
Mereka sedang menunggu dan terus sabar menunggu. Namun Rini mencoba bangkit dan merenggangkan pelukannya dari Sofiya.
"Bentar ya gais!! Aku buat jus jeruk lagi, biar makin seger mata kita plototin layar ponsel. Hahahaha!!" Rini mencoba membuat suasana tidak menjadi horor.
Rini memang selalu bisa membuat hal-hal menjadi lucu. dengan tingkahnya yang susah di tebak dia mampu membuat mood orang lain menjadi baik, kadang kata-kata nyeletuknya membuat SOFIYA mudah tertawa.
"Uhh!! Adikku memang the best..!!" Rani memcoba menceriakan suasa juga, dengan memuji Rini.
"Dasar kakak ku yang bucin!! ada maunya aja muji-muji," ucap nya lagi.
"Udahh gih cepetan!! udah haus nih...!!" Rani menyuruh Rini cepat kedapur, dia sambil memegangi lehernya.
"Idih!! ngelunjak banget kakakku yang bucin ini," ucap Rini.
Rini pun segerapa bergegas ke dapur, dengan jalan khasnya yang seperti lelaki itu melangkah dengan cepat. Rini tidak terlihat feminim sama sekali.
"Sabar ya ka!! Mudah-mudahan dibalas lagi," ucap Rani sambil memegangi tangan Sofiya.
"Iya iya Ran!! Mudah mudahan ya Ran, pesan ini dia baca terus dia bisa ngasih penjelasannya samaku. Kenapa dia berbohong sampai mengatakan dirinya meninggal. Aku masih butuh penjelasannya dan bagaimanapun waktu itu dia sempat janji kalau dia mau nemuin ak," jelas SOFIYA panjang lebar.
"Ting..tong..
Pesan kembali terbalas.
"Maaf Dinda, maafin aku karena ngebohongin kamu, aku cuma takut aja kalau aku memang gak akan bisa bertahan lama. Dengan penyakit yang aku derita ini, dan kamu juga tahu kan penyakitku parah," balasnya.
Namun kamu tetap bertahan, aku gak mau kamu nunggu aku yang penyakitan begini. Sepertinya ini tidak adil untuk mu yang punya waktu untuk bahagia yang lama, bersamaku kamu akan sengsara.
Merawat orang sakit yang memang tak akan kunjung sembuh, aku mahu kamu bahagia, maafin aku menulis caption dengan puisimu, aku hanya rindu," balasnya lagi dengan begitu panjang.
Penjelasan itu diakhiri kata rindu, sepertinya Zaid tidak ingin membuat SOFIYA sengsara. Hingga dia rela menyuruh temannya mengabari berita kematian yang tidak pernah diinginkan Sofiya.
Semakin berderai air mata SOFIYA membaca balasan pesan dari Zaid Fahlevi tersebut. Rasanya suara tangisnya ingin meraung, namun dia masih terisak isak menahan suara tangisan itu.
Dia memang tahu Zaid mempunyai penyakit yang terbilang parah, terpurung kepala nya retak karena kecelakaan 5 tahun lalu.
__ADS_1
Zaid Fahlevi pernah cerita kepada dirinya, banyak hal yang Zaid ceritakan salah satunya tentang penyakit nya ini.
Dalam 2 bulan perkenalan mereka, Zaid terlihat optimis dan ingin menjalani hubungan jangka panjang dengan SOFIYA yang dia kenal lewat aplikasi chating.
Di aplikasi itu mereka berbagi cerita, dan cerita mereka hampir serupa namun hanya masalah yang lebih banyak dialami Zaid. Dibandingkan dengan SOFIYA Mutia.
Zaid dari kecil tidak mengetahui orang tuanya, dia dititipkan di panti asuhan, hingga dewasa dia berjuang mencari jati dirinya. Dan dia terbilang sukses di umur yang muda sekarang umurnya 24 tahun.
Tak lama mereka saling tangis dan merangkul membaca pesan panjang yang dituliskan oleh Zaid tersebut. Rini pun datang dari arah dapur membawa nampan berisikan tiga gelas jus jeruk segar.
"Loh, kenapa kalian pada nangis??" tanya Rini penasaran.
"Sini dek! Baca ini, ini beneran mengandung bawang," ucap Rani menjawab.
