
Malam itu kedatangan Heru sangat disambut hangat oleh Sofiya dan para sahabatnya. Mereka pun sudah saling kenal.
Bahkan Heru sempat meminta nomor ponsel salah satu sahabat Sofiya itu, dengan tidak segan-segannya Heru memintanya.
Malam itu Rani dan Rini pulang kerumah mereka. Dan besok hari Rani cuti bekerja. Rencana nya besok pagi Rani ingin berkunjung kembali ke rumah sakit.
Rani ingin membantu Sofiya, setidaknya besok Sofiya akan ke kantornya, pasti ibu mertua Sofiya kesepian dan butuh bantuan dirinya.
Kedua gadis kembar itu sangat pengertian, namun Rini yang jarang berkumpul dengan mereka karena kesibukannya itu.
Rini yang bekerja di perusahaan Arsitektur. Jadi dia sangat sibuk dalam pekerjaan sehari-harinya itu.
Butuh fokus yang kuat untuk mengerjakan suatu desain yang bagus. Rini seorang yang ceplas-ceplos, dan sedikit tomboy, namun dia sangat bijak di antara Rani dan Sofiya.
*****
"Kak, aku harus berangkat pagi-pagi ni. Aku bawa mobil ku sendiri, kayaknya aku mau lembur hari ini," ucap Rini memberitahukan kepada Rani kakaknya.
"Yaudah hati-hati, jangan lupa kunci pintu rumah. Kakak masih mau tidur, nanti agak siangan dikit kakak mau ke rumah sakit," sahut Rani yang masih berbalut dengan selimut tebalnya.
Dan mata nya yang masih menyipit, hari ini jadwal cuti. Sedang Rini yang mempunyai pekerjaan lain dari mereka berdua memang begitu sibuk hari-hari nya.
"Yaudah kak, bye...assalamualaikum." ucap Rini.
"Waalaikumsalam" balas Rani.
Rani pun kembali memejamkan matanya, untuk beberapa saat. Terdengar suara pintu dan mesin mobil yang sudah melaju jauh, sepertinya adiknya itu sudah pergi jauh pikirnya. Dia pun membenamkan wajahnya kembali ke bantal.
"twing..twing.." suara notif pesan di ponsel Rani.
Rasa malas iya melirik ponselnya. Karena dipikirnya pasti hanya notif dari operator kartu. Pasalnya beberapa hari lalu dia sudah memutuskan hubungan dengan kekasih nya yang bernama Adit.
Dan sangat tidak mungkin pikirnya, kekasih nya itu kembali menghubunginya, dan kalaupun itu mantan kekasih nya, dia akan segera memblokir nomor sanga mantan.
Kini rasa bencinya sungguh terlihat. Namun entah mengapa notif itu kembali bertalu-talu masuk ke ponsel nya. Hinggalah iya kembali terjaga dan melihat siapa yang mengganggu tidurnya itu.
"Hmmm!! Niat hati mau lanjut tidur, ada aja pengganggu. Padahal cuti, siapa sih yang sepagi ini ngechat," gerutu Rani.
"Ha..eh, si Heru!! dia ngajak sarapan, hahaha," Rani terlihat gembira ketika Heru yang mengirimkan pesan pagi ini.
Tertawa kecil Rani melihat ponselnya. Ternyata Heru yang bertalu-talu chat nomornya itu.
__ADS_1
Sewaktu mereka bertemu di ruangan Zaid, Heru tidak segan meminta nomor Rani didepan mereka semua. Sempat Zaid memberi isyarat kepada Rani, jangan memberikan nomor ponsel kepada Heru.
Karena Heru adalah seorang playboy. Tapi Rani malah terhibur dengan tingkah konyol Zaid dan Heru.
Rani juga sengaja memberi nomor ponselnya. Dipikirkannya untuk tambah teman, lagi pula heru kan teman baiknya Zaid. Dan Zaid adalah suami sahabatnya, tidak ada salahnya mereka semua saling bersahabat, pikir Rani.
"Assalamualaikum Rani, temenin aku sarapan pagi dong," isi pesan tersebut.
"Waalaikumsalam..mas Her, yaudah aku siap-siap dulu ya!! Mau mandi, Hehehe," Balas Rani.
Sambil senyum-senyum Rani mengetik nya, sedangkan iya pun langsung menuju kamar mandi.
****
"Yes...akhirnya!!" Rani mau gua ajak sarapan pagi juga," ucap Heru kegirangan.
Tersenyum puas Heru, dan dia memamerkan balasan chat itu kepada Zaid, yang tengah disuapin Sofiya. Sofiya dan ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Heru.
"Lebay lu Her, belum juga dapet udah girang amat. Kek gue dong disuapin istri," ucap Zaid sambil menciumi tangan istrinya.
