ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
PELAN ATAU KUAT


__ADS_3

Zaid pun mengambil ponselnya yang berada di sebelah ranjang. Ponsel itu terletak di atas meja sebelah lampu tidur mereka berdua. Karena menurut Sofiya ada sesuatu yang penting, Sofiya pun menyuruh suaminya segera melihat apa yang masuk di ponsel suaminya tersebut.


"Apa?? tidak mungkin!!" ucap Zaid tiba-tiba.


"Kanda..apa yang tidak mungkin??" tanya Sofiya bingung.


Wajah Zaid memerah, dia pun tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Ya! foto itu telah masuk dalam ponselnya yang sengaja di kirim oleh Ira kepada Zaid.


Sofiya begitu penasaran, wajah suaminya berubah merah dan ekpresi Zaid sangat berubah total saat ini. Namun, Sofiya mengingat sesuatu di kepalanya.


Jika wajah suaminya memerah, menandakan dia sedang menahan amarah. Apa mungkin Zaid marah?


Dan kenapa Zaid bisa marah??


Tanya besar di dalam pikiran Sofiya saat ini, Sofiya yanh sedari tadi memanggil Zaid, namun tidak ada dahutan apapun dari nulut suaminya.


Yang awalnya tadi mesra, sekarang menjadi dingin bak kutub utara. Zaid benar-benar kesal namun Sofiya mengingat sesuatu lagi, jika wajah suaminya memerah berarti dia marah, dan Zaid selalu mengingatkan Sofiya sebelum-sebelum ini, jika wajahnya memerah, peluklah dirinya maka amarah,nya akan sirna.


Mengingat itu, Sofiya mencoba mendekati Zaid yang sedang berada di tepi ranjang, dengan masih memandangi layar ponselnya, Sofiya mendekat lalu memeluk suaminya dengan eratnya.


Zaid terkejut dengan perlakuan istrinya tersebut, Zaid pun menoleh kebelakang dan mengatakan sesuatu untuk Sofiya.


"Hampir saja Kanda menjadi iblis yang sangat membenci manusia," ucap Zaid.



"Ada apa kanda??" tanya Sofiya.



"Lihat ini sayang, siapa lelaki ini??" tanya Zaid dan langsung menunjukkan foto tersebut.



"Itu laki-laki kurang ajar!!" ucap Sofiya teerkejut.



Sofiya sangat terkejut melihat apa yang di tunjukkan suaminya kepada dirinya tersebut, pasalnya dia tidak menyangka sama sdkali, jika dirinya di potret dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak ia kenali.



"Apa Dinda mengenalinya?? tanya Zaid.



"Tidak kanda, tapi sewaktu di mall tadi, lelaki kurang ajar ini tiba-tiba duduk di kursi Ira. Ira pula pamitan untuk ke kamar mandi," ucap Sofiya.



"Lantas, kenapa dia memegang pipi Dinda??" tanya Zaid kembali.


"Ya! dia tiba-tiba mengambil tisu dan mengelap sisa kuah soto, yang katanya dia lihat, Dinda segera menepinya Kanda, tapi Dinda tidak tahu ada yang memfoto kami di sana," jelaa Sofiya lagi.


"Sudah sayang, jangan lepaskan pelukan ini dulu ya.." ucap Zaid.



"Iya kanda," jawab Sofiya.

__ADS_1



"Kanda.." panggilan Sofiya.



"Iya Dinda," jawab Zaid.



"Apa kanda marah, dan mencurigai Dinda??" tanya Sofiya ingin tahu.


"Awalnya kanda memang marah, namun ternyata istriku satu ini mengerti meredam amarahku," ucap Zaid.


"Namun, untuk mencurigaimu rasanya tidak mungkin, Kanda tahu dinda istri yang setia," tambah Zaid lagi.


"Terima kasih kanda, karena kanda sudah mempercayai dinda kembali," ucap Sofiya lembut.


Zaid hanya manusia biasa, tentu saja dia memiliki amarahnya tersendiri. Rasa sayangnya kepada Sofiya membuat dia saat ini mudah untuk cemburu.



Hanya melihay gambar yang belum jelas tentang kejadian sebenarnya, awalnya dia memang ingin marah. Wajahnya sudah bertukar menjadi merah karena menahan amarah, namun untungnya sang istri pandai mengambil hati suaminya kembali.



