Abyss Ataraxia

Abyss Ataraxia
Chapter 8: Jiwa dan raga


__ADS_3

Regal yang saat ini terluka parah mencoba sekuat tenaga untuk menahan pendarahan di sekujur tubuhnya,namun dengan paru-paru yang rusak dirinya tak bisa menggunakan Vis dengan baik. Dirinya yang mencoba untuk sekuat tenaga untuk tak hilang kesadarannya.


Rasa sakit setiap kali dirinya menarik dan menghembuskan nafasnya itu benar-benar membuatnya berpikir lebih baik untuk pingsan saja,namun dirinya tak bisa melakukannya karena dia tau kalau dia memejamkan matanya maka dia akan mati.


Namun dalam rasa sakit itu,dirinya terus berpikir bagaimana cara menyelamatkan dirinya sendiri. Vis,adalah energi yang terbuat dari gabungan energi jiwa dan sihir. Selama ini dirinya terus menerus melatih Vis untuk memperkuat dirinya,bukan untuk menyembuhkan dirinya. Lalu bagaimana dirinya bisa selamat?


Regal terus berpikir,dirinya mencoba untuk menyalurkan Vis pada bagian tubuhnya yang terluka,namun itu tak berpengaruh sama sekali. Rasa sakit dan luka itu masih bisa dia rasakan,hingga akhirnya Regal berpikir mengenai suatu hal.


Sihir bisa digunakan untuk mempercepat proses penyembuhan walaupun sihir dipakai untuk bertarung. Untuk saat ini Regal belum bisa belajar mantra penyembuhan,namun hal yang dia tau saat ini adalah bentuk dari sebuah jiwa.


Jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan,Regal akhirnya berhenti mengalirkan Vis ke bagian tubuhnya yang rusak dengan ekstrim,dirinya saat ini mulai mengalirkannya dengan tenang dan teratur,sedikit demi sedikit dirinya membuat gambaran organ di kepalanya dan sedikit demi sedikit dirinya membentuk organ baru yang terbuat dari Vis.


Awalnya itu hanya sebuah teori,namun Vis juga awalnya hanya sebuah teori hingga akhirnya Regal menjadikannya kenyataan. Vis dalam tubuhnya mulai membentuk organ baru dan menyambungkannya dengan organ yang sudah rusak.


Organ baru itu kemudian menyatu dengan tubuh Regal,rasa sakit dari proses penyembuhan ini jelas lebih parah daripada mempercepat penyembuhan dengan sihir Heal. Regal merasakan nyeri di setiap ototnya,dirinya mulai memasang paru-paru baru dan juga memperbaiki lubang pada tubuhnya sembari menahan rasa sakit yang luar biasa.


Namun pada akhirnya Regal berhasil melakukannya,Vis miliknya berhasil membuat bagian dari paru-paru yang sudah hancur dan rusak kembali pulih dan menyambungkannya dengan paru-parunya yang masih utuh. Rasa sakit dari proses itu benar-benar tidak enak namun dirinya yang sudah terbiasa dengan rasa sakit akhirnya berhasil mengembangkan teknik Vis yang baru.


"Sekarang,apa yang ada di dalam kotak ini?"


Regal melihat ke dalam peti mati itu,peti mati berwarna hitam itu seperti terus memanggil dirinya. Saat melihat ke dalam,benar saja ada sesuatu di dalam sana. Sebuah pedang patah dengan bilah berwarna perak dan gagang pedang yang terbuat dari kayu namun kayu itu tampak seperti sudah menyerap banyak energi gelap.


"Ya ampun... Ini pedang terbaik yang pernah kulihat." Seumur hidupnya Regal tidak pernah melihat sesuatu semacam ini. Pedang itu memiliki energi sihir dan juga bilah tajam namun kuat,itu semua bahkan bisa dilihat setelah pedang itu patah menjadi dua bagian.


———


Tanpa pikir panjang Regal mengambil kedua pedang itu dan kembali ke istana Teloch. Adrian yang melihat pedang itu seperti takjub dengan pedang itu.


"Setelah sekian tahun pun pedang ini masih tetap memiliki jiwa yang kuat..." Kata Adrian sembari mengayunkan pedang itu dengan santai.

__ADS_1


"Kau tau pedang apa itu?" Tanya Regal.


Adrian tersenyum dan memberikan pedang itu kepada Regal dan menjawab.


"Itulah apa yang membuatnya berpikir dia adalah Dewa,dan itulah apa yang membuat terkena kutukan langsung dariku. Ini adalah Gram,pedang terbaikku yang kuberikan pada Ansgar saat dia masih menjadi pengikut setiaku.


Namun dia menjadi buta,dirinya mencoba menaklukkan dunia dan membuat dirinya menjadi Dewa. Aku jelas marah dan pergi ke bumi sembari menyamar,saat aku menantangnya aku langsung merusak pedangnya dengan tombakku. Membuat Gram rusak,namun orang itu masih saja mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Dewa.


