Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Rasanya Sakit


__ADS_3

"Ka-ka" gagap Acha melangkah mundur.


Ia pun langsung berlari meninggalkan laki-laki itu.


Laki-laki itu hanya menatap kepergian Acha dengan tatapan sendunya. "Chaa!" panggilnya, namun yang dipanggil tak berhenti dari larinya dan kini sudah menghilang dari sana.


.


.


Acha terus berlari berusaha pergi sejauh mungkin dari parkiran. Ia berkali-kali menengok ke belakang, takut diikuti oleh laki-laki tadi.


Saat dirasa tidak ada yang mengikutinya, ia pun langsung menghentikan langkahnya. "Hosh.. hosh..." napasnya sudah terengah-engah. Ia mencoba mengatur napasnya yang sudah tak karuan. Jantungnya pun masih berpacu sangat cepat.


Saat napasnya sudah mulai stabil, ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke kelas 10 IPA 1.


Namun anehnya, sepanjang perjalanan menuju ke kelas, Acha merasa aneh. Ia merasa menjadi pusat perhatian para siswa siswi yang ada di sepanjang koridor. Bahkan mereka tampak sedang menertawainya.


'Mereka ngapain sih, ngeliatin Acha kayak gitu?' batinnya merasa bingung. 'Pake ketawa segala lagi!!'


'Emang ada yang salah ya dari Acha??' ia sontak langsung memperhatikan seragamnya, melirik sepatunya, 'Bener kok,, nggak ada yang salah sama penampilan Acha.' 'Ah!! Bodo amat lah!!' pikirnya tak peduli.


Ia memilih melanjutkan langkahnya, meskipun mereka masih menatapnya dan menertawainya.


Saat Acha tengah berjalan menuju ke kelasnya, tiba-tiba ia merasa ada yang mengikutinya. Seketika ia pun berhenti dan langsung menengok ke belakang.


"Nggak ada siapa-siapa tuh.. cuma perasaan Acha kali ya," gumamnya menelisik sekitarnya. Ia pun melanjutkan langkahnya.


Namun tiba-tiba, "Doorr!!" sebuah suara dari arah belakang berhasil mengejutkan Acha.


"Aaaa!!!" teriak Acha terkejut.


"Hahahaaa,," tawa orang tersebut menggelegar.


"Ihh!! Dasar Darren nyebeliinn!!" teriak Acha emosi saat melihat Darren lah yang mengejutkannya.

__ADS_1


"Maaf, maaf, Cha.. Lagian lo lucu sih, disekolah kok pake helm.. hihihi," ucap Darren menahan tawa sembari mengetuk helm yang masih bertengger di kepala Acha.


Sontak Acha langsung meraba kepalanya. Dan benar saja, lagi-lagi ia lupa melepas helm nya.


"Ashh.. pantes aja dari tadi pada ngeliatin Acha terus!" gumamnya dan berusaha melepas helm itu dari kepalanya. "Susah amat sih!"


"Darren! Bantuin dong,, nggak peka banget sih!" rengek Acha merasa kesal dengan Darren yang masih saja menertawainya.


"Iya iya," ucap Darren membantu Acha melepas helm itu.


"Susah amat sih Cha, ini mah nyangkut," sambungnya masih mencoba melepas helm itu.


"Acha bilang juga apa!"


Jarak wajah mereka saat ini sangat dekat. Sesaat mata mereka berdua pun bertemu dan saling memandang.


Waktu serasa berhenti bagi mereka. "Ekhemm!!" deheman seseorang mengagetkan mereka berdua.


Seketika Acha langsung membuang wajahnya ke sembarang arah. Begitu pun dengan Darren, ia langsung membuat jarak dengan Acha setelah berhasil melepas helm tersebut.


"Cie.. cieee" goda orang tadi yang ternyata adalah Karin dan Zain.


"Haha,, Auto pj-nya cair, nih!" timpal Zain sembari merangkul pundak Karin. (pj : pajak jadian)


Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Keduanya kini tampak salting.


"Apaan sih!" seru Acha dan Darren bersamaan. Seketika keduanya langsung kembali salting.


"Tuh kan,, ngomong aja bisa kompakan.." goda Karin lagi.


"Apaan sih! Tau ah!" kesal Acha dan langsung melenggang meninggalkan mereka bertiga.


"Gara-gara lo sih!!" Darren pun langsung melemparkan helm yang ia pegang ke arah Karin dan Zain.


Sontak Karin langsung menutup matanya, takut kena lemparan helm. 'Kok nggak sakit, yak?' batinnya masih menutup kedua matanya.

__ADS_1


Perlahan Karin pun membuka kedua matanya. Matanya tertuju pada sebuah tangan di depan wajahnya yang menangkap helm tadi.


Nyaris saja helm itu mengenai wajah Karin andai Zain tidak langsung menangkap helm itu. Tentu saja Karin langsung terkejut melihatnya.


"Huss! Hampir aja kena!" seru Zain menangkap helm tadi. "Jahat bet lo sama cewek!" sambungnya melirik Darren.


"Bodo amat!!" kesal Darren langsung meninggalkan mereka, menyusul Acha.


"Dasar kebiasaan!" ucap Zain merasa jengah dengan tingkah Darren. "Balik kelas yuk!" sambungnya kepada Karin.


Karin tak menjawab. Tatapannya tampak kosong. Karin tentu saja masih terkejut dengan kejadian tadi. Lebih tepatnya saat Zain menangkap helm yang tadi hampir mengenai wajahnya.


"Woii!! Ayo balik, dah mau masuk ini!" teriak Zain mengejutkan Karin. Ia pun langsung menarik tangan Karin menuju ke kelas mereka.


...ΩΩΩΩΩ...


Jam pelajaran pertama telah berakhir. Para siswa maupun siswi segera berhamburan keluar dari kelas untuk istirahat.


"Cha, kantin yok!" ajak Karin.


"Buruan woii!" teriak Darren dan Zain di ambang pintu kelas.


"Bentar bentar, Acha masih nulis materi nih! Sabar napa!" seru Acha masih fokus dengan catatannya.


Setelah selesai mencatat, Acha pun segera membereskan bukunya. "Ayokk ke kantinn!!" serunya langsung menarik tangan Karin dan menyusul Darren dan Zain.


Sesampainya dikantin, mereka berempat pun segera mencari bangku yang kosong. Mata Acha mencari bangku untuk mereka duduki.


Namun, bukannya menemukan bangku yang kosong untuk mereka, ia malah melihat pemandangan yang lagi-lagi membuat hatinya merasa panas.


'Kok rasanya sakit yah' batinnya.


...…***…...


Halo readers.. sebelumnya maaf ya karna jarang up,, soalnya aku lagi sibuk ama tugas" sekolah nihh,, jadi tolong dimaklumi yahh..

__ADS_1


Makasih buat kalian yang masih setia nungguin kisahnya Acha,, jangan lupa dukungannya.. kasih like, komen, n saran.. kalo mau fav juga boleh🤗


Sayonaraaa..


__ADS_2