Acha LOVE Story

Acha LOVE Story
(ALS) TAKDIR


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanan, Acha dan sahabat-sahabatnya beserta Dila pun kembali ke kelas mereka.


Di sepanjang koridor menuju kelas, Acha dan Karin selalu bercanda ria, namun tidak dengan Dila. Ia hanya diam, berjalan di samping Darren.


Dila melirik Darren yang senantiasa menatap Acha dari belakang.


Sepuluh menit sebelum berakhirnya jam istirahat. Di saat seperti inilah koridor dipenuhi oleh siswa-siswi yang berlarian menuju ke kelas mereka masing-masing.


Saat asyik bercanda dengan Karin, tiba-tiba seseorang menabraknya hingga membuatnya hampir saja terjatuh. Darren yang berjalan di belakangnya, dengan sigap langsung memeluk tubuh Acha. Mata keduanya saling tatap selama beberapa saat. Acha terpaku menatap Darren.


"Lo nggak papa?" tanya Darren, namun Acha malah melongo. "Cha??" panggil Darren lagi.


"Eh iya nggak papa, makasih," jawab Acha salting. Acha pun segera melepaskan dirinya dari pelukan Darren.


"Kalo jalan pake mata dong!!" bentak murid cowok yang menabrak Acha.


"Eh, yang salah kan lo! Harusnya yang marah itu kita! Hampir aja temen gue jatuh gara-gara lo lari nggak pake mata!!" balas Karin tidak terima.


"Udahlah, Karin. Yang penting kan Acha nggak jatuh," ucap Acha menenangkan Karin.


"Nggak bisa lah, Cha!! Pokoknya dia harus minta maaf dulu sama kamu!" seru Karin. "Minta maaf nggak lo, sama temen gue!" perintah Karin.


"What?? Minta maaf? Lo siapa nyuruh-nyuruh gue?!" balas cowok itu mendorong Karin.


Membuat Karin terhuyung, hampir saja jatuh. Namun ia beruntung karena Zain langsung menangkapnya.


"Weii, bro. Santai dong,, jangan main kasar lah ama cewek," ujar Zain merangkul pundak Karin. Karin hanya terdiam, menatap sekilas tangan Zain yang bertengger di pundaknya.


"Cihh!!" cowok itu berdecih, sekilas ia melirik pada Karin dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan mereka, termasuk temannya sendiri yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Sorry sorry.. Maafin temen gue ya,, dia emang orangnya kek gitu, susah kalo dikasih tau," jelas teman cowok tadi, sembari meminta maaf.


"Iya, nggak papa, Acha maafin kok. Ngomong-ngomong kamu kelas berapa?" tanya Acha pada cowok itu.


Cowok itupun memperlihatkan tanda kelasnya yang ada di lengannya. "Kelas 11 IPA 4," jawabnya.


Acha terkejut mendengarnya. Ternyata mereka itu kakak kelas mereka. Kini ia pun langsung meminta maaf. "Eh, maaf Kak! Kita nggak tau kalo kalian itu kakak kelas kita, maaf yah.." Acha meminta maaf sambil membungkukkan badannya.


Sedangkan teman-temannya tidak melakukan apa yang Acha lakukan, mereka tetap berdiri dengan santai, termasuk Karin.


"Nggak papa, santai aja.. Lagian yang salah emang temen gue!" balas cowok itu.


"Pantesan nggak punya tata krama,, IPA 4 ternyata!" ejek Karin memincingkan matanya.


"Karin! Nggak boleh gitu!!" tegur Acha.


Memang di sekolah ini, kelas terburuk adalah kelas IPA 4. IPA 4 merupakan kelas dengan murid yang nilai dan sikapnya paling minus. Mayoritas kelas ini isinya juga anak-anak badung tentunya.

__ADS_1


Cowok itu malah tersenyum manis menanggapi ejekan Karin.


"Dim! Buruan!!" teriak cowok yang tadi menabrak Acha, memanggil temannya itu. Ternyata sedari tadi ia masih berada tak jauh di belakang mereka.


"Ya udah gue duluan ya! Bye!!" pamit cowok yang ternyata bernama Dimas itu. Ia pun segera berlari menyusul teman songongnya itu.


"Cih!! Cuma beda setahun aja songong banget!!" Karin tak habis-habisnya mengoceh, karena masih merasa sangat kesal dan emosi tentunya.


"Udahlah.. balik yuk, sebelum bel nih!" ajak Zain dan diangguki teman-temannya.


Jarum jam terus berputar. Sampai akhirnya menunjukkan pukul 3 sore.


Teng tengg tenggg..


"Baik, anak-anak, pelajaran hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa kerjakan PR yang tadi ibu kasih," ujar Bu Melina, guru biologi mereka. Bu Melina adalah guru yang paling friendly dan super duper baik tentunya. Pokonya guru idaman banget deh!


Gibran pun segera berdiri dari duduknya. "Beri salam kepada bu guru!" serunya.


