Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Kepergian-nya#Part 3


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 6 sore. Kediaman Raharja sudah dipenuhi oleh sanak saudara dan para pelayat.


Banyak yang tak percaya atas kepergian Cio. Mereka tak menyangka, Cio yang dikenal sangat ramah, baik, dan berprestasi akan kembali ke Yang Maha Kuasa begitu cepat.


Tubuh Cio sudah dimandikan, sudah dikafani, dan sudah disholati. Mereka semua kini bersiap pergi ke pemakaman untuk mengantar Cio.


Papa Edwin memang sengaja langsung memakamkan Cio malam ini juga, karena ia tidak tega pada Cio jika harus terlalu lama menunggu.


Keranda Cio dimasukkan ke dalam ambulance, bersama dengan Papa Edwin dan petugas rumah sakit yang mendampinginya.


Sedangkan Acha dan kedua adiknya naik mobil Rega. Tak banyak pelayat yang ikut ke TPU, hanya sanak saudara keluarga Raharja dan Pak Ustadz saja.


Perjalanan berlangsung tak lama, kebetulan jalanan sedang tak macet. Ambulance pun berhenti di sebuah TPU, diikuti oleh beberapa mobil keluarga Raharja.


Mereka semua segera turun. Tampak disana sudah ada bapak-bapak yang tak lain adalah tukang gali kubur. Dengan segera jenazah Cio dimakamkan disebelah makam milik mendiang Mamanya.


Tangisan dari mulut Acha dan Vina masih terdengar, tak rela dengan kepergian Cio. Selesai dimakamkan, Pak Ustadz pun memimpin doa. Mereka semua berdoa dengan sangat khusyu'.


'Cio.. Cio yang tenang ya disana,, semoga Cio bisa ketemu sama Mama dan bahagia di surga bersama Mama.. Dan Acha janji bakal selalu do'ain Cio sama Mama, Acha juga janji kalo Acha bakal berubah..' batin Acha meneteskan air matanya, mengusap nisan Cio.


"Sekarang kita pulang, ya.. Biarin Cio tenang disana bareng Mama," ajak Papa Edwin menguatkan anak-anaknya, meskipun sebenarnya ia juga tak rela dengan kepergian Cio.


Dengan berat hati mereka pun beranjak, melangkahkan kaki mereka, meninggalkan nisan bertuliskan Falencio dan Renata tersebut.


'Semoga kalian bisa tenang dan bahagia disana..' batin Papa Edwin sebelum benar-benar meninggalkan makam tersebut.


.


.


Seminggu telah berlalu sejak kecelakaan maut itu. Hari-hari keluarga Raharja, mereka lalui tanpa adanya Cio.


Saat ini, keluarga Raharja tengah menonton televisi di ruang keluarga mereka. Kebetulan saat ini tanggal merah, jadi mereka semua ada di rumah.

__ADS_1


Lebih tepatnya, mereka saat ini tengah menonton film kartun. "Ini kan kartun kesukaannya Kak Cio.. Andai aja Kak Cio masih disini.." keluh Vina tiba-tiba murung.


Mereka yang mendengarnya pun seketika ikut murung. Tentu saja mereka teringat akan Cio. Merindukan kehadiran sosok Cio.


"Sudah,, kita harus ikhlas. Semua sudah diatur sama Allah. Mungkin ini yang terbaik buat Kak Cio. Kak Cio pasti juga senang bisa ketemu sama Mama lagi.." ujar Papa Edwin menenangkan mereka.


Tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada televisi. Menyimak berita yang tiba-tiba memotong film kartun tadi.


Berita Terkini..


Kecelakaan maut yang terjadi minggu lalu, kini telah diketahui penyebabnya. Setelah dilakukan penyelidikan, pihak kepolisian menyatakan bahwa kecelakaan ini bermula ketika sebuah mobil pajero menabrak seorang pengendara sepeda motor yang tengah melintas. Seperti yang kita ketahui bahwa kecelakaan maut ini melibatkan sebuah mobil pajero, sebuah motor ninja, sebuah bus, dan sebuah taxi. Akibatnya, kecelakaan ini memakan korban sebanyak 24 orang. Tujuh diantaranya kini telah dinyatakan meninggal dunia karena insiden ini. Dua korban yang tak lain merupakan pengendara sepeda motor dan supir taxi tengah dalam masa koma hingga saat ini. Sedangkan lima belas korban lainnya tengah mejalani perawatan intensif.


