Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Last Episode


__ADS_3

Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar. Setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh pak kyai selesai, para pelayat berangsur pulang.


Tersisa ibunda Darren, Dila, Acha, Karin, Zain, dan Rega. Air mata yang mulai mengering menyisakan sembab pada mata mereka.


Ibunda Darren terus mengusap pusara yang masih basah itu. "Semoga kamu tenang disana ya, Darren.. Semoga kamu bisa ketemu sama ayahmu.." ibunda Darren mengusap air matanya.


...----------------...


*Dua tahun kemudian*


Dua tahun sudah sejak kepergian Darren. Hari demi hari Acha lalui tanpa adanya sosok Darren yang biasanya selalu menghibur dirinya. Tabah dan ikhlas. Itulah yang selalu Acha katakan pada dirinya sendiri.


.


.


Teng.. teng.. teng..


"Guyss, gue duluan ya.." Dila langsung merapikan barang-barangnya ke dalam tas.


"Mau kemana? Buru-buru amat..?" tanya Karin menghentikan langkah Dila.


"Dila itu mau ke lapas, hari ini kan Kak Andra bebas.. Iya kan Dil?" ucap Acha dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Dila.


"Ohh.. Kalo gitu kita titip salam buat Kak Andra ya..!" ujar Zain.


Dila mengangguk tersenyum. Ia pun segera meninggalkan teman-temannya untuk menjemput Andra.


Ya.. Setelah kejadian dua tahun lalu, Dila telah berubah. Ia benar-benar menyesali semua perbuatannya. Ia telah meminta maaf kepada Acha juga teman-temannya. Beruntung, mereka mau memaafkan dirinya. Dan kini mereka pun menjadi teman akrab, atau bahkan sahabat? Yang pasti, mereka tak menaruh rasa benci terhadap Dila.


"Ya udah, yuk pulang..!" Acha merangkul kedua sahabatnya, Karin dan Zain.


"Oh, ya.. Kamu pulang naik apa, Cha??" Karin bertanya di tengah langkahnya.


"Taxi mungkin! Kalian? Pulang bareng lagi??" Acha kini bertanya pada Karin dan Zain.


"Ya iyalah, Cha.. Namanya juga lagi berjuang..! Berjuang biar bisa jadi calon pacar yang baik. Ehh,, tapi dianya nggak pernah nganggep gue..!" sinis Zain melirik Karin.


Karin yang dilirik oleh Zain, langsung membalasnya dengan tatapan elang nya.


Acha menahan tawanya. Tentu saja Acha tau tentang perasaan Karin. Dan ia juga tau kalau hingga saat ini, Karin hanya bersikap jual mahal pada Zain. Terlihat jelas dari tingkah Karin yang sebenarnya juga perhatian pada Zain. Entah Zain menyadari hal tersebut atau tidak, yang jelas Karin juga memiliki rasa terhadap Zain.


"Nggak terasa, ya.. Besok kita udah wisuda. Rasanya baru kemarin kita ketemu,, eh udah mau pisah lagi.." Acha mendongakkan kepalanya, mengingat-ingat lagi kenangan saat bersama sahabatnya. Terlintas lagi dipikirannya bayangan Darren.


"Kalo gitu Acha duluan, ya.. Sukses selalu buat kamu, Zain! Jangan nyerah ngejar Karin..! Dahh~" Acha langsung berlari menuju ke gerbang depan. Sedangkan Zain dan Karin tentu saja menuju ke parkiran.


Sesampainya di gerbang, seperti biasa Acha duduk di halte untuk menunggu taxi. Saat dirinya tengah asik memainkan HP nya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.


"Acha!"


Acha langsung menoleh. Menatap perempuan yang menepuk pundaknya. "Eh, Safa.." Acha tersenyum ramah.


"Boleh duduk??" Safa menunjuk tempat di samping Acha.


Acha menganggukkan kepalanya. "Boleh kok!"


Safa pun langsung duduk di samping Acha. Lama mereka tidak mengobrol, membuat keduanya bingung harus berbicara apa.


