ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
SELAMAT


__ADS_3

Akhirnya Zaid berhasil lolos, dan Zaid ingin ke dapur untuk mencari minuman dingin.  Agar bisa melupakan yang baru saja dia alami, sudah lama rasanya dia tidak merokok, mungkin rokok bisa mengobati gelisah nya malam ini.


     Dia berjalan ke arah dimana Heru berada, lalu mengetuk pintu kamar Heru untuk meminta sebatang rokok dari Heru.


     Tok..tok..tok..


     


     "Her, her, tolong buka pintu!!" ketokan itu sedikit keras, membuat Heru terbangun.


    "Iya bentar boss," jawab Heru dari dalam kamar.


     Heru pun membuka pintu, dengan mata nya yang masih terlihat kunang-kunang.


    "Eddah, ngapain sih boss malam-malam gini ketuk pintu kamar gue," ucap Heru.


    "Udah ah, gua mau tidur sini aja malam ini, besok sebelum bini gua bangun gua balik ke kamarnya lagi," jawab Zaid.


     Heru yang mendengar itu menjadi bingung, kenapa Zaid tidak tidur dengan istrinya, rasa penasarannya yang tinggi membuat dirinya berani bertanya kepada Zaid malam itu.


      "Elu kenapa boss, Sofiya nolak elu yah??" tanya Heru.


     Sedikit hati-hati Heru bicara dengan Zaid, yang kelihatannya galau malam ini, padahal istri telah pun didepan mata, kalaupun apa mereka bisa melakukan malam pertama.


     Awalnya Zaid tidak ingin cerita, namun mungkin bercerita dengan Heru akan jauh lebih baik,, pikir Zaid.


     "Rokok lu mana Her, gua mau rokok dong," ucap Zaid.


      Heru pun terkejut, Zaid yang sudah lama berhenti kembali minta rokok kepadanya. Penyakit Zaid itu sebenarnya jika ditambahkan rokok bisa menjadi parah, awalnya Heru tidak mengijinkannya, tapi Zaid terus saja memaksa.


   "Ceritain lah kenapa lu sebenarnya,"ucap Heru.


     "Sofiya gk nolak gue, tapi trauma nya lah yang nolak gue. Setelah dia sadar dia kembali minta maaf lalu meluk gua balik, kasihan kondisinya yang begitu. Gua pun gak berani melakukan hal lebih kepadanya, walaupun dia itu  udah hak gue," jelas Zaid panjang lebar kepada Heru.

__ADS_1


   "Lah terus....kenapa elu mau tidur disini?? Harusnya temenin dia tidurlah, bukan malah elu  kesini boss," ucap Heru mencoba bertanya sekaligus memberi nasihat.


    "Dodol amat sih lu!! gua gak tahan kalau lama-lama dekat satu selimut dengan Sofiya, dia tidur aja terlihat menggoda, gua takut aset gua berdiri terus nanti bertindak lancang tanpa izin."


   "Sama aja dong gua kayak cowok brengsek itu, gua gak maulah memaksa, gua mau sama-sama mau dan ikhlas, nanti juga pasti gua dapetin, dia kan udah jadi istri gua, cuma butuh waktu aja untuk dia sembuh," ucap Zaid optimis.


      Panjang lebar Zaid menjelaskan kepada Heru. Kini sepertinya Heru paham dengan ke galauan Zaid malam ini, Heru pun membiarkan Zaid tidur bersamanya.


     "Eh lu jangan diem aje, boleh kan gua tidur disini," ucap Zaid.


    "Iye iye boleh bos, lagian kalau gua bilang gak lu juga bakalan tidur disini," tambah Heru.


    "Yaudah gua ngantuk, gua mau tidur dulu," balas Zaid.


        Sebatang rokok yang di pintanya dari Heru sudah pun dia hisap sampai habis. hanya bersisa abu yang berserakan, kini kantuk Zaid sangat terasa berat hingga ke tengkuk lehernya.


       Dia pun harus segera tidur dengan cepat, Zaid juga menyuruh Heru membuat alaram jam di ponsel Heru. Pasalnya Zaid akan keluar sebelum azan subuh berkumandang.


      Zaid takut Sofiya akan merasa tidak enak hati, jika tahu Zaid tidak tidur bersamanya. Maka dari itu membuat alaram dengan nada yang tinggi akan lebih baik.


