
Di ruang latihan istana,seorang bocah dengan kantung pasir yang terikat di pergelangan tangan dan kakinya sedang mengayunkan pedangnya sembari menggunakan Vis.
Itu adalah Regal,bahkan setelah sesi latihan dia tetap melanjutkan latihannya itu. Regal dengan penuh semangat terus melatih Vis dan tubuhnya.
Menyadari bahwa hari semakin malam namun Regal yang tak kunjung keluar,seorang maid akhirnya masuk ke ruang latihan.
"Permisi Tuan Muda..."
Regal berhenti mengayunkan pedangnya itu dan melihat maid yang baru saja masuk.
"Ada apa?"
Regal menanyakan dengan wajah kelelahan dan badan berlumur keringat yang hampir jatuh itu.
"Menurut jam,ini sudah pagi hari Tuan Muda. Matahari telah terbit dan anda masih terus berlatih."
Maid itu dengan wajah khawatir memperingatkan Regal,Regal yang tak sadar kalau sudah selama itu terkejut.
"Astaga..." Regal melepaskan kantung pasir itu,maid itu bisa melihat pergelangan tangan dan kaki Regal telah memerah dan penuh luka.
Kedua tangan Regal tak lebih baik,kedua tangan itu sudah kapalan dan terus mengeluarkan darah akibat genggaman pedangnya itu.
Maid itu kemudian melihat Regal yang menaruh pedangnya di rak,namun yang ada di sebelah rak itu lebih mengejutkan,tumpukan pedang dan tombak patah beserta boneka latihan yang hancur terkumpul disana.
Regal telah mematahkan banyak pedang dan memotong banyak boneka latihan dalam proses latihannya itu.
———
Setelah mandi,beberapa maid memasang pakaian untuk Regal,namun ada beberapa dari mereka yang memasang salep dan perban pada luka di tubuh anak itu.
"Tuan Adrian telah menunggu anda di meja makan."
Ucap salah seorang maid,Regal menganggukkan kepalanya "Baiklah."
Dirinya kemudian melihat perban yang ada di tubuhnya itu,dan setelah itu diapun sampai ke meja makan. Di meja makan itu hanya ada dua orang,Regal dan Adrian.
Adrian yang meminum wine mulai menyadari luka di tangan muridnya itu.
"Lagi-lagi kau berlatih sampai lupa waktu."
Regal yang mendengar keluhan itu langsung menundukkan kepalanya.
"Itu benar,maaf telah berlatih diluar jam latihan."
Adrian tersenyum sembari memperhatikan gelas wine yang dia minum.
"Yah bukan berarti itu adalah hal yang buruk... Bagaimana hasilnya?"
Regal makan sembari menjawab."
Benar perkataanmu,Vis benar-benar sulit dikendalikan.
__ADS_1
Entah itu sihir api,air atau sebagainya,pasti akan ada panduan dan juga orang yang bisa mengajarimu.
Namun Vis,benar-benar sulit dikendalikan dan aku tidak bisa bertanya kepada siapapun. Jadi singkatnya aku mengalami kebuntuan."
Adrian bergumam dan mulai memahami situasinya.
"Hmm,memang benar kelemahan sekaligus kelebihan dari Vis adalah informasi terkait teknik ini.
Namun,pada dasarnya kau hanya perlu orang untuk membimbing dirimu benar kan? Seseorang yang tau menahu soal Vis melebihi diriku."
Regal mengangguk setuju,Adrian tersenyum dan berdiri dari meja makan.
"Baiklah kalau begitu ikut denganku!"
Dengan terpaksa Regal pergi meninggalkan sarapannya dan mengikuti Adrian. Dalam perjalanan singkat,Adrian dan Regal pergi ke ruang takhta.
"Kau bilang kau memerlukan orang untuk membimbing mengenai jiwa kan? Aku memang Raja dunia bawah namun aku kenal seseorang dengan pengetahuan lebih luas tentang jiwa."
Adrian mengambil pisau dan mengiris tangannya sendiri,setiap tetes darah yang terjatuh di lantai itu mulai bergerak sendiri dan membentuk suatu lingkaran pemanggilan.
Lalu dengan membaca mantra menggunakan bahasa Enochian Adrian akhirnya memulai ritual.
Hawa dari ruangan itu berubah drastis,obor dan lilin yang menerangi ruangan berubah warna menjadi warna biru terang.
Dan cahaya dari lingkaran pemanggilan itu semakin lama semakin terang. Hingga akhirnya sebuah ledakan sihir tercipta dan menghempaskan Regal.
Ketika dirinya terbentur ke dinding dia bisa melihat seseorang dibalik asap yang terbuat dari ledakan sihir tadi sedang berdiri di lingkaran sihirnya.
Pria itu kemudian berlutut dihadapan Adrian dan menyapa tuannya.
"Yah... Lama tidak berjumpa juga Mavis."
