
Pagi yang cerah itu masih dengan kehangatan Sofiya dan Zaid Fahlevi tersebut. Sofiya membangunkan sang suami dengan begitu lembutnya, hari ini sudah terbalaskan olehnya untuk memasak sarapan pagi untuk sang suami lagi.
"Dinda...." ucap sang suami langsung menarik tangan Sofiya kedalam pelukannya.
"Sayang, bangun ayo sarapan! ibu sudah menunggu kita loh," ucap Sofiya di atas dada bidang itu.
emmuachh..
emmuaahh..
Dua kecupan terlayang di dahi dan bibir istrinya tersebut. Zaid sudah pun mandi sebelum subuh tadi, dia memang sempat mandi karena tadi malam mereka melakukan hubungan yang begitu hot.
Jadi, jika ingin melaksanakan Sholat subuh haruslah bersuci terlebih dahulu dalam agama Islam.
Pagi ini dengan lelahnya, hingga Zaid di bangunkan dengan sang istri kembali, dia pun masih saja ingin bermanja dengan sang istri. Namun, mengingat kembali ada Heru bersama mereka dan ada juga Ibu yang telah menunggu mereka di meja makan.
Sinar matahari mengenai wajah Zaid saat ini, dia yang masih menyipitkan matanya kini terkena sinar dan semakin sipit lagi.
"Kanda, cepar cuci mukanya, kasihan ibu," ucap Sofiya.
"Iya Dinda, sebentar ya," ucap Zaid segara bangkit menuju kamar mandi.
Sambil menunggu Zaid mencuci wajahnya, Sofiya menyempatkan untuk membereskan tempat tidurnya sejenak. Sambil membereskan sprei berwarna pink itu dan Sofiya tampak tersenyum kecil.
Melihat sprei itu, membuat Sofiya kini teringat permainan tadi malam, Sofiya hanya geleng-geleng kepala saja sambil memebereskan selimut yang sedikit bersntakan itu.
"Sayang.." ucap Zaid tiba-tiba memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Sofiya yang tersenyum-senyum itu terkejut karena Zaid tiba-tiba memeluknya lagi, padahal tadi Zaid sedang berada di kamar mandi, pikir Sofiya.
"Hayo... kenapa senyum-senyum," bisik suaminya di telinga Sofiya.
"Idih Kanda... mana ada dinda senyum-senyum," ucapnya ingin mengelak.
"Ayo.. nagakuu.." ucap Zaid lagi semakin erat pelukannya.
"Kanda.. ayok kita turun, udah lepasin dulu, ibu sudah menunggu loh," ucap Sofiya mencoba meloloskan diri dari pelukan suaminya tersebut.
"Jawab dulu dengan jujur," ucap Zaid lagi.
"Iya deh, iya teringa yang tadi malam," ucap Sofiya berhasil lolos.
__ADS_1
"Hahaaha, yasudah nanti malam bertarung lagi..!!" ucap Zaid mengejar istrinya juga.
Mereka berdua tampak seperti anak kecil saja, sepasang suami istri itu berkejaran hingga ke bawah tangga, ibu yang melihatnya hanya geleng kepala dan tersenyum kecil.
Heru pula yang baru saja sampai mau ke arah meja makan, melihat tingkah bosnya tersebut membuat Heru terkekeh, saat itu juga.
"Bos, masih pagi udah kayak film India aja," ucap Heru.
"Hahaa, resek lu Her," ucap Zaid kembali.
"Iya Her, bilangin tuh ke bos kamu," ucal Sofiya semakin terkekeh.
"Maaf ya bu, sudah membuat ibu menunggu," ucap Sofiya mendekati ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa nak, ayo kita sarapan," jawab ibu tersenyum lembut.
"Nak Heru ayo kita sarapan, Sofiya yang menyediakan ini semua," ucap ibu lagi menyapa Heru.
"Wah.. istriku memang beda," ucap Zaid pula memuji kembali istrinya.
Melihat Keluarga Sofiya pagi ini semakin hangat dan ceria membuat bu Laras dan Santi anaknya itu semakin panas dan bertanya-tanya. Mereka yang sedari tadi menunggu Zaid turun, dan ingin melihat ekpresi Zaid, nalah di suguhkan seperti drama India saja.
"Memuakkan!!" ucap Santi.
"Sabar nak, nanti kita akan tanyakan hal ini kepada nyonya Ira saja," jawab bu Laras menenangkan Santi.
