Abyss Ataraxia

Abyss Ataraxia
Chapter 9: Foul Legacy


__ADS_3

Regal yang saat ini berdiri dengan tangan penuh luka mengerikan dan tubuh penuh keringat sedang berdiri didepan sebuah artefak berbentuk bola. Dirinya mengayunkan pedangnya dengan tangan terluka dan gemetaran itu,dirinya terpental jauh kebelakang akibat serangannya sendiri.


Para maid yang menyaksikan itu sudah tak tahu berapa lama dirinya melakukan hal ini,berapa jam telah berlalu dan berapa kali dia melakukan hal itu,hanya saat dirinya pingsan para maid dapat melihat Regal berisitirahat. Mereka tak pernah melihat anak itu beristirahat dengan sendirinya, setiap kali dia selesai mengayunkan pedang dan terpental pasti dia akan bangkit kembali.


Hingga akhirnya mereka melihat dirinya berhenti dan berpikir,Regal melihat bola itu kemudian dia melihat tangannya. Entah apa yang ada di pikiran Regal,namun dia memerintahkan sesuatu yang tak pernah dipikirkan oleh para maid.


"Ambilkan batu bara..." Itu adalah kata-kata dari orang yang sudah tak sadar telah berlatih dari matahari terbit hingga terbenam. Para maid kemudian mengambil sekantung batu bara,Regal yang sudah menyembuhkan tangannya dengan sempurna mulai mengambil satu batu.


Dirinya kemudian meremas batu bara itu dengan satu tangan,semua urat di tangan kanannya menunjukkan seberapa keras dia mencoba untuk meremas batu bara itu tanpa Vis sedikitpun.


Hingga akhirnya batu itu hancur dengan sendirinya,Regal menatap batu itu kemudian lanjut meremas batu itu. Tak peduli seberapa sakit rasa dari luka yang tadi dia tutup kini terbuka dan kemasukan batu bara.


Regal terus meremas bahkan setelah itu hancur. Sejam,sehari,seminggu,bahkan sampai 3 bulan dia terus menerus menyembuhkan dan berlatih mengayunkan pedangnya dan meremas batu bara. Tidak ada wajah keputusaan yang terlihat,hanya ada semangat yang terlihat di wajahnya selama 3 bulan ini.


Hingga akhirnya dia membuahkan hasil.... Regal merasakan tekstur batu bara di tangannya itu,dirinya kemudian melepaskan genggamannya dan membiarkan batu bara yang sudah menjadi debu itu jatuh ke tanah,namun sedikit demi sedikit para maid bisa melihat cahaya yang terpantul dari batu bara itu. Mereka awalnya ragu namun akhirnya mereka yakin bahwa apa yang jatuh itu adalah berlian...


———


Setelah Regal menyembuhkan diri dan tempat latihan telah dibersihkan dari batu bara yang berserakan bercampur dengan berlian kecil. Regal kemudian mengambil pedangnya dan berdiri di hadapan bola itu lagi.


Tatapan di matanya menunjukkan keseriusan dan dedikasi,lalu dengan sekali ayunan Regal membuat kesunyian itu berubah dengan suara dentuman indah yang berasal dari bola itu.


Semua orang mengira bahwa dirinya berhasil,dirinya telah membuat bola itu mengeluarkan suara dentuman yang merdu. Namun perlahan-lahan mereka menyadari bahwa bola yang sangat keras itu mulai terbelah dua.


Mereka semua yakin bahwa pedang Regal tetap berada diatas permukaan bola,namun ayunan pedang yang diiringi teknik dan kontrol yang kuat itu membuatnya dapat memotong bola yang sangat keras itu tanpa menembusnya.


Tangan Regal sudah tidak berdarah,tangannya kapalan dan keras itu tidak berdarah,dan pedang yang dipegang oleh Regal telah hancur seperti kaca yang pecah.


"Bawakan lagi satu..."


Seorang maid membawa pedang lagi,Regal menggenggam pedang itu dengan sangat keras hingga mereka bisa mendengar bunyi dari gagang kayu itu mulai retak di bagian dalam.


Regal hanya mengayunkannya dengan satu tangan yang diikuti oleh tubuh bagian kanannya yang membantu mengayunkan pedangnya. Setelah mengayunkan pedang itu di di udara,Regal kemudian melihat pedang itu lagi.


Pedang itu menjadi bengkok dan bentuknya sudah tak layak lagi disebut sebagai sebuah pedang,padahal Regal tidak memotong atau membentur apapun.


Saat semua orang terdiam melihat ayunan pedang satu tangan itu,hanya ada satu orang yang tertawa sembari bertepuk tangan. Itu adalah Adrian yang baru saja datang dari balik pintu.


"Bagus sekali Regal. Melihat kau bisa melakukan hal itu tanpa bantuan Vis ataupun Aura,itu sangatlah mengerikan kau tau?"

__ADS_1


Adrian berdiri dihadapan Regal,Regal menurunkan kepalanya dan menjawab.


"Semua ini karena anda."


Adrian tersenyum,namun dia kemudian membalik badan dan pergi dari ruangan itu.


"Jalan yang kau pilih masih lebih sulit daripada ini..."


Sembari pintu tertutup rapat dengan sendirinya,ruangan itu kembali sepi oleh keheningan.


"Apa yang kalian lihat? Bawakan aku pedang baru."


Para maid akhirnya bergegas pergi mengambil pedang lain. Sementara itu Regal terus memperhatikan tangannya,tangan yang dulu disirami air panas,tangan yang merangkak mencari serangga di loteng agar bisa dimakan,tangan yang selalu terluka apapun yang dia lakukan...


