Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) MOS#Part 2


__ADS_3

Siswa dan siswi baru yang lain pun sama terkejutnya dengan Darren. Karena yang mereka dengar KetOS di SMA ini sangat tegas, disiplin, dan galak. Berbanding terbalik dengan penampilan Hana yang mengenakan kaca mata bulat, dan rambutnya dikuncir kuda.


"Kalau Kak Hana itu KetOS, terus wakil ketua nya siapa kak? Kok nggak ikut kesini?" tanya Darren sambil celingukan.


"Ada kok, tapi lagi ada urusan lain, makanya nggak ikut ke sini." jelas Hana kepada semua siswa-siswi baru. "Oh ya, untuk kegiatan MOS kali ini, kakak minta untuk kalian semua berkeliling agar tahu tata letak gedung sekolah ini, yaa.. kalau kegiatan yang lain silahkan kalian tanya dengan Kak Vano dan Kak Dion. Oke sekarang silahkan laksanakan tugas!!" tegas Hana dengan suara meninggi.


Para siswa-siswi baru pun segera bubar untuk melanjutkan kegiatan. Mereka mulai berkeliling sekolah agar hafal dengan tata letak gedung sekolah mereka. Mereka bahkan juga mengobrol agar bisa menjadi teman baik.


Begitupun dengan Acha. Kini ia sedang berkeliling sekolah bersama 3 teman barunya. Mereka adalah Darren, Zain Malik, dan Agatha Karina Mahesa atau Karin adik dari Vano.


Bel istirahat pun berdering. Semua siswa maupun siswi segera pergi menuju kantin, termasuk Acha dan ketiga teman barunya. Untung mereka sudah tahu dimana letak kantinnya, jika belum.. pasti harus berputar-putar mencari kantinnya, mengingat sekolah tersebut sangat luas.


Setibanya di kantin, mereka bertemu dengan Hana, Vano, dan Dion yang sedang makan di satu meja. "Hey, lihat! Itu kan Kak Hana dan yang lainnya!" ucap Acha kepada ketiga temannya. "Ayo kita kesana!" sambungnya sambil menarik tangan Karin, dengan terpaksa Darren dan Zain pun mengikuti Acha.


"Hai Kak Hana," sapa Acha dengan senyum cerianya. "Hmm" balas Hana singkat sambil mengunyah makanannya. "Ihh..Kak Hana kok jutek banget sih sama Acha?!" sungut Acha dengan menggembungkan pipinya. Teman-teman Hana maupun teman Acha yang melihat tingkah Acha merasa sangat bingung.


"Kalian saling kenal?" tanya Dion dan Vino yang mulai kepo. "Nggak" "Iya" jawab Hana dan Acha bersamaan.


"Ihh Kak Hana mah gitu..Acha aduin ke mami baru tau rasa!" ketus Acha sembari menelpon seseorang.


"Mami..." rengek Acha setelah telponnya diangkat oleh orang yang Acha panggil mami itu.


"Iya, kenapa sayang," suara seorang wanita dari HP Acha. "Kak Hana nyeb-" seketika HP Acha langsung direbut oleh Hana, membuat Acha semakin kesal.


"Enggak kok, Mi, itu si Acha minta es krim. Udah dulu ya, Mi, dahh.." sambungan telepon langsung diputus oleh Hana.


"Jadi, kalian saling kenal?" tanya Dion dan Vano lagi. "Sepupu" jawab Hana dan Acha bersamaan.

__ADS_1


"Oohh..." ucap Dion, Vano, dan teman-teman Acha.


"Balik yuk!" Hana dan kedua temannya bangkit dari duduknya. "Ehh.. Bentar dulu Kak Vano, Kak Vano kan masih punya hutang sama Acha," seru Acha menghentikan mereka bertiga.


"Oo iya.. hampir aja gue lupa!" gumam Vano sambil mengusap kepalanya. Vano pun mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat dari sakunya.


"Nih.. jangan sampe hilang." Vano memberikan kertas tersebut ke Acha. Acha pun membuka kertas tersebut. Betapa terkejutnya ia dan teman-temannya melihat kertas itu.


"Kok cuma tanda tangan! Acha nggak butuh ya tanda tangan Kak Vano!!" kesal Acha sembari melemparkan kertas itu ke Vano.


