ZAID & SOFIYA

ZAID & SOFIYA
MASUK PERANGKAP


__ADS_3

Kebetulan pula bu Laras lah yang membawakan minuman untuk Ira pada saat itu, dengan rasa penasaran itu Ira bertanya kepada asisten rumah tangga itu mengenai foto-foto pernikahan Sofiya dan Zaid yang tidak terpajang di setiap sudut ruangan rumah itu.


"Diminum..non.."



"Terimafiyasih bi, oh iya Sudah berapa lama bibi bekerja disini??" tanya Ira.



"Lumayan lama juga..sih..non," ucap bu Laras.



"Oh...begitu, jadi bibi ini bekerja untuk Sofiya ya??" tanya Ira lagi.



"Tidak... Saya tidak mengenal perempuan itu, Saya bekerja untuk tuan Ziab dan ibunya, untuk perempuan itu saya pun baru melihatnya dalam tiga mingguan ini lah," ucap bu Laras.



Laras yang tidak menyufiyai Sofiya itu sengaja bercerita dengan Ira, Ira yang melihat ketidaksukaan bu Laras kepada Sofiya itu tiba-tiba memberikan kartu nama dirinya kepada bu Laras sepertinya dia afiyan mengajak kerjasama dengan bu Laras



"Apa ini non??" tanya bu Laras.



"Itu kartu nama saya bu, jika Ibu membutuhfiyan sesuatu telepon saja ke nomor itu, saya afiyan memenuhi apapun keinginan ibu," ucap Ira.



Ira mencoba memperalat bu Laras agar bisa membuat kerjasama dengan dirinya.



Laras yang melihat Sofiya dan ibu mertua Sofiya itu kembali menemui Ira, bu Laras pun cepat-cepat kembali ke dapur, agar omongan mereka tidak dicurigai oleh Delisa maupun Ibu mertuanya itu.



Zaid dan Heru belum pun pulang dari bisnis mereka yang berada di kalimantan Selatan, Zaid yang awalnya hanya berpikir dua hari untuk di sana ternyata Zaid harus menambah waktu satu hari lagi untuk menetap di fiyalimantan Selatan.


Sofiya pun mengizinkannya, jadi Sofiya tidak masalah jika suaminya menetap di sana sedikit lebih lama lagi.


Dengan begitu Zaid tidak afiyan melihat isterinya yang saat ini kondisinya belum membaik sepenuhnya, mudah-mudahan sebelum Zaid pulang besok Sofiya sudah pulih benar-benar, pikir ibu.



sudah dua hari ini Sofiya tidak diperbolehkan kemana-mana dari tempat tidurnya tersebut, Ibu mertuanya itu benar-benar menjaga dirinya dan memperhatikan dirinya.



Ibu mertuanya ingin Sofiya benar-benar cepat pulih, agar nanti ketika suaminya pulang, tidak menaruh curiga pada mereka.



Ketika ibu Zaid sedang berada di halaman rumahnya, pagi yang cerah itu seperti biasanya, ibu mertuanya itu melihat- lihat bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya.

__ADS_1



Ketika ibu mertuanya itu yang berada di halaman rumahnya tersebut, tiba-tiba Ibu Zaid kedatangan seorang tamu, tamu ini sudah tidak asing lagi bagi mereka, siapa lagi kalau bukan teman baru Sofiya yang bernama Ira tersebut.



Ira datang membawa sesuatu di tangannya, begitu Ira terlihat di depan pagar, ibu langsung menyuruh sekuritinya untuk membukakan pagar depan untuk Ira.



Ibu begitu senang sekali melihat kedatangan Ira di rumah mereka, sepertinya rencana Ira akan berjalan lancar untuk saat ini, lagi-lagi Ira dan bu Laras sudah membuat persekongkolan mereka.



"Ini bu, Ira bawain sarapan buat ibu dan Sofiya," ucap Ira.



"Ini Ira sendiri loh bu yang memasaknya, Ira merasa bersalah banget dengan Sofiya," tambahnya lagi.



Ira berakting membuat wajah begitu sedih di depan ibu mertua Sofiya tersebut, agar ibu mertua Sofiya tersebut Simpati dengan dirinya.



"Yaampun Ra...Jangan repot-repot, uda masuk dulu yuk, Sofiya pasti senang melihat kamu datang kesini," ucap ibu sambil memegang tangan Ira.



