
Jam menunjukkan pukul 12.58 siang. Waktu yang paling ditunggu-ditunggu oleh semua murid di sekolah ini. Termasuk Acha. Bu Guru belum selesai menjelaskan materi, namun diam-diam Acha sudah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel miliknya.
Kenapa dia berani begitu? Karena ia duduk di bangku pojok paling belakang bersama dengan Cio. Jadi santai, guru tidak akan melihat kelakuannya.
Mulut Acha tampak komat-kamit. Tatapan nya terfokus pada jam dinding yang terpampang di atas papan tulis. Sedangkan jari telunjuk kanannya mengetuk meja seirama dengan detak jarum jam.
Cio yang duduk disebelahnya, tentu sudah hafal betul dengan kebiasaan saudari kembar nya itu. Ia hanya berdecak melihat kelakuan Acha.
......................
Cio dan Acha memang kembar, namun tidak dengan sifat mereka yang bagaikan matahari dengan bulan. Jika Cio sifatnya dewasa, rajin, dan cerdas, lain dengan Acha. Acha sangatlah manja, mudah marah, apalagi tersinggung, pemalas, PR saja selalu mencontek Cio.
Jika Acha tak paham dengan materi, maka Cio yang akan membantunya,, ibarat kata Cio adalah matahari yang akan senantiasa memberikan cahaya nya kepada sang rembulan dikala malam datang.
Bulan memang tak akan bisa bersinar tanpa adanya matahari. Tetapi meskipun demikian, jangan pernah meremehkan bulan. Karena tanpa adanya bulan, malam kita akan penuh dengan kegelapan.
Sama halnya dengan Acha. Sifatnya memang jauh berbeda dengan Cio. Namun tanpa kehadirannya, tak akan pernah ada cahaya disaat kelam datang. Sifatnya yang ceria mampu mencairkan segala suasana dan selalu menghibur orang lain yang sedang menghadapi masa kelamnya.
...--Kembali ke cerita--...
"Lima..... empat.... tiga... dua..satu!!" gumam Acha lirih.
Tett teettt teeettttt...
Bel tanda pulang telah berbunyi. Bu guru pun segera keluar kelas. Disaat siswa yang lain masih membereskan buku mereka, lain dengan Acha yang kini sudah ngacir, berlari keluar kelas.
Ia cepat-cepat berlari menuju gerbang depan sekolah. Sesampainya disana, ia celingukan mencari sesuatu.
"Nyari siapa, Cha??" tanya Cio yang kini sudah ada disebelahnya.
"Nyari Kak Rey,, kok belum dateng yak??" ucap Acha tanpa sadar, masih celingukan.
"Hah? Siapa?!" tanya Cio lagi memastikan apa yang ia dengar.
"Eh,, apa?!" tanya Acha balik, terkejut melihat Cio sudah ada disebelahnya.
"Kamu mau bereng dia lagi?!" tanya Cio mengintimidasi. "Kamu tadi kan udah janji sama Papa, kamu bohongin Papa?!"
"Ehh,, bukan gitu, Cio.. tadi itu Acha di chat sama Kak Rey, katanya dia udah otw mau jemput Acha,, kan nggak enak kalo nolak," Acha beralasan dengan wajah memelasnya.
"Boleh yaa?? Hmm??" mohon Acha dengan tampang memelasnya.
"Ya? Cioo.. please.. bantuin Acha bilang sama Papa, ya??" kini tangannya menarik-narik pelan baju seragam Cio.
Cio yang sudah merasa malas meladeni Acha pun akhirnya mengangguk pasrah. Ia pun menghela napasnya, "Tapi inget! Cuma kali ini!! Besok-besok Cio nggak bakal bantuin Acha buat ngebujuk Papa lagi!!" tegas Cio.
Acha menelan ludahnya sendiri melihat sikap Cio yang agak berbeda dari biasanya. 'Cio nggak pernah tuh galak banget kek gini,' batinnya. Ia pun cepat-cepat mengangguk paham dengan ucapan Cio.
Drrtt drrtt
__ADS_1
HP Cio bergetar, menandakan ada chat masuk. Ia segera membuka HP nya, rupanya chat dari Kak Rega. Ia pun segera membaca chat tersebut.
(Kak Rega)
Cio, kakak nggak bisa
jemput soalnya ada
tugas kelompok, bilangin
ke Acha ya.. kalian naik
taxi nggak papa kan??
