
Kini Darren dan Acha sedang dalam perjalanan ke rumah Acha. Zain tidak ikut mengantar Acha karena ia ada urusan keluarga. Selain itu, rumah Zain dan Acha pun tak searah. Beda dengan Darren yang ternyata rumahnya searah dengan Acha.
"Cha, gue boleh tanya gak?" tanya Darren memulai percakapan. Kini mereka tengah berhenti di lampu merah.
"Tanya aja, tapi pertanyaannya jangan susah-susah yaa.. takutnya nanti Acha nggak bisa jawab😅" jawab Acha sambil cengengesan.
"Ihh.. serius Acha!!" ucap Darren dengan nada kesal.
"Iya, iya.. kan Acha cuma becanda. Emangnya Darren mau tanya apa sih? Kok serius banget, " balas Acha sambil menahan tawa.
"Lo kenal sama cowok itu?" tanya Darren to the point.
"Cowok mana?? Cowok kan ada banyak,," ucap Acha masih dengan menahan tawanya.
"Cowok yang udah bikin lo nangis." balas Darren dengan wajah datarnya. Ia kembali mengingat kejadian tadi saat Acha melihat laki-laki di lapangan basket yang membuatnya menangis.
'Degg' seketika Acha terdiam. Kini ekspresi wajahnya tampak sangat dingin.
"Cha! Kok malah diem sih?!" seru Darren, membuat Acha terkejut.
"Ehh, Darren.. itu lampunya udah hijau! Cepetan jalan!" balas Acha mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tapi Cha-" Tin tinn!! belum selesai bicara namun ucapan Darren sudah terpotong oleh suara klakson mobil yang ada di belakangnya.
"Tuh, kan, makanya buruan jalan!" oceh Acha sambil memukul pelan bahu Darren.
__ADS_1
"Iya bawel!" balas Darren dan segera melajukan motornya.
Di perjalanan, Acha tampak sedang memikirkan sesuatu. Ya.. itu adalah pertemuan pertamanya dengan dia.
*F**lashback* ON
Di tepi jalan raya yang sangat ramai, tampak seorang gadis berseragam SMP yang tengah mencoba untuk menyeberang. Dia tak lain adalah Acha yang saat itu kelas 8 SMP. Ia baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya sejak sepulang sekolah.
Ia tampak kesulitan untuk menyeberang karena ramainya kendaraan yang berlalu lalang. Ketika dirasa sudah aman untuk menyeberang, Acha pun segera melangkahkan kakinya dan berjalan menyeberangi jalan raya tersebut.
Namun ketika Acha sudah berjalan di tengah jalan, tanpa disadarinya terdapat sebuah motor yang melaju ke arahnya dengan kecepatan cukup tinggi. motor yang menyerempetnya. Seketika Acha pun terjatuh. Lutut dan sikunya tampak berdarah karena lecet. Acha pun tampak meringis menahan rasa perihnya.
Orang-orang yang melihat kejadian itu pun langsung menghampiri Acha untuk membantunya.
Melihat itu, Acha segera berlari untuk menolong orang tersebut. Sampai-sampai ia melupakan rasa perih di lutut dan sikunya yang lecet.
"Aduh, maaf kak, tadi Acha nggak liat kalo ada motor," ucap Acha, mencoba membantu orang tersebut untuk bangun. Acha dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang laki-laki tinggi dan memakai hoodie hitam. Dari postur tubuhnya tampak kalau dia itu masih muda meskipun wajahnya tertutup helm.
Laki-laki itu tampak diam sejenak memperhatikan Acha. Dilihatnya seorang perempuan berambut panjang dengan seragam SMP itu. "Eh, iya, maaf, tadi gue juga nggak lihat kalo ada yang lagi nyebrang." balas laki-laki tersebut dan langsung melepas helm nya.
"Dek kalian nggak papa?" tanya seorang warga yang menghampiri mereka berdua.
"Nggak papa kok, Pak," jawab Acha dan laki-laki itu bersamaan.
"Sini biar bapak bantu." sambung warga tersebut dan segera menuntun motor laki-laki itu ke tepi jalan.
__ADS_1
Ketika Acha hendak berjalan ke tepi jalan, lututnya lagi-lagi terasa perih. "Auww!" seru Acha reflek dan memperhatikan lututnya yang berdarah itu.
Laki-laki itu pun baru menyadari kalau lutut dan siku Acha berdarah. "Sorry, biar gue bantu lo jalan," ucapnya dan segera menuntun Acha untuk ke tepi jalan.
"Mau bapak anter ke rumah sakit, dek?" tanya warga yang tadi ketika mereka sudah di tepi jalan.
"Nggak usah, Pak. Ini juga nggak papa kok," jawab Acha ramah.
"Kalau gitu bapak permisi dulu, ya, soalnya masih ada urusan," sambung warga tadi.
"Eh iya Pak. Terima kasih." ucap Acha dan laki-laki tadi.
"Iya, Dek. Sama-sama." balas warga tersebut dan segera meninggalkan mereka. Kini tinggallah mereka berdua.
"Tunggu sebentar ya.." ucap laki-laki tadi dan langsung berlari meninggalkan Acha. Acha pun hanya mengangguk.
Tampak laki-laki itu berlari ke apotek di seberang jalan. Setelah beberapa menit, laki-laki itu kembali dengan kantong plastik di tangannya.
"Sini, biar gue obati." ucap laki-laki itu.
"Ehh.. nggak usah kak, nanti biar-" ucap Acha namun segera dipotong oleh laki-laki itu.
"Udah, ayo nanti takutnya jadi infeksi," potong laki-laki itu. Ia pun segera menuntun Acha ke bangku taman yang ada di dekat sana.
Hai readers. Masih kah kalian mengikuti cerita author?? kalo iya makasih banget yaa..☺ Maaf karena ceritanya masih gantung, cerita selanjutannya akan diteruskan di chapter berikutnya, jadi selalu ikuti kisahnya Acha ya, Good bye🙏😘
__ADS_1