
"Assalamualaikum"
Dua suara masuk bersamaan membuat terkejut yang didalamnya. Kali ini Heru yang sedang asik mengunyah roti nya itu, dia yang merasa sangat kelaparan sekali.
"Assalamualaikum"
Dua suara masuk bersamaan membuat terkejut yang di dalamnya. Kali ini Heru yang sedang asik mengunyah roti nya itu, dia yang merasa sangat kelaparan sekali.
Karena dia baru sampai di kota Batam. Dan tiba-tiba dia tertawan oleh kecantikan gadis kembar yang baru saja masuk menemui mereka.
"Waalaikumsalam" jawab mereka serentak.
Bersamaan mereka menjawab salam dari kembar itu. Sepertinya si kembar datang dengan tidak membawa tangan kosong.
Padahal Sofiya tidak meminta mereka datang membawa makanan. Tapi sahabatnya ini tahu sekarang Sofiya akan membutuhkan mereka, dan mereka memang selalu ada untuk Sofiya.
"Ini Fiya, kita bawain makanan buat kalian semua. Tapi untuk orang itu tidak ada," ucap Rini, dan menunjuk Heru yang baru mereka lihat, sepertinya Heru lapar sekali.
" Iya Rin, gak apa-apa. Dia ini gak suka nasi. Yakan Her!! balas Zaid.
Zaid menjawab Rini. Lalu mengerjai Heru yang tengah lapar, yang sedari tadi memang menunggu nasi. Tertawa Sofiya dan ibu melihat kelakuan Zaid tersebut.
"Huss kamu ndok, gak boleh begitu. Nak Heru kan baru saja sampai, dan dia sangat lapar. Kasihan dia," pungkas Ibu.
"Untuk kalian berdua ibu berterima kasih, Nak Rini dan Nak Rani. Kalian sangat perhatian kepada kami, khususnya menantu ibu ini," ucap ibu lagi sambil tersenyum hangat.
"Iya bu, sama-sama," ucap mereka.
Heru belum bisa mengalihkan pandangannya. Namun rasa laparnya untuk meminta apa yang dibawakan oleh kedua gadis kembar itu lebih penting saat ini.
"Pelan-pelan makan nya mas!!" Nanti keselek," tegur Rini.
Rini yang jahil sengaja mencoba menegur Heru yang makan begitu lahap karena ia sangat begitu lapar.
"Biarin aja Rin dia keselek, palingan entar dia yang susah sendiri," sahut Zaid.
Membuat mereka yang mendengar tertawa. Mereka semua terlihat senang Heru di jahili oleh Zaid tersebut.
__ADS_1
"Eh..boss, kalau gue gak ada elu bakalan repot. Bakalan gak nyampek ni Cek ketangan lu bos," ucap Heru.
Baru ingat kembali tentang cek tersebut. Yang hari ini harus segera mereka bayarkan denda nya kepada Pak Mike.
Zaid pun menuliskan nominal cek itu. Dan langsung memberikannya kepada Sofiya, agar Sofiya simpan lalu membayarkan cek itu kepada Pak Mike besok pagi.
"gile, nominal nya banyak banget boss, buat apaan sih??" tanya Heru penasaran.
"Ude, makan aja lu jangan banyak tanya!!" sahut Zaid.
Rini dan Rani terkejut dengan jumlah cek yang mereka lihat itu. Bingung juga untuk apa cek itu diberikan kepada Sofiya.
Mereka belum tahu kalau siang tadi Pak Mike mengunjungi Sofiya dan membuat kericuhan di dalam kamar Zaid tersebut.
"Fiya, kamu baik-baik aja kan??" tanya Rani lembut kepada Sofiya.
"Aku baik-baik aja kok Ran. Apalagi sekarang aku ada suami, dialah yang membantu setiap masalahku Ran." ucapnya.
"Iya syukurlah kalau begitu, kami berdua ikut senang atas kebahagiaanmu ini," tambah Rani.
Sofiya dan Rani sedang berada diluar rumah sakit. Sofiya meminta Rani untuku menemaninya menebus obat Zaid.
