Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Reyhan Charleston Wijaya


__ADS_3

Reyhan Charleston Wijaya atau Rey merupakan putra semata wayang dari pasangan Darwin Wijaya dengan Mariska Dyana. Ia merupakan calon penerus perusahaan WJ Group yang didirikan oleh Papanya.


Saat ini Rey bersekolah di IHS kelas 11 IPS 1. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS dan juga kapten tim basket IHS. Sebenarnya dulu yang terpilih menjadi Ketua OSIS adalah Rey, tapi karena Rey tidak berminat, maka ia menunjuk Hana untuk menjadi Ketua OSIS.


Mengapa ia menunjuk Hana? Kenapa bukan Vano ataupun Dion? Karena menurut Rey, Hana itu lebih tegas daripada Vano dan Dion. Meskipun ia seorang perempuan, namun keberaniannya menyamai seorang laki-laki.


Selain itu Hana juga sangat cerdas, rajin dan disiplin, beda dengan Rey. Sebenarnya Rey juga sangat cerdas, bahkan bisa dibilang jenius karena tanpa belajar pun nilainya akan selalu tertinggi di sekolahnya. Namun sayang, ia sangat malas ketika pelajaran dimulai. Ia lebih memilih untuk tidur ketika di dalam kelas.


Ia lebih suka fokus pada kegiatan non-akademik nya, yaitu basket. Ia dipilih sebagai kapten karena memang skill nya melebihi yang lainnya. Soal basket, ia tak pernah main-main karena ia sudah terlanjur cinta dengan basket.


...----***----...


(Oke sekian dulu perkenalannya dengan Rey ya.. Sekarang kita lanjut ke cerita*)


Rey POV


Kemarin Senin, atau lebih tepatnya ketika MOS untuk peserta didik baru. Disaat gue sedang berjalan menuju ke lapangan basket, sekilas gue dengar suara nyanyian seseorang yang familiar buat gue. Gue lihat sekeliling, tapi gue nggak ngelihat pemilik suara itu.


Mata gue tertuju pada dua murid baru yang tengah menyanyi. Gue nggak bisa ngelihat wajah mereka, tapi yang jelas mereka seorang laki-laki dan perempuan. Dan entah kenapa suara perempuan itu sangat mirip dengan suara dia.


"Woi! Ayo!" seru temanku, Vano, mengagetkanku. Kami pun segera berjalan menuju lapangan basket.


"Kalian kemana aja, sih! Dari tadi ditungguin malah kelayapan mulu! Bukannya latihan juga!" ucap Rian mengomeliku dan Vano.


"Perasaan kaptennya Rey deh, jadi terserah Rey dong mau latihan kapan. Kapten mah bebas.. Ya kan Rey?!" seru Vano sambil merangkul pundak gue.


"Hm." gue pun langsung mengambil bola basket dan memulai latihan.


Disaat gue mau nge-shoot, "Cha!! lo kenapa?!" teriak seorang laki-laki. 'Cha?' batin gue ketika mendengar suara laki-laki itu. Gue langsung menoleh ke sumber suara. "Cha!!" teriak laki-laki itu lagi. Ya, benar.. perempuan yang sedang bersama laki-laki itu adalah Acha.


Gue lihat Acha dan laki-laki itu hendak pergi. Gue langsung melempar bola basket yang masih gue pegang ke sembarang arah dan berlari menyusul mereka.


"Acha.." panggil gue dan berhasil membuat mereka berhenti. Laki-laki itu menoleh, memperhatikan gue dengan lekat. 'Siapa dia?' batin gue bertanya-tanya. 'Apa dia pacarnya Acha??' gue merasa bingung.


"Cha.." tapi Acha tak menjawabku. Bahkan dia tak menoleh. 'Segitu bencinya kah kamu sama aku, Cha?'


"Darren, ayo," Acha segera menarik tangan lak-laki itu. Laki-laki itu hanya mengikuti tarikan Acha, sambil terus menatap ke belakang, memperhatikan gue.


Gue masih terdiam ditempat. Memperhatikan Acha, hingga Acha menghilang dari pandangan gue. "Maafin aku, Cha.." ucap gue lirih. Kejadian saat dulu kembali muncul di ingatan gue.

__ADS_1


Kejadian yang menyebabkan hubungan gue dan Acha hancur seketika. Gue tahu, semua ini terjadi gara-gara keegoisan gue. Tapi sekarang gue menyesal. Sangat menyesal, Cha.


...----***----...


Hari ini, ketika bel istirahat berdering.


"Kantin yokk!" ajak Vano pada gue dan Dion.


"Mager ah.." balas Dion memainkan HP nya.


"Rey.. ayolah.."


"Males" jawab gue singkat sambil main HP.