"Hey, ini bukan sembarang tanda tangan ya.. Ini itu tanda tangannya si wakil KetOS!,,Lo nggak tau aja dapetin tanda tangan ini susahnya minta ampun!" Vano segera mengambil kertas itu. "Adik gue aja nggak gue kasih.. lo harusnya bersyukur jadi lo nanti nggak perlu susah-susah minta tanda tangannya! Bukannya makasih,," cibir Vano panjang lebar dan mengembalikan kertas itu ke Acha.


Vano, Hana, dan Dion pun melenggang keluar dari kantin.


"Udahlah Cha, simpan aja, siapa tahu berguna," ucap Karin menenangkan Acha diangguki oleh Darren dan Zain.


---Lapangan ISH (Kegiatan MOS)---


"Sudah, Kak!" teriak semua siswa-siswi baru.


"Kalau begitu sekarang kakak bakal kasih kalian tugas, tapi tugas ini kelompok ya.. tugasnya yaitu meminta tanda tangan semua guru di sekolah ini dan tanda tangan semua anggota OSIS! Dan 10 kelompok yang terakhir mengumpulkan akan mendapat hukuman acak! Kalian pahamm?!" seru Vano keras.


"Kalau begitu cepat bentuk kelompok beranggotakan 4 orang dan segera melaksanakan tugas! Mengerti?!" sambung Vano.


"Mengerti Kak!" jawab mereka semua. Dengan segera mereka pun membentuk kelompok masing-masing.


Acha tentunya berkelompok dengan Karin, Darren, dan Zain. Mereka berempat membagi tugasnya, yaitu Acha dan Darren meminta tanda tangan OSIS, sedangkan Karin dan Zain meminta tanda tangan para guru.

__ADS_1


Acha dan Darren segera menghampiri Hana dan teman-temannya yang sedang berada di dekat perpustakaan untuk meminta tanda tangan mereka.


"Kak mau minta tanda tangannya, boleh?" ucap Acha dengan sopan karena Hana sedang bersama teman-temannya. "Oo ya, boleh dong dek," balas Hana dengan halus meskipun itu hanyalah kedoknya. "Tapi dengan syarat kalian harus nyanyi dulu.." sambungnya, membuat Acha dan Darren kalap.


Dengan terpaksa Acha dan Darren pun menyanyi dihadapan mereka.


"Biarkan cinta kita erat bagai simpul mati"


"Misteri bagai sandi rumput"


"Sekokoh bagai pionering"


"Kuingin engkau tahu"


"Besarnya rasa cintaku"


"Menyala bagai api unggun"


"Abadi seperti cikal didadaku"


Meskipun tanpa pengiring, suara mereka berdua tetap enak didengar. Membuat beberapa siswa yang sedang lalu lalang berhenti dan menonton mereka. Bahkan mereka sampai jadi pusat perhatian dan dikerubungi banyak siswa. Acha dan Darren pun hanya bisa menahan malu karena menjadi 'tontonan gratis' pikir mereka.


"Wah.. suara kalian bagus yaa.. cocok banget deh kalian,," ledek Hana dan kawan-kawannya. Hana pun memberikan tanda tangannya, begitu pula dengan temannya. "Karena kalian nyanyi nya bagus, kakak kasih tau deh,, kalo kakak-kakak OSIS yang lain ada di lapangan basket, yang lagi main basket ya..buruan sana!" seru Hana dan segera diangguki oleh Acha dan Darren. "Makasih Kak!" Acha dan Darren pun segera berlari menuju lapangan basket.


Sesampainya di lapangan basket, Acha disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menyejukkan mata, yaitu cogan-cogan (cowok ganteng) yang tengah asyik bermain basket.


Mata Acha menangkap satu sosok yang sedang bermain basket yang dikiranya ia kenal. Acha terus memperhatikan sosok itu dengan lekat, sampai ia menyadari bahwa ia memang mengenal sosok itu.

__ADS_1


"dia..." gumam Acha.


Hai readers,, makasih lho kalo kalian masih mengikuti cerita author.. sengaja di bab ini author bikin ceritanya nggantung biar ada sensasi pensarannya gitu,, Maaf ya kalo masih kurang memuaskan, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan komen,, saran dari kalian sangat author butuhkan.. Terima kasih yaa🙏🙏


__ADS_2