      Mereka yang sedari tadi memili-milah music yang cocok untuk di jadikan alaram. Heru dan Zaid pecinta music rock wajar saja alaram kali ini berbunyi music rock yang kuat.


       Sofiya yang sudah tetidur dengan nyenyak nya itu tidak menyadari sang suami tidak berada di dekatnya lagi. 


       Malam semakin larut, suara hujan masih saja membasahi suasana malam tersebut. Semua tertidur dengan nyenyaknya. 


****


        Alarm ponsel Heru telah pun berbubunyi kencang. Membuat Zaid terkejut, lalu Zaid bangkit melihat layar ponsel menunjukkan jam berapa disitu. Ternyata jam menunjukkan pukul lima pagi, dia pun segera beranjak dari kamar Heru. 


     Zaid langsung saja keluar, agar perbuatannya ini tidak diketahui Sofiya, dia bangkit ingin melaksanakan sholat subuh di kamarnya saja, dia akan mencoba membangunkan Sofiya, pikir Zaid.


        Secara pelan-pelan Zaid memasuki kamar Sofiya, agar Sofiya tidak terkejut melihatnya, yang tidak ada disisinya tadi malam.

__ADS_1


      "Huh...selamat," ucap Zaid sambil memegang dadanya.


     


    Zaid pikir yang didalam selimut adalah Sofiya, baru saja dirinya ingin membangunkan Sofiya, namun Sofiya tiba-tiba muncul dibalik pintu, membuat Zaid benar-benar terperanjat, dan senyum-senyum gak jelas. Dia ingin berkata bohong, namun itu tidak mungkin, sepertinya Sofiya lebih tau akan hal itu, pikir Zaid.


       "Kanda, mau mandi ya, ini handuk nya! Dinda udah siapain untuk kanda,  Dinda pikir Kanda  tadi masih di  dapur, eh ternyata udah balik kesini," ucap Sofiya dengan sengaja.


      Sofiya sengaja berkata begitu agar Zaid tidak merasa canggung, apalagi tersinggung dengan perbuatannya malam tadi. Dia lah yang salah, Zaid tidak bersalah akan hal itu. 


     Dia lah yang tidak menurut dengan Zaid, saat pertama kali menyerahkan cek itu ke bossnya, dan akhirnya berujung seperti ini, bahkan Heru sempat di borgol karenanya, ah semua karena dia, pikirnya.


      "Kanda mau mandi dulu ya Dinda, yaudah tunggu bentar ya, nanti kita sholat subuh sama-sama," ucap Zaid lembut.


      Zaid tersenyum dihadapan istrinya itu, hatinya masih bertanya-tanya Sofiya tidak tahu, apa memang pura-pura tidak tahu, pikir Zaid.


       "Iya, yaudah cepetan nanti keburu habis waktunya," balas Sofiya. 


     Zaid pun masuk ke kamar mandi dengan segera.  Dan tak lama itu mereka bersiap sholat subuh, Zaid kembali mengimami sholat subuh bersama istrinya itu, rasanya benar-benar tidak di jangka, waktu secepat ini, pikir Zaid.


       Sofiya setelah melaksanakan sholat subuh, dia langsung kedapur, menyiapkan masakan untuk suami dan ibu mertuanya serta untuk Heru juga. 


     Rasanya dia tidak enak, jika tidak menyiapkan itu semua. Ibu pun menuju dapur, dia melihat menantunya itu sudah sibuk memasak, ibu tak segan-segan menolong Sofiya yang kala itu sedang sibuk memasak.


    "Nak..kamu kan masih lemah, sudah istirahat saja, biar ibu yang membuat sarapan," pinta Ibu.


      Ibu mertua Sofiya memang sangat baik dan perhatian padanya, itulah mengapa dia sangat bersyukur ditemukan dengan orang seperti itu. 


    Lagi-lagi sikap Zaid yang baik dan hangat  padanya, dan sahabat Zaid yang begitu peduli dengannya, dia masih mengingat lagi ketika Heru menghabisi wajah Mike.


      Heru benar-benar menghajar Mike tanpa ampunan, hingga wajah lelaki berdarah tionghoa itu benar-benar babak belur saat itu. Heru yang tidak peduli dengan emosinya saat itu benar-benar membuat Sofiya kagum dengam kebaikan sahabat suami nya tersebut.


 ****

__ADS_1


   


__ADS_2