
Sofiya setelah melaksanakan sholat subuh, dia langsung kedapur, menyiapkan masakan untuk suami dan ibu mertuanya serta untuk Heru juga.
Rasanya dia tidak enak, jika tidak menyiapkan itu semua. Ibu pun menuju dapur, dia melihat menantunya itu sudah sibuk memasak, ibu tak segan-segan menolong Sofiya yang kala itu sedang sibuk memasak.
"Nak..kamu kan masih lemah, sudah istirahat saja, biar ibu yang membuat sarapan," pinta Ibu.
Ibu mertua Sofiya memang sangat baik dan perhatian padanya, itulah mengapa dia sangat bersyukur ditemukan dengan orang seperti itu.
Lagi-lagi sikap Zaid yang baik dan hangat padanya, dan sahabat Zaid yang begitu peduli dengannya, dia masih mengingat lagi ketika Heru menghabisi wajah Mike.
Heru benar-benar menghajar Mike tanpa ampunan, hingga wajah lelaki berdarah tionghoa itu benar-benar babak belur saat itu. Heru yang tidak peduli dengan emosinya saat itu benar-benar membuat Sofiya kagum dengan kebaikan sahabat suami nya tersebut.
****
Teringat dengan Mike tiba-tiba badan Sofiya seketika dingin, tubuhnya gemetar ketika dia ingin menghidupkan kompor. Hampir saja minyak jatuh di kaki nya, ibu yang melihat kejadian itu segera sigap menangkap minyak itu.
Dan Sofiya di suruh duduk dengan tenang, ibu pasti tahu Sofiya mengalami depresi, ibu memberinya minum, dan menyuruh nya tenang.
Masakan itu, akhirnya ibu yang melanjutkan, hanya masakan sederhana, yaitu nasi goreng seafood dan telur mata sapi, lumayan untuk mengganjal perut mereka pagi ini.
Jadwal pagi ini setelah sarapan, Zaid berencana membawa istrinya ke psikiater terlebih dahulu, setelah itu baru ke kantor Capil, biarlah Heru beristirahat di rumah dengan menjaga ibu juga, pikir Zaid.
Sofiya membantu menata meja makan, Zaid dan Heru kelihatannya sudah menuju meja makan. Sofiya merapikan rambutnya, makanan tertata dengan rapi, aroma masakan sudah tercium lekat di hidung mereka.
Heru yang tidak pernah merasakan masakan ibunya sejak dulu, pagi ini merasa sangat istimewa, seperti keluarga mereka berkumpul makan satu meja. Kenangan pahit kecil Heru, Zaid, dan Sofiya hampir serupa, tidak pernah makan semeja dengan keluarga mereka dengan hangat.
"Wah...pasti enakk nihh bu," ucap Heru dengan semangatnya.
Heru girang sekali, nasi goreng seafood adalah kesukaannya, apalagi pagi ini ibu yang memasaknya, pikirnya. Tangan seorang ibu orang bilang tiada duanya, karena diapun tidak tahu ibunya, dia menganggap ibu Zaid ibu nya juga, dan air tangan ibu pasti paling lezat, ucap Heru.
"Heheh...cobain dulu, ini nak Sofiya yang membantu ibu juga," tambah ibu.
Ibu pun tidak ingin dipuji sendirian, ibu menyeret nama Sofiya dalam masakannya itu, padahal Sofiya hanya duduk memperhatikan ibu ketika masak. Trauma nya yang muncul seketika, badannya lemas, dan pikirannya terasa sakit, entah depresi apa yang dialaminya saat ini.
"Wahhh masakan istri ku memang sedap, kemarin pagi kan aku disuapin bubur, hari ini di suapin nasi goreng kan sayang," ucap Zaid tidak ingin kalah, dia sengaja membuat Heru cemburu padanya.
"Yahh..entar juga gua ada istri," ucap Heru tidak ingin kalah lagi, dia menyahut apa yang di katakan Zaid.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan bertengkar, makan yang banyak ayo! semua dimakan, Sofiya kamu juga makan, nanti kalau enggak makan, ibu ngambek sama kamu," ucap Ibu agar Sofiya mau makan juga.
Ibu sengaja begitu, agar Sofiya makan, karena kondisinya lemah dan sangat terlihat dari raut wajahnya pucat. Namun begitu dia tetap mencoba berdiri, dan melakukan aktivitas.
"Iya Bu, terimakasih banyak sekali lagi, ibu menjadi ibu terbaik yang pernah Sofiya temui," ucap Sofiya memegang hangat tangan ibu.
"Ini cukup enggak?" tanya Ibu.
Ibu mengambilkan nasi untuk Sofiya, Zaid sangat bahagia memiliki kedua wanita ini, mereka penuh kehangatan dan kasih sayang, dia bersyukur ibu nya bisa akrab dengan Sofiya.
Sepertinya dia memang tidak salah pilih wanita, walau mengenali Sofiya hanya lewat chat dan telpon suara, itu sudah membuat Zaid nyaman dan tahu karakter Sofiya, dia bersyukur sekali, dengan keadaan yang begitu hangat tercipta.
