
Regal yang saat ini berdiri di sebuah lingkaran sihir,sedang dikelilingi oleh Adrian,Mavis,Elaine dan beberapa maid serta tamu penting lainnya.
"Ingatlah,kau bisa menghubungiku kapanpun yang kau mau,kau juga akan selalu diterima di Abyss."
Adrian memberikan salam perpisahannya,Regal kemudian tersenyum dan berdiri tegak dengan Gram yang masih sudah diperbaiki.
"Akan kuingat perintah dan kebaikan anda selama sisa hidupku,Tuan Adrian!" Bahkan saat cahaya mulai muncul dan membuat sebuah pilar cahaya dari bawah kakinya,anak itu tak berkedip dan terus memberikan hormat dengan mata terbuka.
Dalam sekejap dirinya menghilang,Adrian kemudian merasakan ada yang kurang bahkan saat anak itu belum pergi selama satu menit.
"Pada akhirnya ini bukanlah tempat yang layak untuk seorang manusia..." Mavis yang mendengar keluhan Adrian langsung menyela.
"Kau menepati janjimu,kau akan menjaganya saat dirinya sudah tak memiliki siapa-siapa dan menjadikan anak itu kuat." Kata Mavis,Adrian yang mendengar itu tersenyum dan tertawa kecil.
"Ya ampun,tidak anak tidak ayah... Semuanya bikin repot saja."
———
Dari tempat dulu Regal terjatuh,dirinya mulai muncul dari celah gua dengan menggeliat keluar.
Saat dirinya berhasil keluar,Regal dapat merasakan segalanya. Sinar matahari,suara burung berkicau dan juga rumput yang sudah lama tidak dia rasakan...
Dirinya merasa bersyukur,namun kesedihannya setelah meninggalkan keluarganya di Abyss tetap membuatnya merenung. Namun karena sudah terlanjur keluar,akhirnya Regal memutuskan untuk berjalan.
Udara yang lebih segar,udara yang tidak tercampur dengan bau mineral yang pekat dari Abyss benar-benar tak dapat dicium di tempat itu.
"Aku rasa itu desanya..." Regal melihat desanya,desa tua dan lama itu membangkitkan kenangan lamanya. Regal yang melihat itu semua tetap bisa merasakan kebahagiaan dan juga kasih sayang dari desa itu.
Disaat semua orang sedang berperang hanya karena dendam dan perbedaan pendapat,tempat kecil lah yang tidak akan tersentuh oleh api peperangan. Namun semua kedamaian itu benar-benar tidak berubah banyak di mata Regal.
Dirinya masuk dan membeli apel dari seorang pria tua kenalannya dulu. Saat ini Regal yang tidak memakai Adamas hanya mengenakan baju biasa dengan jaket yang terbuat dari kulit serigala.
"Paman,semuanya terlihat sangat bahagia..." Ucap Regal sembari paman itu memilihkan apel bagus untuk Regal.
"Yah,sudah lama semenjak desa menjadi tentram. Setelah semua orang mengalami duka yang mendalam akhirnya kami bisa bangkit." Regal yang mendengar hal itu jelas tertarik.
"Maafkan aku,bisa aku dengar lebih banyak..?" Regal menawar sembari memegang 2 koin emas di hadapan pria tua itu.
__ADS_1
———
Setelah mengumpulkan informasi dari para penduduk,Regal bisa menyimpulkan. Dirinya telah dinyatakan mati karena demam. Tabib desa telan berusaha namun dirinya tak berhasil selamat.
"Jadi waktu telah berlalu 6 bulan yah? Ya ampun,Abyss benar-benar sesuatu..." Kata Regal sembari memakan apel di bangku taman.
Namun saat dirinya sibuk memakan apel,Regal kemudian melihat seseorang mendekatinya. Meskipun sudah 6 tahun berlalu,dia masih ingat dengan wajah kedua orang itu.
