Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Kepergok


__ADS_3

Sudah sekitar setengah jam lebih Rey mengobrol dengan Papa Edwin, Alvin, dan Vina. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Rey terlihat mulai terbuka dengan keluarga Acha. Keluarga Acha memang sangatlah ramah terhadap siapa pun, membuat Rey merasa nyaman saat ini.


Sedangkan Acha, ia sedari tadi tidak ikut mengobrol. Ia hanya duduk di sofa sembari memainkan HP nya.


"Ya udah Papa ke atas dulu!" ujar Papa Edwin berdiri dari duduknya.


"Eitss! Papa mau kemana?!" Acha mencegah Papa Edwin.


"Ya ke atas, lah! Mau mandi! Kamu kan udah mandi,, sedangkan Papa?? Papa belum mandi kali! Nanti kalo malah Papa yang demam gimana?!" bek Papa Edwin.


"Emangnya Papa kehujanan?? Papa kan naik mobil?!" ujar Acha curiga dengan sikap Papa nya itu.


"Suka-suka Papa lah! Pokoknya Papa mau mandi dulu! Dan kamu, Acha! Temenin Rey ngobrol dulu!!" Papa Edwin langsung melangkahkan kalinya menuju ke kamarnya.


"Loh, terus kalian berdua mau kemana?!" tanya Acha saat melihat Alvin mengajak Vina berdiri.


"Kita mau ngerjain PR dulu, udah numpuk soalnya." jawab Alvin datar.


"Emangnya kita ada PR ya, Al??" tanya Vina bingung. Karena seingatnya hari ini mereka tidak ada PR.


"Tadi bukannya jam kos-eumm!!" belum selesai Vina berbicara, dengan cepat Alvin langsung membekap mulut Vina dengan tangannya.


"Hehe.. Kamu kok jadi pikun, sih, Vin!" ujar Alvin tersenyum mengisyaratkan sesuatu, masih dengan membekap mulut Vina. Alvin mengedipkan sebelah matanya pada Vina. Vina pun akhirnya paham maksud Alvin. Ia pun langsung menyingkirkan tangan Alvin dari mulutnya.


"Oh, iya!! PR yang buat besok, yah, Al?! Mana banyak banget lagi!! Bisa-bisa nggak selesai kalo nggak buru-buru dikerjain!!" seru Vina pura-pura terkejut, dan langsung menarik tangan Alvin, meninggalkan Acha dengan Rey di ruang tamu.


Ruang tamu yang semula ramai, kini seketika menjadi hening. Tak ada percakapan antara Acha dan juga Rey.


Acha terus fokus pada HP nya. Membuka-buka aplikasi yang ada di HP nya secara acak. Ia saat ini merasa canggung dan bingung harus mengobrol apa dengan Rey.


Sedangkan Rey, ia juga hanya diam. Sesekali ia menyeruput susu jahe yang dari tadi belum habis itu.


Acha menatap sekilas Rey yang sedang meminum susu jahenya. Saat Rey menatapnya, cepat-cepat Acha langsung mengalihkan perhatiannya pada layar HP nya. Pura-pura main HP tentunya!


Rey pun mengalihkan perhatiannya pada sebuah foto yang tergantung di dinding, tepat di atas kepala Acha.


Tampak seperti foto keluarga, walau tanpa ada sosok seorang ibu. Dalam foto tersebut, tampak Papa Edwin yang duduk diantara Alvin dan Vina. Sedangkan di belakang mereka, berdiri Acha bersama dua laki-laki. Yang satu tampak lebih dewasa dari Acha, dan satunya lagi tampak sebaya dengan Acha. Mereka tampak sangat bahagia dalam foto tersebut.

__ADS_1


'Apa yang itu kembarannya Acha??' pikir Rey menatap foto Cio.


Acha menatap Rey yang tampak sedang melamun. 'Kak Rey ngapain melamun, yah??' batin Acha penasaran.


Saat dirinya masih menatap Rey penuh tanya, tiba-tiba saja Rey juga menatap Acha. Mata mereka berdua pun bertemu. Seketika Acha langsung membuang wajah nya ke sembarang arah. Keduanya kini sama-sama salting.


'Acha!! Kamu bodoh amat sih?!! Bisa-bisanya kepergok pas lagi curi-curi pandang!! Bodoh! Bodoh! Bodoh!!' batin Acha merutuki dirinya sendiri.


"Ekhemm!!" Rey berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya.


"Mau Acha ambilin minum lagi?" tanya Acha, akhirnya memberanikan diri.


"Em.. boleh," balas Rey mengangguk.


Acha pun mengambil gelas Rey yang sudah kosong itu, lalu segera melangkahkan kakinya ke dapur dengan cepat.


