
"Maaf, Om. Sebenarnya saya yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Maaf, Om, Kak. Tapi saya enggak sengaja, maaf.." sesal Rey menundukkan kepalanya.
Mendengar pengakuan dari mulut Rey, seketika foto yang ada di tangan Papa Edwin jatuh, beruntung jatuh di pangkuannya.
Raut wajahnya seketika berubah. Begitu pun dengan Rega.
Acha melirik, menatap sekilas wajah papa dan kakaknya itu. Ia merasa semakin cemas dan khawatir dengan perubahan ekspresi mereka. Ia takut jika mereka berdua akan membencinya saat mengetahui kebenarannya.
Tangan Rega mengepal kuat. Ia langsung beranjak dari duduknya. Tanpa aba-aba, kedua tangannya kini sudah mencengkeram baju Rey lagi.
"Jadi, lo yang udah bikin Cio meninggal?!!" wajah Rega merah padam, menahan emosinya. Kedua tangannya semakin kuat mencengkeram baju Rey.
"Maaf, Kak. Saya-"
"Cih! Maaf?? Lo pikir maaf aja cukup, hah?!!" bentak Rega, menyela ucapan Rey.
Bukk!!
Tanpa aba-aba lagi, satu pukulan berhasil mendarat di wajah Rey. Seketika Rey tersungkur, jatuh dari sofa. Rey tak bergeming. Ia merasa memang pantas mendapatkan pukulan itu.
"Kak Rega, stop!!" teriak Acha namun tak direspon oleh Rega.
"Bangun, lo!!" seru Rega langsung menarik baju Rey dengan kedua tangannya.
"Stop, Kak!!" teriak Acha lagi, ia pun langsung bersimpuh di depan kaki Papa Edwin yang pandangannya tampak kosong.
"Maafin Acha, Pa. Acha yang salah karena nggak nurut sama Cio. Andai Acha pulangnya bareng Cio, pasti Cio nggak akan ninggalin kita.. Maaf, Pa.. Hiks hiks! Maaf.." Acha terisak di hadapan Papa Edwin.
Mendengar tangisan Acha, seketika Papa Edwin tersadar dari lamunannya. Ia pun langsung membelai kepala Acha yang masih menunduk dengan lembut.
Bukk!
Kedua matanya langsung melirik tajam ke arah Rega yang baru saja memukul wajah Rey lagi. "Cukup Rega!!".
Seketika Rega menghentikan pukulannya. Menoleh ke sumber suara tersebut. "Kenapa, Pa?! Dia emang pantes buat dipukul! Gara-gara dia, Cio ninggalin kita semua!!" gertak Rega menunjuk Rey dengan penuh emosi.
"Cukup!! Cio pergi itu karena sudah takdir! Kita nggak bisa salahin Rey karena kecelakaan itu. Rega, Papa tau kamu sayang sama Cio, kita semua juga sayang sama Cio.. Tapi Tuhan lebih sayang sama Cio, mungkin itu yang terbaik buat Cio, Ga.." seketika Rega terdiam mendengar ucapan Papa Edwin.
Rega langsung terduduk di sofa, mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Memang benar yang dikatakan oleh papa nya itu. Kita tak mungkin bukan, melawan takdir Tuhan?
"Bangun, Cha. Jangan pernah kamu berlutut di depan orang lain lagi." Papa Edwin membantu Acha agar berdiri dari berlututnya. Ia pun menuntun Acha agar duduk di samping kanannya.
"Sekarang, Cha, cerita sama Papa, sebenarnya apa yang terjadi satu tahun lalu??" tanya Papa Edwin sembari menggenggam tangan Acha.
__ADS_1
Acha terisak, mulutnya serasa merapat, tak berani menjelaskan.
Papa Edwin menatap Rey yang masih terduduk di lantai karena pukulan Rega tadi. "Kemarilah," ujar Papa Edwin menepuk sofa sebelah kirinya.
Dengan segera Rey bangkit dan duduk di samping kiri Papa Edwin. Sekilas ia melihat Acha yang masih saja menundukkan kepalanya. Entah karena tak mau bertatapan dengan Rey atau karena alasan lain, Rey tak tahu.
"Sekarang kamu cerita sama Om, kejadian kecelakaan tahun lalu." pinta Papa Edwin pada Rey.
"Om tau kan, kalau kecelakaan itu berawal dari sebuah mobil yang menabrak motor?" Rey menjeda ucapannya.
Papa Edwin mengangguk. Semua orang pasti sudah tau bukan tentang kecelakaan maut itu.
"Sebenarnya itu saya, Om, pengendara motor yang ditabrak oleh mobil waktu itu. Karena kecelakaan itu saya mengalami patah tulang dan koma selama 3 minggu. Setelah saya sadar, saya dengar kecelakaan itu juga melibatkan sebuah bus dan taxi. Apa mungkin, Cio, anak Om, berada dalam bus atau taxi itu?" ujar Rey serius, bertanya pada Papa Edwin.
"Iya, saat itu Cio ada di dalam taxi itu." jawab Papa Edwin sendu. Gurat kesedihan kembali terpancar di wajahnya.
