
"Emm..." gadis mungil itu menggeliat di balik selimutnya. Siapa lagi kalau bukan Acha. Ia pun membuka kedua matanya, mengerjap beberapa kali. Diliriknya jam weker yang ada di atas nakas. Pukul 06.58.
"Baru jam tujuh kur- Haa??!! Jam tujuhh??!"
"Aaa!! Acha telattt!!!!" dengan secepat kilat Acha langsung berlari ke kamar mandi. Baru lima menit, ia kini sudah selesai dengan ritual mandi bebeknya. Setelah selesai memakai seragamnya, ia pun berlari menuruni anak tangga.
"Kenapa nggak ada yang bangunin Acha sih?!! Kan jadi tel-.. Lho kok pada belum berangkat??" tanya Acha saat mendapati Papa Edwin, Alvin, dan Vina masih memakai pakaian santai dan tengah asyik menonton TV.
Mendengar suara Acha, sontak mereka bertiga menoleh. Ketiganya menatap Acha yang sudah rapi dengan seragamnya, tak lupa dengan tas ransel yang sudah di punggung nya.
"Bwahahahaha!!!!" tawa ketiganya menggelegar. Acha yang melihat itu semakin bingung. 'Apa yang lucu??' batin Acha heran. Ia menatap dirinya sendiri. "Nggak ada yang salah kok!!" gumamnya.
Tiba-tiba saja Rega datang dari belakangnya, dan langsung menepuk kepalanya. "Yang salah itu otak kamu, Cha!! Baru juga enam belas tahun, tapi udah nyicil pikun aja!!" cibir Rega langsung duduk di sofa samping Papa Edwin.
"Ihh!! Sakit tauu!!" sungut Acha cemberut sambil mengusap kepalanya. "Lagian Kak Rega juga,, jam segini kok belum ke kampus?? Oo.. Jangan-jangan kakak mau bolos yaa..." tuduh Acha pada kakaknya itu.
Mendengar tuduhan Acha, membuat Rega langsung menepuk dahinya. Alvin yang sudah berhenti tertawa pun angkat bicara.
"Emangnya Kak Acha itu mau kemana, hmm??" tanya Alvin menahan tawa.
"Ya mau sekolah lah!! Pake nanya pula! Kalian berdua emang nggak ke sekolah?? Papa juga! Jam segini kok belum ke kantor??! Ini hari bolos nasional apa gimana sih?!!" beo Acha seperti seorang rapper.
"Hehe,, kakak kalo ngomong udah kayak rapper ya.." ledek Vina pada Acha. Tentu saja membuat Acha semakin merasa kesal. Wajahnya tampak makin masam.
Papa Edwin hanya geleng-geleng kepala. Membiarkan mereka mengoceh. Lumayan lah, buat hiburan pagi hari..
Rega membuang napasnya kasar. "Hufft.. Acha, adik aku yang pikunnya engga ketulungan.. Coba deh kamu liat HP kamu.." ucap Rega menahan geram.
Acha langsung melihat HP nya. "Terus??" tanya Acha menaikkan satu alisnya.
"Coba liat, sekarang hari apaa???" tanya Rega lagi.
Acha menatap layar HP nya. "Sekarang itu hari Ming-" Acha tak melanjutkan ucapannya. Baru ingat kalau sekarang adalah hari Minggu. Pantas saja mereka semua ada di rumah.
"Pfftt.. Hari apa, Kak Achaa???" ledek Alvin membuat Acha merasa malu akan tingkahnya tadi.
"Hehe,, hari Minggu.." Acha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gelak tawa Papa Edwin, Alvin, dan Vina kembali menggelegar. Membuat Acha semakin malu akan tingkah bodohnya tadi.
"Ha he ha he! Makanya kalo ngomong itu jangan asal ceplos! Main asal fitnah lagi! Untung kamu itu adek aku,, kalo bukan udah aku tabok itu mulut dari tadi biar diem!!" sungut Rega geram.
Acha mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak berani membalas ucapan kakaknya itu.
