
Teng tengg tenggg...
Seluruh pembelajaran telah usai. Para guru maupun murid berhamburan keluar kelas.
"Oh, ya, Darren. Btw Dilla kok nggak berangkat kenapa? Nggak ada surat ijinnya lagi!" tanya Acha sembari memasukkan bukunya ke dalam ranselnya.
"Mana gue tau! Kenapa sih kalian tanya nya ke gue terus?! Emang gue emaknya apa?!" sungut Darren merasa kesal.
"Ya iyalah kita tanya nya ke elo! Ya kali tanya ke gue.. kenal aja kagak!" balas Zain agak songong.
"Lagian, dia itu kan sahabat sehidup semati nya elo!! Hahaha!!" ejek Karin dan Zain kompak, diikuti tawa yang menggelegar dari mereka berdua.
Saat ini mereka berempat masih di dalam kelas, menunggu Acha yang masih membereskan bukunya. Kalau dulu saat SMP Acha selalu membereskan buku paling awal, bahkan sebelum pelajaran berakhir, namun sekarang tidak. Ia benar-benar berubah sesuai janjinya kepada Cio.
Ia sekarang selalu membereskan buku-buku nya ketika guru yang mengajar sudah keluar dari dalam kelas, sama seperti Cio dulu. Tentu saja terkadang itu membuat para sahabatnya merasa geram, karena Acha sangat lambat menurut mereka.
"Sini ah! Biar gue yang beresin! Kamu kok lemot banget sih, Cha!? Kenapa nggak beresin dari tadi aja sih?!" geram Karin tak tahan melihat Acha yang memasukkan buku-buku nya dengan sangat santai.
Ia pun langsung merebut buku yang masih di tangan Acha dan langsung memasukkan nya ke dalam ransel Acha. Begitupun dengan buku-buku yang lain. Dalam sekejap, semua buku telah masuk ke dalam ransel milik Acha.
"Hehe,, maacih Karin!! Jadi sayang dehh.." ujar Acha manja sembari memeluk lengan Karin.
"Iya! Yuk lah pulang!" ajak Karin menarik lengan Acha, keluar dari kelas. Sedangkan Zain dan Darren berjalan di belakang mereka berdua.
"Cha, pulangnya bareng gue, yah!" ajak Darren.
"Hem.. boleh deh! Kebetulan beberapa hari ini Kak Rega lagi nggak bisa jemput. Kan lumayan, ngirit ongkos, hehe!!" balas Acha nyengir.
"Mentang-mentang yang kemarin nggak ada,, sekarang baru inget ama Acha!" cibir Zain sinis kepada Darren.
"Hilih! Bilang aja lo iri kan nggak ada yang mau diboncengin ama lo!!" balas Darren mengejek Zain.
"Hih! Gitu aja udah sombong!! Kata siapa nggak ada yang mau? Karin! Lo balik ama gue!" seru Zain memerintah.
"Ogah amat! Siapa elo, nyuruh-nyuruh gue!? Mending gue balik ama kakak gue lah!!" tolak Karin tegas.
Seketika wajah Zain langsung kecut. Mulutnya sudah mengerucut, mengomel tidak jelas. Membuat ketiga sahabatnya langsung tertawa melihat ekspresi Zain yang tampak aneh, tapi lucu.
.
.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, mereka pun telah sampai di parkiran. Saat mereka memasuki parkiran, seperti biasa sudah ada Rey cs.
Sekilas mata Acha bertemu dengan mata Rey, namun cepat-cepat Acha langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
"Yuk, Cha!" seru Darren menarik tangan Acha menuju ke tempat motornya diparkir. Acha tentu saja hanya menurut.
"Wihh.. keren emang ya, temen kamu, Kar!" ujar Vano kepada Karin yang sudah ada disampingnya, sembari menatap Darren dan Acha. "Tiap hari ceweknya ganti terus uyyy!!" sambungnya mencibir.
Mendengar seruan Vano, sontak Acha, Darren, dam Zain menoleh. Vano pun hanya melambaikan tangan kanannya pada Acha. Membuat ketiganya semakin bingung. Tak mau ambil pusing, mereka pun memilih untuk diam saja dari pada nanti makin panjang urusannnya.
"Pegangan, Cha!" titah Darren dan langsung menarik tangan Acha agar memeluknya. "Nanti kalo lo sampe jatuh, gue yang bakal abis!" sambungnya.
"Ekhem! Inget tempat woy!! Ini parkiran! Masih ada jomblo disini.. Dasar kalian nggak punya hati yah! Hiks jahatt!!" ujar Zain merasa iri dengan mereka berdua...
