Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Sadar


__ADS_3

Yeayy... Akhirnya author bisa up lagi!! Makasih buat kalian yang nungguin kisahnya Acha. Dan maaf ya kalo ada salah,, selamat membaca..


Sekitar 10 menit perjalanan, taxi yang membawa Rey dan Acha kini telah sampai di rumah sakit terdekat.


"Dokter!! Suster!!" seru Rey sambil menggendong Acha masuk ke rumah sakit.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya seorang dokter laki-laki yang tampak masih muda, menghampiri Rey.


Disusul oleh beberapa suster pun datang dengan mendorong sebuah brankar.


"Tolong,Dok!! Dia pingsan karena alergi, Dok!" jawab Rey sembari membarngkan tubuh Acha di atas brankar tersebut.


Dengan segera para suster membawa Acha ke ruang UGD. "Dokter akan menangani pasien. Harap Anda menunggu di luar." ucap salah satu suster mencegah Rey masuk ke ruang UGD itu sembari menutup pintu.


Rey pun hanya bisa menurut, agar Acha segera mendapat penanganan dari dokter.


Satu menit...


Lima menit...


Sepuluh menit telah berlalu.


Rey hanya mondar-mandir di depan UGD. Ia merasa semakin tak tenang karena dokter yang menangani Acha belum juga keluar.


Akhirnya pintu UGD pun terbuka. "Bagaimana keadaannya, Dok?!" tanya Rey langsung menghamoiri dokter tadi.


"Syukurlah, semuanya berjalan lancar. Kondisi pasien sudah mulai membaik. Kemungkinan pasien sebentar lagi akan sadar," jawab sang dokter.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap untuk sementara. Jika nanti kondisi pasien sudah pulih, maka pasien tidak perlu menginap," sambungnya menjelaskan.


Tampak pintu ruang UGD kembali terbuka. Sebuah brankar didorong keluar oleh beberapa suster menuju ke ruang rawat inap.


Rey melihat sekilas Acha yang masih memejamkan matanya di atas brankar itu, sebelum akhirnya Acha dipindahkan ke ruang rawat inap tadi.

__ADS_1


"Kalau begitu apakah pasien sudah boleh dijenguk, Dok?" tanya Rey lagi, berharap bisa menemani Acha.


"Oh iya, sudah boleh. Silahkan jika mau menjenguk. Tapi sebelum itu jangan lupa untuk menyelesaikan masalah administrasi dulu, ya. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap sang dokter mengizinkan dan pergi meninggalkan Rey.


Rey pun segera menuju ke bagian administrasi untuk mengurus pembayaran. Setelah beres, ia pun segera berjalan menuju ke kamar Acha.


Ketika Rey hendak membuka pintu kamar Acha, ia mendengar suara seseorang dari dalam. Suara itu adalah suara Acha yang tengah mengobrol dengan seorang.


'Acha lagi sama siapa??' batin Rey bertanya pada dirinya sendiri.


"Acha udah baikan kok. Jadi nggak usah khawatir," ucap Acha dengan suara yang masih sedikit lemah.


Karena penasaran, Rey pun mengintip dari jendela kaca. Betapa terkejutnya Rey. Tampak Acha yang sudah duduk bersandar di atas brankarnya.


Namun bukan itu yang membuat Rey terkejut, melainkan seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi samping brankar milik Acha. Dia tak lain adalah Darren.


Flashback On


"Permisi Mba. Pasien cewek yang tadi datang karena alergi ada di ruangan mana, ya??" tanya seorang laki-laki yaitu Darren pada bagian resepsionis.


"Oh, pasien atas nama Farasya? Kalau boleh tau apa hubungan Anda dengan pasien? Karena kami tidak bisa memberikan informasi kepada orang luar." resepsionis itu balik bertanya pada Darren.


Darren tampak berpikir sejenak. "Emm.. saya.. pacarnya, Mba!" jawab Darren berbohong. Ia melakukan ini agar resepsionis itu mau memberi tahu ruang rawat Acha.


Namun resepsionis itu malah diam. 'Hah, pacar?! Bukannya tadi yang nganterin pasien juga bilang kalo dia pacarnya??' pikir sang resepsionis. Mengingat tadi Rey juga mengaku sebagai pacarnya Acha ketika ditanya.


'Terserah aja deh!!' batinnya lagi.


"Helloww.. Mba??" panggil Darren menyadarkan resepsionis itu.


"Eh, iya. Pasien atas nama Farasya ada di kamar Melati nomor 7." ucapnya terkejut.


"Oke, Mba. Makasih!" balas Darren dan segera menuju ke ruang yang disebutkan oleh resepsionis tadi.

__ADS_1


Flashback Off


"Lo beneran udah nggak papa, Cha? Yakin lo?" tanya Darren tak percaya.


"Nggak papa, Darren. Lagian kan Acha cuma alergi aja," jelas Acha meyakinkan.


"Tadi katanya dokter, kalo Acha udah ngerasa baikan, Acha boleh pulang kok!" sambung Acha tersenyum.


"Lagian lo kok bodoh banget sih, udah tau alergi, masih aja makan udang!!" sindir Darren membuat Acha seketika luntur senyumannya.


Acha kembali mengingat alasan ia tanpa sadar memakan udang. Ia pun teringat Rey. "Oh ya, Darren. yang bawa Acha kesini siapa?" tanya Acha.


"Nah itu dia, Cha.. Nggak mungkin gue kan? Gue aja baru tau pas ditelpon sama Karin kalo lo masuk rumah sakit. Dan gue lupa nanya sama Karin yang bawa lo ke sini siapa," ucap Darren menjelaskan.


"Ohh gitu.." Acha mengangguk mengerti.


Sementara di luar ruang kamar Acha, Rey terus mendengarkan obrolan serta mengawasi mereka.


Setelah merasa cukup yakin bahwa Acha sudah membaik, ia pun memutuskan untuk pulang.


Saat sampai di pintu masuk rumah sakit, ia bertemu dengan teman-temannya. Tak lain Vano dan Dion beserta Karin dan Safa.


"Ehh.. Rey!! Gimana Acha??" tanya Vano menghentikan Rey.


"Udah sadar tuh.. kalo mau jenguk di kamar Melati nomor 7," jawab Rey datar dan melanjutkan langkahnya.


"Terus lo mau kemana?!" tanya Dion berteriak karena Rey semakin menjauh dari mereka.


"Pulang!! Ada urusan!!" balas Rey, ia menghentikan sebuah taxi dan pergi dari rumah sakit itu.


"Ya udah yokk! Kita jenguk Acha!!" ajak Karin dan Dion.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2