"Hufftt!" Acha membuang napasnya lega saat sampai di dapur. "Dasar Papa sama adik nggak ada akhlak!! Suka banget ngerjain Acha!" oceh Acha kesal. Ia pun segera membuat secangkir susu jahe untuk Rey.


**Ruang Tamu**


"Hufftt.." Rey menghembuskan napas lega. Rey pun melirik jam tangannya, "Udah jam setengah lima aja, sih! Cepet banget!" keluh nya karena waktu berjalan sangat cepat.


Pandangan Rey pun beralih, menatap foto-foto yang terpajang di atas rak. Karena penasaran, alhasil Rey pun berdiri dan mengambil salah satu foto tersebut.


"Jadi ini kembarannya Acha??" ujar Rey menatap foto yang sedang ia pegang. Dalam foto tersebut tampak Acha yang wajahnya cemberut sedang dirangkul oleh Cio yang tertawa ria.


Tangan Rey mengambil foto lain yang ada disebelah foto tadi. Dalam foto tersebut tampak Cio yang sedang menggendong Acha di atas punggungnya. Sedangkan Alvin berdiri di samping kanan Cio, dan Vina di samping kiri Cio. Mereka tampak sangat bahagia di foto itu.


Tiba-tiba Rey teringat dengan ucapan Acha. 'Acha bilang kembarannya meninggal gara-gara kecelakaan yang terjadi tahun lalu?? Apa ini ada hubungannya sama kecelakaan gue tahun lalu?? Makanya Acha natap gue kayak gitu??' pikir Rey menerka-nerka.


Saat Rey masih sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba terdengar sebuah deheman.


"Ekhemm!!"


Sontak Rey menoleh ke sumber suara. Tampak Acha yang kini sudah berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah nampan.


Acha langsung meletakkan nampan itu di atas meja. Dengan langkah cepat, ia langsung menghampiri Rey dan merebut kedua foto yang masih di tangan Rey.

__ADS_1


Wajah Acha tampak menahan amarah. Ia pun langsung meletakkan kedua foto tersebut kembali ke tempat semula. Sekilas Acha mengusap foto Cio, hingga setetes air pun keluar dari sudut matanya. Cepat-cepat ia menghapus air matanya itu sebelum Rey melihatnya.


Namun terlambat, Rey telah melihatnya. Ia tahu kalau Acha sedang menahan tangisannya.


"Maaf, Cha.." lirih Rey sambil menunduk.


"Maaf?? Buat apa?!" sinis Acha tersenyum getir. Kini air sudah menggenang di kedua matanya. Hanya dengan satu kedipan saja pasti akan langsung tumpah air itu.


"Kak Rey pikir, dengan kata maaf aja bisa ngembaliin Cio?!! Nggak akan bisa, Kak!!" seru Acha emosi. Air mata kini sudah mengalir di pipi mulusnya itu.


"Maaf, Cha.. Aku emang salah.. Tapi tolong, Cha, maafin aku.." mohon Rey sambil memegang kedua pundak Acha.


Acha menepis kedua tangan Rey. Air matanya sudah tumpah membasahi seluruh wajahnya. Dengan tersenyum getir, ia pun membalas ucapan Rey.


"Maaf?? Setelah semua yang kakak lakuin,, kakak dengan mudahnya minta maaf!! Kakak pikir maaf aja cukup?!!" bentak Acha dengan mata memerah. Saat Acha hendak pergi dari sana, dengan cepat Rey langsung menariknya ke dalam pelukannya.


Acha ingin memberontak, namun tubuhnya terlalu lemas karena menangis, terlebih tenaga Rey yang lebih kuat darinya.


Tangisan Acha semakin pecah. Ia hanya bisa memukul-mukul lengan Rey.


"Maaf, Cha.. Maaf.." lirih Rey mengelus kepala Acha.


"Hiks..hiks.. Kakak jahat!! Ka.. kak jahattt!! Hiks!" seru Acha dalam isak tangisnya.


.


.


Lima menit berlalu, namun Acha masih menangis di dalam pelukan Rey. Hingga akhirnya sebuah teriakan berhasil mengejutkan mereka berdua.


"Kalian ngapainn?!!"


...…***…...


Halo.. readers tersayangg.!! Makasih buat kalian yang masih stay n nungguin kisahnya Acha.. Maaf yah kalo ada typo atau ceritanya nggak sesuai ama ekspektasi kalian🙏 Tapi jangan lupa untuk selalu dukung author, dengan cara like, komen n saran, dan klik favorit..


Gomawo and see you..

__ADS_1


__ADS_2