"Iri?? Bilang Boss!!" ejek Darren, disusul cengiran dari Acha.
"Humphh!" Zain semakin merajuk.
Sedangakan di sisi lain, tampak seseorang yang tengah menatap kedekatan Acha dengan Darren. Orang itu tak lain adalah Rey. Matanya terus saja terfokus pada kedua tangan Acha yang senantiasa melingkar di pinggang Darren.
Setelah lama mengawasi, ia pun memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Nih, Cha. Makasih.." ujar Rey sembari menyodorkan sebuah papperbag. Acha menerima papperbag tersebut. Ia pun membukanya, ternyata isinya merupakan sweater dan celana milik Rega yang kemarin dipinjam oleh Rey.
Seketika kedua sahabatnya langsung menatapnya penuh tanya, termasuk Karin. "Apaan tuh, Rey??" tanya Vano dan Dion kompak.
Bukannya menjawab, Rey malah langsung naik ke motornya, dan melajukannya keluar dari parkiran. Vano dan Dion saling lempar pandang. Kemudian mereka pun segera mengegas motornya, menyusul Rey.
"Apa itu, Cha?" tanya Zain penasaran.
"Oh, ini bajunya Kak Rega!" jawab Acha santai.
Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Darren sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Acha yang terkejut dan belum siap tentunya langsung memeluk Darren.
Sementara Zain, ia hanya geleng-geleng kepala. Ia tentunya tahu kalau saat ini sahabatnya itu tengah terbakar api cemburu.
...ΩΩΩΩ...
Sudah setengah perjalanan, namun tak ada percakapan antara Acha dan Darren. Keduanya sama-sam diam, menutup rapat mulut mereka masing-masing.
Setelah mengumpulkan cukup nyali, Acha pun memutuskan untuk bertanya pada Darren.
__ADS_1
"Darren! Kamu marah ya, sama Acha??" seru Acha agak teriak, takut tak terdengar karena bising nya suara kendaraan yang berlalu lalang.
Ciittt...
Seketika Darren langsung menepikan motornya ke tepi jalan. Ia langsung menoleh ke belakang, menatap wajah Acha sebentar.
"Enggak kok, ngapain juga gue marahh! Lagian gue kan juga bukan siapa-siapa lo, jadi gue nggak berhak buat ngelarang lo!" ujar Darren berbohong. Jujur, dia cemburu.
"Yakin? Nggak marah??" tanya Acha lagi dengan wajah yang tampak sangat imut.
"Iya!! Dahlah mau pulang nggak nih?? Atau mau jalan-jalan dulu ama gue..!?" goda Darren kembali menampakkan senyum manisnya.
"Ya pulanglah!! Buruan! Nanti keburu Acha dicariin Papa!!" pinta Acha memaksa Darren agar berbalik lagi dan segera mengantarnya pulang.
.
.
Sekitar pukul 15.43. Motor Darren telah berhenti di depan gerbang rumah Acha. Acha pun langsung turun, tak lupa ia melepas helm nya. Dengan mata yang selalu was-was, takut jika Papa nya melihatnya.
"Kok baru pulang??"
Suara yang paling Acha takuti, suara Papa Edwin, dan kini mereka sudah tertangkap basah oleh beliau.
Dengan cepat, Darren langsug turun, dan menyalami Papa Edwin. Papa Edwin menatap lekat Darren.
Acha panik, takut Papa nya akan berbuat aneh seperti waktu itu.
"Hmm.. kamu yang waktu itu bawa anak saya sampe pulang malem kan?" sinis Papa Edwin, memincingkan matanya pada darren.
"Pa! Kan Acha udah bilang waktu itu Acha pingsan!" ujar Acha membela Darren.
"Hehe,, iya, Om! Saya yang waktu itu.." jawab Darren tak membantah ucapan Papa Edwin.
"Oh gitu.. Kalo gitu ngapain kamu disini?!" ketus Papa Edwin. Seketika, Acha langsung menatap Papa nya tajam.
'Tuh kan! Lagi-lagi Papa nyebelin!!'
......…***…......
Hellow readerss.. Makasih atas dukungan kalian.. Dan maaf kalo masih banyak salahnya dan ceritanya enggak sesuai ama ekspektasi kalian🙏🙏 Jangan lupa untuk like, komen n saran, dan juga klik favorit yahh🤗 Sekali lagi Makasihh..
__ADS_1
Salam hangat dari author n Acha..🥰