Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Perasaan Darren


__ADS_3

Acha melihat beberapa orang yang baru saja memasuki kantin. Matanya menatap tajam pada seorang perempuan yang sedang berjalan masuk mengaitkan lengannya dengan seorang lelaki yang tak lain adalah Rey.


'Degg' entah mengapa hati Acha rasanya sangat sakit. Acha mengepalkan kedua telapak tangannya kuat. Tanpa aba-aba, setetes air keluar dari matanya. Cepat-cepat Acha menghapusnya sebelum dilihat oleh temannya.


"Acha balik dulu ya." ucap Acha langsung berdiri dari duduknya.


"Mau kemana Cha?!" seru Karin menghentikan Acha.


"Siomay kamu gimana nih Chaa?!" tanya Darren.


"Kalian makan aja." ucap Acha dan langsung berjalan keluar kantin.


Acha berjalan melewati Rey dan perempuan itu. Sesaat Acha berhenti di hadapan mereka berdua dan melirik mereka. Mata Acha tampak berkaca-kaca melihat sebuah tangan yang masih mengait di lengan Rey. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tak mengalir.


"Acha.." lirih Rey menatap Acha. Acha pun segera berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah kata pun. Rey terus menatap kepergian Acha, hingga Acha sudah menghilang dari pandangannya.


Sementara di sudut kantin Darren tampak geram melihat Rey. Kini ia tahu kenapa Acha buru-buru pergi, pasti karena kedatangan si Rey bersama perempuan itu. Darren pun segera menyusul Acha.


"Mau kemana lo?!" seru Zain saat melihat Darren berlari keluar. Namun ia tak mendapat jawaban karena Darren sudah pergi dari kantin.


"Ya udahlah, biarin aja mereka. Mending kita makan dulu. Daripada mubazir siomay nya Acha." ucap Karin yang memang suka makan. Walau Karin sangat suka makan, entah mengapa badannya tidak bertambah gemuk.


"Lo mah yang dipikirin makaann terus, pikirin teman lo napa." gerutu Zain mencibir Karin. "Kalo mereka lagi ada masalah gimana??" sambung Zain gelisah.


"Kalo emang Acha lagi ada masalah, pasti dia bakal cerita kok sama kita, walaupun nggak sekarang." balas Karin sambil memakan siomay Acha.


Ketika Karin hendak memakan siomay nya Acha lagi, tiba-tiba saja Zain merebut siomay itu dan langsung memakannya.


"Ihh.. apaan sih lo?!" teriak Karin tak terima.


"Lo itu udah makan bakso semangkuk, kalo lo makan ini, nanti lo jadi gendut mau?!" alasan Zain dan langsung membuat Karin melotot tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Yang gendut gue, apa urusannya sama lo?!" balas Karin yang masih nge-gas. "Jangan-jangan lo naksir ya sama gue??" sambung Karin dengan nada ejekannya.


"Gue?? Naksir sama lo? Sorry lo bukan tipe gue.. lagian masih banyak tuh cewek-cewek yang pada antri buat jadi pacar gue," ucap Zain sombong. "Lagian mana mungkin gue naksir sama cewek tomboy plus cerewet kayak lo!! Nggak ada imut-imutnya tau nggak!" sambung Zain mengejek.


Mendengar ejekan Zain, membuat Karin langsung terdiam. Dia pun memilih untuk meminum es teh milik Acha.


**Rooftop**


Acha tampak duduk bersandar pada sebuah dinding. Ia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya yang sembab karena menangis.


"Nggak!! Acha nggak boleh nangis! Dari dulu emang udah jadi keputusan Acha! Acha nggak boleh menyesali keputusan Acha!" ucap Acha pada dirinya sendiri.


Acha pun segera menghapus air matanya. Tapi tetap saja air matanya tak berhenti keluar.


"Cha, lo nggak papa?" suara seseorang dari samping Acha.


"Darren," lirih Acha. Ia pun kembali menghapus air matanya.