Tangan itu sudah tidak pernah disentuh oleh keluarganya,namun tangan itu terus menerima luka yang lebih parah dari yang pernah dia rasakan.


———


Setelah dirinya berisitirahat di kamar,Regal akhirnya menyadari akan suatu hal.


"Dunia itu kejam..." Entah dia berada dimana,tangannya akan selalu terluka,entah bersama siapa dirinya akan selalu terluka.


Kematian yang ditunjukkan oleh Mavis,itu sangatlah kejam dan luar biasa menyakitkannya. Namun kematian itu justru tak meninggalkan bekas luka apapun pada tubuhnya. Regal yang menyadari itu sembari berbaring di ranjang akhirnya mulai mengalirkan Vis miliknya.


Dirinya mengingat perkataan Adrian. "Elemen alam itu selalu terkait dengan kepribadian dan juga trauma penggunanya."


Regal selalu mendapatkan perlakuan tak baik hingga sering dipukuli dan dicaci maki dengan kata-kata yang seharusnya tidak didengar apalagi dilontarkan kepada seorang anak.


Namun pada akhirnya dirinya tak bisa mendapatkan elemen alam,bahkan dengan semua trauma dan juga sirkuit sihir yang sudah ada semenjak dirinya terlahir dia tetap tak punya elemen alaminya sendiri.


Regal akhirnya mengambil pedang baru yang lebih kuat,tanpa sepengetahuan orang-orang dirinya melompat dari jendela istana. Perasaan dari dirinya yang tanpa takut menjatuhkan dirinya ke tanah dari ketinggian benar-benar membuatnya merasa seperti orang aneh,tak takut akan bahaya dan kematian...


Apa yang dia rasakan hanyalah kehampaan,tak ada tujuan hidup,tak ada rasa takut bahkan setelah mengingat hal-hal yang membuatnya trauma. Semuanya kosong dalam pikiran Regal bahkan setelah kepalanya sudah hampir menyentuh tanah.


Sementara itu,di ruang takhta ada dua orang yang yang sedang berbincang,Adrian sedang duduk sembari meminum wine manis dari neraka,sementara Mavis berlutut dihadapannya.


"Dia sudah melakukannya yah?" Kata Adrian sembari menggoyangkan gelas berisi wine itu.


"Yah,aku bisa merasakannya. Namun tidak dengan ketakutannya..." Mavis menjawab dengan wajah khawatir dan gelisah,namun Adrian tampak tenang di situasi ini.

__ADS_1


"Jangan khawatir,dia mungkin sudah tidak takut kematian.


Namun saat kau melihat kematian di depan matamu,kau akan melihat kilas balik hidup..."


———


Disaat Regal hampir mendekati tanah,dirinya mulai bisa melihat segala ingatan sebelum dirinya meninggal. Semuanya,mulai dari bagaimana dirinya dirawat dengan cinta hingga diragukan dan disiksa oleh keluarga barunya.


Semua itu terjadi lebih cepat dari kedipan matanya,hingga akhirnya Regal melihat suatu yang tidak pernah dia ingat. Saat dirinya ditelantarkan di depan kuil.


Saat itu dirinya dapat melihat secara jelas,seorang wanita dengan rambut pirang-platinum dan mata biru langit yang indah sama sepertinya. Tampak semua penderitaan,rasa sakit dan juga kesedihan dari matanya itu.


Regal yang masih muda mencoba untuk menggenggam tangan wanita itu,meskipun terlihat menahan rasa sakit seperti dirinya sedang terluka,wanita itu tetap memberikan jadi telunjuknya untuk dipegang oleh tangan mungil dari anaknya itu.


Entah mengapa semua penderitaan dan rasa sakit itu hilang,meskipun rasa sedihnya masih terlihat dibalik linang air matanya,namun dia merasakan rasa syukur dan kebahagiaan di senyumannya itu.


Regal yang masih memegang jari ibunya itu tertawa,sementara ibunya memasang wajah bahagia dengan senyum syukur,namun air mata itu akhirnya terjatuh ke tangan Regal.


Setelah saat itu,dirinya tak pernah bertemu lagi dengan orang tuanya...


Dari mata Regal,keluar air mata yang sama dengan yang dikeluarkan oleh ibunya. Air mata itu jatuh lebih lambat daripada Regal,membuatnya bisa melihat air mata terbang menjauhinya.


Dan dengan mengalirkan Vis miliknya ke seluruh tubuh Regal akhirnya mencoba untuk menyelamatkan dirinya,tubuhnya mengeluarkan kobaran api biru yang terang.


Sementara itu di ruang takhta,Adrian akhirnya melihat kearah gelasnya. "Sudah bangkit yah?"


Mavis yang akhirnya merasa lega akhirnya menjawab. "Yah... Berkat dariku telah bangkit."


Regal berubah menjadi bola api berwarna biru terang itu,bola api itu kemudian dengan cepat jatuh ke tanah dan menciptakan ledakan.


Namun saat asap dan cahaya dari api biru terang itu memudar,bukanlah seorang anak kecil dengan pedang yang berdiri di tengah-tengah area ledakan itu.


Melainkan seekor iblis dengan tubuh dewasa yang tertutupi eksoskeleton dan sayap hitam yang mengeluarkan cahaya biru terang. Iblis itu tiba-tiba bercahaya lagi,setelah cahaya itu menghilang iblis itu berubah menjadi Regal.


Tubuh Regal terjatuh ke tanah,dia pingsan didepan istana milik Adrian untuk yang kedua kalinya,namun kali ini berbeda. Karena sekarang...


Dia tersenyum...


...***...

__ADS_1


__ADS_2