
Sofiya yang tidak melihat pembantu rumah yang menolong membersihkan pekerjaan rumah sebesar itu, Sofiya pun mencoba bertanya kepada ibu mertuanya saat itu.
"Maaf Bu... sebelumnya apa tidak ada orang yang membantu ibu di rumah ini??" tanya Sofiya malam itu.
"Ada tiga orang pembantu rumah, ibu mengizinkan mereka cuti, lagi pula ibu dan Zaid tidak ada dirumah, dan ada dua orang sekuriti mungkin mereka lagi keluar."
"Di sini ibu dan Zaid tidak terlalu mengatur para pekerja kita, yang terpenting mereka jujur, dan ketika dibutuhkan mereka ada," tambah ibu lagi.
Mendengar ucapan ibu itu Sofiya sangat kagum, dengan Ibunya dan dan suaminya itu, walaupun mereka orang yang berada namun mereka tetap memperlakukan orang lain yang di bawah mereka dengan segala rasa hormat dan rasa saling menghargai.
Bagi Zaid dan ibu kekayaan bukanlah untuk menjadikan seseorang itu di hargai ataupun diagung-agungkan, bagi mereka harta kekayaan adalah rezeki dari Tuhan yang wajib mereka sedekahkan bagi orang-orang yang tidak mampu.
Zaid membawa Sofiya ke kamarnya, melihat ini adalah waktu yang sudah larut, Ibu Pun masuk ke kamarnya, sampai dalam kamar yang mewah dan lengkap itu membuat Sofiya sangat takjub dengan isi kamar itu.
Ia lalu melihat Zaid yang sudah berbaring di kasur empuknya itu, sambil meregangkan kedua tangannya, menyuruh iqa berbaring di lengannya itu, kesempatan ini tidak di tolak Sofiya.
"Sayang...sini mendekatlah," Panggil Zaid lembut dan penuh rayuan.
Sofiya pun mendekatinya, rasa penasaran Sofiya kepada Jasmin membuat Sofiya tiba-tiba membuka mulut untuk bertanya di saat Zaid tengah memeluknya dengan hangat.
"Kanda..." panggil Sofiya.
"Iya..Dinda," sahut suaminya.
"Boleh Dinda bertanya??" ucapnya lagi.
"Boleh sayang," jawab suaminya.
"Jasmin itu siapa??" tanya Sofiya lembut.
"Jasmin?? Memang nya kenapa Dinda?" tanya Zaid balik.
Zaid tiba-tiba terkejut dengan pertanyaan istri nya itu, pasalnya saat ini pikirannya tengah kalut karena kedatangan Jasmin, kali ini pula Sofiya bertanya tentang wanita itu.
Malam itu telah ber akhir dengan diam dan membisu. Namun pertanyaan Sofiya itu masih belum terjawab, Sofiya termenung mengingat semalam yang terjadi, saat dia sampai di tanah Kalimatan ini.
__ADS_1
"Apa Dinda benar ingin tahu??" tanya Zaid membuka suara.
mereka yang sama-sama diam tampaknya Zaid benar-benar tidak ingin membicarakan tentang Jasmin pada saat ini, lalu Sofiya yang melihat ekspresi wajah suaminya jadi merasa bersalah dan langsung meminta maaf kepada suaminya itu.
Zaid pun tidak ingin memperpanjang masalah, dia kembali memeluk erat istrinya, dan menjelaskan kepada Sofiya.
Namun mungkin bukan sekarang, di lain waktu Sofiya akan mengetahui siapa Jasmin sebenarnya, dan Apa hubungan Jasmin dengan suaminya itu.
Untuk saat ini Zaid meminta Sofiya tidak membicarakan orang lain dikasur mereka, untuk saat ini Zaid hanya ingin berbagi cerita masa depan hanya dengan Sofiya, dan dia tidak ingin membahas orang lain siapa pun itu orangnya termasuk Jasmin.
*****
"Dinda...mengapa memelukku erat sekali," ucap Zaid di telinga istriya.
"Karena, Dinda melihat wajah Kanda yang memerah, maka pelukan erat ini untuk membunuh amarah itu," bisik Sofiya pula.
"Kanda...." ucap Sofiya manja dan terkekeh juga.
"Sayang, jangan pernah tinggalin kanda ya," ucap Zaid.
"Iya Kanda.. harusnya Dinda yang berkata seperti itu," ucap Sofiya pula.
