ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
MINTA IZIN MANDI BERSAMA


__ADS_3

Zaid merasa menyesal dirinya telah meninggalkan Sofiya tadi sebentar, karena ia ingin buang air kecil, dan ternyata Sofiya berjalan menuju parkiran sendiri, Zaid benar- benar meminta maaf atas keteledorannya itu.


     "Kanda...bukan Kanda yang salah, tapi Dinda. Dinda yang keras kepala tidak mendengar apa kata kanda tempo hari," balas Sofiya kembali terisak.


     "Cup,cup. Udah jangan begitu, yang lalu biarlah berlalu, ingat Dinda pasti sembuh dari trauma ini, jangan tidak percaya diri. Kanda sayang padamu! mana Dinda ku yang dulu suka berpantun, bersyair, dan mengirimi puisi di pagi hari, Kanda rindu," uncap Zaid sambil memeluk istrinya lagi.


      


       Zaid mencoba mengingatkan Sofiya akan kenangan manis ketika mereka berada dalam dunia maya, kenangan itu sangat manis, bahkan Sofiya bisa melupakan pacarnya yang kala itu menghianati dirinya, sekarang pun mantan tidak ada diingatannya lagi 


    Semakin mengingat itu, senyum Sofiya melebar, psikolog itu mengatakan Sofiya harus di ingati kenangan-kenangan yang manis, agar dia hanyut dalam kenangan itu.


     Dan berikan dia motivasi, orang-orang terdekat yang di kasihinya akan mampu melakukan itu, jadi Zaid mencoba memulai nya lagi, mengingatkan segalanya agar Sofiya kembali hidup normal dan nyaman. Zaid mencoba membuka pikiran jernih Sofiya, dan memori delisha.


     "Sayang,terimakasih banyak, untuk support kamu, ke diriku." 


        Sofiya sangat bersyukur, dia mempunyai suami yang penyabar seperti Zaid. Lalu mereka melanjutkan perjalanan, tujuan selanjutnya adalah kekantor capil, untuk mengambil surat pindah yang sudah diurus oleh Sofiya tiga hari lalu.


     Semakin cepat mereka pindah akan semakin lebih baik lagi, karena Zaid takut akan ada hal-hal lain yang akan membuat hidup Sofiya dan dirinya berbahaya.


       Zaid baru saja di Kota Batam, tapi sudah memiliki musuh bebuyutan yang sangat menyimpan dendamnya, ini bukan hanya sekali Zaid mengalaminya, dahulu pun pernah.


     Zaid yang berjuang untuk orang yang disayanginya, selalu di teror, namun lagi-lagi Zaid dihianati oleh orang yang diperjuangkannya.


      Heru masih membuntuti mereka, Heru melihat mobil Zaid berhenti lama dipinggir jalan. Heru berpikir kenapa, takut ada terjadi apa-apa dengan Sofiya. 


     Dia melajukan mobilnya ke arah mereka, lalu Heru mendekat disebelah  Zaid, dan kaca mobil Zaid yang setengah terbuka itu membuat Heru cemburu, karena Zaid sedang melakukan adegan ciuman.


     "Yaelah gua kira kenapa, rupanya pengantin baru lagi ciuman dijalan..mmm," ucap Heru menyapa kesal.


     Terkejut dengan suara Heru, mereka berhenti ciuman, lalu Zaid memalingkan wajahnya kearah suara Heru.


    "Elu ya baru gue puji, sekarang udah resek aja, yaudah deh elu dibelakang aja, ikutin gue ya, my bodyguard," balas Zaid.


    "Hahahha, oke dehh boss alay," tambah Heru.

__ADS_1


   


   ******


          Perjalan hampir memasuki senja, ibu berulang kali menelpon Heru dan Zaid, ibu yang khawatir akan mereka semua karena sampai ke petang mereka belum juga kembali kerumah.


    Tak lama ibu menelpon, Sofiya mencoba menenangkan ibu, bahwasannya mereka sudah di parkiran apartemen.


     "Iya bu, kita semua sudah sampai. Maaf terlambat memberi kabar kepada ibu," ucap Sofiya dalam panggilan telpon.


      "Syukurlah, engak apa-apa, ibu cuma khawatir kalian jam segini tidak kembali, ibu takut terjadi apa-apa," tambah ibu


     "Yasudah, ibu tunggu ya, kita semua segera naik lift," tambah Sofiya.


