
Sekitar pukul 8.15 malam, Acha dan Darren baru sampai di depan gerbang rumah Acha dikarenakan jalanan tadi sangat ramai.
"Makasihh,," ucap Acha sembari turun dari atas motor.
"Hemm.." balas Darren masih di atas motor.
.
.
.
Selama beberapa detik mereka saling pandang. "Ekhemm!!" sebuah deheman menyadarkan mereka berdua, membuat mereka berdua seketika salting.
Acha langsung membuang muka ke sembarang arah, begitu pula dengan Darren.
"Jam segini kok baru pulang, Cha?!" sebuah suara berhasil mengejutkan Acha.
Acha pun langsung menoleh ke belakang, arah suara tadi berasal.
"Ehh.. Papa,, udah pulang?" tanya Acha terkejut.
Namun Papa Acha tak menjawab pertanyaan Acha. Ia menatap Darren dengan tatapan menyelidiki. Ditatapnya Darren dari kepala sampai kaki.
Darren yang paham dengan situasinya pun langsung turun dari motornya.
"Saya Darren, Om. Teman sekelasnya Acha," ucap Darren memperkenalkan diri, sembari melepas helmnya dan hendak menyalami Papa Acha.
Tangannya sudah terulur dan tubuhnya agak membungkuk, berusaha untuk sesopan mungkin.
Namun bukannya membalas tangan Darren, Papa Acha hanya diam, menatap Darren dengan sangat tajam, setajam silet:)
Acha yang melihat tingkah Papanya, tentu saja merasa sangat gelisah. Ia tahu kalau Papanya saat ini tengah marah.
"Jadi kamu yang udah bawa anak saya pergi sampai pulang malam begini?!" tanya Papa Acha dengan nada menginterogasi, membuat suasana menjadi mencekam.
"Enggak kok, Pa. Tadi itu Acha perginya sama Karin, temennya Acha!" ucap Acha menjawab.
"Papa tanya sama dia! Bukan sama kamu, Cha!" tegas Papanya dan kembali menatap tajam Darren.
Darren yang merasa tak nyaman dengan situasinya pun menjadi bingung harus menjawab apa.
"Emm.. anu, Om-"
"Ona anu, apa?!" potong Papa Acha. Raut wajahnya kini tampak sangat galak,, seakan-akan ingin memangsa seseorang.
__ADS_1
"Jadi.. tadi itu.. sebenarnya-" belum selesai berbicara, lagi-lagi ucapan Darren dipotong oleh Papanya Acha.
"Kalo mau jelasin itu langsung aja!! Nggak usah muter-muter kayak gitu!! Kamu niat jelasin nggak sih?!" tegas Papa Acha menatap Darren dengan sinis.
"Iy iya, Om," gagap Darren.
"Jad.. jadi gini, Om. Tadi itu Acha perginya bareng Karin, temen kita. Terus saya ditelpon Karin, katanya Acha pingsan dan dibawa ke rumah sak-" lagi-lagi penjelasan Darren terpotong.
"Apa?! Kamu pingsan kenapa,Nak??" ujar Papa Acha terkejut. Yang semula Papa Acha tampak sangat galak, kini raut wajahnya menjadi penuh kasih sayang.
"Acha sakit?? Kenapa nggak bilang sama Papa kalo lagi sakit. Yang sakit apanya?? Sekarang masih sakit, Nak??" tanya Papa Acha beruntun, hingga Acha dan Darren terkejut melihatnya.
"Satu-satu dong, Pa, nanya nya. Acha udah nggak papa kok, Pa. Jadi nggak usah khawatir," ucap Acha lembut.
"Terus tadi Acha pingsan kenapa??" tanya Papa nya lagi.
"Emm.." Acha tampak berpikir. "Tadi Acha makan udang, hehe," ucap Acha cengengesan.
"Astaga.. kok bisa, sih, Cha.. Untung kamu nggak papa," ujar Papa Acha merasa lega.
"Terus kamu?! Ngapain masih disini?! Pulang sana udah malam!!" perintah Papa Acha kepada Darren dengan agak ketus.