"Hei pelancong! Kau tampaknya tersesat,apa kami boleh jadi pemandumu?" Regal melihat senyum busuk itu,mereka adalah Oliv bersaudara,anak buah langsung dari Kaka Regal yaitu Hamel.
Mungkin karena tubuh Regal sudah berusia 14 tahun dengan model ramping namun penuh dengan otot itu berbeda dari seorang bocah kurus penuh luka. Itu jelas membuat mereka kebingungan dan jelas membuat mereka menganggap bahwa Regal adalah pelancong.
"Aku berterimakasih sekali,ini desa yang kecil namun akan lebih baik bila ada seorang pemandu." Regal kemudian mengikuti mereka berdua ke gang belakang,tak ada deskripsi apapun tentang desa ini bahkan setelah mereka mengajaknya berjalan cukup jauh.
Regal yang tak bersenjata akhirnya masuk ke dalam apa yang orang-orang seperti Oliv bersaudara ini sebagai perangkap.
"Baiklah nona tampan serahkan semua barangmu!" Mereka berdua menodong menggunakan pisau. Regal jelas kebingungan akan penjelasan mereka.
"Nona tampan?" Entah itu karena sekarang dia sudah memiliki wajah cantik namun tampan,namun yang pasti itu menambahkan wawasan untuk Regal.
"Jadi wajah ini menjadi kutukan juga diatas sini yah?" Regal dengan cepat memukul pergelangan tangan seorang dari mereka dan memukul wajahnya dengan sangat keras. Saat yang satu lagi mencoba untuk menyerang,Regal langsung menunduk dan menusuk kakinya dengan pisau hingga tembus kedalam tanah.
"Aku tak ingin menambahkan kasus,mungkin karena sudah lama,atau mungkin karena aku berusaha melupakan itu sehingga aku jadi tak ingat. Tunjukkan padaku ada dimana rumah kepala desa..."
———
Setelah siang hari tiba,sebuah keluarga sedang makan siang di ruang makan,namun suara kegaduhan di luar rumah mereka membuat mereka tak bisa fokus.
"Ya ampun apa yang terjadi diluar sana." Sang kepala desa,Aiden mulai mencoba untuk memeriksa keadaan. Namun saat dia berada di pintu masuk rumah,dirinya dikejutkan dengan Oliv bersaudara yang mendobrak rumah mereka secara bersamaan.
"Dasar anak nakal! Apa yang telah kalian lakukan?!" Aiden yang marah memancing kedatangan Hamel. "Kalian! Apa yang terjadi disini?!"
Kedua bersaudara itu terluka parah dengan lebam di seluruh wajah mereka. Dengan susah payah mereka menunjuk keluar namun mereka tak bisa bilang siapa yang ada diluar sana itu.
Saat mereka semua melihat ke luar,mereka semua bisa merasakan hawa dingin masuk ke dalam rumah mereka. Sudah tidak musim salju namun rasanya sangatlah dingin ditambah dengan suara siulan itu membuat mereka merinding.
"Erina pedang!" Aiden menyuruh Erina mengambilkan pedang untuk Aiden dan Hamel. Mereka berdua dapat merasakan saat suara siulan itu membuat tulang mereka menggigil dan insting mereka menyuruh untuk lari.
__ADS_1
Mereka berdua keluar,diluar rumah mereka,mereka bisa melihat sesosok pria menggunakan jubah hitam bersiul. Entah suara siulan itu bergema ke seluruh desa dan membuat para warga yang tadinya melihat dari jauh sekarang berlarian masuk ke rumah mereka.
"Siapa kau?!" Ucap Hamel dengan nada kasar,siulan itu berhenti dan Regal menunjukkan wajahnya kepada mereka.
"Re-Regal...?" Aiden terjatuh ke belakang dan melepaskan pedangnya,tidak seperti yang lainnya,merekalah satu-satunya orang yang tau tentang identitas Regal hanya dalam sekali lihat. Entah itu karena dirinya sudah tinggal lama dengan mereka atau karena dirinya sebegitu dibenci oleh mereka.
