
"Oh gitu.. Kalo gitu ngapain kamu disini?!" ketus Papa Edwin. Seketika, Acha langsung menatap Papa nya tajam.
'Tuh kan! Lagi-lagi Papa nyebelin!!' Acha langsung menatap Papa Edwin tajam.
Papa Edwin melihat tatapan Acha, ia pun tertawa melihatnya. "Haha.. Santai dikit dong, Cha.. Maksud Papa, ngapain kalian masih diluar?? Ayo masuk! Kalian belum makan, kan??" ujar Papa Edwin masih tertawa, merasa berhasil menjahili Acha.
"Hah??" Acha mengernyitkan dahinya, menatap curiga pada Papa nya itu.
"Maksud Om, sa-ya boleh ma-suk?!" tanya Darren menunjuk dirinya sendiri. Kedua matanya berkedip tak percaya.
Acha dan Darren melongo tak percaya. Dengan secepat kilat, Acha langsung menempelkan punggung tangannya pada dahi Papa Edwin.
"Hm,, nggak panas kok! Berarti Papa nggak sakit! Apa Papa salah makan?! Tadi Papa makan apa??" cerocos Acha tanpa jeda.
"Kamu kenapa sih, Cha!?" ujar Papa Edwin menyingkirkan tangan Acha dari dahi nya.
"Harusnya Acha yang bilang gitu! Papa kenapa?? Sakitt??" tanya Acha yang merasa semakin bingung.
Papa Edwin langsung cemberut. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. "Tuh, kan! Papa baik salah.. Jadi nggak baik, tambah salah!! Tau ah! Kalo gitu kalian nggak usah masuk aja sekalian!!" ujar Papa Edwin langsung masuk ke rumah, meninggalkan Acha dan Darren yang masih melongo disana.
"Lo sih, Cha!! Papa lo jadi marah kan! Gagal deketin camer deh!" sungut Darren cemberut.
Mendengar perkataan Darren, Acha langsung melotot. Perasaannya seketika campur aduk, namun sebisa mungkin Acha tetap tenang.
"Apaan sih, Darren!!" seru Acha memukul lengan Darren.
"Hehe.. bercanda, Cha.. Serius amat sih!" ucap Darren tertawa.
"Udah ah! Sana pulang!!" usir Acha merasa kesal dengan Darren.
"Ngusir nih.. Marah niee!!" ledek Darren pada Acha, sembari mencubit pipi Acha.
"Tau ah!!" Acha langsung meninggalkan Darren yang masih duduk di motornya.
"Cha!! Jangan marah-marah! Nanti cepat tua!!" teriak Darren terkekeh, mengejek Acha yang sedang merajuk itu.
Acha menghentikan langkahnya kala mendengar ejekan Darren tadi. Ia langsung memutar tubuhnya, melihat Darren yang masih di atas motornya. "Bodo amatt!!!" seru Acha ketus dan langsung melanjutkan langkahnya.
Melihat respon Acha membuat Darren terbahak-terbahak. "Acha.. Acha.." gumam Darren masih memperhatikan punggung Acha yang kemudian menghilang dari pandangannya. Ia pun kembali menyalakan motornya, dan melajukannya meninggalkan kediaman Raharja tersebut.
Sementara di dalam rumah, Acha mengintip dari jendela, memantau Darren yang kemudian tampak melajukan motornya.
"Ekhem!! Ngeliatin apa sih, Cha?!" ujar Papa Edwin yang tiba-tiba saja sudah dibelakang Acha, mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Acha.
"Ih! Papa!! Ngagetin tau!!" seru Acha cemberut karena merasa terkejut.
"Lagian kamu ngeliatin apa sih, serius banget kayaknya!" balas Papa Edwin sembari mengintip dibalik jendela, mencari-cari apa yang sedari tadi Acha lihat. "Nggak ada apa-apa tuh!" ujarnya.
"Oh, ya! Teman mu yang tadi mana?! Kok nggak masuk dulu??" tanya Papa Edwin membuat Acha kembali kesal.
"Tau ah! Nyebelinn!!" kesal Acha menghentak-hentakkan langkah kakinya. Dengan perasaan yang masih kesal, ia langsung menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya.
"Kan Papa cuma tanya! Salahnya dimana coba?!" teriak Papa Edwin agar Acha mendengarnya. Namun Acha tak menghiraukan Papa nya itu. Dengan acuh, ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Acha membanting pintunya kuat-kuat. Entah kenapa saat ini ia merasa sangat kesal. Ia pun memutuskan untuk mandi, sembari menenangkan dirinya yang tengah berapi-api itu.
...ΩΩΩΩΩ...
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Acha saat ini masih fokus dengan buku tugasnya. Mengerjakan tugas-tugas dari Bu Rina waktu itu.
Saat otak nya sedang berkonsentrasi mengerjakan soal-soal itu, seketika konsentrasinya buyar kala mendengar HP nya yang terus saja berbunyi.
Ting..
Awalnya Acha tak menghiraukan bunyi tersebut. Pikirnya, paling cuma SMS dari operator. Ia pun kembali fokus pada bukunya.