"Ayo bu, segera kita tanyakan saja!! ucap Santi sudah gak sabar bu!! ucap nya lagi.
Mereka begitu heran saat ini, keluarga Sofiya tampak lebih harmonis lagi pagi ini. Entah apa yang terjadi dengan rencana mereka yang sudah begitu jitu tersebut.
"Hallo Non Ira!!" panggil bu Laras langsung tak sabaran.
"Hallo bu Laras, ada kabar baik pasti ini," ucap Ira percaya diri.
"Tidak nyonya, tidak!! ucap bu Laras menyanggahnya.
"Maksudmu tidak kenapa??" tanya Ira kini bingung.
"Wanita itu semakin mesra dengan suaminya!!" ucap bu Laras.
Santi yang kesal hanya mendengarkan ibunya dan Ira berbicara dalam panggilan telpon tersebut, Santi membiarkan ibunya yang berbicara karena saat ini Santi begitu menahan amarahnya.
Padahal, Zaid bukanlah hak mereka tersebut. Namun Santi seolah menganggap Zaid sudah menjadi haknya. Pembantu itu benar-benar tidak tahu diri, karena menganggap tuan rumahnya sebagai calon suaminya.
"Apa?? semakin mesra??" ucap Irs begitu terkejut.
"Iya nyonya, mereka semakin mesra pagi ini!!" ucap bu Laras kembali.
__ADS_1
"Sini bu, aku yang bicara!!" ambil Santi telpon tersebut.
"Hallo nynya Ira!!" ucap Santi.
"Iya Santi," jawab Ira.
"Apa kau benar-benar sudah mengirimkan foto itu kepada calon suamiku??" tanya Santi dengan percaya dirinya.
Ingin rasanya saat ini Ira juga memaki Santi tersebut, yang menyebut Zaid adalah calon suaminya itu. Namun, karena misi itu belum selesai, niat itu di urungkan Ira lagi.
Rasanya, Ira ingin menumbuk mulut Santi yang dengan mudahnya berkata seperti itu. Padahal Santi tidak tahu, tujuan Ira sebenarnya bersekongkol dengan mereka berdua, seoalh membantu, padahal mereka saling sama tujuannya.
"Hei nyonya Ira, kenapa kau diam??" tanya Santi lagi.
"Sori sori!! aku melihat nomor ponsel itu, kurasa sudah benar, dan disini memang tampak wajah Zaid dan istrinya itu," ucap Ira lagi.
"Benarkah?? lalu mengapa rencana itu gagal?? mengapa mereka masih romabtis saja??" tanya Santi bertubi-tubi.
"Sabar Santi, pasti ada sesuatu yang belum kita ketahui!!" ucap Ira mencoba meyakinkan Santi.
"Oh iya, apa ibu Zaid sudah tahu?? tanya Ira lagi.
"Sudah Nyonya, bahkan saya sendiri yang mengatakannya," ucap Santi.
"Benarkah?? lalu kenapa bisa gagal begini!!" ucap Ira juga kesal.
"Yasudah, nanti aku mencoba cari cara, agar ibu membenci Sofiya!!" ucap Ira.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar baik itu!!" jawab Santi lagi.
Panggilan itu pun segera di tutup oleh Ira, berita itu sangat membuat Ira ikut menahan amarahnya kepada keluarga Sofiya. Rencana yang di anggap jitu itu tampaknya benar-benar gagal saat ini.
Yang diinginkan pagi ini adalag pagi yang begitu menyedihkan untuk Sofiya, namun ternyata pagi ini adalah pagi yang begitu menggeramkan para musuh yang membenci Sofiya tersebut.
Bi Sumi yang tidak sengaja lewat di kolam renang tersebut, sedikit mendengar nama Ira yang mereka sebutkan, namun bi Sumi juga tidak begitu pasti. Kedua anak dan ibu itu benar-benar kompak untuk segala hal, pikir bi Sumi.
"Hei bu, ada si Sumi tuh!!" ucap Santi beebisik kepada ibunya.
"Hei Sumi, sejak kapan kau berdiri disana??" sapa bu Laras seolah ingin tau bi Sumi mendengar ucapan mereka tadi atau tidak.
"Aku baru saja sampai di sini!! apa kalian merencanakan kejahatan??" pungkas bi Sumi.
"Jangan asal bicara kamu ya!!" ucap bu Lara, lalu meninggalkan bi Sumi di tepi kolam renang tersebut.
__ADS_1
*****