"Selamat siang, Bu!!" seru seluruh penghuni 10 IPA 1 dengan penuh semangat.


Bu Melina tersenyum tipis, dan segera keluar kelas, untuk kembali ke kantor guru. Begitu pun dengan para murid yang langsung berhamburan keluar kelas.


Seperti biasa, Acha dan ketiga sahabatnya keluar kelas bersama-sama. Namun kali ini rombongan mereka bertambah satu orang, siapa lagi kalau bukan Dila.


Disaat mereka tengah berjalan di koridor, tiba-tiba HP Acha berbunyi. Acha pun langsung membuka HP nya. Tampak ada chat masuk dari Kak Rega.


Cha, kakak nggak bisa


mau jenguk temen


yang lagi sakit. Kamu


naik taxi atau nebeng


temen kamu aja ya..


^^^Oke, siap bosque!^^^


"Kenapa, Cha?" tanya Karin mengintip HP Acha. Kepo dengan siapa Acha chat-chatan.


"Ini, Kak Rega nggak bisa jemput Acha soalnya mau jenguk temannya yang lagi sakit." jawab Acha.


"Terus kamu pulangnya naik apa dong??" tanya Karin lagi.


"Emm.. taxi mungkin atau angkot?" gumam Acha berpikir-pikir.


"Gimana kalo lo bareng gue aja?!" ajak Darren kepada Acha.

__ADS_1


Belum sempat Acha menjawab, namun Dila langsung mendahuluinya. "Darren, anterin gue pulang dong.. Supir gue nggak bisa jemput nih.. Kalo gue naik taxi, gue kan baru pindah ke sini, jadi gue belum hafal jalannya.. please..!" mohon Dila menggenggam lengan Darren.


"Nah, iya, Darren.. mending kamu anterin Dila aja, kasian dia kalo sendiri, entar nyasar lagi.." ujar Acha menyarankan. Sebenarnya tadi ia hendak menerima tawaran Darren untuk pulang bareng, tapi melihat Dila yang lebih butuh Darren, Acha pun memilih mengalah.


"Terus kamu? Nggak papa pulang sendiri??" tanya Darren khawatir.


"Ya nggak papa lah.. Lagian juga bukan pertama kalinya juga Acha pulang sendiri!" balas Acha tampak santai.


"Atau lo mau gue anter aja, Cha??" ajak Zain menawarkan.


"Nggak usah! Rumah kamu kan jauh, nggak searah lagi ama rumah Acha. Acha nanti naik taxi aja," tolak Acha halus.


"Beneran??" tanya Karin, Darren, dan Zain bersamaan.


"Hihh.. iya.." balas Acha geregetan.


"Ya udah, kamu hati-hati, ya, Cha.." ucap Karin dan diangguki oleh Acha.


Mereka pun berpisah dengan Acha. Acha menuju gerbang sekolah sedangkan mereka menuju ke parkiran.


.


.


Acha sudah berdiri di depan gerbang, menunggu taxi atau angkot yang lewat. Teman-temannya sudah pulang sejak 15 menit lalu. Begitu sialnya Acha karena sedari tadi tak ada taxi atau pun angkot yang kosong. Semilir angin mulai menerpa wajahnya.


"Duh,, kok mendung, sih!!" keluh Acha, melihat langit yang sudah mulai gelap disertai angin yang agak kencang.


Rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah. Acha langsung berlari, berteduh di halte dekat gerbang sekolah.


Saat ia sedang sibuk dengan bajunya yang agak basah karena air hujan, tiba-tiba sebuah motor ninja berhenti tepat di depan tempat ia berdiri.


"Ayo naik!!" seru cowok yang masih diatas motornya itu.


Acha tak bergerak, masih diam mematung terkejut melihat cowok itu. Ia mengamati cowok itu yang masih menggunakan helm nya. Jaketnya tampak sedikit basah karena hujan masih turun rintik-rintik.


"Buruan! Sebelum hujannya tambah lebat!!" seru cowok tadi menyadarkan Acha.


Acha kembali melihat langit yang tampak semakin gelap itu. Dengan terpaksa, akhirnya ia pun langsung berlari dan manaiki motor si cowok tadi.


Tanpa ba-bi-bu lagi, cowok itu langsung memakaikan helm cadangannya ke kepala Acha.


Terkejut?? Tentu saja Acha terkejut. Kini hatinya semakin merasa bimbang. 'Takdir Acha gini amat sih!' batinnya kesal.


Cowok itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Acha yang belum sadar dari keterkejutannya semakin terkejut, sontak Acha langsung memeluk cowok itu.


...…***…....

__ADS_1


Halo readers tersayang... maafkanlah diriku ini yang baru bisa up sekarang,, maafkanlah juga bila masih ada typo ataupun kesalahan yang lainnya. Maka dari itu jangan lupa untuk like, komen n saran, dan klik favorit yahh.. Makasihhh...


See you!!


__ADS_2