"Karena tadi kamu udah asal nuduh,, sebagai hukuman, kamu harus beliin kita sarapan..!" ucap Rega, membuat Acha melotot.
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian! Harus mau! Suruh siapa tadi nuduh orang sembarangan!!" tegas Rega memotong ucapan Acha.
"Pa..." Acha merengek kepada Papa Edwin. Satu-satunya harapan Acha. Ia pun mengeluarkan jurus andalan nya, yakni tampang memelas ala seorang Acha.
__ADS_1
Papa Edwin mengalihkan perhatiannya, enggan untuk melihat tampang memelas Acha. "Aduhh.. Papa kok jadi pengin pake bubur ayam Bang Didi yah.. Kayaknya enak nih buat sarapan!" ujar Papa Edwin menatap Rega.
Rega tersenyum, seakan paham dengan maksud Papa nya itu. "Kalo gitu kamu beliin kita bubur ayam nya Bang Didi, nggak boleh nolak!" tegas Rega.
Acha membuang napasnya kasar. Sebenarnya ia malas, tapi mau tak mau ia harus menuruti perintah Kakaknya itu.
"Vin, temenin kakak yukk.." mohon Acha pada Vina. Vina langsung membuang wajahnya, enggan melakukan kontak mata dengan Acha.
"Ya udah kalo nggak mau!! Hump!!" Acha langsung ke kamarnya, mengganti seragamnya dengan pakaian santai. Beberapa menit kemudian, ia sudah siap dengan rok selutut dan t-shirt hitamnya.
Acha menghampiri Rega sambil mengulurkan tangannya.
"Apa??" tanya Rega melirik tangan Acha.
"Ck! Ya uang nya mana?? Nyuruh beliin bubur tapi nggak ngasih uang!! Gimana sih!" sinis Acha memonyongkan bibirnya.
"Ya sorry, sih.. Bibirnya biasa aja! Kena tabok baru tau nanti!!" ejek Rega sembari memberikan uang seratus ribu, membuat Acha semakin memonyongkan bibirnya.
"Wlekk!!" secepat kilat Acha langsung menarik uang tersebut dari tangan Rega. Setelah mendapatkan uang tersebut ia pun langsung berlari keluar rumah.
Acha melangkahkan kakinya, untuk membeli bubur ayam. Bubur ayam Bang Didi merupakan bubur ayam yang paling enak di wilayah perumahan tempat Acha tinggal. Biasanya Bang Didi bakal mangkal di ujung depan perumahan, dengan gerobak buburnya.
"Duhh,, semoga aja masih kebagian.." gumam Acha berharap. Pasalnya, bubur Bang Didi itu biasanya selalu habis pagi-pagi begini.
Acha mempercepat langkahnya, kurang lebih lima puluh meter lagi akan sampai. Dari jarak itu, tampak gerobak bubur Bang Didi sudah dikerumuni banyak penggemarnya.
"Gawatt..." gumam Acha, ia pun segera berlari demi membeli bubur tersebut.
Sesampainya di sana, Acha menunggu cukup lama saking banyaknya pelanggan. Sangat ramai, hingga kursi-kursi dipenuhi oleh para pelanggan.
"Bang, bubur ayamnya lima, komplit, pedes semua, dibungkus ya.." ucap Acha ramah.
"Asyiapp neng.. Tunggu ya.." balas Bang Didi ramah.
Acha mengangguk tersenyum. Ia pun memilih untuk duduk di salah satu bangku kayu yang lumayan panjang, cukup untuk duduk 3-4 orang mungkin.
"Duh, maaf, neng.. Buburnya tinggal 4 porsi.." ujar Bang Didi menyesal.
"Yah,, tinggal 4 ya, Bang.. Emm, ya udah deh nggak papa, Bang! Bungkus aja!" ucap Acha agak lesu.
"Oke neng!" balas Bang Didi.
"Nggak papa lah,, nanti Acha makan roti aja.." keluh Acha lirih. Namun tanpa Acha sadari, seorang cowok yang duduk di sebelahnya mendengar keluhannya itu.
