Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) Diantar Pulang


__ADS_3

Flashback On


Sesampainya Darren, Karin, Zain, dan Dila diparkiran, mereka tentu saja bertemu dengan Vano, Rey, dan Dion.


Karin pun segera menghampiri kakaknya itu. Sedangkan Darren dan Zain segera menaiki motornya, begitupun dengan Dila yang langsung naik ke motor Darren.


Vano yang melihat mereka tiba-tiba saja berdecak. "Ckckckck.." Vano berdecak sambil berkacak pinggang dan menggelangkan kepalanya.


"Kenapa??" tanya Dion dan Karin yang ada disebelahnya. Sedangkan Rey hanya menatap nya acuh.


"Baru berapa minggu, udah ganti aja ceweknya.. Cakep semua lagi.. Tuh anak pake pelet apa sih?!" ujar Vano keheranan.


"Siapa??" tanya Karin tak mengerti dengan maksud kakaknya itu.


"Temen kamu, lah, Dik! Baru juga berapa minggu, tapi ceweknya udah ganti aja! Yang dulu kemana nih!!" seru Vano dengan lantangnya sembari menunjuk ke arah Darren dan Dila. Sontak Rey dan Karin mengikuti arah telunjuk Vano.


Darren yang tau sedang di ghibahi oleh Vano hanya diam, tak menggubris ucapan Vano.


"Lo kalo ngomong yang jelas dong! Nggak paham gue.." protes Dion yang tak paham dengan maksud Vano.


"Haduhh!! Gini nih... kalo punya temen yang telmi nya melebihi rata-rata!" Vano menepuk dahinya sendiri.


"Maksud gue itu.. Acha!! Si Acha kemana kok tuh anak ama cewek lainn!! ACHA nya di kemanain?!! seru Vano dengan penuh penekanan dan rasa kesal.


Mendengar ucapan Vano, Rey pun jadi teringat dengan Acha.


"Owhh.. bilang dong dari tadi! Kalo yang lo maksud itu Acha!!" ujar Dion yang juga kesal dengan Vano.


"Telmi lo!!" ejek Vano. "Terus mana Acha??" sambungnya bertanya pada Karin.


"Acha lagi di gerbang mungkin, nunggu taxi atau angkot. Soalnya kakaknya lagi nggak bisa jemput." jelas Karin.


"Terus kenapa nggak bareng sama tuh anak??" tanya Dion menunjuk Darren.


"Tadinya Darren udah ajakin Acha buat pulang bareng, cuma gara-gara tuh.. si mak lampir!" kesal Karin menunjuk Dila.


Sejak tadi pagi, memang baik Karin maupun Zain tidak suka dengan Dila. Menurut mereka berdua, Dila itu sombong binti nyebelin. Kenapa begitu?? Tentu saja karena sikapnya, terlebih sikapnya pada Acha.


Rey, Vano, dan Dion pun memperhatikan Dila. Tampak Zain dan Darren mulai melajukan motor mereka masing-masing.


Tin!


Tin!

__ADS_1


Bunyi kalkson motor Darren dan juga Zain yang melewati Rey dkk. Dalam sekejap mereka bertiga sudah pergi dari parkiran.


"Emangnya tuh cewek siapa?!" tanya Vano dan Dion mulai kepo saat orang yang mereka ghibahi sudah pergi.


"Murid baru,, katanya dia gini.. Gue Dila, sahabat sehidup semati nya Darren! Hoekkk jijik gue dengernya!!" Karin menirukan sikap Dila tadi pagi dengan mimik wajah yang seolah mau muntah.


"Terus masa pas Acha mau ajak dia salaman, dia nya malah pura-pura nggak liat gitu!! Songong banget, sih!! Dan gue bingungnya itu Acha biasa aja gitu, tetap aja baik ama dia!" emosi Karin kembali meluap-luap mengingat kejadian tadi pagi.


"Busett dah!! Anak baru tingkah nya udah selangit!! Cantik sih iya, tapi ternyata dalemnya busuk! Kek bangkai!" ujar Vano mencaci Dila.


"Gue mencium aroma-aroma penghianat nih! Bakalan jadi musuh dalam selimut keknya!" timpal Dion dengan gaya menirukan salah satu peramal.


Di samping itu, Rey sedari tadi hanya diam. Tak menanggapi ucapan teman-temannya itu.


"Ya udah yuk.. Pulang! Dari tadi ghibaahh..mulu! Inget dosa woi!" ucap Vano sok bijak.


"Heii!! Ngaca!! Yang pertama mulai siapa?? Sok bijak lo!!" cibir Dion merasa jengah dengan sikap Vano.


Karin yang melihat keributan dua sejoli itu hanya menahan tawanya. Sekilas Karin melirik Rey yang sedari tadi tampak memikirkan sesuatu. Namun Karin tak mu ambil pusing hal tersebut, toh itu juga bukan urusannya, pikirnya.