     Apartment Sofiya yang berada di lantai tujuh itu cukup terbilang jauh, agar cepat sampai mereka naik lift, dan mengingat ibu sudah menunggu mereka dirumah.


      Sofiya memencet bell, langsung saja ibu bukakan pintu tanpa menunggu waktu lama, begitu ibu melihat Sofiya, dia langsung memeluk menantunya dengan erat.


     "Syukurlah kamu enggak apa-apa, gimana hari ini perawatan mu nak??" tanya ibu


    "Alhamdulillah bu, lancar semua," icap Sofiya  lembut


   Sambil memberi senyum kepada ibu mertuanya, dia tidak ingin memberitahukan itu, dia tidak ingin ibu mertuanya mempunyai ke khawatiran lebih terhadap dirinya itu.


    "Ibu sudah menyiapkan makan malam, nanti kita makan malam bersama-sama. Oh iya heru mana?"  Ibu yang tidak melihat Heru seolah bingung, kemana perginya Heru.


    "Heru katanya mau jemput Rani kesini bu, karena tadi Rani pulang lebih awal," jawab Zaid tetang pertanyaan ibu, ibu yang mendengar tersenyum sambil menggelengkan kepala.


    "Syukurlah, semoga Heru juga cepat nyusul kayak kalian," ucap Ibu.


     "Hehe aammiin," Sofiya langsung mengamini doa baik ibu untuk Heru.


      "Isk ngapain di aminin yank, biarin deh tu Heru jomblo lama, hahaha," ucap Zaid


      Zaid mencoba menghibur ibu dan Sofiya, wajah Sofiya yang pucat seketika tersenyum dan tertawa geli mendengar kata-kata aammiinn Sofiya untuk Heru, padahal Heru itu sahabat baiknya.

__ADS_1


     "Hahha, gak boleh gitu Kanda, biarin lah, biar mereka bahagia juga seperti kita, lagian aku mau Rani nanti bersebelahan rumahnya dengan rumahku," ucap Sofiya.


       Ibu tersenyum mendengar perkataan Sofiya, anak dan menantunya tampaknya tambah akrab dan tidak sungkan untuk bercanda.


     "Eitt aku gak setuju, nanti kamu main terus kerumah Rani, terus kamu lupain aku," tambah Zaid dengan protesnya.


     


     Zaid sambil memuncungkan mulutnya seperti anak kecil, membuat ibu dan Sofiya tertawa geli melihat tinggkah lucunya itu, terlihat sangat manja.


     "Hahahah, ya enggak lah Kanda, Dinda tuh bakalan beresin urusan rumah dulu, baru ngegosip, hahah yakan bu??" ucap Sofiya sambil meminta dukungan Ibu.


    


     Sofiya meminta dukungan kepada ibu mertuanya itu, agar disetujui semua permintaannya, Zaid merasa kalah karna dia sendirian tidak ada yang membantunya.


      "Aduhhh, jangan bawa ibu lah curang Dinda," pungkas Zaid.


     "Hahaha, sudah-sudah pergi sama mandi, bentar lagi maghrib, kok malah kejar-kejaran," ucap Ibu kepada mereka berdua.


     "Hahah iya bu, tu anak ibu ngeyel," balas Sofiya.


     Sofiya pun lari ke kamarnya setelah menunjuk Zaid, Zaid pum langsung mengejar Sofiya ke kamar.


     Ibu yang melihat itu hanya tertawa geli, sudah dewasa tapi tingkah suami istri itu seperti anak kecil, biarlah pikir ibu. Akhir- akhir ini banyak masalah yang mereka hadapi


dengan begitu mereka bisa sedikit demi sedikit melupakan masalah mereka.


    Didalam kamar Sofiya, ada kamar mandi yang ukurannya cukup mempuni, Sofiya mengambil baju mandi nya, lalu ingin segera masuk ke kamar mandi, hampir pintu kamar mandi ditutup, namun Zaid menahannya dengan satu tangannya.


     "Izinkan Kanda mandi bersamamu Dinda," ucap Zaid.


     Ucapan itu membuat Sofiya terpaku sejenak, dia tidak pernah mandi dengan siapa pun. Namun kali ini berbeda, statusnya sudah berubah total, dan ini sudah terbilang kewajiban bagi dirinya.


     Mahu atau pun tidak, hal ini tidak mungkin bisa di tolak oleh Sofiya, pandangan mereka semakin berbicara.

__ADS_1


****


__ADS_2