"Kompak bet sih kalean!! Nyebelin! Nggak laper apa?!" ucap Vano meninggi.


"Nggak" jawab gue dan Dion ketus.


"Haish!" Vano pun berjalan keluar kelas dengan emosinya yang membara. Selang beberapa menit ia kembali lagi dengan seorang perempuan yang gue kenal.


"Kak Reyyy... temenin aku ke kantin yukk!!!" seru perempuan itu berlari memasuki kelas. Kini dia sudah ada di depan gue.


"Males" ucap gue masih bermain HP. Seketika dia langsung ngrebut HP gue.


Alhasil gue ditarik mereka berdua berjalan menuju ke kantin. Lengan gue aja sampai dipegangi kuat sama perempuan itu.


"Eh tungguin gue dong!" seru Dion berlari menyusul kami.


"Tadi katanya magerr.." sindir Vano mulai nyinyir.


"Lah daripada gue sendiri disini, mending ikut lah!" balas Dion.


Sesampainya di kantin saat gue sama yang lainnya lagi nyari bangku kosong, mata gue menangkap sosok yang tengah duduk di salah satu bangku. Dia tak lain adalah Acha.


Mata kami saling bertemu. Tak lama kemudian dia berdiri berjalan ke arah gue dan yang lainnya berdiri.


Dia berhenti sejenak di depan gue, menatap gue. Matanya tampak mulai berkaca-kaca. Dia pun langsung berlari keluar dari kantin.


Tak lama, laki-laki yang kemarin bersamanya pun berlari menyusul dia.

__ADS_1


"Kak Rey kenal sama perempuan tadi?" tanya perempuan yang tengah memegangi lengan gue.


"Lepas!" titah gue mutlak.


Gue pun segera berlari menyusul Acha dan laki-laki itu.


"Mereka kemana?" batin gue, kehilangan jejak mereka. Gue mencoba mencari mereka. Gue pun memutuskan untuk pergi ke rooftop, memastikan apakah mereka ada di sana.


Pas gue sampai di rooftop, samar-samar gue mendengar isakan seseorang. Gue pun mencari sumber suara itu.


'Degg' jantung gue rasanya berhenti. Ya suara isakan itu adalah suara Acha, yang kini tengah berada di pelukan seorang laki-laki. Kini tangisan Acha mulai pecah dalam pelukan laki-laki itu.


Sebenarnya gue pengen menghampiri mereka, namun niat itu gue urungkan lantaran tangisan Acha yang mulai mereda. Gue pun memutuskan untuk bersembunyi, agar mereka nggak liat gue.


Terdengar suara Acha yang mulai bercerita tentang hubungan gue sama dia. Semua ini salah gue, andai dulu gue nggak sebodoh itu, Cha. Maaf.


"Apa lo masih sayang sama dia, Cha?" suara laki-laki itu bertanya pada Acha. Membuat gue langsung menajamkan indera pendengaran gue. Tapi percuma, gue nggak bisa dengar jawaban dari Acha.


"Kalo boleh jujur ya, Cha. Sebenarnya gue sayang sama lo, gue nggak suka kalo lihat lo sedih, apalagi gara-gara cowok itu." ucap laki-laki itu lagi, membuat gue langsung terkejut.


Gue udah nggak bisa dengerin ini lagi. Gue pun langsung berjalan pergi dari rooftop tanpa sepengetahuan mereka.


Dan gue langsung balik ke kelas karena bel masuk sudah berdering.


Pembelajaran sudah berlalu 40 menit. Sepanjang pelajaran gue cuma ngelamun. "Pak, izin ke toilet," ucap gue minta izin pada Pak Guru.


"Oke, jangan lama-lama. Kalau sudah selesai langsung kembali ke kelas." balas Pak Guru.


Gue langsung berjalan menuju toilet. Setelah 5 menit di toilet gue langsung keluar dan menuju ke kelas. Tanpa sengaja gue melihat dua murid yaitu laki-laki dan perempuan yang tengah hormat di tengah lapangan bendera.


Gue terus memperhatikan mereka. Tak lama kemudian, tangan kiri laki-laki itu pun bergerak ke atas kepala murid perempuan yang ada di sebelahnya. Tampak murid perempuan itu mengulas senyumannya.


Asalkan kamu bahagia, aku akan coba relain kamu bersatu sama dia, Cha.


Rey POV end


...…***…...


Hai Hai readers tersayang.. maaf ya kalo cerita nya agak berantakan dan typo, mohon maklumi karna author belum berpengalaman.. Dan Terima kasih buat kalian semua yang masih lanjut baca kisah nya Acha.. Jang lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara like, komen, dan sarannya buat author yaa...

__ADS_1


Salam Hangat dari Acha😘


Sayonaraa.. 😉


__ADS_2