"Ekhem! Lagi nunggu dijemput, Cha??" tanya Safa memulai percakapan.

__ADS_1


Acha yang semula fokus pada HP nya sontak langsung menoleh. "Em, enggak.. Lagi nunggu taxi. Kalo kamu? Nunggu jemputan??" balas Acha bertanya.


"Iya." jawab Safa singkat.


Tak ada percakapan lagi antara keduanya. Keduanya sama-sama sibuk dengan HP mereka masing-masing. Hingga akhirnya datanglah seorang laki-laki dengan motornya.


"Safa, ayo!" seru laki-laki itu di atas motornya.


Suara laki-laki itu berhasil membuat Acha dan Safa menoleh. Safa langsung berlari menuju laki-laki itu. Memakai helm lalu naik ke motor ninja itu.


"Duluan ya, Cha!!" seru Safa melambaikan tangannya pada Acha.


Acha tersenyum tipis, menatap kepergian dua insan itu. "Kak Rey.. Sedekat itukah kalian berdua??" gumam Acha getir. Hingga saat ini, Acha pun masih bingung dengan hatinya. Dan saat ini, hatinya terasa sakit melihat itu.


Sejak kejadian dua tahun lalu, Acha tak pernah lagi bertemu ataupun melihat Rey. Memang, keluarga Rey memindahkan Rey ke rumah sakit lain. Dan Acha tak mengetahui itu. Mau bertanya, tapi dia bukan siapa-siapa Rey.


Beberapa saat kemudian, taxi yang ditunggu Acha pun tiba. Acha segera menaiki taxi itu. Ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


Beberapa menit taxi itu melaju. Acha duduk sembari memejamkan kedua matanya. Mengingat kenangan-kenangannya dulu bersama Darren. Dari saat awal mereka berteman, lalu menjadi sahabat, dan saat Darren jujur tentang perasaannya.


Tak terasa kini taxi telah berhenti di tempat tujuan Acha. Sebuah buket bunga yang sebelumnya ia beli telah ada ditangannya.


"Pak, tunggu sebentar ya.. Saya nggak akan lama kok!" pinta Acha sopan.


"Iya, dek.. Nggak papa kok!" balas supir taxi itu ramah.


Acha segera turun dari taxi. Melangkahkan kakinya, hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah nisan. Ia letakkan buket tadi di depan nisan itu.


"Darren.. Gimana kabar kamu?? Semoga kamu udah bahagia di sana. Oh ya, besok kita bakal wisuda. Andai aja kamu belum pergi,, pasti kita bisa wisuda bareng temen-temen.. Oh ya, kamu tau kan,, sekarang Dila udah berubah. Ramah dan baik banget! Dan kamu nggak perlu khawatir, bunda sama kakak kamu sehat kok! Bahkan kak Andra hari ini udah bebas.. Dan yang paling penting, dia udah inget sama kamu dan bunda kamu, dia juga udah sembuh dari sakitnya.. Jadi, kamu yang tenang di sana ya,, Acha pamit.." Acha melangkahkan kakinya, meninggalkan nisan bertuliskan nama Darren tersebut.


...~~~ Epilog~~~...


Termasuk Acha. Ia mendapat peringkat satu di sekolahnya itu. Hal ini tentunya membuat ia merasa senang bukan main.


Ucapan-ucapan selamat terus ia terima dari teman-teman juga keluarganya. Bahkan, keluarganya juga memberikan hadiah kepada dirinya. Mulai dari buket, coklat, dan kado.


.


.


Sesi foto telah berakhir. Acha pun hendak menghampiri keluarganya yang tengah berkumpul di gazebo. Namun karena kurang memperhatikan langkah, dirinya tak sengaja menabrak seseorang.


Bugh!


Acha menabrak dada bidang seseorang hingga membuat dirinya terjatuh.


"Aduh.. Maaf maaf!! Acha nggak liat..!" Acha langsung mendongak, menatap seseorang yang ia tabrak itu.


"Kak.. Rey??" gumam Acha terkejut.


