Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Falencio Reno Raharja


__ADS_3

Mobil Rega kini telah sampai di halaman rumah mereka. Tampak di depan rumah, Papa Edwin, Alvin, dan Vina sudah siap dengan pakaian serba hitam mereka.


Rega segera menghentikan mobilnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah. Begitupun dengan Acha.


Selang beberapa menit kemudian, Rega dan Acha pun keluar dengan pakaian serba hitam.


"Udah??" tanya Papa Edwin.


Rega dan Acha pun mengangguk. Mereka berlima pun segera masuk ke dalam mobil Papa Edwin. Mobil pun langsung melaju meninggalkan halaman rumah mereka.


Bisingnya suara kendaraan, serta langit abu-abu mendung menemani perjalanan mereka. Selama 30 menit perjalanan, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara.


Mobil mulai melewati jalan yang agak sepi. Tak lama, mobil pun berhenti di salah satu TPU (Tempat Pemakaman Umum).


"Ayo turun," ujar Papa Edwin keluar dari mobil, diikuti oleh Rega yang ada disampingnya.


Alvin maupun Vina tak bergerak. Membuat Acha yang duduk diantara mereka tak bisa keluar. Acha menatap kedua adiknya bergantian. Seketika ia meraih tangan Alvin dan Vina. Menggenggam jemari mereka berdua.


Sontak Alvin dan Vina menatap wajah Acha. "Ayo,, kasian Mama nunggu kita," ucap Acha lembut.


Mata mereka bertiga mulai berkaca-kaca. Alvin dan Vina mengangguk. Dengan langkah yang berat, mereka pun keluar dari dalam mobil.


Tampak Papa Edwin dan Rega sudah menunggu mereka.


Sebelum mereka masuk ke area pemakaman, mereka tak lupa membeli bunga dan juga beberapa botol air untuk penyiraman.


Mereka pun segera berjalan memasuki area pemakaman. Sekitar 5 menit, kini di hadapan mereka terpampang 2 makam yang ditumbuhi beberapa rumput.


Seketika mata mereka semua berkaca-kaca. Alvin dan Vina langsung bersimpuh di sebuah batu nisan bertuliskan Renata Anatasya Ravanda. Air mata tak mampu mereka bendung lagi.


Begitupun dengan Acha. Ia berlutut disamping makam Mamanya. Air mata mengalir dari pelupuk matanya. Ia mencoba untuk tetap tegar, menguatkan kedua adiknya yang sangat merindukan Mama mereka.


Rega pun mencoba menahan air matanya agar tidak menetes. Sedangkan Papa Edwin langsung memeluk Alvin dan Vina yang masih terisak. Satu kata yang mereka rasakan saat ini, 'Rindu'.


"Sudah sudah,, jangan menangis lagi. Kita harus kuat, kita doakan Mama supaya bisa tenang disana, hm?" ujar Edwin menenangkan anak-anaknya.


Mereka semua pun mengangguk. Mereka mulai membersihkan makam Mama mereka, dari mencabut rumput yang tumbuh disana, menyiram makam dengan air yang tadi mereka beli, dan meletakkan bunga-bunga.


Tak lupa mereka pun mendoakan Mama mereka.


'Ma, gimana kabar Mama disana? Kita kangen banget sama Mama.. Acha berdoa semoga Mama bisa bahagia disana,, Tunggu kami disana, ya, Ma?' batin Acha kembali meneteskan air matanya.


Selesai mereka berdoa, mereka pun beralih ke makam yang ada disebelah makam Mama mereka.

__ADS_1


Air mata mereka kembali berderai. Menangisi sosok yang telah tiada setahun yang lalu. Sebuah batu nisan bertuliskan Falencio Reno Raharja.


Acha mulai mencabuti rumput yang tumbuh disana. Sesekali ia menghapus air mata yang masih terus mengalir di pipinya. Setelah bersih, mereka pun menyiramkan air pada tanah itu dan meletakkan bunga di atasnya.


Mereka berlima pun mendoakan pemilik makam itu.


'Cio, apa kabar?? Acha kangen sama Cio.. Dulu Cio slalu belain Acha kalo Acha dijahilin teman-teman. Tapi Cio udah pergi ninggalin Acha. Andai Cio belum pergi, pasti kita bakal bareng-bareng terus. Makan bareng, ke sekolah bareng,, tapi kalo emang ini yang terbaik buat Cio, Acha ikhlas,, asal Cio bisa bahagia disana..' batin Acha menahan tangisnya, mengusap nisan itu.


Setelah selesai mendoakan orang yang mereka sayangi itu, mereka pun pamit pulang.


