Abyss Ataraxia

Abyss Ataraxia
Chapter 58: Pengorbanan


__ADS_3

Kallen dan Raja Victoria tertegun melihat Boudica yang memukul wajah Regal dengan sangat keras. Namun pemuda itu masih berdiri dengan tegak dan melihat wajah Ratu yang kehilangan emosinya itu. "Kau... Apakah ini bagian dari perjanjiannya? Kami mengorbankan puluhan ribu orang hanya demi perjanjian ini?! Katakan padaku Regal!!" Pemuda itu tak bergerak sama sekali namun dia menjawab pertanyaan Boudica sembari melihat matanya. "Yah... Selain dengan pernikahan,untuk bisa meyakinkan Victoria dan warganya bahwa kalian tak berbahaya,kami mengorbankan kalian..." Boudica yang mendengarnya jelas kesal,namun dia terlalu syok dengan kenyataan ini untuk kembali memukul Regal. "Ada apa? Bukankah ini yang kau mau? Bukankah ini yang kalian semua mau? Sebuah perkembangan jaman,kau dan para Eceni selalu percaya dengan itu karena mimpi dari suamimu yang sudah meninggal untuk membuat Eceni dan para suku di pulau ini mendapatkan kehidupan yang layak.


Atau jangan-jangan kau sudah lupa dengan alasan kau berperang? Ratu Boudica..." Boudica menangis merenungi perbuatannya. Memang benar bahwa mereka ingin menang dari peperangan,namun setelah perang ini berakhir maka mereka akan kembali berperang dengan Victoria. Boudica tahu,sangat sulit merubah Barbarian menjadi Kesatria Kerajaan,maka dari itulah Regal membuat pertarungan ini menjadi Genosida agar generasi baru bisa berkembang dan tidak terikat dengan budaya yang pada akhirnya akan membunuh mereka. Regal mengetahui hal itu,dan dia juga tahu cepat atau lambat akan terjadi kudeta oleh para suku bila mereka masih menganut ideologi lama mereka,maka dari itu tindakan ini diperlukan.


"80.000 pejuang,bertarung dengan gagah berani namun mereka hanya dapat membunuh 400 orang saja. Itu akan menjadi aib,dan itu akan menjadi pembelajaran bagi kalian. Sadarlah dan terima kenyataannya Ratu Boudica..." Regal pergi meninggalkan perempuan itu untuk menangisi mayat rekan-rekannya yang telah gugur. Meskipun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi musuhnya,namun Boudica tetap menangisinya. Dalam hati Regal dia berkata, "Naif sekali..." Sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Ratu itu menangis sendirian...


———


Setelah perang itu,para Templar yang dijadikan tawanan perang ditukarkan dengan para budak dari Victoria dan berbagai suku. Tentunya itu berdasarkan keputusan Malek,hal itu dilakukan untuk propaganda agar Victoria bisa memenangkan hati para Barbarian. Setelah perang itu juga diadakan pemakaman,orang-orang berduka atas perjuangan para Pejuang yang telah gugur entah itu dari pihak Barbarian ataupun Victoria. Hal itu dilakukan juga agar para Barbarian dan orang-orang Victoria sadar bahwa mereka sama-sama kehilangan,dan setelah Regal dan istrinya selesai dengan segala urusan,mereka pada akhirnya pergi meninggalkan pulau begitu mereka mendapatkan bayaran mereka.

__ADS_1


"Regal... Apakah yang kita lakukan itu benar?" Kallen bertanya kepada Regal yang sedang memasak makan malam diatas kapal kecil mereka. "Yah,itu memang menyakitkan namun pengorbanan itu diperlukan untuk bisa mencapai kedamaian. Lagian ini apa yang diinginkan oleh para Eceni selaku klien,kita disini hanya menjalankan tugas Kallen. Perang dan propaganda adalah hal yang harus kau hadapi ketika kau menjadi Mercenary..." Bagi Kallen itu menyakitkan,namun dia dapat merasa bahwa Regal juga terpaksa melakukan hal itu. Baginya membunuh musuh itu tidak apa-apa,namun ini pertama kalinya dia membunuh orang tak berdosa untuk kepentingan orang banyak. Meskipun prinsipnya sama seperti membunuh musuh,namun dia masih belum terbiasa,begitupula dengan suaminya itu...


Setelah menempuh perjalanan berhari-hari,mereka masih berada di tengah laut. Tidak disangka bahwa perang itu hanya terjadi selama 3 bulan lamanya,berbagai macam pertempuran mereka alami disana. Begitu Kallen melihat wajah Regal,dia masih belum tersenyum,semenjak dirinya memutuskan untuk mengorbankan nyawa puluhan ribu orang itu dan pergi tanpa meminta maaf kepada siapapun,dia tak pernah tersenyum sampai saat itu.


