
Mata Acha kosong, menatap ke sembarang arah. Beberapa perawat mendorong sebuah brankar, seorang korban dengan wajah berlumuran darah terbaring di atas brankar itu.
Seketika kaki Acha lemas, membuatnya langsung jatuh terduduk. Jantung nya berdegup sangat kencang, pikirannya kacau balau. Air mata langsung mengalir deras di pipinya kala melihat sosok itu.
"Mata Acha salah liat, kan?? Iya.. pasti Acha salah liat!" Acha menarik napasnya panjang, dan menghembuskan nya perlahan. Ia berusaha bangkit, dengan kedua kaki dan tangan nya yang gemetar hebat.
Dengan langkah yang gemetar, Acha mengikuti para perawat tadi kemana membawa sosok tadi.
Para perawat dan dokter langsung memberikan pertolongan pertama pada para korban kecelakaan di TKP namun ada juga yang langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Acha mendekat ke sebuah ambulance, tempat sosok tadi kini berada. Beruntung pintu ambulance masih terbuka, jadi Acha bisa melihat dengan jelas.
Tampak dokter dan beberapa perawat tengah melakukan penanganan kepada sosok itu. Wajah sosok itu tak jelas karena penuh dengan darah, seragam sekolah yang harusnya putih, kini menjadi merah di bagian leher dan dada. Tangannya penuh dengan luka-luka.
Acha menghentikan langkahnya di depan pintu ambulance. "Hufftt.." Acha menghembuskan napasnya perlahan, mencoba berpikiran positif.
Tatapannya kini tertuju pada dokter dan para perawat yang menangani sosok itu. Dokter tersebut tampak menghentikan penanganannya, ia menggelengkan kepalanya kepada para perawat yang membantunya tadi.
Salah seorang perawat yang ada di samping dokter itupun angkat suara. "Pukul 15.39, korban meninggal dikarenakan mengalami serangan jantung, gegar otak, dan kehabisan darah..".
Acha yang mendengar ucapan perawat itu, hatinya menjadi semakin gelisah. Perasaannya terasa sangat tidak enak.
Dokter tadi pun bergegas keluar dari ambulance bersama salah satu perawat untuk membantu para dokter dan perawat lain menangani korban yang lainnya.
Kini didalam ambulance tersisa dua orang perawat. Ambulance itu akan segera berangkat ke rumah sakit. Sebelum pintu ambulance berhasil ditutup oleh salah satu perawat itu, Acha buru-buru mencegahnya.
"Ma-maaf, Sus.. Bo-boleh saya liat korbannya??" tanya Acha terbata-terbata.
"Boleh, dik, silahkan. Siapa tahu adiknya kenal dengan korban ini." izin perawat itu.
Dengan gemetar, Acha masuk ke dalam ambulance itu. Bau darah menyengat di hidung Acha.
Degg
"Enggaakkk!! Nggak mungkinnn!!" teriaknya histeris seketika kala melihat wajah korban tersebut. Tubuhnya kembali lemas. Jantungnya kini serasa berpacu tiga kali lipat.
"Ci-Cioo!! Bangunn!! Hiks!" teriaknya dengan isakan. Air mata tak kuasa ia bendung saat melihat orang tersayang nya kini terbaring tak bernyawa di atas brankar.
Kadua perawat itu mencoba menenangkan Acha yang sedang histeris. "Tenang, dik.. Sabar.. Mungkin ini yang terbaik buatnya.." ujar salah satu perawat itu memeluk Acha.
__ADS_1
Dalam benak kedua perawat itu, tentu merasa sangat kasihan mendengar tangisan Acha yang sangat menyayat itu. Tanpa mereka sadari, air mata pun ikut mengalir dari sudut mata kedua perawat itu.
"Ini pasti bohong, kan?? Ini prank, kan?! Cioo,, nggak lucu tau nggak, sih, becandaanmu ini.. Buruan bangun, Cio!! Bangunn!!" teriak Acha marah bercampur dengan isak tangisnya.
"Cioo,, banguunn.. hiks.. hiks.. Cioo.." Acha memeluk erat tubuh Cio yang tampak sangat pucat itu.
"Nggak mungkin Cio ninggalin Acha! Bangun, Cio.. Cio cuma tidur, kan?! Ayo, Cio.. Bangunn!!"
"Acha janji nggak akan bandel kayak tadi.. Acha janji bakal dengerin Papa, bakal dengerin Kak Rega.. Acha janji bakal belajar,, nggak bakal nyontek Cio lagii.. Cio bangun, ya? Hmm??" janjinya sembari mengusap pipi Cio.
Namun semua yang dilakukan Acha sia-sia. Cio tetap saja tak bergerak maupun membuka kedua matanya.
