
Perjalanan dari rumah Acha menuju ke kafe depan IHS sekitar 20 menit. Dan kini Acha sudah sampai di kafe tersebut.
Bertepatan ketika Acha hendak masuk ke kafe, terdengar seseorang memanggil namanya.
"Acha!!" seru orang tersebut yang tak lain adalah Karin. Acha pun menoleh, didapatinya Karin yang tengah berlari ke arahnya.
"Acha kira kamu udah sampe duluan," ucap Acha dengan senyuman nya.
"Enggak, soalnya tadi jalanan macet. Hufft! Capek deh kalo tiap mau keluar-keluar jalanan macet kayak gini." keluh Karin.
Mereka berdua pun berjalan masuk ke kafe.
"Oh iya, tadi kamu bilang kebetulan kamu juga mau kesini, emang kamu mau ngapain?" tanya Acha. Mereka berdua kini sudah di depan pintu kafe.
"Emm.." Karin tampak mencari-cari sesuatu di setiap sudut kafe tersebut.
"Kamu nyari apa sih?" tanya Acha lagi, memperhatikan tingkah Karin.
"Nah, itu dia!!" seru Karin sambil menunjuk ke suatu arah. Acha pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Karin.
"Aku itu tadinya kesini mau nyusul kakak aku, disuruh mami buat ngawasin dia," ucap Karin menjelaskan pada Acha.
'Lagi-lagi mereka,' batin Acha jengah. Mereka yang dimaksud oleh Acha yaitu Vano, Rey, dan Dion.
Sebenarnya sih Acha nggak masalah kalo ketemu sama Vano ataupun Dion, cuma masalahnya yaitu Rey.
'Ya Tuhan.. kenapa nasib Acha gini banget, disaat Acha pengen ngelupain dia, kenapa Acha malah selalu dipertemukan sama dia..' keluh Acha dalam hati.
"Helloow.. Cha?? Kok malah bengong sih??" seru Karin menyadarkan Acha. "Ayokk, katanya kamu laper," sambung Karin menarik tangan Acha.
Mereka berdua pun menghampiri Vano, Rey, dan Dion yang tengah duduk di sudut kafe.
"Boleh ikut duduk disini?" ucap Karin ramah.
"Enggak!" "Boleh" ucap Vano dan Rey cepat.
"Kok dibolehin sih, Rey!" sewot Vano. "Nggak, kamu nggak boleh duduk disini. Kalo cuma Acha boleh, tapi kamu no!" sewot Vano pada Karin.
"Apaan sih, sewot amat, sama Kak Rey aja dibolehin kok!!" ucap Karin nge-gas. Ia pun segera duduk, begitupun dengan Acha. Lebih tepatnya ia duduk disebelah Karin, berhadapan dengan Rey.
"Dek, ngapain sih kamu kesini segala?!" tanya Vano pada Karin. "Jangan-jangan kamu disuruh sama mami buat ngebuntutin aku lagi!" ucap Vano menerka-nerka.
"Heyy!! Kalo aku nggak disuruh sama mami, aku juga nggak mau kali ngebuntutin kakak! Makanya nggak usah godain anak orang! Kena tangkep polisi baru tau rasa!" balas Karin merasa jengah dengan kakaknya itu.
"Whatt?! Tangkep polisi?? Gimana ceritanya? Ceritain dongg!" seru Dion nimbrung.
__ADS_1
"Jadi itu kemarin Kak Vano ketemu sama cewek, katanya sih cantik, tapi aku nggak tau cantik beneran apa eng-" ucapan Karin terpotong.
"Heyyy!! Emang beneran cantik ya!!" potong Vano.
"Shutt!! Lo diem aja bisa nggak sih?!" seru Dion melototi Vano. "Terus terus.. lanjutin ceritanya," ucap Dion kepo.
"Terus Kak Vano kumat, dia godain lah cewek itu.. Ehh si cewek nggak terima. Dia nelpon bokapnya, ngadu tuh dia. Tau nggak pas dateng, siapa bokapnya tuh cewek??" tanya Karin di sela ceritanya. Dion pun menggeleng.
"Dan ternyata si cewek itu anaknya komandan polisi! Yah langsung kena lah Kak Vano!! Dasar blo'on!!" sambung Karin dengan makian di akhir ceritanya.
"Bwahahaha!!! Bodo banget sih lo, hahahaa!!" tawa Dion menggelegar di seluruh kafe tersebut. Sampai-sampai mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung yang ada disana.
Mereka pun hanya bisa menutup wajah mereka karena dibuat malu oleh Dion.
"Kak Reyy!!" teriak seorang perempuan yang baru masuk ke kafe tersebut. Yang dipanggil pun langsung menoleh ke arah suara. Begitupun dengan teman-temannya.
"Kebetulan banget deh Kak Rey juga ada disini. Gue boleh duduk di sini?" mohon perempuan itu.
"Duduk aja kali," sahut Dion. Perempuan itu pun langsung duduk disebelah Rey.
"Mereka siapa?" tanya perempuan itu menunjuk Karin dan Acha.
"Oh, kenalin dia adik gue, Karin sama temennya, Acha." jawab Vano memperkenalkan.
"Owhh.. Kenalin nama gue Safana Diandra. Panggil Safa aja," ujar Safa sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Acha dan Karin.
