
Panik!! pastinya sangat panik, baru saja dia sangat merasa bersyukur atas kedatangan dua orang yang spesial di hidupnya. Tiba-tiba kesedihan menuntutnya kembali untuk bertahan dalam balutan-balutan ujian tersebut.
Hidupnya seperti selalu dirundung ujian yang bertubi-tubi, tidak ada bahagianya yang bertahan sedikit lama. Butiran air mata yang kelopaknya tak henti henti mengalir membasahi pipinya itu.
Ingin kuat, rasanya dia sudah sangat lemah. Kali ini di depan matanya langsung terbaring lemah dengan hidung yang mengeluarkan darah.
Semua perkataan udin teman sekaligus yang dianggap sebagai adiknya itu sangat lah benar. Sebelumnya Sofiya cukup mengenal udin yang pernah tinggal bersama setelah Zaid keluar dari panti asuhan untuk memulai hidup mandiri dan sukses sampai saat ini.
Semua bisnis nya di jakarta udin yang menghandle, dan Heru yang baru kukenali nama itu, yang pernah mengabari berita kematian Ziam dua bulan yang lalu. Berita itu masih membuat trauma yang mendalam untuk Sofiya sendiri.
Udin lebih lama tinggal bersama Zaid, dan heru baru dia kenali semenjak 5 tahun belakangan ini. Mereka saling sharing kehidupan, dan mereka bertiga adalah korban keadaan.
Dan takdir yang harus mereka relakan. perjalanan takdir yang tertulis untuk mereka walaupun begitu, Zaid lah yang lebih dominan mendukung mereka. Hingga mereka bangkit dan sukses seperti Zaid, dengan udin Sofiya tahu sosok udin sangat lucu, dan udin suka membully Zaid.
Jika ketahuan Zaid yang dingin itu senyum cengar cengir karena chatingan dengan Sofiya. Udin selalu menyindir Zaid, Udin juga jenis orang yang ceplas ceplos kalau berbicara.
Udin yang mengetahui bahwa foto Sofiya ada di ponsel Zaid, Udin langsung terus membully Zaid. Dengan leluconnya yang sering sekali kadang membuat Zaid kesal sekaligus lucu.
Karena memang benar sindirannya itu, Udin menganggap Zaid adalah abangnya, sebab Zaid lah yang memungut udin di jalanan. Padahal mereka sama-sama hidup dijalanan, namun karena Zaid waktu itu sudah memiliki usaha kecil-kecilannya.
Maka Zaid meminta Udin menolongnya dan tinggal bersama dirinya. Udin sangat bersyukur bisa kenal dengan Zaid yang menggap dirinya sebagai adik.
Udin selalu bilang kepada Zaid, karena Udin memang tidak habis pikir oleh abangnya tersebut. Bisa-bisanya Zaid jatuh cinta dalam dunia maya.
"Dasar aneh elu bang!! Daging didepan mata di antemi. Eddah ikan asin jauh dimata di kejar-kejar," ucap Udin ketika membuli Zaid.
Begitulah sindiran yang selalu dilontarkan udin kepada Zaid, walaupun begitu Zaid hanya membalasnya seperti angin lalu. Zaid memang begitu apa yang diinginkannya itulah yang akan dia dapatkan.
Apapun yang dibilang Udin dia tidak pernah ambil hati. Bahkan terkadang ponsel Zaid sedang ter charger, Udin suka lancang membuka ponsel Zaid.
Walaupun begitu Zaid tidak pernah marah kepada Udin palingan kalau baterai nya tidak tercas Udin kena serangan maut sasukenya. Zaid seperti adik dan abang kandung dengan Udin, kadang juga menjadi tikus dan kucing tom and jerry begitu lah keakraban mereka.
__ADS_1
Sofiya saja pun sering dFiyata-katain Udin, "Gigi kelinci". Begitulah sebutan udin untuk dirinya, karena Udin tahu foto Sofiya dengan senyuman yang terlihat gigi kelinci nya.
Dan Udin selalu menyapa Sofiya dengan sebutan "gici". Namun Sofiya tidak pernah marah, sisi humor Sofiya sangat kuat juga. Ia bisa mengimbangi celoteh-celoteh Udin terhadap dirinya.
Kadang Sofiya suka mengadukan hal-hal kejahilan Udin kepada Zaid, lalu Zaid lah yang menghukum Udin nanti. Zaid suka ngerjain Udin.
Bahkan Zaid pernah menjual ponsel udin dengan harga yang murah tanpa sepengetahuan Udin. Hal itu sangat menggelitik bagi Sofiya yang mendengar cerita itu dari Zaid.
Sedangkan Heru walau sudah bergabung dengan mereka selama lima tahun, Heru tinggal berjauhan alias Heru mengurus cabang usaha Zaid yang ada di Bandung.