"Tidak Dinda, Kanda sagat takut kehilangan Dinda, jadi Kanda tegaskan dari sekarang, jangan pernah tinggalkan Kanda," ucap Zaid sambil mencium kening istrinya.
"Terima kasih kanda..." Balas Sofiya lembut.
Malam itu kasur di kamar Zaid tersebut menjadi saksi cinta mereka berdua tersemai. Aura pengantin baru masih terpancar di antara keduanya.
Walaupun sudah terlihat badai mulai mendekati mahligai tersebut, lagi-lagi pondasi rumah tangga mereka bisa menepis badai itu.
Hubungan, jika di satukan dengan pengertian, perhatian, dan saling mengahargai pastilah badai yang ingin singgah bisa di tepis.
__ADS_1
Hubungan yang kuat adalah hubungan yang paling banyak tertimpa masalah, dan hubungan yang kuat juga bisa di bangun karena masalah yang banyak yang bisa di lewati bersama-sama.
Cinta sejati memang menanggung kesakitan, namun bukan kepergian. Seperti cinta Sofiya kepada Zaid Fahlevi, walau pun Zaid mengalami sakit yang parah, Sofiya tidak pernah berubah dengan rasa cintanya.
Walau pun jarak sempat memisah mereka, kabar meninggal dunia sempat terdengar. Pilu kala itu memang menyelimuti hari-hari Sofiya Mutia. Sekarang dirinya dalam mahligai bahagia, kesabaran memiliki buah yang manis dan awet.
Sofiya berhasil menawan hati Zaid Fahlevi yang kini bergelas sebagai suaminya. Sedangkan Jasmin yang kita ketahui adalah mantan dari Zaid sekarang tidak ada apa-apa nya di mata seorang Zaid.
Sofiya, memang belum tahu siapa Jasmin, tapi rasa pengertian Sofiya terhadap suaminya tersebut membuat Zaid menaruh rasa bangga yang besar.
Zaid telah menemukan wanita yang tidak memaksa dirinya tersebut, wanita yang pengertiam, perhatian, lemah lembut dan penuh cinta.
Bagi Zaid ini sangat sempurna, apa yang di berikan Sofiya kepadanya, dia harus bisa membalas berkali-kali lipat untuk ini.
Rasa cinta yang besar akan Zaid curahkan kepada istrinya. Bahkan Sofiya selalu menyebut Zaid adalah suami yang berbentuk malaikat untuknya.
Pasalnya, Zaid lah yang membuat Sofiya kembali menemukan kebahagiaan, Zaid juga yang sentiasa menerima setiap kurang Sofiya. Apalagi yang harus di katakan untuk menggambarkan seorang Zaid Fahlevi.
Ya! Zaid Fahlevi adalah suami malaikat untuk Sofiya Mutia. Tidak pernah marah, tidak pernah menuntut, tidak juga berbuat curang.
Mantan yang datang, dengan tegas dia berikan ucapan yang tajam, meskipun dia pernah mencintai Jasmin dengan dalamnya kini dia benar-benar bisa meluahkan kata kasar karena seorang Sofiya Mutia.
Dia yang di anggap Sofiya sebagai suami malaikat tersebut, membuat Zaid harus memperlakukan Sofiya sebagai bidadari surganya.
Malam yang panjang dengan penuh harapan besar. Kehidupan dua insan ini baru di mulai, mereka selalu berdoa akan terus dalam bahagia yang panjang.
Saat ini, tidak ada yang penting selain istrinya dan ibunya. Saat ini dunia telah memberikan keadilan untuk kedua insa yang pernah hidup sengsara tanpa belaian kasih sayang.
Cinta itu memang buta, walau hanya sebatas obrolan dalam dunia maya, cinta bisa tumbuj dan menjalar dengan cepat. Menjalar ke pikiran dan masuk ke hati.
Bicara tentang cinta, semua makhluk akan merasainya. Cinta adalah antonim dari benci, maka jika kalian jatuh cinta dan kalian tidak bisa menjaga cinta itu, siap-siaplah menerima lawannya cinta yaitu benci.
Seseorang bilang, jangan terlalu membenci nanti kamu bisa jadi mencinta, mengapa?? karena cinta tidak pernah datang memberi kabar, namun ketika kita sudah mencinta maka kita selalu ingin tahu tentang kabar.
__ADS_1
*******