
Zaid tidak ada menaruh curiga sedikit pun dengan teman baru yang dikenalkan oleh istrinya itu lewat ceritanya sewaktu mereka sarapan pagi.
Hari ini Zaid ada pekerjaan keluar kota, dari Kalimantan Urara ke kota Kalimantan Selatan, Zaid pun meminta izin kepada Sofiya untuk bepergian selama 2 hari, mengingat kondisi Zaid yang belum sepenuhnya pulih dari penyakit itu, Sofiya ingin selalu mendampingi kemanapun Zaid pergi.
Lalu Zaid meyakinkan kepada istrinya itu, Bahwa ini bukanlah pekerjaan yang begitu sulit, jadi Zaid merasa mampu untuk pergi sendiri, atau pun, kemungkinan Heru siang ini akan sampai ke Kalimantan Utara juga.
Untuk pergi ke Kalimantan Selatan, Heru menjadi asisten Zaid, dan kemungkinan sampai minggu depan tiba, Heru akan mendampingi Zaid.
Zaid menukar rencana kepergian mereka ke kota Batam untuk melancarkan rencana penggagalan pernikahan Rani, Zaid pikir lebih baik mereka pergi bersama-sama dalam satu pesawat ke kota Batam.
Mendengar nama Heru yang akan mendampingi kepergian suaminya ke Kalimantan Selatan, Sofiya sangatlah senang dan lega mendengar kabar itu.
Jika Zaid pergi dengan Heru, Sofiya tidak ada rasa khawatir sedikitpun, pasalnya Heru pasti akan melindungi apapun yang terjadi kepada diri Zaid.
Akhirnya Sofiya menyetujui suaminya pergi dengan Heru hari ini, mengingat ini sudah pukul 9 pagi.
Zaid pun mencoba menelpon Heru, katanya Heru bertolak dari Bogor sejak pukul 7 pagi kemungkinan siang ini Heru akan sampai, Zaid pun menanyakan di mana Heru sekarang.
"Tuttt..tuttt...tutt...."
"Assalamualaikum, Her, lu dimana?" tanya Zaid.
"Gua udah sampek, ini otw kerumah lu boss, i'am cominggg...hahahaha." ucapnya terdengar suara Heru yang begitu ceria.
"Loh, kok gak mintak di jemput di Bandara, etdah gua udah rapih ni mau jemput lo, yaudah deh hati-hati," ucap Zaid.
"Hahaha, gua kan udah tau rumah lo boss, yaudah gua naik taxi aja, aman kok."
Heru menuju rumah Zaid dengan menaiki taksi, karena Heru tidak ingin merepoti Zaid, lagi pula Heru pun sudah tahu letak rumah bosnya tersebut, jadi sangat mudah bagi Heru untuk menemukannya.
"Yaudah deh..hati-hati elu ya, assalamualaikum."
Zaid pun mengakhiri panggilan itu, Heru pun menutupnya dengan jawaban Waalaikumsalam.
Kemudian Zaid memberitahukan kepada Sofiya dan ibunya, bahwa sebentar lagi Heru akan sampai di rumah mereka.
****
__ADS_1
"Sayang...sayang..." Zaid memanggil manggil istrinya itu dengan suara yang manja.
"Iya..sebantar yank..." ucal istrinya.
Sofiya pun menuju Zaid yang duduk di sofa ruang tamu itu, Sofiya yang tadi tengah di depan halaman rumah bersama ibu mertuanya itu, mendengar suaminya memanggil dirinya dia langsung masuk ke dalam rumah.
Ibu mertuanya pun mengikutinya untuk menemui Zaid, karena dari suara Zaid sepertinya ada sesuatu yang penting, pikir ibu.
"Ada apa sih..nak, kamu teriak-teriak, manggil Sofiya," ucap ibu penasaran.
"Maaf bu, hehehe."
"Dinda...Heru sebentar lagi sampai disini, ini tadi dia bilang udah di jalan mau kerumah," ucap Zaid sambil tersenyum hangat.
"Seriuss...wah.." serentak Sofiya dan ibu mengatakan itu.
Ketika mereka mengatakan itu dengan serentak, ibu dan Akiqa saling pandang-pandangan Dan tersenyum, akhirnya mereka bisa bertemu Heru lagi.
"Iyaa bu, iya sayang. Karna kemungkinan, kita berangkat paling lambat sore ini," jelas Zaid.
"Memang nya nak, di Kalimantan Selatan kamu ada kerjaan apa??"
