Abyss Ataraxia

Abyss Ataraxia
Chapter 39: Konflik padang pasir


__ADS_3

Regal saat ini duduk di sebuah padang rumput,dan dengan angin tenang yang berhembus melewati rambutnya yang kini berwarna abu-abu,dia dapat merasakan tubuhnya terlahir kembali dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya sesaat setelah dia kembali dari neraka. Gram juga begitu,pedang itu mulai terlihat seperti pedang baru yang padahal itu hanya pedang lama,Regal melihat pedang itu sembari berkata.


"Namamu sekarang adalah Balmung..."


"Serang!!!" "Yeah!!!" Sementara dia sedang bersantai,para pasukan berbaris dan menyerang suatu benteng yang berdiri di tepi sungai. Saat ini Regal membantu seorang Count dari Wimbledon untuk mendapatkan reputasi dengan menyerang benteng musuh.


Akan tetapi saat mereka mencoba untuk mendobrak gerbang benteng itu,pasukan Count mulai dihujani oleh panah dan minyak panas dari atas dinding. Komandan mereka jelas kesal melihat para pasukannya mati tanpa bisa menyerang benteng,Komandan mereka yang bernama Paul akhirnya mendatangi Regal dan bertanya kepadanya. "Oi Mercenary! Mengapa kau tidak melakukan tugasmu?!"


Mendengar hal itu Regal menjawab. "Bukannya saat Count mengkontrak diriku,kau bilang Kesatria tak bisa dibandingkan dengan seorang Mercenary rendahan sepertiku?" Paul kesal dan menjawab sembari menahan emosinya. "Lebih baik kau lupakan perkataanku dan cepat bantu para Kesatria!!" Regal menghela nafas dan memasang Adamas.


Dirinya berlari melintasi para Kesatria yang mentalnya jatuh dan lari kembali ke belakang,panah dan sihir mulai berterbangan ke arahnya,namun Regal dapat menangkis itu semua menggunakan Balmung. Hingga akhirnya Regal cukup dekat dengan gerbang dan mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Dalam sekejap gerbang dan tempat para pemanah dan penyihir berdiri hancur dalam sekali ayunan.


Regal membunuh semua orang dalam sekejap,hingga hanya menyisakan para infantri yang menunggu didalam,Regal yang melihat itu langsung memanggil Garm dari balik punggungnya dan mereka berdua bersama-sama menghancurkan 200 orang infanteri yang menunggu di dalam gerbang.


Para Kesatria yang kembali semangat tempurnya akhirnya kembali menyerang,namun ketika mereka masuk,mereka tak dapat menemukan apa-apa selain tumpukan mayat dari musuh mereka. Dan saat mereka sedang kebingungan,Regal membunuh pemimpin benteng tersebut. Paul yang baru masuk akhirnya melihat semua kejadian itu,diapun melihat Regal yang berjalan menghampirinya sembari berlumuran darah,Regal kemudian menepuk pundaknya dan berjalan melewatinya sembari berkata.


"Pekerjaan kalian sudah selesai,wahai tuan kesatria..."

__ADS_1


———


Pada malam harinya mereka mendirikan kemah di dalam benteng tersebut. Bayaran dari pekerjaan Regal ialah separuh hasil rampasan dan para wanita yang menjadi tahanan perang. Baginya itu cukup untuk beberapa bulan. Para wanita dulu memang terlihat tertarik dengan rambut blonde milik Regal,namun rambut putih seperti abu itu tampaknya tidak kalah menariknya bagi para wanita...


Setelah tidur dengan banyak perempuan di tendanya,Regal kini keluar dan mengemasi barang-barangnya kembali. Diapun pergi menghampiri Paul dan berkata kepadanya.


"Urusanku sudah selesai,aku akan pergi..." Mendengar hal itu Paul jelas tersenyum melihat Regal yang mana orang yang paling banyak mendapat pujian kini pergi,kini dia bisa menjadi pusat perhatian lagi dan itu membuatnya tersenyum. "Yah! Hati-hatilah!"


Regal pergi walaupun dia bisa tau betapa jijiknya wajah Paul yang dia sembunyikan dibalik senyumnya yang ramah. Regal akhirnya membuka suatu surat dan menaiki sebuah kuda untuk pergi ke suatu tempat.