Vano, Rey, dan Dion pun langsung melajukan motor mereka, keluar dari parkiran. Saat mereka melewati gerbang, tampaklah Acha yang ternyata masih belum pulang.


Acha pun melambaikan tangannya saat melihat Karin. Begitu pula Karin, ia membalas lambaian tangan Acha. Meskipun terbesit rasa khawatir akan sahabatnya itu.


"Kenapa, Rey? Mogok??" tanya Vanodan Dion, langsung menghentikan motor mereka.


"Eng-enggak. Gue ada urusan. Kalian duluan aja!" ujar Rey langsung memutar balik motornya.


"Kemana?!!" tanya Vano dengan berteriak.


"Ke rumah Safa!!" balas Rey berteriak, terus melajukan motornya.


Vano dan Dion semakin terkejut. Setahu mereka berdua, rumah Safa bukan ke arah sana, melainkan ke arah sebaliknya. Sedangkan Rey malah ke arah sekolah mereka.


Hujan tiba-tiba mulai turun. Vano, Karin, dan Dion langsung melajukan motor mereka untuk pulang. Mereka tentu saja tak mau jika sampai kehujanan.


Flashback Off


Rey menghentikan motornya di depan halte dekat gerbang sekolahnya. Dilihatnya Acha yang sedang sibuk dengan bajunya yang agak basah itu.


"Ayo naik!!" seru Rey masih di atas motornya.


Acha tak bergerak, masih diam mematung terkejut melihat kedatangan Rey. Ia mengamati Rey yang masih menggunakan helm nya. Jaket Rey tampak sedikit basah karena hujan masih turun rintik-rintik.

__ADS_1


"Buruan! Sebelum hujannya tambah lebat!!" seru Rey menyadarkan Acha.


Acha kembali melihat langit yang tampak semakin gelap itu. Dengan terpaksa, akhirnya ia pun langsung berlari dan manaiki motor Rey.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Rey langsung memakaikan helm cadangannya ke kepala Acha.


Terkejut?? Tentu saja Acha terkejut. Kini hatinya semakin merasa bimbang. 'Takdir Acha gini amat sih!' batinnya kesal.


Tanpa aba-aba, Rey langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Acha yang belum sadar dari keterkejutannya semakin terkejut, sontak Acha langsung memeluk Rey.


Rintik hujan menemani sepanjang perjalanan mereka berdua. Langit tampak semakin gelap. Hujan pun bertambah deras. Rey langsung menghentikan motornya di bawah sebuah pohon dipinggir jalan.


"Mau langsung pulang apa berteduh dulu?!" seru Rey bertanya, membalikkan tubuhnya menghadap Acha.


Acha sangat terkejut melihat Rey yang tiba-tiba berbalik. Perasaan Acha kembali tak karuan saat menatap wajah Rey dari jarak sedekat itu.


"Cha?!" seru Rey mengejutkan Acha.


"Eh, iya.. apa??" tanya Acha tersadar. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya karena mulai merasakan dinginnya air hujan.


"Mau langsung pulang apa berteduh dulu??" tanya Rey lagi.


"Lanjut aja, Kak!" seru Acha agak berteriak, karena suaranya hampir kalah dengan suara derasnya hujan.


Namun sebelum Rey kembali melajukan motornya, tiba-tiba ia melepaskan jaketnya, dan memakaikannya ke tubuh Acha yang sudah basah kuyup. Untung saja jaket Rey tak begitu basah, jadi masih bisa dipakai Acha supaya tidak begitu kedinginan.


Acha diam membeku mendapat perhatian dari Rey. Perasaannya kembali campur aduk, bingung harus bagaimana menyikapinya.


Rey langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Acha berpegangan erat pada baju Rey. Acha terus menatap Rey yang dalam sekejap sudah basah kuyup karena derasnya hujan.


Untunglah jalanan tak begitu macet saat itu. Sehingga dalam waktu kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah Acha.


Kebetulan saat itu gerbang rumah Acha terbuka, jadi Rey langsung melajukan motornya melewati gerbang tersebut.


Ia pun segera menghentikan motornya di depan rumah Acha.


Acha langsung turun dari motor Rey. Ia pun melepaskan helm yang ia pakai dan mengembalikannya pada Rey.


Saat sedang memberikan helm itu kepada Rey, tak sengaja tangan mereka bersentuhan. 'Tangan Kak Rey kok dingin banget,' batin Acha terkejut.


...…***…...


Halo readers!! Jangan lupa buat like, komen n saran, dan juga klik favorit biar nggak ketinggalan kelanjutan kisah nya Acha😃 Makasihh...

__ADS_1


See you again😉


__ADS_2