Mereka berdua berbaring di tempat tidur. Regal menghindari tatapan mata Kallen,hal itu membuat Kallen sedih,diapun memeluk Regal dari belakang dan mencoba untuk menghibur suaminya itu. Dan saat dia memeluknya,Regal pun bicara. "Semenjak aku tahu tentang ayah dan ibuku,aku mulai kehilangan kemanusiaanku sedikit demi sedikit. Jujur saja,itu agak menakutkan... Aku tidak ingin menjadi seperti ayahku,aku masih ingin menjadi manusia,namun aku sadar bahwa sisi manusiaku yang membuatku menjadi lemah...


Katakan padaku Kallen... Orang yang kau peluk saat ini,setelah mengorbankan nyawa puluhan ribu orang,apakah dia manusia atau iblis?" Pertanyaan itu membuat Kallen sadar bahwa Regal sedang tersesat,sama seperti saat dia pulang dari tempat ibunya terbunuh. Namun dia memeluknya lebih erat dan menjawab. "Manusia ataupun iblis,kau adalah suamiku dan aku adalah istrimu. Bahkan ketika kau jatuh ke neraka,aku akan menjemputmu... Tidak hanya itu saja,bila kau sudah berubah menjadi iblis sepenuhnya di bawah sana,maka aku akan tetap memelukmu dan mencintaimu. Sedalam itulah aku mencintaimu Regal..." Regal yang mendengarnya akhirnya mulai berbalik,mata mereka bertemu dan akhirnya dia menyentuh bibir istrinya.


———

__ADS_1


Setelah mereka berteleportasi,Roland di rawat hingga pulih kembali. Dia kemudian pergi berdoa di kuil untuk meminta maaf kepada Aria,namun doa malamnya itu diganggu oleh pamannya yaitu Charles. "Kau telah berjuang dengan sangat baik,bagaimana dengan lukamu?" Roland kemudian berlutut dihadapan Charles dan meminta maaf. "Luka saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa malu yang diderita Kerajaan Suci,saya telah memberikan ultimatum,namun mereka menolak dan saya malah memaksa perang hanya karena melihat kesempatan. Keegoisan saya telah membuat Kerajaan dan juga Dewi Aria malu..." Mendengar perkataan Roland,Charles memejamkan matanya dan menjawab. "Hmm,itu tak bisa dipungkiri lagi. Kita melawan seorang penganut Dewa Teloch,Dewa yang dulunya disembah sebagai Dewa Perang sebelum dia harus meletakkan senjata dan mengurus dunia bawah. Apalagi dari pernyataannya bahwa Regal adalah anaknya,aku malah lebih terkejut kau bisa selama darinya..."


Tidak bisa diam dengan penghinaan yang telah Regal lakukan dengan mengalahkan Legiun terbaik mereka dan menghina Dewi mereka didepan 2 orang Paladin,Roland jelas kesal,dan melihat Pamannya saat ini ada didepannya diapun mulai bertanya. "Dalam pertempuran kedepannya aku ragu bila aku bisa menang dari orang itu atau tidak,kemampuannya untuk menari dan menipu musuh dengan pedangnya adalah sebuah bakat yang tidak bisa kusaingi,maka dari itu... Apakah aku bisa memakai benda itu? Yang Mulia..."


———


Setelah meminta izin dari Pamannya,Roland pergi ke markas besar para Templar untuk lanjut bekerja. Namun dia mendengar suara orang yang menghentikannya saat sedang berjalan di lorong. "Roland!" Melihat ke belakang,dia didatangi oleh salah seorang Paladin. "Oliver? Mengapa kau sampai terburu-buru begitu?" Pria itu adalah Oliver,dia adalah Paladin terkuat setelah Roland sekaligus rekan paling dipercaya oleh Roland. "Tentu saja karena aku mendengar dirimu terluka parah hingga harus mundur dari Victoria. Jadi,kau bertemu dengannya lagi?" Roland mengangguk dan menjawab. "Jadi kau pulang lebih awal hanya demi melihat situasi ku yah? Hmm,yah itu benar aku bertemu dengannya. Jujur saja,dia lebih kuat dari perkiraan ku,aku pikir hanya karena dia seorang Mercenary yang tidak punya paham tentang Kesatria malah membuatku unggul. Namun pemuda itu berhasil membuatku lengah dan terluka."


Mendengar perkataan temannya,Oliver menjawab. "Tentu saja... Mercenary bukanlah kesatria ataupun orang suci. Kita tak boleh menyamakan mereka dengan kita..." Roland melihat lukanya dan menjawab. "Tidak... Memang seperti itulah seorang Pejuang harus bertarung." Oliver memasang wajah marah,dia jelas marah terhadap Regal yang sudah melukai sahabatnya. "Namun kita tak perlu khawatir lagi." Roland mengambil sebuah kotak dari kantong celananya dan memperlihatkan benda itu kepada Oliver,melihat kotak itu membuat Oliver tak percaya. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Raja akan memberikan benda suci itu kepada Roland. "Kalau kau memegang benda itu berarti..." Roland menyelanya dan menjawab. "Aku tidak akan kalah... Itu sudah pasti!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2