Akhirnya aku mengutuk kerajaannya,membuatnya terhapus dari muka bumi tanpa adanya catatan sejarah yang tersisa untuk manusia ketahui bahwa orang bodoh sepertinya itu ada."


Adrian menjelaskan sembari melihat bilah pedang Gram yang sudah hancur. Regal kemudian melihat pedan itu,dia bisa melihat bahwa energi sihir pada pedang itu sudah sangat lemah.


"Jadi maksudmu pedang ini sudah tak bisa diperbaiki?" Regal bertanya sembari mengayunkan pedang itu.


Adrian menaruh patahan pedang itu di meja.


"Gram bukanlah pedang biasa,itu bukan ditempa olehku,itu adalah pedang yang terbuat bersamaan dengan neraka dan surga. Pedang itu lebih tua dari diriku,bila ingin di perbaiki pasti sangatlah sulit."


Adrian tertawa dan menjawab. "Senjata seperti Gram itu spesial,memiliki senjata yang kuat bukan berarti penggunanya akan menjadi kuat,begitupula sebaliknya.


Pedang ini patah karena pedang ini melawan diriku dan pemakainya. Bahkan pejuang terbaik pun tak akan bisa melawan musuh saat dirinya melawan dirinya sendiri.


Kau boleh mengambilnya,aku lebih suka tombak daripada pedang,namun bila ingin memperbaikinya aku pikir aku pikir kita harus pikirkan caranya bersama..."


Regal tersenyum dan menganggukkan kepalanya,Adrian senang dan akhirnya dirinya mulai masuk ke topik pembicaraan.


"Jadi bisa jelaskan tentang pertarungan itu?"


———

__ADS_1


Setelah menceritakan bagaimana cara mengalahkan Ansgar,Regal mendapat metode pelatihan terbarunya.


Dia berdiri di depan sebuah bola,bola itu seukuran bola kristal yang biasa digunakan penyihir untuk meramal. Namun bola itu jelas bukan untuk meramalkan sesuatu.


"Setelah mendengarkan penjelasanmu tentang Vis,aku rasa kau sudah cukup mengerti akan hal itu. Karena dari itu kita akan fokus dengan teknik berpedang.


Apa yang dihadapan-mu,adalah Song of Hollow Sword. Artefak itu akan bereaksi pada saat kau memukul bola itu,semakin baik kau memukul maka semakin merdu suara yang dikeluarkan bola itu,namun sebaliknya."


Adrian memukul bola itu dengan sangat kuat namun dengan teknik asal-asalan. Bola itu langsung mengeluarkan suara yang sangat keras dan mengerikan,bila Regal tidak menutup telinganya dengan tangan dan Vis maka bisa dipastikan gendang telinganya akan pecah.


Setelah suara itu hilang,Adrian memukul sekali lagi,namun dengan teknik yang benar dan juga tenaga yang kuat. Bola yang tadinya mengeluarkan suara mengerikan kini mengeluarkan suara indah yang enak didengar.


"Lagu akan berubah tergantung siapa penyanyi dan juga bagaimana bentuk ruangannya,itulah apa yang akan kau lakukan dengan pedangmu. Teknik yang benar,dan juga kontrol kekuatanmu akan diuji dengan artefak ini."


Regal kemudian memasang kuda-kuda,dirinya kemudian mengayunkan pedangnya setelah merasa kekuatan dan tekniknya sudah terkontrol. Pedangnya menabrak bola itu dengan sangat keras,suara yang dihasilkan oleh bola itu sangatlah tidak enak didengar namun itu bukan bagian terburuknya.


Saat Regal selesai mengayunkan pedangnya,dirinya dapat merasakan getaran pedangnya,getaran itu sangatlah kuat hingga pergelangan tangannya patah dan kulit telapak tangan Regal terkelupas dan meninggalkan banyak luka yang mengerikan.


Dengan teknik penyembuhannya Regal dapat menahan rasa sakit itu dan mulai menyembuhkan tangannya sendiri menggunakan Vis setelah tersungkur di tanah.


"Tidak hanya kuda-kuda,teknik dan juga fisik. Genggaman seorang pendekar pedang adalah hal yang sangat penting,dengan pelatihan ini kau akan merasakan penderitaan dan kau akan melatih setiap sudut tubuhmu hingga bisa menggunakan pedang dengan benar.


Jangan kira hanya karena kau mengalahkan orang terkutuk seperti Ansgar kau sudah tidak terkalahkan,apa yang kau hadapi nanti akan jauh lebih berbahaya daripada orang munafik seperti dirinya..."


Adrian menatap Regal dengan tatapan sinis,menunjukkan bahwa jalan yang dia pilih bukanlah hal yang mudah,namun anak itu tidak merasa terancam ataupun putus semangat.


Dengan tangan yang masih bergetar,dirinya mengambil pedangnya lagi,dan berdiri di hadapan bola itu lagi. Tak peduli berapa kali,tak peduli sesakit apa,tak peduli sesulit apa.


Anak itu tak pernah tahu kapan untuk berhenti...

__ADS_1


...***...


__ADS_2