
Mata Acha menangkap satu sosok yang sedang bermain basket yang dikiranya ia kenal. Acha terus memperhatikan sosok itu dengan lekat, sampai ia menyadari bahwa ia memang mengenal sosok itu.
"dia..." gumam Acha.
Darren yang mendengar ucapan Acha segera mengikuti arah tatapan Acha. Dilihatnya seorang cowok ganteng dan tinggi, sekitar 186 cm, berkulit putih, hidung mancung, rambut poni yang menutup mata kirinya, yang tengah bermain basket dengan kawan-kawannya.
Seketika tubuh Acha bergetar, menahan air yang sudah ada di pelupuk matanya agar tidak mengalir, bahkan kakinya sampai lemas dan tak mampu menopang tubuhnya.
Dengan sigap Darren menahan tubuh Acha yang hampir saja roboh.
"Cha!! lo kenapa?!" seru Darren dengan agak lantang dan masih menahan tubuh Acha, membuat sosok yang ditatap Acha menengok ke arah mereka berdua, dengan tangan yang masih memegang bola basket.
"Chaa!!" teriak Darren, membuat Acha tersadar.
Kini air matanya sudah tak terbendung lagi.
"Lo nggak papa?" tanya Darren sekali lagi. "A aku boleh minta tolong?" ucap Acha agak terbata, menatap Darren dengan penuh harap. Tangannya yang masih bergetar menggenggam erat tangan Darren.
__ADS_1
"Kalo gue bisa, gue pasti bantu lo kok," balas Darren menatap Acha. Ia merasa tak tega melihat Acha yang beberapa saat lalu masih ceria, tiba-tiba sekarang berubah 180°.
"Bawa Acha..pergi dari sini, please," pinta Acha sambil terisak. Darren terdiam. Ia bingung harus bagaimana. "Darren... please" pinta Acha lagi. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Darren.
Darren segera membantu Acha berdiri. Dengan segera Darren menuntun Acha untuk pergi dari lapangan basket. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Acha dari belakang.
"Acha.." panggil seorang cowok memakai seragam basket itu. Membuat Darren dan Acha berhenti. Darren pun menoleh ke belakang. Dilihatnya cowok yang beberapa saat lalu ditatap oleh Acha.
"Cha.." panggil cowok itu lagi. Namun Acha hanya diam, tidak menengok ke arah suara.
"Darren, ayo," Acha segera menarik tangan Darren. Wajahnya kini sudah basah karena menangis. Darren hanya mengikuti Acha, sambil terus menatap ke belakang, memperhatikan cowok tadi.
Cowok tadi masih terdiam ditempat. Dia terus memperhatikan Acha, hingga Acha menghilang dari pandangannya. "Maafin aku, Cha.." ucap cowok itu lirih.
--Kantin--
Kini Acha dan Darren tengah duduk di bangku kantin. "Cha,, lo nggak papa?" tanya Darren memecah keheningan. "Hmm.. nggak papa kok," jawab Acha masih menunduk.
__ADS_1
Suasana di antara mereka terasa sangat canggung bagi Darren. Ia bingung harus ngomong apa. Hingga tiba-tiba terdengar teriakan seseorang, mengagetkan mereka berdua.
"Heyy! Kalian bukannya minta tanda tangan, malah nongkrong disini!" teriak Karin tentunya dia bersama Zain, menghampiri Acha dan Darren. "Kalian itu yaa..!" teriak Karin lagi. Saat ini Karin belum menyadari keadaan Acha.
"Shutt! Bisa diem nggak sih!" ucap Darren pada Karin sambil melotot. Darren pun mengedarkan pandangannya ke Acha, membuat Karin melakukan hal yang sama.
"Acha!! Kamu kenapa?!" tanya Karin, langsung duduk disebelah Acha dan memeluknya. "Lo apain Acha, hah?!" bentak Karin pada Darren.
"Kok gue sih, bukan gue!!" bentak Darren balik.
"Acha nggak papa kok," jawab Acha segera menghapus air mata di wajahnya.
"Oh iya, Darren kita kan belum minta tanda tangan anggota OSIS yang lain!" seru Acha, menutupi kesedihannya.
"Oo iya ya.. kalo gitu biar gue sama Zain aja yang minta, ayo Zain!" ucap Darren. Ia dan Zain pun segera pergi dari kantin, menuju ke lapangan basket lagi.
"Ya udah, Cha, kita nunggu di lapangan aja yokk!" ajak Karin segera menarik tangan Acha. Acha pun mengikuti Karin.
__ADS_1
Makasih buat kalian yang masih mau baca karya author, dan maaf ya kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan maupun cerita yang kurang memuaskan🙏🙏maka dari itu author akan sangat senang bila kalian berkenan untuk memberi kritik dan saran agar author bisa memperbaiki semuanya..