Rey langsung mengulurkan tangannya, membantu Acha berdiri. Acha menatap tangan Rey, dan menerima uluran tangan itu.


"Makasih.." ucap Acha sambil membersihkan toga nya yang kotor karena debu. Matanya menatap sekilas buket yang ada di tangan Rey.


"Nyari Safa?? Safa di lapangan, bareng temen-temennya," ucap Acha tanpa menatap Rey. Dirinya masih sibuk membersihkan toga yang ia kenakan.


"Engga kok, nyari kamu.." ucap Rey.


Bagai mimpi, Acha tak percaya dengan yang ia dengar barusan. "Hah? Apa??" ia ingin memastikan yang ia dengar tadi.

__ADS_1


"Nyariin kamu.." ulang Rey membuat Acha langsung melongo.


"Bukan nyariin Safa?? Bukannya Kak Rey itu deket ya, sama Safa??" bingung Acha.


"Emang deket," singkat Rey.


Acha langsung tersenyum getir mendengarnya. "Kalo gitu, ngapain nyari Acha??"


Belum sempat Rey menjawab, tiba-tiba datanglah Safa dengan berlari kecil. "Kak Rey! Dateng juga akhirnya..!" ucapnya langsung merangkul lengan Rey.


Acha yang melihat itu kembali tersenyum getir. Hari bahagianya rusak seketika kala melihat mereka berdua.


"Acha duluan..!" ia hendak pergi, namun Rey meraih tangannya.


"Tunggu Cha..!" cegah Rey.


Acha tak berbalik. "Mau apa lagi?? Mau pamer pacar baru, iya??! Selamat kalo gitu!" ketus Acha mengibaskan tangannya.


"Pacar?? Siapa??" bingung Rey.


Acha langsung berbalik. "Heh..! Siapa lagi? Safa kan!?" ucapnya dengan nada naik satu oktaf.


Rey dan Safa tampak terkejut. Mereka berdua saling pandang.


"Pfftt!! Bwahahahahaa!!!" tawa Safa menggelegar. Membuatnya seketika menjadi pusat perhatian.


"Gue? Pacarnya?? Pfftt!!" Safa menahan tawanya.


"Safa itu sepupu aku, Cha.. Adek sepupu ku.." timpal Rey.


Seketika Acha melongo. "Se-pupu??" ulangnya lirih.


Tiba-tiba Rey berlutut dengan satu kakinya. Kedua tangannya memegang buket bunga yang ia tujukan pada Acha.


"Aku itu kesini nyariin kamu.. Sebenarnya, aku itu masih berharap sama kamu, Cha.. Buket ini, aku bawain buat kamu. Izinin aku buat tebus kesalahan ku dulu, dan kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu.. Kamu mau kan Cha, kasih kesempatan kedua buat aku??" Rey memberikan buket itu kepada Acha.


Acha terdiam. Jujur, hatinya sangat senang mendengar penuturan Rey. Dengan tangan gemetar, Acha menerima buket tersebut.


Senyuman seketika terbit di wajah tampan Rey. "Kamu.. nerima aku??" Rey menatap Acha tak percaya.


"Enggak!" satu kata itu berhasil melunturkan senyuman Rey.


"Tapi bo'ong!! Wlekk!!" Acha menjulurkan lidahnya, ia pun langsung berlari dengan membawa buket tadi, meninggalkan Rey yang sedang cengo.


Senyuman lebar kembali terbit. Rey pun langsung berlari menyusul Acha.


"Awas kamu!! Dasar tukang bo'ong..!"


.


.


...***The End***...


Alhamdulillah.. Akhirnya ceritanya tamat juga😭


Makasih buat para Readers yang selama ini udah dukung author dan karya gak jelas author ini🥺 Maaf ya, apabila selama ini author masih banyak kesalahan dalam penulisan ataupun yang lainnya🙏🙏 Sekali lagi author ucapkan Terima kasih untuk kalian semua..


Sayonara🥰✌

__ADS_1


__ADS_2