
Hola readers😊 Sebelumnya makasih buat kalian yang masih mengikuti kisahnya Acha🙏 Dan jangan lupa kasih dukungan terus buat author yaa..Maka dari itu jika kalian berkenan, bisa dong kasih like, komen, dan juga saran buat author.. Happy reading😉
"Cha, lo nggak mau turun?" tanya Darren pada Acha ketika mereka telah sampai di depan rumah Acha. Merasa tak ada jawaban dari yang ia tanya, Darren pun langsung menengok ke belakang. Dilihatnya Acha yang sedang melamun.
"Chaa?!!" seru Darren lagi. Membuat Acha terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya, gimana?" jawab Acha balik bertanya.
"Kita udah sampai, ACHA..." balas Darren dengan penuh penekanan. "Lo nggak mau turun? Atau mau ikut pulang ke rumah gue aja😉" sambung Darren menggoda Acha.
"Ihh.. ya enggaklah.. lagian ngapain juga Acha ke rumah Darren, kurang kerjaan bangettt!" ucap Acha agak cemberut sembari turun dari motor.
"Ya.. kali aja lo mau ketemu sama calon mertua..Hahaha" tawa Darren menggelegar. Seketika ia langsung mendapat cubitan yang sangat keras di lengannya.
"Aauuww!! Sakit Cha!" teriak Darren, meringis kesakitan.
"Makanya, nggak usah becanda kaya gituu!" omel Acha, melepas cubitannya.
"Tapi gue nggak becanda kok Cha," ucap Darren dengan mode wajah seriusnya.
"Hiihh,Darren!! Mau Acha cubit lebih keras lagi?!" ancam Acha melotot tajam.
"Hehe.. nggak enggak.. Ampunn🙏🙏" mohon Darren dengan kedua telapak tangan menyatu.
"Ya udah kalo gitu buruan sana pulang." perintah Acha.
__ADS_1
"Ihh, udah dianterin pulang, nggak ada bilang makasih lagi!" sungut Darren merajuk.
"Makasihh ya Darren guantengg!!" ucap Acha dengan wajah terpaksanya. "Udah kan?? Buruan pulang sana!" sambung Acha.
"Nggak disuruh mampir dulu gitu?? Jahat banget sihh." oceh Darren cemberut.
"Udah sore Darren... mampirnya kapan-kapan aja, yaa.." bujuk Acha halus.
"Iya iya..kalo gitu gue pulang dulu" balas Darren dan segera melajukan motornya meninggalkan rumah Acha.
--Rumah Acha--
"Acha pulangg!" seru Acha ketika memasuki rumah.
"Cie cie... yang baru dianter gebetan..," seru seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan tawa cekikikan.
"Gebetan baru, niee.. yang lama apa kabar??" lanjut Rega menggoda adiknya itu. Acha yang masih di tangga seketika berhenti ketika mendengar ucapan kakaknya itu.
Acha tampak diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Lalu ia pun segera melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Acha langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur tanpa mengganti seragamnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang entah kemana. Yang Acha butuhkan saat ini adalah mamanya. Ia ingin sekali menceritakan masalahnya kepada mamanya. Tak terasa air mata mulai mengalir di pipinya. Tak lama, ia sudah pergi ke alam mimpinya.
**Di dalam mimpi Acha**
Acha terbangun di suatu tempat yang tidak diketahuinya. Dilihatnya sekeliling tempat itu. Tempat itu tampak sangat indah, saat ini Acha berada di bawah sebuah pohon besar dan rindang yang dikelilingi dengan hamparan bunga dandelion putih.
__ADS_1
'Dimana ini?? Aku belum pernah lihat tempat kayak gini,' batin Acha merasa kebingungan.
Acha terus meneliti sekeliling tempat itu. Tanpa ia sadari dari arah belakangnya datang tiga sosok yang menghampirinya.
Sebuah tangan menyentuh pundak Acha. Sontak Acha terkejut dan langsung menoleh ke belakang. "Ma.. Mama?!" ucap Acha terbata ketika melihat sosok wanita yang wajahnya sangat ia rindukan selama ini.
Namun wanita itu tak bergeming, ia hanya merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum pada Acha. Sekajap Acha langsung memeluk wanita itu dengan erat.
"Ma.. Acha kangen sama Mama..hiks hiks.." tangis sudah tak terbendung. Ia meluapkan segala emosinya dengan tangisannya.
Wanita itu masih tak bergeming. Ia hanya membalas pelukan Acha dengan sama eratnya dan mengelus kepala Acha. Setelah Acha mulai tenang, wanita itu pun melepaskan pelukannya.
Wanita itu memandang ke sebelah kanan dan kirinya bergantian sambil tersenyum. Acha pun baru menyadari bahwa mamanya itu tidak datang sendiri. Di sebelah kanan dan kirinya terdapat sosok lain yang Acha yakini bahwa mereka adalah laki-laki.
Acha terus memperhatikan kedua laki-laki itu. Namun sayangnya Acha tak dapat melihat wajah mereka. Entah mengapa wajah mereka sangat silau seperti cahaya yang sangat terang.
Acha kembali menatap mamanya. Namun yang ditatap hanya tersenyum sambil menggenggam kedua tangan Acha.
Tak lama, ketiga sosok itu pun memudar.
"Mamaa!!!" teriak Acha terbangun dari tidurnya. 'Meskipun cuma mimpi, tapi Acha bersyukur bisa ketemu lagi sama mama.' ucap Acha tersenyum getir mengingat mimpinya itu.
Acha menoleh ke arah jam di atas nakasnya. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Acha pun segra membersihkan diri untuk bersiap-siap makan malam bersama keluarganya.
Bersambung..
__ADS_1
Like and komen yaa.. Sayonara😉