Zaid memegang tangan istri nya sengaja membuat Heru panas, ibu tertawa geli melihat tingkah anak-anak muda itu saling memamerkan keberhasilannya merebut hati wanita.
"Idih lebay lu Bos." balasnya
"Eh..biarin entar juga gue bakalan dapet. oh iya Fiya, Rani udah ada pacar belum?" tanya Heru.
Heru menanyakan tentang Rani kepada Sofiya. Heru yakin Sofiya pasti tahu banyak tentang Rani. Pasalnya mereka berdua adalah sahabat dekat. Dan sepertinya juga Heru sudah naksir kepada Rani.
"Ha..eh, aku sih gak tau. Sebelum nya Rani memang sudah ada pacar. Adit namanya, kenal nya juga sama seperti ku lewat aplikasi chat itu."
"Dan Adit pula tidak jauh dari Rani, biasanya mereka sering pergi bersama, tapi akhir-akhir ini aku tidak pernah mendengar nama Adit lagi dari mulut Rani," jelas Sofiya.
Sofiya menjelaskan tentang apa yang dia tahu kepada Heru, lebih baik pikirnya beritahu saja ketimbang ada yang ditutupi.
"Hahhhhahaah!! Kasiann dehh lu, orang udah punya mau di gebet..hello," sahut Zaid.
Semakin kesal Heru dibuat Zaid. Zaid yang mendengar penjelasan Sofiya, dan ia langsung menertawakan Heru yang disaat itu sedang mendengarkan Sofiya berbicara tentang Rani.
"Eh!!! Sebelum janur kuning melengkung, Rani bukan milik siapa-siapa. Oke gais hahaha," ucap Heru dengan percaya diri.
Kembali lagi heru menaikkan kepercayaan dirinya. Padahal dia hampir lemah tadi mendengar penjelasan Sofiya tentang lelaki yang bernama Adit tersebut.
__ADS_1
Namun karena dia tidak ingin kalah argumen dengan Zaid ada saja jawaban Heru untuk bisa membalas ucapan Zaid tersebut.
"Hahaha....jangan nanti elu, kayak sinetron ntu itu ya!! Ku menangissssss membayangkan..hahahaha!!" balas Zaid.
Semakin menjadi jadi Zaid membully Heru. Ibu pun tertawa Geli melihat tingkah Zaid yang begitu. apalagi Sofiya dia tertawa lepas karena tingkah suaminya.
Inilah Zaid yang sebenarnya pikir Sofiya. Dalam hati Aloqa dia berdoa agar selalu berkumpul bersama mereka.
Tiba tiba suara tertawa mereka terdengar sampai luar, ada yang ingin memasuki ruangan itu mereka semua terkejut ada yang datang.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.." jawab mereka bersamaan.
Mereka semua menjawab salam dari Rani yang baru saja sampai. Tapi Rani sedikit heran apa yang mereka tertawakan sampai tadi suara mereka terdengar keluar.
"Nahh...liat boss, ini namanya pucuk dicinta Rani pun datang. Ya kan Ran!! icap Heru.
Heru sangat percaya diri, mereka yang mendengar perkataan Heru itu semakin terbahak. Begitu juga Rani, dia menjadi tersipu malu dengan ucapan Heru kepadanya.
"Ih..apaan sih kamu her.." ucal Rani ingin menyangkal, pipinya sudah sedikit memerah.
"Ran, bener kamu mau nemenin Heru sarapan?" tanya Zaid.
Zaid langsung bertanya kepada Rani. Rani sedikit tersipu malu mendengar pertanyaan itu. Ia langsung melirik kearah Heru, apa heru memberitahukan Zaid, atau jangan jangan mereka tertawa membahas dirinya, pikir rani dalam kepalanya.
Rani tambah malu, dia gugup menjawab pertanyaan itu. Belum lagi habis menjawab, tangan Rani sudah disambar Heru.
"Udah Ran gak usah dijawab. Zaid mah rese sudah ada istri juga masih rese banget. Ayo temenin aku sarapan, aku lapar!! Zaid noh udah disuapin sama istrinya, lah aku mau disuapin sama sama kamu!!" ucap Heru.
"Hahaha, ada-ada aja kamu nak Heru," tambah ibu yang tertawa geli menyapanya.
"Hehe, ya sudah bu. Heru pamit dulu ya!Doain Heru ya bu. Ibu jangan kayak pasangan suami istri ini malah menjatuhkan semangat Heru!!" ucapnya lagi.
Semakin Heru ngomong semakin membuat ibu geli dan tertawa lepas. Akhirnya mereka berdua meninggalkan ruangan dimana Zaid dirawat itu.
__ADS_1