Diketahui pengendara mobil tersebut merupakan laki-laki dengan inisial JGS, yang saat ini tengah dalam penyelidikan oleh pihak kepolisian.


"JGS??" gumam Rega pelan. "Bahkan mobilnya sangat mirip dengan miliknya," lirihnya lagi saat berita tersebut meliput kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan.


"Kenapa, Kak??" tanya Acha yang duduk disebelahnya dan mendengar gumaman Rega.


"Eh nggak papa kok! Hehe!" balas Rega berbohong.


'Andai waktu itu Acha pulang bareng Cio.. Andai Acha nggak pulang bareng Kak Rey.. Andai Kak Rey nggak ngejar Acha.. Apa semua ini bakal tetap terjadi?? Maafin Acha ya, Cio.. Semua ini gara-gara Acha.. hiks!' sesal Acha dalam hati, kini ia mulai meneteskan air matanya.


"Cha, kok malah nangis?? Udah dong.. kita harus ikhlas, biar Cio bisa tenang disana, hm?" hibur Rega, merangkul pundak Acha.


"Iya, Kak Rega benar, kak. Kalau kita terus-terusan sedih, pasti Kak Cio juga bakalan sedih disana.." timpal Alvin.


"Semua sudah ada yang ngatur. Kita hanya perlu mengikuti dan menerima semua kenyataan itu.. Entah kenyataan itu pahit atau manis, kita tetap harus menerimanya.. Jadi jangan pernah berlarut-larut dalam kesedihan, Oke?!" sambung Papa Edwin.


Mereka semua pun mengangguk mengerti.


'Oke Acha,, sudah cukup dengan kisah cintamu.. Karena cinta, kamu jadi lupa segalanya.. Jadi lupakanlah cinta bodohmu itu!! Ini semua demi Cio!!' sumpah Acha dalam hati. Ia sudah bertekad untuk melupakan perasaannya, dan berubah menjadi seperti yang ia janjikan pada Cio.


Dan benar saja, hari terus berlalu. Dan Acha makin lama makin berubah. Ia menjadi lebih rajin belajar, karena ia sadar sekarang tak ada Cio, jadi tak akan ada yang bisa memberinya contekan. Bahkan ia mendapatkan peringkat kedua di sekolahnya dengan usahanya sendiri. Ia juga tak pernah lagi menemui Rey yang telah sadar dari komanya. Setiap Rey datang ke sekolahnya, ia selalu menghindar dan langsung pulang.

__ADS_1


Rey sadar kalau Acha menjauhinya. Tentunya Rey merasa kecewa dan menyesal telah membentak-bentak Acha waktu itu.


Seolah kepergian Cio, juga menjadi kepergian Acha dari kehidupan Rey.


Flashback Off


"Cha.." panggil seseorang dari belakang nya.


Menyadarkan Acha dari kenangan masa lalunya. Ia langsung menoleh ke arah suara tersebut. Ditatapnya ketiga sahabatnya yang sudah berdiri menatapnya.


"Kok kamu nangis? Maaf, ya, gara-gara kita kamu jadi inget sama Cio," Karin langsung mengusap pipi kanan Acha yang basah.


"Lo yang sabar, ya, Cha.. Lo pasti bisa ikhlasin Cio," hibur Zain mengusap pipi kiri Acha.


"Inget, masih ada kita yang siap jadi sandaran lo kapan pun lo butuh," Darren tersenyum manis, mengusap kedua pipi Acha.


Acha hanya tersenyum haru. Merasakan ketulusan dan kehangatan dari ketiga sahabatnya.


"Makasih ya teman-teman!" ujar Acha langsung memeluk Karin yang duduk di bangku sebelahnya.


"Apaan sih, lo?!" gertak Darren saat Zain tiba-tiba hendak memeluknya.


"Mereka aja pelukan,, masa kita enggak??" ucap Zain memelas.


"Ogah banget gue pelukan sama lo!! Gue waras kali!!" seru Darren menatap seolah jijik pada Zain.


Acha dan Karin tertawa lepas melihat tingkah mereka berdua.


'Gue harap lo akan selalu tertawa seperti ini, Cha,' batin Darren tersenyum tipis melihat Acha.


...…***…...


Hai!! I'm back guyss.. Maaf baru up,, soalnya kehabisan imajinasi, hehe😅 Maaf juga kalo ada typo dan critanya nggak sesuai ama ekspektasi kalian,, jangan lupa like, komen, saran, n klik favorit yahh.. Makasihhh..

__ADS_1


Sayonaraa🤠


__ADS_2