^^^(Anda)^^^
^^^Oke^^^
"Siapa??" tanya Acha mengintip HP Cio. Ia pun ikut membaca chat dari Kak Rega. "Terus Cio pulangnya gimana?" tanyanya.
"Disuruh naik taxi, ya naik taxi lah," jawab Cio.
"Cio!! Kamu dicariin Bu Rini di perpus!!" teriak seorang anak laki-laki, teman sekelasnya.
"Oke!!" balas Cio mengacungkan jempolnya. "Nunggu sendiri nggak papa kan?" tanya Cio pada Acha.
"Ya nggak papa lah,, emang Acha anak kecil, nggak berani sendiri!" beo Acha.
Setelah menunggu sendirian selama 5 menit, akhirnya Rey datang juga. Acha pun langsung menghampirinya.
"Maaf aku telat, soalnya tadi ban motor kempes,, nungguinnya udah lama ya?" tanya Rey memakaikan helm di kepala Acha.
"Enggak kok," bohong Acha. Padahal ia sudah menunggu sekitar 20 menit.
"Ya udah yuk!" ajak Rey. Acha pun langsung menaiki motor Rey.
"Pegangan!" titah Rey menarik tangan Acha ke pinggangnya. Rey pun segera melajukan motornya.
.
.
Ciitt
Tiba-tiba Rey mengerem mendadak. Acha yang terkejut langsung terdorong ke depan, hingga kepala nya terbentur dengan kepala Rey. Untung mereka berdua pakai helm, kalau enggak kan bisa benjol tuh..
"Aduhh!!" seru Acha reflek meskipun tak sakit.
"Eh maaf Cha, ini ada telpon soalnya," ujar Rey sembari mengeluarkan HP nya.
__ADS_1
"Iya, nggak papa Kak, angkat aja dulu," balas Acha tersenyum manis. Rey pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, halo bi," sapa Rey pada si penelpon.
"Halo, den! Gawat den! Tuan sama Nyonya ribut lagi!!" ucap si penelpon yang tak lain adalah ART di rumah Rey.
"Apa?! Oke, bi, Rey pulang sekarang!" Rey pun langsung memutuskan panggilan tersebut.
"Cha-"
"Acha ikut Kak Rey aja nggak papa kok, nanti kalo urusannya udah beres, baru Kak Rey anterin Acha pulang," potong Acha.
Rey pun mengangguk dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
'Kak Rey kenapa ya?? Kok kayak panik gitu abis ngangkat telpon tadi??' batin Acha melihat sikap Rey.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka berdua pun sampai di sebuah rumah yang tampak megah itu.
Motor Rey berhenti didepan gerbang rumahnya. Rey dan Acha pun segera turun dari motor.
"Kamu tunggu disini aja ya? Nggak papa kan?" ucap Rey dan diangguki oleh Acha.
Rey langsung berlari tergesa-gesa memasuki rumahnya.
Lama Acha menunggu, namun Rey belum keluar juga menemuinya. Acha melihat ponselnya, "Udah 15 menit kok Kak Rey belum keluar juga, ya??" gumamnya.
"Panas.. gerah.." keluhnya sambil mengusap keringat yang mulai bercucuran. Tangannya mengipas-ngipas untuk mengurangi rasa gerahnya.
Praangg..
Acha langsung menoleh ke arah rumah Rey, "Suara apa tadi??" gumamnya. "Salah dengar kali, ya?"
Praangggg!!
Kali ini suaranya terdengar jelas di telinga Acha. Acha yang mulai penasaran sekaligus khawatir dengan Rey pun merasa dilema.
"Masuk.. enggak.. masuk.. enggak,, tapi kalo Kak Rey di dalem kenapa-napa gimana??"
"Masuk aja nggak papa kali, ya??"
Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke rumah Rey. Sesampainya di depan pintu yang sedikit terbuka, Acha kembali dilema. Ia pun menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
Acha mulai mendorong pintunya pelan. Mata Acha melotot saat melihat keadaan dalam rumah Rey yang tampak seperti kapal pecah menurutnya.
Pecahan figura dan guci berserakan dimana-mana. Saat matanya tengah menelisik isi ruangan, tiba-tiba ia dikejutkan dengan lemparan sebuah vas yang menuju ke arahnya.
Praanggg...
...…***…...
__ADS_1
(Penasaran sama nasib Acha selanjutnya?? Ayo like dan komen,, supaya author up lagi kelanjutan kisahnya Acha..😃
Sampai jumpa di next episode👋)