"Eh iya, Om!" ucap Darren dan berjalan menuju motornya. Namun baru beberapa langkah, ia malah berbalik lagi.
"Oh iya, Cha-" ucap Darren terpotong.
"Itu Om.. helm nya.." balas Darren sambil menunjuk kepala Acha.
Acha yang merasa kepalanya ditunjuk Darren pun langsung meraba kepalanya. Dan benar saja, sampai saat ini ternyata ia masih memakai helm nya Darren.
'Astaga.. malu-maluin banget sih, kamu, Cha!!' keluh Acha dalam hati memaki dirinya sendiri.
"Eh iya.. ini Darren,, Acha tadi lupa, hehe.." ucap Acha kikuk sembari mengembalikan helm itu kepada Darren.
"Kalo gitu hati-hati, ya.." pesan Acha sambil melambaikan tangannya.
"Siap,, bosque!!" balas Darren mengacungkan jempolnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Om!" pamit Darren dari atas motornya.
"Iya,, udah sana.." balas Papa Acha mengibaskan tangannya.
Motor Darren pun segera melaju meninggalkan Acha dan juga Papanya yang masih di depan gerbang.
"Cha.." panggil Papa Acha. Namun yang dipanggil masih asik memandang sosok yang baru saja pergi, yang sudah mulai tak kelihatan lagi.
__ADS_1
"Acha.." panggilnya lagi. Masih tak ada jawaban dari yang dipanggil.
Karena sudah merasa kesal, Papa Acha pun meninggalkan Acha. Ia dengan sengaja menutup gerbang dengan keras, membuat Acha terkejut mendengarnya.
"Jederrr!!"
"Ihh!! Pa!! Kok Acha ditinggalin sih!!" teriak Acha dan langsung berlari membuka gerbang nya. Untung saja tidak dikunci oleh Papanya.
...ΩΩΩΩΩ...
**Didalam Rumah Acha**
"Pa!! Kok Acha ditinggal sih!!" sungut Acha mengikuti Papanya yang sudah ada di depannya.
"Abisnya kamu Papa panggil bukannya jawab malah bengong terus! Ngelihatin tuyul itu terus lagi!!" kesal Papanya tanpa berbalik melihat Acha.
"Hehe,, bukannya gitu, Pa. Papa marah nih, sama Acha??" ledek Acha pada Papanya.
Papa Acha pun berbalik, menghadap Acha. "Hehh!!" ucap Papanya membuang muka. "Papa nggak suka, ya, kalo Acha deket-deket sama si.. siapa tadi namanya??" Papa Acha mencoba mengingat nama Darren.
Acha yang melihat tingkah Papanya pun merasa heli sendiri. "Darren??" ucap Acha menahan tawanya.
"Nah.. iya,, itu," gumam Papa Acha.
"Acha juga nggak suka, ya, kalo Papa sikapnya kayak tadi sama Darren.." balas Acha pura-pura merajuk.
"Kenapa? Karena dia pacar Acha??" sinis Papanya jengah.
"Ihh.. bukanlah!! Dia itu T-E-M-E-N nya Acha!!" ucap Acha penuh penekanan.
"Ngakunya temen,, tapi kok demen?!" sindir Papa Acha.
"Ihh,, kata siapa?!! Udah lah Acha mau ke atas,, mau istirahat!!" Acha langsung berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Papa Acha yang melihat tingkah Acha pun langsung tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahili putrinya tersebut.
Sebenarnya sikapnya dari tadi saat ada Darren hanyalah akting semata,, ia sengaja bersikap seperti itu untuk menjahili putrinya, yaitu Acha.
......…***…......
Hola readerss!! Apa kabar? Semoga kalian sehat selalu dan semoga pandemi saat ini cepat berakhir, Aminn..
Makasih buat kalian yang masih setia menunggu kelanjutan kisahnya Acha😃
Dan maaf ya kalo ceritanya nggak sesuai sama ekspektasi kalian🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan dukungannya buat author ya..
Sayonara🥰