Rini pun segera duduk, dan meletakkan nampannya di meja, mereka bertiga duduk di sofa panjang.
"Ya tuhan!!" Kasihan sekali dia Fiya..!!" ucap Rini dan kembali memeluk Sofiya.
Padahal dia sudah seribu persen percaya sama kenyamanan yang diberikan AZaid terhadap dirinya. Tapi kenapa Zaid sanggup membohongi dirinya, atas penyakit yang dia pun sudah ketahui sebelum ini.
"Mengapa selalu aku??" tanya SOFIYA sambil terisak.
"Udah Fiya, Jangan begitu, mending kamu minum dulu ini," ucap Rini sambil menyodorkan minuman dingin Ke mulut Sofiya.
SOFIYA pun meminunya sedikit, sepertinya tenggorokannya sngat sulit untuk menelan apapun sekarang ini.
"Bahkan cinta yang baru ku kenali ingin menjauh dariku. ya Tuhan!! Mengapa selalu aku??" SOFIYA kembali meratapi nasibnya, seolah marah dengan keadaan dan takdir dirinya.
Seolah bahagia susah mendekat kedirinya, selalu saja jika dia mulai meramu bahagia lagi lagi ada saja jeruji dibalik selimut sutera yang dia pakai.
__ADS_1
"FIYA, udah udahh!!! Jangan begitu, mungkin Zaid takut kamu akan menderita. Karena dia rasa kamu wanita yang sehat dan normal, dengan penyakit yang separah itu rasa-rasanya dia tidak percaya diri, untuk bertahan lama. Jangan juga kamu salahin Tuhan, Tuhan sayang kamu dan bahagia mu masih panjang." Rini berkata bijak lagi.
"Iya Rin, Aku tahu itu, tapi mengapa selalu aku!!"
Kenapa tuhan tidak memberi jeda sedikit saja, aku ingin menikmati racikan nikmat nyaman yang pernah dia tuangkan kedalam naskah cerita hidupku!!" ucap SOFIYA seolah putus asa akan hidupnya, isak nya susah untuk dihentikan.
"Udah ya Fiya, coba kamu balas dengan tegar lagi, mana tahu semangat Zaid akan tumbuh kembali. Buktinya saja sekarang kalian bisa komunikasi kembali kan, padahal Zaid sudah membuat dirinya seolah mati tapi firasat kuatmu mengembalikan keadaan menjadi benar. Coba kamu kuatin dirimu dulu, baru kamu semangatin balik Zaid," ucap Rani lagi.
Mengangguk-angguk Sofiya, sepertinya saran Rani manjur kali ini, SOFIYA mencoba mengetik kembali dan membalas pesan dari Zaid.
"Kanda. Apapun yang kamu bilang aku enggak mau dengar, jika kamu tidak bisa menemui ku, biarkan aku yang datang menemuimu," balas Sofiya.
Balasan SOFIYA terbilang nekad, sahabatnya tidak menyangka SOFIYA akan membalas senekat ini.
"Fiya, Fi!! enggak begini juga Fiya. Kamu belum pernah ketemu orang ini, kalau dia bohongin kamu gimana??"
" Kalau kamu kenapa-napa gimana??"
"Aku gak setuju kalau kamu mau nemuin dia Ka, enggak setuju," ucap Rani menegaskan ketidak setujuannya itu.
Iya Fiya!! aku juga enggak setuju, kamu ini perempuan. Lagi Pun belum pernah ketemu, kalau dia yang jumpai kamu duluan ya gak apa-apa toh!! Kami juga bisa kenal sama orang yang dekat sama kamu, kami gak mau kehilangan kamu Fi..!? Tolong dengar Fiya!!" ucap Rini juga menambahkan protesnya.
Ting..Tong....
Mereka asik beragumen, dan protes atas keputusan Sofiya. Yang ingin menemui Zaid, sampai sampai notif masuk mengejutkan mereka.
"Tuh Zaid bales!!" Rini nunjuk ke ponsel yang dipeegang Sofiya.
Rini terlihat geram dengan sikap dan langkah yang ingin SOFIYA putuskan secara gegabah. Mereka membuat protos hanya untuk tidak kehilangan sahabat baik mereka.
Balasan pesan itu segera dibuka oleh Sofiya, mereka tidak sabar jawabam apa yang kembali dituliskan di layar ponsel tersebut.
******
__ADS_1