———


"Ini dia yah? Tempat ini lumayan hebat untuk sebuah kerajaan padang pasir." Regal masuk ke pintu gerbang suatu kerajaan,itu adalah Kerajaan Dartania. Sebuah kerajaan besar yang berdiri kokoh di tengah gurun tandus ini. Mengingat bahwa kerajaan ini mampu bertahan di tengah-tengah padang pasir penuh bandit dan Basilisk membuat Regal kagum. Diantara 5 kerajaan yang ada di Agatha Borderline,kerajaan inilah yang mampu membangun ibukota paling dekat dengan sungai.


Regal masuk ke ibukota mereka,disana dia bisa melihat para warga berkumpul sembari meminum minuman bernama kopi dingin. Menurutnya itu masuk akal,karena meskipun mereka tinggal lumayan dekat dengan sungai,mereka masihlah tinggal di padang pasir. Dan setelah mencicipi minuman kopi dingin itu,Regal pergi ke istana Dartania untuk menemui kontraktornya.


Saat masuk,dirinya dapat melihat para kesatria menggunakan zirah dan persenjataan yang logamnya Regal tidak ketahui. Apakah itu Adamantium? Orichalcum? Tidak... Logam yang mereka pakai berbeda dari yang Regal ketahui. Regal akhirnya berhenti berteori setelah para penjaga membukakan pintu ke ruang takhta,disana Regal dapat melihat seorang kakek-kakek yang duduk di singgasana,dia terlihat tua dan tidak mengenakan mahkota,melainkan sebuah sorban yang menutupi kepalanya,namun Regal tau kalau dia adalah Raja dari Dartania.

__ADS_1


"Terimakasih telah menerima kontrakku,King of Warriors. Dan selamat datang di Dartania..." Regal mencoba untuk menunduk,namun tampak seperti para penjaga memberikan isyarat untuk tidak melakukannya,diapun membalas perkataan Raja itu sembari berdiri.


"Sudah kehormatan bagiku Yang Mulia Sayid Pasha." Saat dirinya menundukkan kepala,dia bisa melihat orang disamping Raja sedang tersenyum kepadanya. Regal dapat melihat bahwa orang itu adalah Warrior terlatih,namun dia tak mempedulikannya dan tetap menundukkan kepalanya.


"Seperti yang aku katakan di surat itu,kami memiliki masalah saat informan kami melihat pejabat dari Kars,Jace,dan Ze'ev melakukan pertemuan rahasia. Dan setelah pertemuan itu berakhir,kami mendapatkan informasi bahwa ketiga kerajaan itu mengumpulkan pasukan mereka dan mereka terlihat seperti sedang menuju negara tetangga kami,Maryam.


Maryam memutuskan untuk beraliansi,namun meskipun ada kami,pasukan yang dikumpulkan ketiga kerajaan itu dispekulasikan bisa lebih dari 120.000 orang,maka dari itu kami mulai merekrut tentara bayaran di Agatha Borderline dan juga tentara bayaran yang ada diluar dataran ini."


Regal bisa melihat para prajurit yang ada disini,mereka semua terlihat kuat dan perlengkapan mereka juga diatas rata-rata,namun tetap saja jumlah merupakan faktor penting dalam peperangan.


"Berapa jumlah pasukan yang kalian miliki?" Sayid menjawab pertanyaan itu dengan rasa khawatir. "Bila digabungkan dengan Maryam dan para tentara bayaran,kami hanya bisa mengumpulkan 70.000 orang saja." Mendengar hal itu Regal akhirnya sadar bahwa ini adalah perang yang tidak mungkin dimenangkan dengan kekuatan dan strategi biasa.


Seandainya saja disini ada pepohonan maka mereka bisa melakukan gerilya,namun di tempat yang mana oasisnya hanya ada puluhan tentunya itu bukan strategi yang bisa dilakukan. Namun Regal teringat akan suatu hal yang penting,diapun bertanya kepada Sayid.


"Apakah Kerajaan Dartania dan Maryam pernah bertarung dengan salah satu dari ketiga kerajaan itu?" Sayid menjawab. "Jangankan satu kerajaan,kedua kerajaan kami berkali-kali melakukan peperangan individu."


Mendengar jawaban itu,Regal tersenyum seperti sedang memikirkan sesuatu yang jahat...

__ADS_1


...***...


__ADS_2