"Lama tak berjumpa kakak..." Ucap Regal dengan wajah tersenyum. Hamel yang melihat itu langsung memasang kuda-kudanya dan berteriak.
"Aku bukanlah kakakmu! Dan kau bukanlah adikku! Kita ini tidak pernah satu keluarga!!" Regal yang mendengar itu akhirnya mengkonfirmasi,keluarga yang dia lihat itu benar-benar bukan keluarga yang asli,bahkan setelah sekian lama Regal dapat merasakan tatapan kebencian pada mereka semua. Tatapan itu membuatnya muak...
"Yah aku sudah tau akan begini jadinya." Regal kemudian mengambil pedangnya yang dari tadi ada di sebelahnya,itu hanyalah pedang biasa,meskipun bukan Gram dirinya yakin bisa menang.
Hamel yang melihatnya langsung menerjang Regal yang belum memasang kuda-kuda,saat Hamel menerjang,Regal hanya memegang dengan satu tangan,semua serangan Hamel yang membabi buta berhasil di tangkis dan dihindari.
Regal yang menggunakan pedang panjang malah menggunakan teknik anggar untuk menghindar dan menangkis serangan Hamel. Langkah kakinya lebih indah,pedangnya mengayun lebih fleksibel,dan tubuhnya bergerak dengan angin. Semua itu tak bisa dilakukan oleh Hamel.
Hingga akhirnya Regal memukul pedang Hamel sampai terlepas dari tangannya dan terlempar,Hamel yang melihat itu langsung mengambil pedangnya. Namun hal yang sama terjadi,dirinya tak dapat menyerang dan pedangnya terus terlempar.
Semua itu terjadi berulang kali hingga akhirnya Regal menendang Hamel hingga terlempar ke belakang. Dia bisa melihat pedangnya jatuh dihadapan Regal,namun Regal malah menendangnya ke Hamel.
"Ambillah... Pertandingan ini tak akan berakhir sebelum salah satu dari kita mati" Hamel merasa putus asa bila dirinya terus menggunakan pedang.
Meski demikian Hamel meluruskan tangannya kepada Regal. "Fireball!" Sebuah bola api muncul dari tangannya,bola api itu melesat namun Regal hanya menggoyangkan sedikit kepalanya untuk menghindari serangan itu. Hamel terus menerus menembak hingga tangannya mengeluarkan darah karena pembuluh darahnya menonjol dan rusak. Regal terus menghindarinya...
Hingga akhirnya bola api terakhir yang muncul dari tangan yang berlumuran darah itu mengenai dada Regal. Hamel awalnya tersenyum,namun Regal terus maju tanpa mengedipkan matanya.
"Sihirmu lemah kakak..." Regal bersiul,siulan itu benar-benar membuat seluruh tubuh menjadi tegang,siulan itu diisi oleh Vis untuk menggetarkan jiwa seseorang,membuat sirkulasi sihir mereka kacau.
Hamel yang mendengar itu mundur perlahan-lahan,dirinya merasakan ketakutan yang mendalam dari Regal yang dulu dia selalu perlakukan dengan kasar. "Ambil pedangmu kak,ini semua masih belum berakhir..."
Setelah merasakan keputusan dan juga ketakutan dari pertandingan itu,Hamel meninggalkan pedangnya dan kabur. Dirinya masuk ke dalam rumah,melewati orang tua dan adiknya sendiri dan bersembunyi di kamar,berharap bahwa dirinya akan dilindungi.
Aiden yang melihat Regal sudah mengalami perubahan drastis itu jelas ketakutan,dia akhirnya bertanya kepada anak yang dibencinya itu.
"Apa yang kau inginkan?! Kau sudah mengalahkan Hamel kini apa yang kau mau?!!" Aiden berteriak kepada Regal.
Regal tersenyum,melihat Hamel yang ketakutan dan Aiden yang marah-marah. Regal dapat melakukan rencananya.
__ADS_1
...***...