"Apa...boss kamu datang Fiya?? Terus marah-marah. Lalu apa cek tadi itu??" tanya Rani penasaran sekaligus terkejut.
"I...iya Ran, Cek tadi untuk membayar denda. Dan ini denda yang harus dibayar ke Pak Mike," jawab Sofiya terbata-bata.
Sofiya baru saja berkata jujur kepada Rani, karena baru sempat membicarakan masalah ini kepada sahabat nya itu. Awalnya Sofiya tidak ingin Rani dan Rini merasa khawatir terhadap dirinya.
"Aku tahu Fiya, pak Mike kan naksir sama kamu. Begitu dia dengar kamu menikah, ya pasti dia gak akan rela. Dan gak percaya lah." ucapnya.
"Yaudah besok apa mau aku temenin anter cek ini ke kantor kamu?" tanya Rani lagi lembut.
"Gak usah Ran, aku bisa sendiri kok. Lagian hanya mengantar sebuah cek. Dan itu perusahaan tempat ku bekerja, aku juga sudah biasa memasukinya, udah tenang aja," jawab Sofiya.
"Perasaan aku gak enak Fiya!! Pak Mike kan lagi marah besar sama kamu. Aku takut terjadi apa-apa sama Fia!!" ucap Rani dengan menekankan suaranya.
Rani memiliki rasa khawatir yang begitu besar kepada Sofiya, dan dia sepertinya mempunyai perasaan khawatir yang begitu besar terhadap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Udah doain aja. Semoga gak ada apa-apa dan Pak Mike pasti sudah hilang marahnya," jawab Sofiya sambil menggenggam tangan Rani.
"Yaudah, apapun yang kamu butuhin Fiya, jangan lupa cari aku dan Rini. Kita berdua selalu siap ada ." ucapnya.
"Eh, ngomong-ngomong, cowok yang tadi itu siapa Fiya ??" tanya Rani penasaran.
"Oh itu yang namanya Heru. Ingat gak kamu Ran??" tanya Sofiya mencoba mengingatkan.
"Ohhh iya iya!! Heru yang ngabarin kalau Zaid sudah meninggal dunia bukan??" ucap Rani mencoba memastikan.
"Iya benar sekali. Dia kesini di pinta Zaid untuk mengantar cek tunai ini buat aku," jawab Sofiya.
"Syukurlah ada Zaid bersamamu Fiya. Jadi kamu bisa berhenti dari perusahaan yang boss nya itu selalu ngejar kamu terus," ucap Rani.
"Iya, Pak mike baik kok. Dia gak pernah juga maksa aku Ran buat bales perasaan dia. Bagaimana mungkin, perasaan itu tidak akan pernah bisa tumbuh untuknya," jelas Sofiya.
"Iya dia emang gak maksa kamu. Tapi dia gak pernah berhenti mengejar kamu terus-san. Padahal sudah sering kamu tolak."
"Zaid juga baik dan bertanggung jawab. Itu lebih baik untuk kamu Fiya, beruntung kamu dapetin Zaid," ucap Rani lagi.
"Iya alhamdulillah Ran. Aku bersyukur banget allah kasih aku suami kayak Zaid."ucapnya.
"Dan kamu sama Adit gimana?? Jadi kalian menikah??" tanya Sofiya.
"Oh..Adit. Dia ada kok, belum tahu Fiya," ucapnya singkat.
Rani terlihat canggung ketika ditanya mengenai Adit. Seolah ada yang disembunyikan oleh Rani kepada Sofiya.
Beberapa hari ini Rani tidak begitu ceria, bahkan tentang Adit yang baru saja ditanya oleh Sofiya Rani terlihat bingung dan menunjukkan wajah kemurungan.
Rani tidak seperti biasanya, dia yang bucin ketika bersama adit, namun kali ini ditanya malah menjawab sesingkat mungkin yang keluar dari bibir mungilnya itu.
Sofiya tidak berani menggali lebih dalam, jika Rani ingin berbicara kepadanya dia akan menjadi pendengar yang baik bagi sahabatnya itu.
Dan begitulah arti sebuah sahabat jika yang satunya lemah maka yang lain akqn membantu memberikan bahu.
*****
__ADS_1