"Suster.. suruh Cio bangunn.. Suster jangan diem aja!!" bentak Acha masih terisak.
"Tenang, dik!! Hidup dan mati semua sudah diatur oleh Allah!! Biarkan Cio tenang disana!" bentakan salah satu perawat itu sukses menyadarkan Acha.
Ya.. memang benar, semua yang terjadi di dunia ini sejak awal sudah ada yang mengaturnya. Hidup, mati, jodoh.. semua telah ditentukan oleh Allah. Kita sebagai seorang hamba, hanya bisa menerima.(Author)
"Cioo... hiks hikss.." tangisan Acha kembali pecah. Ia sadar bahwa ia tak mungkin bisa melawan takdir.
Kedua perawat tadi pun langsung memeluk Acha. "Ayo berangkat," titah salah satunya kepada supir mobil ambulance. Ambulance pun langsung melaju menuju ke rumah sakit, diikuti ambulance lain meninggalkan riuh ricuh keramaian di TKP.
.
.
Saat ini tubuh Cio tengah dibersihkan oleh para perawat yang bertugas.
Sedangkan Acha masih terduduk di sebuah bangku yang berada tepat di depan ruang jenazah. Pandangan maupun pikirannya kini kosong. Bagai sebuah patung yang tak bergerak, namun bernyawa.
Drrtt drrttt..
Drrt drrtt..
HP Acha terus bergetar, tanda ada pesan masuk. Berkali-kali HP Acha juga berbunyi. Namun Acha tak menghiraukan nya, pikirannya masih saja kosong.
Tiba-tiba sebuah tangan memukul pundaknya pelan. "Dik, itu HP nya bunyi terus," ucap suster yang tadi bersamanya. Sontak Acha tersadar dan langsung membuka HP nya. Tiga belas pesan dan sembilan kali miss call dari Kak Rega, tujuh miss call dari Papa Edwin, dan delapan pesan dari Vina.
--Kediaman Raharja/Rumah Acha--
__ADS_1
"Gimana? Diangkat??" tanya Papa Edwin mondar-mandir.
"Belum, Pa," jawab Rega masih terus mencoba menghubungi Acha. "Telponnya masuk,, cuma nggak diangkat sama Acha."
"Cio juga,, kemana sih mereka sampai nggak bisa dihubungi gini? Udah jam 4 sore lebih kok masih belum pulang juga.." bingung Papa Edwin terus menghubungi HP Cio.
"Kak Cio aku chat juga nggak dibales!" ujar Alvin sibuk mengirimi whatsapp pada Cio. Sudah 37 pesan ia kirim, namun semuanya hanya centang dua abu-abu.
"Cuma centang dua abu-abu!" sungutnya jengkel karena merasa diabaikan.
"Halo, Cha!!" seru Rega saat telponnya diangkat oleh Acha. Sontak Papa Edwin, Alvin, dan Vina langsung mengerubunginya.
"Loadspeaker!" titah Papa Edwin. Rega pun langsung me-loadspeaker panggilannya.
Tak terdengar jawaban dari Acha.
"Cha, kamu sama Cio kemana?? Jam segini kok belum pulang??" tanya Papa Edwin.
Tiba-tiba terdengar suara Acha terisak. "Hiks hikss.." Acha tak berbicara, ia hanya menangis dalam telpon tersebut. Sedangkan Rega dan yang lainnya tak tahu dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kenapa, Cha?! Bicara Cha! Jangan cuma nangis nggak jelas gini!!" bentak Rega merasa geram.
"Hiks hikss.. Ci-Cio, Kak.. Cio kecelakaan!!" tangis Acha pecah.
Pyarr..
Seketika HP Rega lolos dari genggamannya saat mendengar perkataan Acha. Mereka berempat terkejut bukan main, bingung harus percaya atau tidak percaya.
Rega langsung memungut HP nya lagi. "Acha!! Kamu kalo becanda jangan kayak gini!! Nggak lucuu!!" bentak Papa Edwin.
"Ci-Cioo.. hiks.. Cio tega ninggalin Acha.. Cio ninggalin kita.. hiks hikss.." isakannya kembali terdengar.
Deggg
Seakan jantung mereka berempat berhenti berdetak. Tak percaya dengan apa yang baru saja Acha ucapkan.
...…***…...
Hai, Hai readerss!! Welcome back to Acha LOVE Story.. Maaf baru bisa up sekarang, maklum anak sekolah, jadi sibuk ngerjain tugas yg numpuk😖 Maaf juga ya kalo masih ada typo atau salah kata..
__ADS_1
Dan makasih ya.. buat kalian yg masih stay.. dan jangan lupa buat like, komen, saran, n klik favorit biar nggak ketinggalan update nya kisah Acha😃
Sayonara...