Berperlukan memang obat dari rasa kesal, marah bahkan depresi. Berpelukan juga mampu merubah emosi kita menjadi hal yang positif kembali. Itu lah mengapa, Zaid yang tak pandai marah dengan kata-kata dia selalu menunjukkan sikapnya langsung ketika menahan amarah.



Sofiya pula sebagai istrinya sudah hapal, jika sang suami wajahnya memerah dia segera memeluk Zaid. Sofiya mau pun Zaid saling melengkapi satu sama lain.




Zaid tidak melepaskan tanganya dari tubuh Sofiya. Bahkan pipi yang sempat dia lihat di gambar yang di kirim oleh orang tak di kenal itu, langsung Zaid cium dengan bertubi-tubi.



Sofiya tidak marah dengan perlakkuan suaminya tersebut. Dia sudah tahu bagaimana karakter seorang Zaid jika sudah cemburu. Sofiya membiarkan Zaid mencumbuinya.



Lalu bertubi-tubi Zaid memaut bibir sang istri. Tiga hari tak bertemu membuat mereka saling meluahkan rindu yang mendalam. Sekarang mereka mulai adegan panas kembali.



Pernikahan yang terbilang baru tersebut tentu lah sama seperti pernikahan orang lain. Mereka berdua masih merasa tertagih dengan malam pertama yang pernah mereka lakukan.



Baru beberapa kali mereka melakukan hubungan suami istri tersebut, Zaid harus pergi sejenak untuk urusan kerja di luar kota pula. Malam ini Zaid seolah tidak ingin di ganggu lagi.



Walau dia sudah memiliki firasat buruk di dalam rumah tangganya, namun malam ini dia tidak ingin memikirkan itu, dia hanya ingin Sofiya malam ini.


__ADS_1


"Auh...sayang," rintih Sofiya.



"pelan-pelan, atau kuat-kuat sayang?" bisik Zaid di telinga Sofiya yang hampir tak berdaya.



"Pelan-pelan dulu sayang, baru kuat-kuat," ucap Sofiya menggilai permainan



"Baiklah sayang," jawab suaminya.



Mereka masih asyik menghabiskan malam di bawah selimut pelukan. Keduanya benar-benar haus dengan belaian masing-masing. Sekarang Zaid tidak ingin menunda lama lagi, dia mulai bereaksi meluapkan apa yang ingin terluapkan.



"Uh...akhirnya," ucap Zaid lemas.



Sofiya tampak lemas tak berdaya, namun pelukan sang suami tidak pernah lepas, keringat mereka bagaikan air yang mengalir saat ini.



Besok, Zaid berencana akan menyiasat siapa dalang yang membuat onar terhadap istrinya tersebut. Jika memang lelaki itu tidak di kenali istrinya tentulah ada seseorang yang ingin menjebak Sofiya, pikir Zaid.



Heru pula belum di beritahu, mereka masih melepaskan penat masing-masing. Penat bekerja sudah lah tentu, namun penat menahan rindu itu yang berat.



Malam ini benar terlampiaskan, jika diikut hati memang ingin lagi, tapi fisik sudah tak mempuni lagi. Lemas tak berdaya, senyum puas tersimpul di bibir masing-masing.



Trauma isteri nya kian membaik tampaknya. Terapi yang mereka lakukan memang benar berhasil, hingga sekarang Sofiya tidak seperti dahulu lagi. Bahkan Aliq menyambut lebih agresif dari sebelumnya.



Begitu lah orang bilang, jika ada nafsu yang tertahan, jumpa orang yang tepat dan bisa trrluahkan maka tidak segan-segan lagi menunjukkan ke agresifan dirinya sendiri.



Sofiya memejamkan matanya, kantuk terasa berat di kepala Sofiya malam ini. Pasalnya seharian dia juga lelah menemani teman barunya yang mengajaknya pergi ke mall.



Pulang bersamaan dengan suaminya tersebut. Hinggalah malam ini melayani sang suami yang berulang kali mengeras mengobat rindu karena tiga hari tak bertemu.



Zaid yang penuh kelembutan, selalu memeluk sang istri. Dan membiarkan Sofiya tidur di atas lengan kanannya. Semenjak mereka satu ranjang, kebiasaan itu sudah Zaid terapkan.


__ADS_1


Saat-saat ini tidak ingin di lupakan oleh Zaid mau pun Sofiya. Mereka berdua herharap hubungan hingga ke syurga.


****


__ADS_2