Tiba-tiba Acha dikejutkan dengan sebuah tangan yang memberinya sekantung plastik. "Nih buat lo!" ujar cowok di sebelah Acha.
Acha langsung menoleh kiri kanan. "Buat Acha??" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, ambil.." cowok itu menarik tangan Acha, langsung memberinya kantung plastik tersebut.
Acha pun menerimanya. Saat ia membuka plastik tersebut, ternyata isinya seporsi bubur ayam. "Ini beneran buat Acha?? Terus kamu gimana? Acha ganti aja ya.." oceh Acha, menyodorkan uang seratus ribu nya.
__ADS_1
"Nggak usah, ambil aja.. Gue udah makan barusan.." jujur cowok tersebut menolak uang Acha.
"Beneran?? Makasih banget, yaa.." Acha tersenyum senang. "Oh iya, nama aku Acha. Kamu??" tanya Acha pada cowok itu.
"Gue Andra.." balas cowok bernama Andra itu. Mereka berdua pun berjabat tangan.
Bertepatan dengan itu, pesanan Acha kini sudah jadi. Acha pun segera membayar pesanannya. Setelah itu ia pun pamit pada Bang Didi juga Andra.
"Kalo gitu, Acha duluan ya.." pamit Acha pada Andra.
"Gue anter aja, mau?" ajak Andra.
"Eh, nggak usah.. Rumah Acha deket kok!" tolak Acha.
"Nggak papa,, kan gue yang mau! Buruan naik!" titah Andra, menarik tangan Acha agar naik ke motornya.
Dengan terpaksa, Acha pun naik ke motor ninja milik Andra tersebut. Karena rumah Acha tak begitu jauh, beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Acha.
"Ini rumah lo??" tanya Andra menatap kediaman Raharja tersebut.
"Iya, emang kenapa??" Acha balik bertanya.
"Em.. lo.. adeknya Rega??" tanya Andra lagi.
"Kok kamu tau?? Kenal ya, sama Kak Rega??" bingung Acha.
"Kenal aja, dulu satu sekolah waktu SMA." balas Andra santai.
"Ohh.. Kalo gitu mau mampir dulu??" tawar Acha ramah.
"Engga, titip salam aja buat Rega.." tolak Andra. "Kalo gitu gue balik dulu.." sambung nya pamit.
"Oke,, hati-hati!!" pesan Acha, menatap punggung Andra yang mulai menghilang dari pandangannya.
Setelah Andra pergi, Acha pun segera masuk ke dalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 8.09.
"Acha pulang..." seru Acha. Seketika dia langsung diserbu oleh adik dan kakaknya, tak lupa Papa Edwin juga.
"Lama!!" ketus Rega, mengambil seporsi bubur ayam.
"Oh ya, Kak, dapet salam dari temen kakak.. Tapi kayaknya temen kakak familiar banget yahh,, kayak pernah liat gitu.. Tapi lupa dimana??" ujar Acha tampak berpikir.
"Dari siapa??" tanya Rega sembari menuangkan bubur ke dalam mangkok.
"Dari Kak Andra.." balas Acha, memasukkan sesuap bubur ke dalam mulutnya.
Deggg...
'Andra??' tangan Rega langsung berhenti. Sendok yang ia pegang pun tiba-tiba terjatuh.
...…***…...
__ADS_1
Hello.. hello.. Readers tersayangg.. Maaf ya karena baru up,, maklum abis vaksin tangan jadi pegel😅 Jadi males buat ngetik, hehe lebay aku yah..😆 Gimana kalian udah pada vaksin?? Ayok pada vaksin,, dan juga tetap ikuti prokes.. Biar pandemi cepat berakhir.. Jangan lupa terus dukung author, dengan cara like, komen n saran,, dan klik fav🤗🤗 Vote juga boleh kalo berkenan, hehe😄.. Harap maklumi apabila ada typo ataupun kesalahan lain ya... Oke makasihh,
Bye bye..😘☺