"Kita pulang dulu ya, Ma, Cio, kita janji bakal sering datang mengunjungi kalian." ujar Papa Edwin masih memeluk Alvin dan Vina.


"Ayo kita pulang," ajaknya kepada anak-anaknya.


Mereka pun segera pergi meninggalkan makam tersebut. Perasaan mereka selalu menjadi lebih baik setelah mengunjungi peristirahatan orang-orang yang mereka sayangi tadi.


...----------------...


Keesokan paginya, mereka pun beraktivitas seperti biasa.


"Acha berangkat, dah~" seru Acha langsung masuk ke dalam mobil Rega.


"Ya.. hati-hati!" balas Papa Edwin, Alvin dan Vina pun melambaikan tangannya. "Dadahh!" seru mereka berdua.


.


.


Mobil Rega Kini telah berhenti di depan sekolah Acha. "Belajar yang rajin! Jangan mikir cowok teruss!" ledek Rega mengacak rambut Acha.


"Ih.. apaan sih Kak!! Rambut Acha jadi berantakan kan!!" omel Acha, merapikan rambutnya lagi. Setelah rapi, ia pun segera keluar dari mobil itu.


"Makasih,, dah sana pergi!" usir Acha menghempas-hempaskan tangannya.


"Iya iyaa.." Rega pun langsung melajukan mobilnya menuju ke kampus.


Sedangkan Acha segera memasuki sekolahnya. Saat Acha tengah berjalan di Koridor sekolahnya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sebuah tangan yang langsung merangkulnya.


"Astaga!! Ihh kebiasaan deh kalian!! Sukanya ngagetin Acha! Kalo Acha jantungan gimana?!" oceh Acha mengerucutkan bibirnya.


"Hehe,, sorry sorry, Cha," ucap orang itu yang tak lain adalah Karin. Di belakangnya sudah ada Darren dan Zain.


Mereka pun melanjutkan langkah menuju ke kelas mereka.

__ADS_1


"Eh iya, Cha. Kalo boleh tau, Cio itu..siapa nya kamu?" tanya Karin agak ragu.


Seketika Acha berhenti, hampir saja Darren menabrak Acha kalo ia tidak nge-rem.


"Emm.. Cio itu kembarannya Acha," jawab Acha kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga temannya.


"Whattt?!!" teriak ketiga temannya, terkejut tak percaya. Mereka pun langsung menyusul Acha.


"Lo punya kembaran Cha?!" tanya Darren membuntuti langkah Acha.


"Kok kita nggak tau!!" timpal Karin membalikkan badannya menatap Acha, sehingga ia berjalan mundur.


"Ya.. kalian nggak nanya sih," balas Acha dengan polosnya.


Karin yang masih berjalan mundur seketika terhenti saat merasakan tubuhnya menabrak sesuatu. Ia langsung berbalik, menatap sosok yang ditabrak olehnya.


Acha, Darren, dan Zain pun reflek menatap sosok itu.


Begitu Karin melihat wajah sosok itu, betapa terkejutnya dia, bahwa yang ditabrak olehnya adalah Rey.


"Maaf kak, nggak sengaja, nggak liat tadi!" Karin langsung membungkuk meminta maaf.


Rey tak mendengarkan ucapan Karin. Ia menatap Acha. Karin yang merasa tak direspon pun mendongakkan kepalanya dan segera menegakkan tubuhnya lagi.


Acha pun langsung menarik tangan Karin agar kembali berjalan.


"Terus sekarang kembaran kamu sekolah dimana? Kok nggak sekolah disini aja??" tanya Karin penasaran.


Baru tiga langkah berjalan, Acha langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Karin.


"Cio udah pergi ninggalin Acha, karena kecelakaan setahun lalu!" balas Acha dengan nada bergetar, ia menoleh menatap tajam Rey yang masih ada di belakang mereka.


Rey yang melihat Acha seketika bingung dengan maksud dari tatapan Acha kepadanya.


Acha kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kelas. Ketiga temannya yang juga bingung dengan tingkah Acha tadi pun langsung menyusul Acha.


'Apa maksud dari tatapan Acha tadi??' Rey bingung memikirkan perilaku Acha tadi.


...…***…...


Halo haloo readerss.. Makasih ya masih stay disini🤗 Jangan lupa like, komen, saran, n fav buat kalian yang penasaran ama kelanjutan kisahnya Acha😃


Maafkanlah author bila masih ada typo ataupun kesalahan lain...

__ADS_1


Sampai jumpa di next episode👋👋


__ADS_2