Regal melihat seorang makhluk dengan tubuh besar yang ditutupi oleh kain hitam sedang berlutut dihadapan Adrian. Mavis kemudian melihat kearah Regal dan mengamatinya.
"Penelitian anda benar-benar berhasil yah?"
Adrian tersenyum dan duduk di singgasananya.
"Yah,akhirnya ada orang yang bisa membuktikan teoriku bukan hanya sesuatu yang bisa dipakai oleh seorang Dewa.
Namun sama sepertiku,dia mengalami kebuntuan. Vis dan Aura itu harusnya sama,namun dia tidak bisa memakai lebih dari 10% energi jiwa-nya.
Entah itu sama dengan cara manusia menggunakan 10% otak mereka secara tak sadar. Namun ini bisa dibilang kemajuan,dia bisa mengontrol 10% itu lebih baik dariku."
Mavis melihat ke arah Regal dan terus mengamati. "Aku lihat... Kau bisa menggunakan energi jiwa,namun kau masih belum bisa merasakan ataupun tahu apa itu jiwa."
Setelah Regal pikir-pikir,ada benarnya juga,dirinya hanya memakai apa yang ada dalam tubuhnya secara tak sadar,dan dengan cara apapun dirinya tak bis meneliti energi samar dalam tubuhnya itu.
"Jadi maksudmu aku tidak bisa mengobservasi jiwaku sendiri?"
Mavis tertawa dengan suara orang tua dalam sebuah gua lalu membalas pertanyaan Regal.
__ADS_1
"Bila kau ingin tahu,bentuk,letak dan juga rasa dari jiwa tersebut. Maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah mati..."
Mavis kemudian menyentuh dahi Regal dengan jari panjangnya itu. Dan dalam sekejap tubuh Regal jatuh ke belakang.
Setelah jatuh,tubuh Regal mulai menggeliat kesakitan merasakan apa yang disebut sebagai jiwa itu mulai meninggalkan tubuhnya.
Regal merasakan dirinya ditarik-tarik,terasa seperti setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki tercabik-cabik agar bisa putus.
Adrian yang melihat itu mulai khawatir,ini tidak akan membunuh Regal namun syok dari rasa sakitnya kemungkinan besar akan membunuhnya.
Namun Regal selain mencoba untuk melawan rasa sakit itu,dirinya mulai bisa mengerti apa itu jiwa. Bahkan dengan rasa sakit luar biasa yang dia alami Regal tetaplah teguh dan mencoba untuk memahaminya.
Hingga akhirnya tubuh Regal berhenti bergerak,Adrian yang melihat itu jelas khawatir namun sedikit demi sedikit jari Regal berkedut.
Tangan dan kakinya akhirnya mulai bergerak,seperti semua hal yang tadi tercabik-cabik mulai pulih kembali.
"Kau baik-baik saja nak?"
Mavis menawarkan tangannya pada Regal,Regal menerimanya dan akhirnya di berdiri.
Adrian melihat Regal yang pucat mulai membaik,dirinya memanggil pelayan untuk memberikan air,dan Regal langsung meneguk habis seluruh air itu.
"Bagaimana rasanya?" Mavis bertanya.
"Rasanya... Seperti dicabik-cabik,aku bisa merasakan apa yang disebut sebagai jiwa keluar dari mulutku.
Namun saat itu aku menyadari,segala rasa sakit,segala penderitaan itu semuanya terjadi secara bersamaan.
Aku pikir jiwa itu berasal dari jantung sama seperti Mana,namun setelah rasa sakit itu akupun sadar..
Jiwa itu melekat dengan tubuh,jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan. Aku sudah tau namun aku belum merasakannya,namun sekarang..."
"Itu cukup nak." Adrian memberhentikan Regal.
Saat diberhentikan oleh Adrian,Regal mulai menyadari bahwa kesadarannya mulai menghilang.
Adrian kemudian mengusap kepalanya dan menggendong Regal di punggungnya. Mavis yang melihat itu akhirnya berkomentar.
"Kau telah berubah Yang Mulia,terlihat dari cara kau memperlakukan anak itu."
Adrian tersenyum dan membalas perkataan Mavis.
"Ada masanya aku menikmati pertumpahan darah dan konflik. Namun masa itu sudah lewat Mavis,dan kau melihatnya... Pekerjaanmu sudah selesai,terimakasih atas bantuannya."
Mavis menunduk dan akhirnya dirinya menghilang bersamaan dengan api biru yang melenyapkannya.
Adrian akhirnya berjalan ke arah kamar Regal,namun saat di perjalanan Regal menempelkan kepalanya di pundak Adrian.
Adrian jelas terkejut,dia tak pernah sangka bahwa anak dengan bakat dan juga kejeniusan luar biasa di punggungnya itu tetaplah seorang anak kecil.
Diapun tersenyum dan tertawa,untuk melihat pertama kalinya Regal bersikap kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Ya ampun,kau benar-benar anak yang malang yah..."
...***...