Lagi-lagi Acha kembali terisak dalam diam. Darren pun langsung menoleh ke Acha. Darren tau kalau saat ini Acha sedang menangis. Ia menatap Acha dan memeluknya. Seketika tangisan Acha langsung pecah. Air matanya sudah tak terbendung. Bahkan sampai membuat baju Darren basah.


Darren pun mengelus pelan kepala Acha, mencoba untuk menenangkannya. Setelah beberapa saat, Acha sudah mulai tenang. Acha pun segera melepas pelukannya.


"Sekarang, cerita sama gue, lo kenal kan sama dia?" tanya Darren lembut sambil menghapus air mata Acha.


Acha pun mengangguk. Kemudian ia menceritakan siapa itu Rey sebenarnya. Darren hanya diam mendengarkan Acha.


"Jadi dia mantan lo?" tanya Darren memastikan. Acha hanya mengangguk. "Apa lo nyesel sama keputusan lo dulu?" tanya Darren lagi. Namun kali ini Acha tak menjawab. Ia hanya diam menundukkan kepalanya.


"Apa lo masih sayang sama dia, Cha?" Darren kembali bertanya. Ia menatap Acha yang tengah menunduk dengan lekat


"Kalo boleh jujur ya, Cha. Sebenarnya gue sayang sama lo, gue nggak suka kalo lihat lo sedih, apalagi gara-gara cowok itu." ucap Darren tulus, masih menatap Acha.

__ADS_1


Mendengar ucapan Darren, membuat Acha langsung menoleh menatap Darren. Mata mereka pun saling bertemu.


"Tapi tenang aja, Cha. Gue nggak bakal maksa lo buat bales perasaan gue kok. Karena gue nggak mau persahabatan kita hancur cuma gara-gara keegoisan gue." jelas Darren dengan senyuman nya.


"Ya udah balik yuk, Cha. Udah bel dari tadi tau." sambung Darren cengengesan. Ia pun segera membantu Acha berdiri.


**Kelas 10 IPA 1**


"Maaf Bu, kami terlambat," ucap Acha dan Darren memasuki kelas. Mereka berdua tampak ngos-ngosan karena berlari dari rooftop menuju kelas mereka.


"Sudah 30 menit kelas dimulai, tapi kalian baru masuk. Dari mana saja kalian!" bentak Bu Rina, guru fisika mereka.


"Itu Bu, a anu-" gagap Darren.


"Ona anu. Karena kalian sudah terlambat, maka kalian ibu hukum hormat di lapangan bendera selama 1 jam!" tegas Bu Rina.


"Ba baik Bu. Kalau begitu kami pamit dulu." ucap Acha dan segera menarik tangan Darren menuju lapangan.


Sesampainya di lapangan, mereka langsung melaksanakan hukuman. Saat ini cuacanya sangat panas. Matahari serasa di atas ubun-ubun karena sekarang sudah jam 11 siang.


15 menit berlalu. Acha tampak mulai tak tahan karena teriknya matahari. Keringat bahkan sudah mulai membasahi wajahnya.


Begitu pun dengan Darren. Ia menoleh ke Acha. Dilihatnya Acha yang sudah kepanasan. Darren pun mencoba untuk menutupi kepala Acha agar tidak kepanasan. Tangan kitinya kini berada di atas kepala Acha, sedangkan tangan kanannya masih hormat pada bendera Merah Putih yang tengah berkibar.


Acha merasa sudah tidak kepanasan. Ia langsung mendongakkan kepalanya ke atas. Dilihatnya sebuah tangan yang lumayan besar berada di atas kepalanya. Acha pun tersenyum, dan menoleh ke Darren. Dilihatnya Darren yang masih fokus dengan sikap hormat nya tanpa memedulikan teriknya matahari yang menyengat kulitnya.


...----***----...


Hola guyss.. Jangan lupa like, komen, dan sarannya ya guyss.. Makasih udah mampirr😊


Sayonara😉

__ADS_1


__ADS_2