Itu sebabnya Sofiya hanya tahu sedikit tentang Heru. Namun untuk mengenalnya bahkan berbicara atau chat dengan Heru seperti yang dilakukannya dengan Udin belum pernah sama sekali.
Baru itu saja ketFiyan Heru yang sontak mengejutkan dirinya langsung membuat dirinya drop. Ternyata waktu itu Heru dan Udin memang sedang merawat Zaid yang sedang berada di ruangan gawat darurat.
Udin yang sibuk ke bank, untuk mengambil uang untuk perawatan Zaid. Sedangkan Heru lah yang memegang ponsel Zaid kala itu, dia melihat pesan Sofiya yang sangat banyak di deretan notifikasi.
Dan setelah Zaid sadar waktu itu Heru langsung memberitahunya. Kalau ada seseorang yang begitu khawatir terhadap dirinya itu.
Zaid tahu orang itu adalah Sofiya. Ziam hanya tersenyum lemah ketika Heru menyampaikan berita tersebut. Dan panjang lebar Zaid bercerita tentang Sofiya malam itu.
Awalnya Heru menolak itu, Heru tidak ingin ketikannya itu menjadi doa. pasalnya Heru sangat menyayangi Zaid seperti saudara kandungnya sendiri. Heru pun sama seperti mereka yang nasibnya tidak memiliki siapapun selain Zaid dan Udin.
Dengan penjelasan Zaid yang memelas, akhirnya Heru luluh mengikut arahan Zaid. Tak disangka pesan itu langsung direspon oleh Sofiya waktu itu, Heru pun merasa kasihan dengan Sofiya.
Mendengar balasan dengan suara yang terisak-isak, seolah Heru tahu Sofiya sangat kehilangan waktu itu. Berbagai macam penjelasan Heru berikan kepada Sofiya, agar Sofiya ikhlas dan ridho atas kepergian Zaid.
Bahkan Heru merasa bingung ketika Sofiya memintanya bukti-bukti kematian tersebut. Heru mengikut arahan lagi, bahwasannya tidak boleh satu moment apapun yang diabadFiyan terhadap diri Zaid.
Ini amanah yang Zaid berFiyan sebelum dia tiada, begitulah Heru menjelaskan kepada Sofiya waktu itu.
__ADS_1
Mengingat kenangan manis dan canda tawa mereka di chat dan telpon Sofiya termenung sangat jauh. Ibu yang melihat itu lebih kuat daripada Sofiya.
Ibu mencoba membuyarkan lamunan Sofiya. Dan saling merangkul, Ibu pun meneteskan airmata, namun tidak dengan Sofiya. Tangisnya sudah membatin hingga dirinya sudah tidak bisa mengucap sepatah kata apapun lagi.
Bak kayu yang kaku , tubuh Sofiya dan mulutnya, bahkan dirinya penuh tanya dan berkomunikasi sendiri.
"Mengapa selalu aku tuhan!!"
Aku mahu kali ini saja bahagia kan diriku sedikit lama," ucapnya dalam hati yang menangis.
Diam dan kaku nya tak habis harapannya kepada Tuhan. Rasanya Tuhan tidak adil terhadap dirinya, selama ini di pikirannya dia bukanlah orang yang terlalu Tuhan. Tapi kenapa Tuhan selalu menguji nya terus-terusan.
Hampir satu jam ibu dan Sofiya menunggu di luar ruangan, dimana Zaid dirawat dan belum ada seorang pun yang keluar dari ruangan itu. memberikan kabar bagaimana Zaid didalam.
Tiba-tiba dalam hening itu terdengar suara-suara kaki yang berlarian kecil dan sedikit tergesa-gesa.
"Fiya!! bagaimana Fiya??" serentak suara itu.
Suara itu datang dari dua orang yang berlari dan langsung memeluk Sofiya. Sofiya sedikit terkejut dengan kehadiran dua sahabatnya itu.
Namun Sofiya tetap berterima kasih dan bersyukur sampai saat ini mereka tetap memperdulikan dirinya yang kurang beruntung itu.
Rini yang menyadari disebelah Sofiya ada sesosok wanita paruh baya. Rini sudah bisa menebak kalau ini adalah ibu dari Zaid.
Rini pun segera memberi salam hormat dan mencium tangan ibu Zaid dengan rasa hormat, lalu disusul dengan kakaknya Rani yang baru melepaskan pelukannya kepada Sofiya.
Melihat kedua sahabat Sofiya yang sangat sopan dan hormat kepada orang tua. Ibu semakin yakin Sofiya akan mampu menjaga Zaid dengan baik.
Karena terlihat sekelilingnya pun sangat baik dan peduli. Pastilah Sofiya melakukan perbuatan yang sama bahkan mungkin lebih peduli daripada mereka. Pikir ibu!!
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu, dengan wajah yang lelah dan hampir menunjukkan ekspresi yang datar.
__ADS_1
********