Safa pun meminum minuman milik Rey tanpa permisi. "Hehe,, maap, haus," ucap Safa meringis ketika mendapat tatapan tajam dari Rey. Acha terus memperhatikan tingkah Safa.
'Kok kayaknya mereka deket banget ya, apa dia pacarnya?' batin Acha menerka. 'Ih ngapain juga Acha mikirin mereka,, mau pacarnya kek, mau bukan, kan bukan urusan Acha!' batin Acha lagi.
"Mba!" panggil Karin pada seorang pelayan kafe tersebut. Pelayan itu pun datang menghampiri mereka.
"Saya pesan nasi goreng seafood satu, tempura, sama minumnya jus mangga, kalo kamu mau pesan apa Cha?" tanya Karin.
Namun Acha tak menjawab Karin. "Yah kumat nih tukang bengong," sungut Karin. "Woii Cha!!" teriak Karin dan berhasil mengagetkan Acha.
"Apa sih?!" balas Acha. "Kamu mau makan apa, ACHA??!" tanya Karin lagi penuh penekanan.
"Samain aja kayak punya kamu." jawab Acha yang tadi tak mendengar pesanan Karin.
"Ya udah, Mba, itu aja." ucap Karin pada pelayan itu.
"Baik, mohon ditunggu sebentar, ya," balas pelayan itu meninggalkan mereka.
Lagi-lagi Acha memperhatikan Safa. Kali ini Safa memakan makanan milik Rey tanpa ijin. "Minta ya Kak," ucap Safa dan langsung merebut garpu dari tangan Rey dan memakan pasta milik Rey.
__ADS_1
"Enak!" oceh Safa sambil mengunyah pasta tersebut.
"Pesan sendiri bisa kan?!" ujar Rey datar.
"Hehe.. maaf.. kebiasaan. Kalo gitu nih, aaa.." ujar Safa hendak menyuapi Rey.
Tentu saja Acha terkejut melihat apa yang sedang Safa lakukan. Dan yang lebih mengejutkannya lagi Rey membuka mulutnya dan menerima suapan dari Safa.
Entah mengapa hati Acha saat ini terasa sangat panas. Rasanya ia ingin marah, namun ia tahan.
"Silahkan dinikmati," ucap pelayan tadi sembari meletakkan pesanan Karin di depan Acha dan Karin. Setelah itu pelayan itupun pergi.
Acha tanpa memikirkan apapun langsung memakan makanannya dengan wajah menahan emosinya. Ia bahkan juga menghabiskan tempura yang tadi dipesan oleh Karin.
Nasi goreng di piringnya tampak sudah tinggal beberapa sendok lagi. Ketika Acha hendak menyendok makanannya lagi, tiba-tiba ia merasa pusing.
Tangannya juga terasa gatal. Bahkan kini ia merasa sulit bernapas. Ia menatap makanannya. "Bodoh!" ucap Acha setelah menyadari apa yang ia makan.
Seketika Acha jatuh tak sadarkan diri. "Cha!!" seru Karin terkejut. Begitupun dengan Rey dan yang lainnya.
"Cha, kamu kenapa?? Cha? Bangun, Cha!!" seru Karin menggoyangkan tubuh Acha, mencoba untuk menyadarkan Acha.
Namun usahanya tak membuahkan hasil, Acha masih tak membuka matanya.
"Alerginya kambuh! Cepet panggil taxi!!" seru Rey dan langsung menggendong tubuh Acha. Rey pun langsung berlari keluar dari kafe.
"Taxi!!" seru Dion memberhentikan sebuah taxi. Rey pun segera masuk ke taxi tersebut bersama Acha.
"Rumah sakit, Pak!" perintah Rey. Wajah datarnya kini berubah menjadi panik. Ia baru ingat kalau Acha alergi udang.
"Bodohh!! Kenapa gue bisa lupa sih!" ucap Rey merutuki dirinya sendiri.
"Bertahan ya, Cha. Bentar lagi kita sampai." sambung Rey menatap wajah Acha yang tampak pucat.
Ia memangku kepala Acha dan mengelus wajah pucat Acha itu.
"Maafin aku, Cha. Cuma itu yang bisa aku ucapin ke kamu. Aku menyesal karena dulu terlalu bodoh," ucap Rey dengan penyesalan yang amat besar terlukis di wajahnya tampannya.
Sementara di depan kafe, Karin dan yang lainnya tampak sedang panik. "Kak, gimana nih??" lirih Karin tampak panik.
"Tenang, Acha pasti nggak papa kok," ujar Vano memeluk Karin agar lebih tenang. 'Kenapa Rey bisa tau kalo Acha ada alergi? Apa dia punya hubungan sama Acha??' pikir Vano.
"Mending sekarang kita susul mereka. Rey pasti bawa Acha ke rumah sakit terdekat, kan?" usul Dion dan diangguki oleh yang lainnya.
Mereka pun segera menyusul Rey dan Acha dengan menaiki motor. Karin tentu membonceng Vano, sedangkan Safa membonceng Dion.
__ADS_1
Hai Hai readers.. Maaf ya kalo masih ada typo atau kesalahan lainnya🙏🙏 Jangan lupa like, komen, dan dukungannya buat author ya.. Makasih🤓
Sayonara👋👋