Abyss Ataraxia

Abyss Ataraxia
Chapter 62: Penjaga Perdamaian


__ADS_3

Ketika Regal dan Kallen tidur di ranjang yang sama,Regal terbangun sembari berkeringat dingin dan wajah gelisah. Dia menenangkan dirinya dan mulai melihat keluar,matahari belum muncul dan hawa dingin masih menyelimuti tubuhnya. "Sampai kapan aku harus mengalami hal ini..." Regal kemudian melihat kearah Kallen,dia mengepalkan tangannya dan menjawab kepada dirinya sendiri bahwa ini bukan saatnya.


Diapun bangun sebelum yang lain dan mulai memasak sarapan,dan ketika Regal memasak dia mulai mengingat mimpi buruk yang membangunkannya dari tidur tadi. Meskipun dia sudah tahu mengapa dirinya bisa mengalami mimpi buruk setiap malam,Regal tak terbiasa dan mimpi buruk itu terus menerus semakin parah. Saking parahnya sampai-sampai dirinya bisa melihat kematian keluarganya,dan bahkan sampai bisa melihat dirinya yang sekarat memegang mayat Kallen yang semakin dingin seiring berjalannya waktu. Regal semakin khawatir dengan hal-hal yang akan terjadi,entah itu karena ini berhubungan dengan apa yang dibilang Avior atau ini adalah perbuatan mata Regal.


Ketika Kallen turun untuk sarapan Regal memberikan sarapan kepada Kallen dan duduk bersamaan dengannya. Kallen yang melihat suaminya sedang gelisah langsung bertanya. "Ada apa? Kau mengalami mimpi buruk lagi?" Regal melihat kepada Kallen dan menjawab. "Tidak... Kita mendapatkan pekerjaan,dan ini dari ibumu." Kallen yang mendengarnya langsung terlihat bersemangat,Regal kemudian menjelaskan mengenai pekerjaan yang mereka dapatkan saat ini. Dan setelah tahu detail,mereka bersiap-siap dan langsung pergi menuju Belterre. Setelah mereka sampai disana,mereka bisa melihat Belterre telah menjadi lebih baik,bangunan-bangunannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. "Entah aku yang merindukan tempat ini atau ibuku telah menghamburkan uangnya..." Mereka kemudian pergi ke istana dan bertemu Eleanor,begitu mereka berada di ruang takhta,mereka berlutut dihadapan Eleanor selaku Ratu dan juga ibu mereka. Eleanor melihat mereka dan memerintahkan mereka untuk berdiri hanya dengan gerak tangannya,dengan melihat wajahnya Kallen tahu bahwa ibunya dengan stres,namun Regal yang bisa membaca jiwa seseorang dapat merasakan bahwa Eleanor juga sedang khawatir.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kalian?" Regal tersenyum dan menjawab. "Bahagia,bukankah begitu Kallen?" Kallen mengangguk dan menjawab. "Yah,kami berdua bahagia..." Melihat anaknya bahagia jelas membuat Eleanor tersenyum,namun dia tetap profesional dan langsung ke poin utamanya. "Seperti yang aku katakan di dalam surat,aku memerlukan pengawal untuk pergi ke tanah para Iblis,namun dilain sisi aku tak ingin Belterre kosong tanpa penjagaan..." Mendengar itu Regal langsung mengangguk dan menerima pekerjaan itu. "Kita akan siap kapanpun kau perintahkan Yang Mulia." Mendengar jawaban itu,Eleanor tersenyum dan berkata. "Kita akan berangkat besok pagi,persiapkan segala kebutuhan kalian,para pelayan akan segera membantu." Dan pada akhirnya semua orang pergi dari ruang takhta,akan tetapi Regal dipanggil oleh Eleanor ke taman untuk berbicara,melihat hal itu,Kallen membiarkan suaminya mengobrol dengan ibunya sementara dia pergi berkeliling kota.