Melihat kesedihan papa nya, Acha semakin merasa bersalah. Ia pun memberanikan dirinya untuk jujur kepada papa dan kakaknya itu.
"Maafin Acha, Pa, Kak.. Andai aja waktu itu Acha pulangnya bareng Cio, pasti kecelakaan itu nggak akan menimpa Cio.. Ha-rusnya Acha a-aja yang di dalam taxi itu, bu-kan Cio, hiks hiks.." Acha kembali terisak.
"Maksud kamu apa, sih, Cha! Jangan pernah ngomong gitu!" sela Rega, tak terima dengan ucapan Acha.
"Iya, Cha, jangan pernah ngomong gitu!" tegur Papa Edwin. "Jadi kamu waktu itu nggak bareng sama Cio? Terus kamu naik apa, Cha??" tanya Papa Edwin.
"Lho, bukannya lo ketabrak mobil itu? Terus Acha kok bisa nggak papa??" kini Rega mulai menyimak penjelasan Rey.
Rey pun menceritakan semua kejadian satu tahun yang lalu, termasuk saat dirinya yang bertengkar dengan Acha.
.
.
"Jadi benar itu, Cha?" tanya Papa Edwin pada Acha yang sedari tadi diam.
Acha menganggukkan kepalanya pelan. "Maafin Acha, Pa." ucapnya.
"Saya juga minta maaf, Om. Gara-gara sa-"
"Udah, kalian nggak usah minta maaf gitu.. Ini bukan salah kalian, memang inilah yang dikehendaki oleh Tuhan." Papa Edwin menasihati mereka berdua.
"Lagi pula Cio pasti udah bahagia disana, bisa ketemu sama Mama," timpal Rega yang sudah tidak emosi. "Oh, ya, gue minta maaf karena tadi udah mukul lo. Gue pikir lo itu si pengendara mobil yang udah bikin kecelakaan itu," ujar Rega tulus meminta maaf pada Rey.
"Iya, nggak papa kok, Kak. Lagian ini juga nggak papa kok!" balas Rey sok kuat. Padahal sebenarnya tonjokan dari Rega membuat wajahnya terasa a
__ADS_1
nyut-nyutan terus.
Mendengar balasan Rey, tawa Papa Edwin dan Rega pecah. Mulut Rey memang berkata tak sakit, tapi sedari tadi tangannya terus memegangi lebam di wajahnya itu.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.47. Rey pun izin hendak pamit pulang.
"Kalau begitu, Om, Kak, Cha, saya pulang dulu, ya!" pamit Rey bangkit dari duduknya.
"Ehh.. tunggu! Inikan sudah mau jam 7, gimana kalau kamu sekalian ikutan makan malam dulu disini? Kamu juga belum makan, kan, dari tadi??" ajak Papa Edwin.
Rey tampak berpikir, bingung harus menolak atau menerima ajakan tersebut. Namun saat masih berpikir, tiba-tiba saja kedua tangannya sudah ditarik oleh Alvin dan Vina yang entah muncul dari mana.
"Ya udah Rega pesan dulu makanannya!" ujar Rega dan langsung membuka ponselnya. Membuka aplikasi layanan pesan antar makanan.
Mereka semua pun segera berjalan menuju ke meja makan, termasuk Acha. Sembari menunggu pesanan meraka datang, mereka senantiasa mengobrol untuk mengakrabkan diri.
Tak lama, bel rumah mereka pun berbunyi. Ting tong..
"Pasti pesanan nya, biar Acha yang ambil." Acha segera keluar membukakan pintu.
Lima menit menunggu, tapi Acha belum juga kembali ke meja makan.
"Kak Acha kok lama banget, sih?! Laper nih!!" sungut Alvin mengelus perutnya.
"Sabar, dong, Al.." tegur Vina menyemangati.
"Kalo gitu biar Rega susul!" Rega langsung beranjak, menyusul Acha.
"Lama amat, sih, Cha!! Kita udah laper nih!!" Rega langsung menghampiri Acha yang masih berdiri dengan kurir yang ada di depannya.
Seketika Rega terdiam saat melihat wajah kurir itu. Selama beberapa detik ia menatap tajam kurir tersebut. Tanpa ba-bi-bu, Rega langsung merampas plastik berisi pesanannya dari tangan kurir tersebut.
Tak lupa, ia melemparkan uang biaya pesanannya pada kurir tersebut. Ia pun langsung menarik tangan Acha agar segara kembali masuk.
Acha tentu saja heran plus bingung melihat tingkah kakaknya yang menurutnya aneh itu.
'Kak Rega kenapa??'
...…***…...
Halo readers tersayang! Maaf yah baru up sekarang🙏🙏 Tapi makasih juga buat kalian yang selalu dukung kisahnya Acha ini. Maaf juga yah kalau ceritanya belum sesuai ama ekspektasi kalian..Jangan lupa like, komen n saran, dan klik favorit yak biar nggak ketinggalan kisahnya Acha..
Sayonaraa..😘
__ADS_1