
Lima menit berlalu, namun Acha masih menangis di dalam pelukan Rey. Hingga akhirnya sebuah teriakan berhasil mengejutkan mereka berdua.
"Kalian ngapainn?!!"
Sontak Rey dan Acha langsung menoleh ke sumber suara. Acha langsung mendorong tubuh Rey agar melepaskan pelukan nya, saat melihat wajah Rega yang tampak murka.
"Kalian ngapain, hah?!!" tanya Rega lagi dengan nada yang semakin meninggi.
Acha yang melihat Rega murka, langsung menunduk ketakutan. Mengahapus air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya. Sedangkan Rey yang melihat Acha ketakutan langsung menggenggam tangan kiri Acha.
Rega yang melihat itu pun semakin murka, ia langsung menghampiri Rey. Seketika ia mencengkeram baju Rey di bagian lehernya.
"Siapa, lo?!! Berani-berani nya lo bikin adik gue nangis!! Lo apain adik gue, hah?!!" bentak Rega semakin menguatkan cengkeraman nya. Kedua matanya semakin berapi-api saat tadi melihat Acha menangis.
"Buk-bukan gitu, Kak. Lepasin dulu Kak Rey!" pinta Acha mencoba melerai keduanya.
Namun Rega tak menghiraukan ucapan Acha. Kedua matanya masih melotot penuh amarah pada Rey. Rega pikir, pasti Rey sudah macam-macam pada Acha, karena tadi ia melihat Acha yang tengah menangis dalam pelukan Rey.
"Dasar kepa*at!! Jawab gue! Ngapain lo, hah?!!" tanpa aba-aba, Rega langsung melayangkan tinjunya pada pipi Rey.
Seketika Rey langsung jatuh tersungkur. Di sudut bibirnya tampak mengeluarkan sedikit cairan berwarna merah.
"Kak Rega! Stopp!!" teriak Acha ingin menangis. Tentu saja karena Acha memang tak bisa melihat suatu kekerasan, termasuk perkelahian.
Namun Rega masih tak menghiraukan Acha yang sedari tadi mau menangis. Malahan tak sampai disitu, Rega kembali mencengkeram baju Rey, yang masih terduduk di lantai.
"Jawab gue!!" bentak Rega mencengkeram baju Rey. Namun Rey masih diam, ia mengusap sudut bibirnya yang terasa agak nyut-nyutan itu.
"Dasar breng*ek!!" marah Rega menghujat Rey yang masih enggan untuk menjawabnya.
Ia pun kembali mengangkat tangan kanannya, mengambil ancang-ancang untuk pukulannya.
Acha yang melihat itu, tangisannya kembali pecah. Ia menutup kedua mata dan telinganya. Menangis sejadi-jadinya.
Saat pukulan Rega hampir kembali mendarat di wajah Rey, tiba-tiba sebuah suara bariton langsung menghentikan Rega.
"Cukup Rega!! Apa yang kamu lakukan?!!" seru Papa Edwin, menuruni tangga. Langkah nya yang lebar membuatnya seketika sudah berada di samping Acha.
Acha yang mendengar suara Papa nya, langsung membuka kedua mata sembabnya. Ia pun langsung memeluk Papa nya itu. Manangis ketakutan dalam pelukan Papa Edwin.
"Cup.. cup.. Jangan nangis lagi, ya.. Nanti muka kamu tambah jelek lho.." ledek Papa Edwin, mengelus-elus kepala Acha.
__ADS_1
Papa Edwin pun kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Rega yang masih senantiasa mencengkeram baju Rey itu. Ditatapnya Rega dan Rey bergantian dengan tatapan tajamnya.
"Apa yang kalian lakuin?!" tanya Papa Edwin tegas. "Berdiri kalian!!" titahnya kepada Rega dan Rey yang masih duduk di lantai.
Rega dan Rey seketika langsung berdiri di hadapan Papa Edwin yang masih memeluk Acha.
Ia menatap tajam Rega dan Rey. Tampak sebuah lebam yang kini sudah menghiasi sudut bibir Rey.
Acha yang sudah berhenti menangis pun langsung melepas pelukannya dengan Papa nya.
Papa Edwin langsung duduk di sofa, disusul oleh Acha yang duduk di sebelahnya.
"Duduk!" titahnya terhadap Rega dan Rey.
Tak ada bantahan dari mulut Rega maupun Rey. Mereka berdua langsung duduk. Rega duduk di ujung sofa paling kanan, sedangkan Rey di ujung sofa paling kiri.
"Huftt!" Papa Edwin memijat pangkal hidungnya. Melirik Rega yang masih senantiasa menatap tajam Rey.
"Pertama, Rega,, kenapa kamu mukul Rey?" tanya Papa Edwin pada putra sulungnya itu.