Ibu sangat penasaran Mengapa Zaid ingin pergi ke Kalimantan Selatan itu, pertanyaan ibu itu ternyata mewakili pertanyaan Sofiya juga yang ia masih di simpan di hatinya.
"Oh..sebenarnya bu, lima bulan lalu, Zaid dan Heru sudah mencoba bisnis batu bara, kita sih hanya investasi saham sebanyak 60% di perusahaan tambang itu, makanya hari ini, ada meeting dengan perusahaan itu," jelas Zaid.
"Wah...hebat kalian nak, bisnis properti mu saja pun sudah sukses, sekarang kamu pula ikut berkecimpung di bisnis batubara," ucap ibu terkejut.
Ibunya terlihat bangga kepada anak semata wayangnya itu. Walau pun Zaid baru saja tinggal bersama ibunya namun mereka begitu harmonis dan tetap saling mendukung.
Kepiawaian Zaid dalam berbisnis memang tidak diragukan lagi, Sofiya yang mendengar penjelasan Zaid itu ikut kagum dengan suaminya itu.
Pasalnya tentang harta kekayaan yang Zaid punya, Zaid tidak begitu terbuka kepada Sofiya dan ibunya sendiri, Zaid seperti orang yang begitu tenang, dia pun selalu hidup sederhana.
Namun tak disangka dia mempunyai banyak perkembangan bisnis yang sangat pesat, Zaid punya jiwa yang dermawan, bahkan di Jakarta ada beberapa Panti Asuhan yang sudah ia dirikan.
Di sela-sela perbincangan mereka, tiba-tiba ada seseorang yang datang, tak lain dan tak bukan ialah Heru sudah sampai di hadapan mereka. Melihat Heru di depan pintu mereka pun langsung menyambut Heru dengan hangat.
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam....nahh ni orangnya udah sampai..'' teriak Zaid begitu ceria melihat Heru datang.
" Nak...Heru, kok gak mintak di jemput.." ucap Ibu menambahkan.
"Gak apa-apa bu, Heru kan udah tahu ke sini, jadi malas ngerepotin," ucapnya lagi
"Her...kamu udah makan belum??" tanya Sofiya.
Sofiya mencoba menanyakan keadaan perut Heru, pasalnya Heru datang dari jauh. Pastilah Heru lapar, karena ini pun sudah hampir siang, pikir Sofiya.
"Udah kok Fiya, tadi aku sempat singgah makan di resto dekat sini juga sih..gak jauh lah dari sini, aku makan soto banjar....mantap banget rasa nya," ucap Heru.
"Ahahahaa, pantesan aja tadi lu gua telpon kayak brisik gitu, ternyata lo lagi makan," tambah Zaid.
"Iya boss, yaudah kita berangkat jam berapa?? Biar gua booking ticket nya dulu," ucap Heru menanyakan keberangkatan mereka.
"Nanti aja lepas dzuhur kita berangkat, lo istirahat aja dulu ya! tapi kali ini lo istirahat di kamar tamu," ucap Zaid.
"Ahahahahaha!!"
"Yaelah boss itu juga gua tahu, lo kan udah ada istri..." tambah Heru lagi.
Heru pun masuk ke dalam kamar tamu itu, sambil menyeret koper kecilnya masuk ke dalam kamar, ketika ia berbaring, dia teringat wajah seorang perempuan yang ia lihat sewaktu ia makan di restoran soto banjar tersebut.
Wajah perempuan itu tidak asing baginya, tapi Heru juga tidak begitu yakin kalau yang dilihatnya itu adalah Jasmin mantan kekasihnya Zaid.
Santi yang melihat kedatangan Heru di rumah itu, penasaran dengan sosok Heru Yang sepertinya sudah sangat akrab dengan Sofiya juga.
Lalu Santi menanyakan kepada ibunya, siapakah tamunya yang baru datang itu, pasalnya Santi baru saja bekerja di rumah itu semenjak Sofiya datang juga di rumah itu.
"Bu...tamu yang tadi siapa ya, kok akrab banget sama si Sofiya itu??" tanya Santi.
"Oh..itu namanya Heru, dia temen dekatnya calon suami kamu," ucap Bu Laras, menyebut Zaid adalah calon suami Santi.
Bu Laras, masih ter obsesi dengan Zaid, dalam hati Bu Laras masih menginginkan Zaid menjadi menantunya, jika mereka berdua sedang berada di dapur, Bu Laras selalu menyebut Zaid adalah calon suami Santi yaitu anak Bu Laras tersebut.
__ADS_1
"Wahh...tampan juga ya bu, kalau mas- mas itu belum nikah, mending sama dia aja deh bu," ucap Santi seketika berubah hati.
*****