"Pernikahan kalian berjalan lancar. Aku ikut senang untuk itu." Regal menjawab. "Selama ini dia terus melindungi belakang ku dan selalu menjadi ujung tombak dari setiap rencanaku,anda benar-benar membesarkan anak yang hebat." Keduanya tertawa sembari menuangkan teh,hingga akhirnya Regal menyudahi obrolan ringan itu dengan bertanya mengenai pekerjaan. "Kenapa anda pergi ke tanah para Iblis? Apakah ada ultimatum dari pihak iblis?" Tanah para Iblis atau biasa disebut sebagai Tartarus berada di sebelah utara benua ini. Jika tanah yang dipenuhi padang rumput adalah tempat tinggal manusia,dan tanah tempat banyak bukit dan gunung-gunung tinggi ditinggali oleh naga,maka tanah yang diisi oleh tanah tandus dan suram adalah daerah para Iblis beserta Raja-raja mereka.


"Memasuki Tartarus adalah bunuh diri... Ayahku telah bertarung bersama dengan Adrian untuk membunuh Tartarus dan membawa akhir dari zaman kegelapan di dunia ini. Bila kau mati,bisa jadi zaman kegelapan akan kembali,karena bagaimanapun kau adalah seorang pelindung yang ditakuti oleh para Raja Iblis." Eleanor meminum tehnya,dari caranya bertingkah itu mengindikasikan bahwasanya dia tahu resiko itu,namun dia memiliki alasan lain. "Para Iblis mulai meliar,banyak dari mereka yang berkeliaran dan menebar kekacauan semenjak 10 tahun terakhir,kalau dibiarkan maka kita akan perlahan-lahan melemah,dan aku yakin kalau tidak ada satupun dari Raja Iblis yang menolak kesempatan ini... Aku tau ini beresiko,namun hanya akulah yang bisa,kita tak bisa menyerahkan urusan seperti ini kepada Raja manapun,hanya akulah yang bisa masuk dan keluar dengan selamat,namun aku tak bisa mengatasi semuanya sendirian. Regal,aku ingin kau dan Kallen untuk ikut,namun bila sesuatu terjadi pada kami,aku mohon selamatkan Kallen,utamakan keselamatannya daripada diriku..." Regal akhirnya sadar dengan situasi ini,memang saat ini tidak ada pilihan lain selain melakukan kesepakatan dengan para Iblis,namun membuat ibu mertua dan istrinya masuk ke wilayah para Iblis membuatnya masuk ke wilayah musuh adalah tindakan gegabah. Namun ada satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya. "Raja Iblis mana yang akan kita temui?" Dengan wajah tanpa ekspresi Eleanor menjawab. "Demon Lord of Madness..."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu,Regal tanpa sadar mengeluarkan Aura yang sangat pekat. Matanya berubah menjadi ungu sama seperti yang dilihat oleh Kallen,Aura itu tak menyakiti Eleanor lantaran kapasitas sihirnya yang kuat,namun Aura ini membuat Eleanor merinding dan api lilin yang menerangi ruangan itu tiba-tiba saja mati namun beberapa saat kemudian api itu menyala lagi. Disaat api lilinnya kembali menyala,mata Regal kembali normal,namun Regal tiba-tiba saja merasakan rasa sakit dari matanya,dia menutup matanya menggunakan tangan kanannya dan berdiri. "Tampaknya aku lepas kendali,aku permisi dulu..." Eleanor melihat Regal yang keluar dan meninggalkannya,mata Eleanor masih tak percaya apa yang dilihatnya. Untuk sesaat,di dalam kegelapan dia melihat sesosok makhluk yang lebih gelap daripada kegelapan itu sendiri sedang berdiri di belakang Regal. Dan ketika mata mereka saling bertatapan,Eleanor langsung merasakan rasa menusuk dari trauma lamanya.


"Mungkinkah..." Eleanor memikirkan sesuatu,namun dirinya mengurungkan pemikirannya. "Kalau memang itu terjadi harusnya itu sudah lepas dari dulu. Atau apakah Adrian tidak tahu?" Eleanor mengurungkan pemikirannya namun dia tetap saja mengingat kenangan buruk yang telah terjadi di masa lampau. Baginya yang penting sekarang adalah perdamaian ini,kalau misi ini gagal maka tidak terhitung jumlah korban yang akan tewas nantinya.


"Sekalipun itu benar dirimu,hanya kaulah harapan kami. Jadi tahanlah dia didalam dirimu lebih lama lagi.. Regal..."

__ADS_1


__ADS_2