang-siang begini.


      "IRA..Kanda, teman baru Dinda itu," jelas Sofiya.


     Sofiya pun menunjukkan ponsel nya ke arah wajah suaminya yang sedang melahap makan siang nya itu.


       "Oh..yaudah jawab lah Dinda," ucap Zaid menyuruh Sofiya cepat menjawab panggilan itu.


    


****


         "Hallo, assalamualaikum iRa," sapa Sofiya.

__ADS_1


          "Waalaikumsalam Sofiya, kok lama banget kamu jawab nya, kamu sibuk ya?" tanya Ira.


          "Oh Maaf, aku sedang makan siang bersama keluarga, memangnya ada perlu apa ya??" tanya Sofiya pula.


  


       "Oh..maaf Sofiya, aku ganggu kamu, gini KA, aku lagi galau, kamu bisa temenin aku jalan...aku pengen curhat."


    "Sekalian kita saling kenal," ucap  IRa mencoba membujuk Sofiya.


      "Temenin kamu jalan...kemana?" tanya Sofiya bingung.


     Zaid yang mendengar itu langsung menghentikan makanannya, Zaid sedikit ragu untuk memberi izin untuk istrinya keluar dengan orang yang baru saja Sofiya kenal.


      Namun tiba-tiba Ibu mendukung Sofiya untuk pergi dengan teman barunya itu, seketika Ibu sudah angkat bicara, Zaid pun akhirnya mau tidak mau memberi izin kepada istrinya itu.


      "Iya kita keliling kota Nunukan saja Fiya, atau kepantai gitu!! Paksa iRa.


      "Aku minta izin dulu ke suamiku, jika suamiku mengizinkannya, nanti aku hubungi kamu balik," jawab Sofiya.


   Akhirnya panggilan itu pun ditutup, dan Sofiya  pun mencoba meminta izin kepada suaminya itu.


    Sebenarnya Sofiya pun tidak berkeinginan untuk pergi, namun dengan suara dan paksaan dari IRa, Sofiya tidak enak menolak ajakan teman barunya itu.


      "Kanda..gimana menurut kanda??" tanya Sofiya.


        "Gak usah deh yank,  kanda khawatir, soalnya kanda belum liat orang nya, terus kamu juga baru kenal tadi, jangan dulu deh pergi dengan orang yang baru aja di kenal," ucap Zaid  tidak mengizinkan istrinya karena khawatir.


     "Nak...sudah tenang saja, Ibu kan ada, jika memang iRa itu ingin mengajak Sofiya pergi jalan, suruh saja nanati IR menjemput Sofiya, dengan begitu ibu bisa mengenali IRa juga," sahut Ibum


      "Oh..kalau begitu, tidak mengapa bu, ini kita udah mau berangkat."


    "Yaudah Zaid harap ibu dan Sofiya bisa jaga diri, ingat ya Sayang, jika ada apapun yang terjadi jangan ragu menelpon Kanda. Kanda akan menjawab telponmu dalam kondisi apapun itu."


       " Iya sayag, terima kasih ya sayangku, kalian juga hati-hati dijalan," tambah Sofiya menatap hangat suaminya.

__ADS_1


      Akhirnya Zaid dan Heru pun meninggalkan rumah menuju ke Bandara, karena Heru sudah memesan tiket keberangkatan mereka pukul 13.30 siang.


    Sofiya pun akhirnya nya berangkat dengan teman barunya itu yang bernama IRa. Dan IRa menjemput Sofiya di depan rumahnya, ibu pun mengetahui sosok IRa sekarang.


     Dengan melihat wajah IRa, Ibu mengizinkan Sofiya untuk pergi bersama IRa, karena Ibu menilai IR sepertinya sosok yang baik dan begitu bersahabat.


     Ibu mengizinkan Sofiya pergi dengan IRa, Ibu ingin Sofiya mendapat teman di kota ini dan ibu ingin Sofiya tidak bosan selalu tinggal di rumah, dengan begitu Sofiya akan mengetahui jalanan yang ada di kota Nunukan Kalimantan Utara itu. 


       IRA dan Sofiya menuju arah pantai yang ada di Nunukan itu, sepertinya IRa ingin mengajak Sofiya bersantai di dekat deburan ombak pantai.


    Yang katanya IRa ingin curhat dengan Sofiya. IRa ingin curhat dengan Sofiya, maka pantai adalah tempat yang paling cocok untuk mereka kunjungi saat sedang merasa galau dan banyak masalah, dan Sofiya pun menyetujui saran IRa tersebut.


    Sofiya yang tampak polos itu tetap saja mengikuti ajakan yang di bilangnyabteman baru tersebut. Sofiya tidak pernah berpikiran yang buruk terhadap orang lain, ternasuk orang yanh baru dia kenali ini.


     Sebagai seorang suami, Zaid memlunyai insting yanh cukup kuat juga kepada istrinya tersebut. Namun kuasanya belum cukup kuat, ketika ibu nya angkat bicara.


     Tujuan ibu juga tidak salah, karena ibu ingin Sofiya menjadi wanita yang mengenal tetangga dekat mereka. Sofiya di biarkan berteman dengan orang-orang sekitar, agar Sofiya tidak merasa jenuh jauh dari sahabat baiknya itu.


    Biasanya Sofiya hanya dengam para sahabatnya, namun kali ini beda cerita. Dia sudah tinggal bersama suami dan ibu mertuanya. Mahu tidak mahu, dirknya harus pandai menyesuaikan keadaan disana.


     Zaid pula bukan tidak ingin mengajak sang istri selalu bersama dirinya. Namun Zaid takut dengan kondisi Sofiya yang terbilang cukup lemah sekarang ini.


    Sofiya juga harus banyak istirahat, agar traumanya cepat pulih dan Sofiya tidak boleh tertekan sama sekali, dia mudah terkena depresi. Itulah yang di ucapkan psikiater yang memeriksa Sofiya saat itu.


    Dan kini Sofiya benar-benar di hujani kasih sayang yang besar dari kedua orang yang baru saja datang di hiupnya, yaitu Ibu mertuanya dan suami malaikatnya itu.


    Dia memang tak pernah hentinya memuji sang suami seperti malaikat baginya.


     Tentu saja, Zaid selalu sabar dan lemah lembut mengahadapi Sofiya tersebut.


    Jiwa Sofiya yang terbilang sensitif itu mampu di jaga dengan baik oleh suami malaikatnya tersebut.


*****


    .

__ADS_1


__ADS_2