"Sudah bu cukup, Fiya gak makan banyak kok," ucap Sofiya.
"Kalau mau jadi istri yang baik Kanda, Dinda harus makan banyak," ucap Zaid menyahut.
Zaid yang menyahut perkataan Sofiya tersebut, membuat Heru yang tengah melahap nasi goreng nya terselak. Heru merasa Zaid benar-benar menjadi bucin.
"Enggak apa-apa bu, entah apa yang merasuki Ziab bu, ini pertama kali dia selebay ini. Hahahaha," ucap Heru.
Ternyata kegelian kata-kata Zaid kepada Sofiya itu membuat heru sampai tersedak, Heru benar-benar menganggap bos nya itu berubah menjadi lebay dan bucin.
"Zaid yang dulu bukan yang sekarang, dulu jomblo sekarang udah ada istri, istri yang cantik, baik hati, sama kaya ibu ku pula," ucap Zaid.
Zaid memuji kedua wanita itu, membuat kedua wanita itu tersenyum-senyum dengan wajah yang memerah.
"Alah...bu, gombal itu bu, jangan percaya hoax, dia gombalin ibu," tambah Heru.
Heru selalu begitu dengan Zaid, biasa nya satu lagi ada Udin, pasti suasana makin meriah karna Udin lah bahan bullian mereka kalau sedang makan, Udin seperti adik bagi mereka berdua.
"Resek lu ya, gua gak gombal ibu, apalagi untuk istri tercintaku," balas Zaid.
Zaid sambil memandang ke arah Sofiya, pagi ini Sofiya beruntung bisa makan bersama mereka. biasanya dia makan sendirian, di meja makan ini, kalau pun ada Rani dan Rini yang menginap dirumahnya, kalau tidak ada mereka, Sofiya hanya sendiri.
Matahari hari mulai menunjukkan sinarnya, Sofiya dan Zaid ingin berpamitan kepada ibu, Zaid berpesan agar jagain ibu, dan menunggu kabar dari kepolisian atas pelaporannya.
"Kalau ada kabar, segera lu lapor ke gua, yaudah gua berangkat dulu," ucap Zaid kepada Heru.
__ADS_1
"Iye aman boss, hati-hati di jalan, pegangin tuh tangan istri, nanti jatoh. Hahaha!!" ucap Heru.
Heru selalu saja membuli Zaid, menjahili dengan tingkahnya, dulu Zaid selalu bilang dia akan bersikap biasa-biasa saja ke perempuan, nyatanya ucapan itu hoax.
Setelah Zaid menikah dengan Sofiya, dia tampak menjadi pria lebay, dingin nya yang seperti kutub utara sekarang sudah mencair oleh kehangatan yang du berikan Sofiya.
"Assalamualaikum," ucap Zaid dan Sofiya.
"Waalaikumsalam,"
"Hati-hati ya nak, pelan-pelan nyetir mobilnya." ucap Ibu lagi.
Ibu melihat-lihat segala isi ruangan Sofiya, ruangan itu tertata rapi, sepertinya Sofiya memang orang yang rapi dan bersih. Semuanya tertata begitu kemasnya, banyak buku-buku sesuai tempatnya, ruangan kamar pun bersih dan wangi, memang Sofiya perempuan yang sesuai di jadikan menantu.
Heru yang kala itu tengah sibuk bermain ponselnya, dia berbaring di sofa sepertinya permainan nya itu tiba-tiba terhenti oleh panggilan yang ada di ponselnya.
"Uhh..siapa sih nelpon lagi push rank begini!!" ucap Heru.
Heru kesal, karena dia sudah hampir menang, di lihatnya panggilan itu dari kepolisian, dia segera menjawab panggilan itu.
"Hallo pak selamat pagi," ucap pak polisi.
"Iya selanat pagi pak," balas Heru.
"Maaf pak Heru, kami ingin mengabarkan, pak Mike tidak bisa ditahan, menurut atasan kami dia sudah menyelesaikan perkara ini. Dan tidak seratus persen kesalahan padanya, terimakasih," ucap polisi tersebut menjelaskan.
Panggilan itu pun ditutup oleh pihak Kepolisian itu.
Heru pun makin murka dengan alasan yang tidak masuk akal itu, jelas-jelas bukti di depan mata, lalu polisi itu ingin menyangkal semuanya.
" Dasarrr hukum yang lemah!!" ucap Heru dengan kemarahan.
"Pasti ini permainan uang yang dilayangkan Mike ke oknum aparat-aparat yang tidak bertanggung jawab, hukum benar-benar lemah, uang menjadi pengatur segalanya," ucap Heru lagi.
Sangat kesal raut wajah Heru, dia pun segera menelpon Zaid. Tapi tidak jadi, mengingat mereka masih dijalan, Heru mencoba menelpon Rani, apakah Rani bisa meminjamkannya mobil.
Karena perasaannya sangat tidak enak, lagi- lagi si brengsek Mike berhasil tidak ditahan oleh kepolisian pasti rencana busuknya akan di lancarkan kembali, pikir Heru.
*****
__ADS_1