Namun Rega malah diam, enggan untuk menjawab pertanyaan papa nya itu. Ia pun mengalihkan perhatiannya kepada Acha yang masih diam menunduk.
Papa Edwin pun mengalihkan perhatiannya kepada Acha juga. "Kenapa ini, Cha??" tanya nya kepada Acha.
Dirinya merasa ragu untuk menceritakan tentang kecelakaan yang merenggut nyawa Cio dulu. Ia merasa bahwa ia dan Rey lah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Meskipun sebenarnya bukan salah mereka berdua, melainkan salah si pengendara mobil yang menabrak Rey.
"Cha, kok malah bengong, sih??" tegur Papa Edwin menyadarkan Acha.
"Jawab, Cha! Kenapa tadi kamu nangis?! Diapain kamu sama dia?!!" ujar Rega kembali emosi.
"Emang Rey ngapain kamu, Cha??" tanya Papa Edwin sedikit kaget dengan ucapan Rega tadi.
"Bukan gitu, Pa, Kak. Kakak itu salah paham!" jawab Acha menatap Papa nya.
"Apanya yang salah paham?! Jelas-jelas tadi dia itu peluk-peluk kamu, kan?!! Terus kamu juga nangis pas dipeluk sama dia!" sanggah Rega dengan nada meninggi.
"Nggak-" belum selesai Acha bicara, tiba-tiba Rey langsung memotongnya.
"Maaf, Om, Kak. Tadi itu salah saya. Tadi itu saya yang meluk Acha duluan. Saya juga yang udah bikin Acha nangis." jelas Rey memotong ucapan Acha.
"Tuh, kan, Pa! Rega bilang juga apa! Lo apain adik gue, sampai dia nangis gitu, hah?!" lagi-lagi Rega mulai terbawa emosi nya.
__ADS_1
"Stop, Rega! Dengerin penjelasan mereka dulu!" tegur Papa Edwin meredam emosi Rega.
"Jadi, Cha, kenapa tadi kamu nangis??" tanya Papa Edwin lembut.
Acha terdiam menundukkan kepalanya. Wajahnya kini kembali murung.
"Maafin saya, Om. Semua ini salah saya." ujar Rey tiba-tiba dengan wajah merasa bersalahnya.
"Maksud kamu gimana?" tanya Papa Edwin tak paham.
"Saya dengar Acha punya saudara kembar. Benar, Om?" ujar Rey serius.
Papa Edwin dan Rega tampak diam. Mendengar pertanyaan Rey, membuat mereka kembali merindukan kehadiran Cio.
"Iya, benar. Acha memang punya kembaran, namanya Cio. Kamu lihat, foto itu??" ujar Papa Edwin sambil menunjuk foto yang tadi dipegang oleh Rey.
Rey mengikuti arah yang ditunjuk oleh Papa Edwin. Ia pun mengangguk, menatap foto tersebut.
Papa Edwin langsung berdiri, mengambil foto tersebut. Dan kembali duduk di sofa nya.
"Ini adalah kenangan satu tahun yang lalu. Saat itu Acha sedang merajuk dengan Cio. Karena Cio selalu mendapat nilai bagus, jadi selalu dipuji oleh guru dan teman-temannya, sedangkan Acha tidak. Makanya Acha cemberut gitu.." ujar Papa Edwin tersenyum getir, mengusap foto tersebut.
"Namun takdir tak ada yang tahu. Dua hari setelah foto ini diambil, kecelakaan menimpa Cio. Cio dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.." ujar Papa Edwin sendu.
Rega dan Acha diam membisu. Kenangan-kenangan bersama Cio kembali melayang dipikiran mereka. Sebulir air mulai mengalir di pipi Acha.
Rey semakin merasa bersalah. Terlebih saat melihat gurat kesedihan di wajah ketiga orang tersebut.
"Maaf, Om, Kak, Cha.. Maaf.. Semua ini memang salah saya.." lirih Rey menunduk penuh penyesalan.
"Maksud kamu apa?" Papa Edwin dan Rega langsung menatap Rey penuh bingung. Sedangkan Acha semakin terisak, merasa bersalah juga.
"Maaf, Om. Sebenarnya saya yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Maaf, Om, Kak. Tapi saya enggak sengaja, maaf.." sesal Rey menundukkan kepalanya.
Mendengar pengakuan dari mulut Rey, seketika foto yang ada di tangan Papa Edwin jatuh, beruntung jatuh di pangkuannya.
Raut wajahnya seketika berubah. Begitu pun dengan Rega.
...…***…...
Dear Readers tersayang... Makasih buat kalian yang masih stay disini🤗 Maaf ya kalo kurang memuaskan.. Maka dari itu, jangan lupa untuk selalu dukung author.. dengan cara like, komen n saran, dan juga klik favorit yah.. bye bye!!
__ADS_1
See you again..