" Iya bu, ayo kita lihat Sofiya. Ira ingin melihat keadaan Sofiya pagi ini, jifiya keadaannya membaik pagi ini, Ira sangat senang bu," ucapnya berpura-pura senang.




Mereka berdua pun masuk menemui Sofiya yang tengah berbaring, Sofiya hari ini tampak sudah lebih sehat dari sebelumnya.



Ketika dia melihat Ira yang datang, Sofiya dia begitu tampak ceria, apalagi ibu mertuanya sangat akrab dengan teman barunya itu.



Sofiya yang berpikir positif terhadap Ira sangat senang dengan pertemanan mereka yang terjalin sangat akrab, bahkan ibu mertuanya pun sepertinya menyukai Ira.



" Hai fiya...gimana keadaan mu hari ini??" tanya Ira.



Ira pura-pura menanyakan keadaan Sofiya, di depan Sofiya dan ibu mertuanya itu Ira sangatlah bertanya tanya jawab manis dan penuh kehangatan.



"Ira..alhamdulillah aku sudah jauh lebih baik, terima kasih kamu repot-repot kesini." ucap Sofiya.


__ADS_1


"Enggak kok fiya, aku sangat suka mengunjungimu, dan setelah melihat ibu mertuamu yang baik hati ini, aku pun semakin betah untuk menemuimu fiya. Andai saja aku punya ibu mertua seperti ibu mertuamu ini," ucap Ira.



Ira pura-pura sedih di hadapan mereka berdua, seolah meminta kasih sayang ibu mertua Sofiya juga. Sengaja dia membuat ibu mertua Sofiya iba terhadapnya.



"Nak...memangnya ibu mertuamu kenapa??" tanya ibu.



Ibu sepertinya mulai iba dengan ira yg pura- pura sedih di hadapan ibu dan Sofiya tersebut. Dia berhasil memerangkap ibu mertua Sofiya itu.



"Hmmm...enggak apa-apa bu, jika aku bercerita tentang ibu mertuaku, aku takut di cap menantu yang tidak baik," jawab Ira.



Ira sambil mengeluarkan air matanya, semakin iba Sofiya dan ibu yang melihat nya itu, sekarang Ira semakin menjadi-jadi berakting di depan ibu mertua Sofiya tersebut.



"Ira, kamu jangan nangis, kita kan sudah berteman, apapun keluh kesahmu kamu akan aku dengar," tambah Sofiya.



Sofiya yang sangat tulus terhadap Ira, dia tidak tahu kalau Ira yang di hadapannya ini ingin menghancur fiya hidupnya dan rumah tangganya bersama Zaid Fahlevi yaitu mantan dari Jasmin Adira, yang sekarang menyamar menjadi IRA.



"Iya nak, jika memang kamu ingin meluahkan unek-unekmu, ibu dan Sofiya siap mendengarfiyannya, kamu sangat baik menjadi seorang menantu. Bahkan keadaanmu sepertinya tertekan, namun kamu berusaha untuk tidak menceritakan tentang keburukan mertuamu," ucap ibu pula.



Ibu begitu percaya dengan tangisan Ira itu, sepertinya ibu dan Sofiya benar-benar sudah dalam perangkat nya.



"Sebenarnya...Ibu mertuaku menyuruh aku pisah dengan suamiku," ucapnya.


Ira membuat isak tangisnya menjadi-jadi, semakin dia begitu semakin iba ibu dan Sofiya yang melihat nya.


"Yaa..allah, sungguh nak??" tanya ibu tidak habis pikir ibu yang mendengar cerita Ira tersebut.



"Memangnya kenapa Ra?? kok ibu mertuamu seperti itu, bercerai itu fiyan dosa, fiyasian anakmu," ucap Sofiya pula.



"Iyaa bu, iya fiya. Aku tahu bercerai dosa, aku pun tidak ingin bercerai, tapi ibu mertuaku memaksanya, karena aku tidak bisa melahirkan anak.



"Ha...tidak bisa melahirkan anak?? Lantas yang waktu itu kamu bilang, fiyamu ada anak satu bukan??" tanya Sofiya terkejut.


__ADS_1


"Iya fiya benar, anak itu anak adopsi, aku kesepian makanya aku adopsi anak, padahal yang sebenarnya tidak bisa punya anak adalah suamiku fiya. TAPI aku tidak ingin membuat harga diri suami rendah dihadapan ibunya, biarlah aku yang menanggung ini semua," ucap Ira sambil menangis sendu.


__ADS_2