__ADS_1
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
Ting..
"Arghh!! Dasar operator nggak ada akhlak!! Ganggu orang belajar aja sih!!" kesabaran Acha seketika lenyap. Dengan langkah gusar, ia langsung mengambil HP yang ada di atas kasurnya.
Matanya kembali membelalak saat melihat nama yang tercantum pada layar HP nya. "Eih?! Darren?? Pantesan nggak ada akhlak banget, ternyata bukan dari operator!" gumamnya membuka chat-chat dari Darren tersebut.
Cha
Cha?
Acha.?
Cha cha marica..
Helloww
Acha..?
Udah tidur lo??
Jam segini udah tidur aja lo!!
Begitulah isi chat dari Darren. Acha yang membacanya kembali merasa campur aduk. Entahlah, ia merasa kesal, tapi juga ada rasa senang dalam hatinya. Merasa terhibur? Tentu saja Acha merasa terhibur.
Ia pun membalas chat tersebut. Mengetikkan sesuatu pada keyboard.
^^^Apa?!^^^
Balas Acha singkat, padat, dan jelas. Ia kini malah melupakan PR nya, sibuk menatap layar HP nya itu.
Hanya butuh beberapa detik, Darren kini langsung membalasnya.
Nggak papa sih. Gue kira
lo udah tidur😅😅
^^^Hmm😑^^^
Btw PR dah selesai belom?
Liat dong Cha🥺🙏
^^^Belom selesai.^^^
Ya udah buruan kerjain
Abis itu gue liat yak🤓
^^^😑😤^^^
Cha..
__ADS_1
^^^Pa!?^^^
Semangat..💪💪
^^^Hmm..^^^
Cha..
^^^Apa lagi sih?!^^^
Good night🌝
Acha tak membalas chat dari Darren lagi. 'Good-night??' gumam Acha membaca chat itu.
Deg deg deg..
Acha memukul pelan dadanya, jantungnya kini terasa berdetak lebih cepat. "Ada yang aneh.." gumamnya pelan. Ia pun langsung menggelengkan kepala nya cepat.
"Hufftt.. Mending Acha lanjutin ngerjain PR aja! Semangat Acha!!" ujar Acha menyemangati dirinya sendiri. Ia pun kembali ke meja belajarnya, kembali fokus dengan buku-buku nya.
...----------------...
**Di Sekolah (IHS)**
Baru saja melangkahkan kakinya ke dalam kelas, Acha langsung saja di buru oleh teman-temannya.
"Acha!! Lo kok baru dateng sih?? Mana PR lo?? Gue lihat yah.." ujar Gibran langsung menghampiri Acha yang baru masuk.
Ia pun langsung melepas ransel Acha dari punggungnya. Baru saja mau membuka ransel Acha, tiba-tiba saja Zain langsung merebutnya.
"Eh.. enak aja lo! Gue duluan lah! Ya kan, Cha? Gue kan sahabat elo.." ujar Zain menyerobot.
"Heh,, kan gue duluan tadi!!" balas Gibran tidak terima. Ia pun meraih ransel Acha yang masih di tangan Zain. Akibatnya, terjadilah aksi tarik-menarik ransel antara Zain dan Gibran.
Acha yang melihatnya tentu saja merasa agak kesal. Setiap pagi, apabila ada PR, pasti ranselnya akan selalu diburu oleh teman-temannya. Nasibnya anak pinter gini nih,, ada nggak sih yang ngalamin kayak Acha??🤓
"Pokoknya gue duluan!" seru Zain menarik ransel Acha.
"Nggak! Gue duluan!!" balas Gibran menarik balik ransel Acha.
"Udah dongg!! Bisa nggak sih kalian nggak usah ribut?!" lerai Acha namun tak dihiraukan oleh Zain maupun Gibran.
"Woii! Daripada kalian rebutan gitu,, mending gue duluan aja deh!!" ujar Darren langsung merebut ransel Acha, dan mengambil buku PR Acha.
"Darren!!" teriak Zain dan Gibran bersamaan.
Acha melotot tak percaya. Ia kini sudah merasa jengah dengan sikap teman-temannya itu. Ia pun memilih untuk duduk saja di bangkunya.
"Hufttt!!" Acha membuang napasnya kasar.
"Sabar, Cha.. Nasib punya teman yang otak nya minus.." ujar Karin menepuk pundak Acha.
Acha menoleh pada Karin, menghela napasnya dan mengangguk.
"Btw, Cha. Ajarin PR nya dong.. Gue belom selesai nih! Hehe!!" ucap Karin dengan wajah polosnya, memohon pada Acha.
Seketika Acha menganga. Tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar oleh telinganya.
'Sabar Acha.. Nasib.. Nasib..'
...…***…...
Haloww.. readers tersayang🥰.. Maaf yah baru up sekarang.. Maaf juga kalo masih ada typo ataupun cerita yang masih kurang memuaskan🙏 Makasih juga buat kalian yang selalu dukung author.. Jangan lupa untuk selalu like, komen n saran, dan juga klik favorit biar tau update nya kisah Acha🤓..
See you Again🤗..
__ADS_1